Middle Years and Diploma Programmes: Sebuah Pengantar



Banyak sekolah dan guru yang kepalang pusing dengan perubahan kurikulum yang terus bergulir di negeri ini. Belum lagi selesai diaplikasikan di semua tempat, kurikulum telah berubah, yang tentunya sedikit banyak merugikan guru apalagi murid. Dalam suasana pendidikan yang tidak menentu ini akhirnya tidak sedikit dari sekolah di Indonesia, termasuk Sekolah Tunas Unggul, yang memutuskan untuk mengadopsi kurikulum internasional meski dalam waktu yang sama perlu mendialektikakan dengan kurikulum pemerintah, seperti Cambridge dan International Baccalaureate (IB). Pada artikel ini saya memperkenalkan secara singkat mengenai salah dua dari program IB yang di antara adalah Middle Years Programme (MYP) dan Diploma Programme (DP).

Middle Years Programme (MYP)
Yang pertama disebut merupakan sebuah program dari International Baccalaureate (IB), yayasan pendidikan internasional yang bepusat di Jenewa (Swiss), yang diperuntukkan bagi pelajar berumur 11-16 tahun yang memiliki fokus pada perelasian ilmu-ilmu yang mereka pelajari dengan situasi dunia nyatanya, mempersiapkan kesuksesan masa depan studi dan kehidupan mereka. 

Tujuan dari program MYP ini ialah untuk dapat mengembangkan pembelajaran aktif dan pemikiran global sehingga siswa dapat memiliki sifat empati terhadap orang lain serta bisa mengejar tujuan dan pemaknaan hidupnya. Program ini pun memberdayakan siswa untuk dapat mengamati berbagai masalah dan pandangan-pandangan penting secara lokal, nasional, bahkan global. Hasilnya, mereka akan memiliki pemikiran yang kreatif, kritis, dan reflektif. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti program MYP akan: (1) terbangun rasa percaya dirinya dalam mengatur pola belajar mereka. (2) dengan learn by doing dapat menghubungkan suasana kelas dengan kultur global. (3) memiliki skill kekritisan akademik yang mengungguli siswa non IB. (4) memiliki kesuksesan besar di dalam ujian Diploma Program secara konsisten. (5) memiliki perkembangan untuk unggul di dalam kultur sekolah yang positif. 

Jika diturunkan ke tataran praktis, MYP terbagi ke dalam delapan kelompok mata pelajaran: (1) tambahan bahasa, memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan wawasan ke dalam fitur, proses, dan keahlian berbahasa, serta konsep budaya agar dapat menyadari bahwa ada beragam cara hidup, cara memandang sesuatu, dan cara berperilaku di dunia ini. (2) bahasa dan sastra yang terdiri dari beberapa keterampilan seperti mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, mengamati, dan mempresentasikan. Tujuannya untuk mendukung pemahaman siswa dengan cara memberi mereka kesempatan menginvestigasi, baik secara pesonal maupun kelompok, bertindak dan merefleksikan belajarnya. 

(3) humaniora dan ilmu sosial. Di kelompok mata pelajaran ini siswa mengumpulkan, mendeskripsikan, dan menganalisis data yang digunakan di dalam ilmu sosial, menguji hipotesis, dan belajar bagaimana menafsirkan informasi yang kompleks termasuk yang berasal dari sumber-sumber utama. (4) ilmu alam. Di sini siswa didorong untuk menginvestigasi permasalahan-permasalahan melalui penelitian, observasi, dan eksperimen, secara individu maupun kelompok. 

(5) matematika. Kelompok mata pelajaran ini (bilangan, aljabar, geometri, trigonometri, statistik, dll) memperkenalkan pengamatan dan pengaplikasikan, menolong siswa untuk mengembangkan teknik penyelesaian masalah yang akan berguna di dunia luar sekolah. (6) kesenian

(7) pendidikan olahraga, agar siswa dapat memahami dan mengapresiasi nilai aktif secara fisik dan mengembangkan motivasi untuk memilih gaya hidup sehat. (8) desain. Di bagian ini siswa ