Muslim Fundamentalis, Makhluk Seperti Apakah Itu?



Jumat kemarin (01/06/18) kegiatan pelatihan literasi Super Exclusive Literacy Course yang diadakan oleh Arusbawah.id dan IPAI Inspiring Forum kembali diselenggarakan. Tema yang didiskusikan kali ini ialah Islam Fundamentalis. Kebetulan sayalah yang menjadi moderator, meski juga bisa merangkap sebagai pengantar pra pemantik memberi pandangan umumnya. 

Kegiatan yang diadakan di pelataran masjid Al-Furqon UPI ini dimulai dengan pendahuluan yang saya sampaikan, tentu dengan segala keterbatasan dan kekurangan, mengenai apa itu Islam Fundamentalis.
Saya mengutarakan bahwa istilah fundamentalis yang belakangan sering digunakan oleh berbagai kalangan bermula atau awalnya dipakai oleh para cendekiawan Barat untuk diarahkan kepada golongan tertentu dari umat muslim yang memiliki pemahaman keagamaan yang serba sempit, kaku, yang mudah menyalah-nyalahkan pandangan lainnya, bahkan mungkin mengafirkan umat Islam yang berbeda pemahaman dengannya. Saya kira memang begitu adanya, meski juga diakui bahwa mereka juga bisa menempelkan istilah fundamentalis kepada umat agama lainnya yang memiliki kesamaan pola dan karakteristik. 

Jika dikerucutkan hanya pada agama Islam, biasanya mereka, belakangan juga diikuti oleh sebagian cendekiawan muslim, sering membagi kalangan fundamentalis ini menjadi dua golongan, yang pertama ialah kelompok yang menganggap bahwa Islam adalah agama yang sempurna dengan segala paket lengkapnya. Oleh karena itu, tidak boleh ada pemisahan antara Islam dengan politik, Islam dengan negara, atau Islam dengan ruang publik. 

Implikasinya, Islam perlu juga diimplementasikan ke seluruh sektor publik dengan melakukan upaya penerapan syariat secara positif-regulatif yang caranya ialah dengan membentuk sistem kenegaraan berbasis Islam, maksudnya ialah menegakkan khilafah.

Biasanya mereka memasukkan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, ISIS, dan yang sejenisnya ke dalam kelompok ini. Nama yang terakhir disebut sebenarnya bukan lagi sekadar berlabel fundamentalis melainkan sudah berevolusi menjadi kelompok ekstremis-radakalis karena kekerasan yang dilakukannya, meski dua nama yang disebut lainnya, menurut sebagian kalangan, juga melakukan hal yang sama. 

Kelompok yang kedua sedikit lebih longgar karena tidak memiliki agenda politik praktis, maksudnya tidak ada keinginan atau harapan dalam menerapkan syariat Islam melalui perjuangan jalur penegakkan khilafah. Wahabi sering dimaksukkan ke dalam golongan ini. 

Beberapa peneliti maupun cendekiawan mencoba untuk menelusuri faktor-faktor dari kemunculan mereka. Di antaranya mereka menemukan bahwa golongan ini muncul dikarenakan adanya perasaan gelisah dalam diri melihat realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, khususnya yang berkenaan dengan kehidupan umat muslim itu sendiri yang menurutnya sedang tertidur di masa kejahilan universal. 

Oleh karena itu umat muslim, menurut kelompok ini, harus bangkit dengan kembali melihat apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan penerusnya (khulafaurasyidin) supaya Islam jaya kembali. Syariat Islam harus dapat kembali dijalankan, tidak seperti keadaan saat ini di mana menurut mereka jauh sekali dengan keridaan Allah. 

Keadaan kebodohan universal ini menurut mereka semakin diperparah dengan upaya-upaya pembodohan yang dilakukan oleh kaum kafir, maksudnya negara-negara adidaya seperti Amerika, Israel, dan sekutunya, yang selalu menyudutkan umat Islam, baik dari segi ekonomi, budaya, maupun ilmu pengetahuan. Umat Islam selalu diserang seperti yang terjadi di Palestina, ataupun diperas sumber kekayaan alamnya seperti yang terjadi di Timur Tengah. 

Satu faktor lagi, dan ini yang paling sering disoroti, ialah karena memang dari pemahaman internalnya yang memahami Islam secara sangat sempit. Maka wajar jika mereka suka dilabeli sebagai golongan literalis-tekstualis karena kegemarannya memahami sumber-sumber ajaran Islam secara harfiah. 

 **

Setelah saya memberi pendahuluan, dua orang peserta, Fauzi dan Maryam, memberikan pemaparan atas hasil bacaannya. Fauzi me-review sebuah buku yang saya lupa judulnya tetapi membahas soal upaya PKS dan HTI dalam rangka menerapkan syariat Islam di Indonesia. Sedangkan Maryam mencoba untuk memberi informasi general mengenai karakteristik dan kemunculan golongan fundamentalis dari hasil beberapa jurnal bacaannya. 

Kemudiann Robby Karman, mahasiswa S2 Ekonomi Islam UIN Bandung, yang juga merupakan aktivis Muhammadiyah, yang menjadi pemantik di pertemuan kali ini, berkesempatan memberikan pandangannya seputar Islam Fundamentalis. 

Uniknya, dia banyak menengarai persoalan ini dari realitas sejarah internal umat Islam, seakan-akan ingin mengungkapkan bahwa perbedaan, perselisihan, merupakan sesuatu yang niscaya, bahkan memang sudah benar-benar terjadi di masa kehidupan Nabi Muhammad, terlebih di era pasca nabi wafat. 

Dia menceritakan kisah tenar perihal perbedaan penafsiran para sahabat ketika mendengar perkataan nabi di masa-masa perang dengan Bani Quraizah (umat Yahudi) di mana Nabi berkata bahwa mereka tidak boleh melakukan salat asar sebelum tiba di perkampungan Bani Quraizah. 

Saat itu waktu asar mau habis sedangkan mereka belum tiba di lokasi. Lalu para sahabat berselisih paham hingga terpisah menjadi dua golongan, yang pertama ialah mereka yang memahami perkataan nabi secara harfiah (bahwa tidak mengapa tidak salat asar tepat pada waktunya, sebab Rasulullah meminta mereka untuk salat asar di Bani Quraizah) sedangkan yang kedua mencoba untuk menangkap spirit dari ucapan nabi, maksudnya ialah mereka harus sesegera mungkin tiba di perkampungan tersebut, dan kalau waktu salat asar tiba sedangkan mereka belum bisa mencapai tempat tersebut, maka mereka harus tetap menjalankan salat asar pada waktu yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam. Menurut Robby, pada akhirnya Nabi Muhammad menampung kedua pemahaman tersebut, dan tidak menyalahkannya.    

Sejurus dengan kisah di atas, berkaitan dengan hubungan Islam dengan agama lain, khususnya Yahudi yang dalam sejarah terkesan suka tidak akur, menurutnya bukan karena melulu persoalan keagamaan, melainkan karena, dalam soal Islam-Yahudi, sifat atau watak mereka (orang Yahudi) yang suka melanggar perjanjian, sehingga Nabi Muhammad perlu menunjukkan sikap tegas terhadap mereka. 

Hal ini terlihat jelas di dalam Alquran yang terkesan bersikap positif atau bersahabat dengan Nasrani, karena mereka membantu umat Islam (kasus raja Habasyah), dan banyak di antara rahib mereka yang saleh (senantiasa tunduk pada Allah). Dari sini Robby ingin menyampaikan bahwa memahami ayat Alquran secara menyeluruh akan membuat umat Islam terhindar dari sikap eksklusif. 

Masih berkaitan dengan hubungan antara Islam dan agama-agama lain, khususnya Yahudi dan Kristen, pada akhirnya bagi Robby ada kesamaan pola antara ketiganya yang seharusnya dapat disadari. Pasca kematian Musa, watak keagamaan umat Yahudi menjadi begitu ketat, terlihat dari syariat-syariat mereka yang njelimet, membuat mereka seakan telah menciptakan agama yang kaku, rigid. Bagi Robby umat Yahudi berubah menjadi fundamentalis. 

Oleh karena itu Allah mengirim Nabi Isa untuk menetralisir kekakuan mereka. Tetapi pola ini kembali terjadi pasca meninggal atau diangkatnya Isa ke langit. Maka dari itu, Allah kembali mengutus nabinya, yakni Muhammad agar umat manusia kembali pada kehidupan dan keagamaan yang proporsional (moderat). Sayangnya, pasca meninggalnya nabi, ada saja umatnya yang kembali ke pemahaman yang sempit atau kaku.

**

Lalu Robby bercerita panjang soal perselisihan yang mulai terjadi pasca wafatnya nabi, mulai dari perpecahan mengenai siapa pemimpin yang pantas untuk menggantikan nabi. Meski kebanyakan setuju dengan keterpilihan Abu Bakar, tapi tak sedikit pula, khususnya para sahabat pendukung Ali bin Abi Thalib yang menolaknya (menolak baiat). Bahkan Ali baru membaiat Abu Bakar enam bulan setelahnya. 

Bagi Robby masa Umar cenderung stabil sebab ia merupakan seorang khalifah yang tegas sekaligus cerdas, berbeda dengan Utsman bin Affan, khususnya di gelombang paruh akhir masa kepemimpinannya yang mana mulai banyak kaum famili atau kerabatnya yang masuk ke pemerintahan dan memanfaatkan status tersebut untuk kepentingan-kepentingan duniawi (korupsi, dll). Dari sini dan ditambah alasan-alasan lainnya, membuat banyak masyarakat kecewa hingga akhirnya menimbulkan pemberontakan yang harus dibayar mahal dengan kematian tragis Utsman. 

Berlanjut ke perselisihan yang lebih besar, yakni di peristiwa perang Shiffin, antara pihak Ali melawan Muawiyyah yang berakibat munculnya golongan khawarij, yang menurut Robby merupkan benih atau cikal bakal atau nenek moyangnya golongan fundamentalis Islam. Mengapa? Sebab mereka adalah dari golongan yang saleh (dalam hal ibadah) tetapi karena pemahaman keagamaan yang sempit, karena terjebak ke dalam sikap-sikap ekstrem. 

**

Di sesi tanya jawab, Yusup, salah seorang peserta, mengajukan empat buah pertanyaan sekaligus, yang membuat para peserta lain tak kebagian kesempatan untuk bertanya karena keterbatasan waktu yang ada. Yang pertama ia bertanya soal bagaimana cara kita mengetahui apakah seseorang tersebut berpemahaman fundamentalis, moderat, atau sekuler-liberal? Pertanyaan kedua ia bertanya mengenai sikap seseorang muslim yang suka mendahulukan Alquran dibanding hadis, dan mendahulukan hadis Bukhari dibanding hadis lain, apakah ini bisa disebut sebagai sikap seorang fundamentalis? 

Selanjutnya, yang ketiga, bagi Yusup ada waktunya bagi kita untuk memahami sumber Islam secara tekstual, tetapi ada saatnya sumber tersebut dipahami secara kontektual. Apakah pemahaman ini salah? Yang terakhir, keempat, bagaimana cara menjadi seorang muslim yang moderat? Semua pertanyaan ini dijawab oleh Robby dengan sekali lahap tetapi cukup memuaskan para peserta. 

Terakhir, setiap peserta memberikan opini atau pandangannya seputar tema yang sedang atau telah dibahas. Pada umumnya mereka mendapat pengalaman yang berharga dari pertemuan ini karena menambah wawasan, khususnya dari perspektif sejarah, mengenai cikal bakal munculnya pemahaman rigid di dalam tubuh umat Islam. 

sumber gambar: www.wordfromjerusalem.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar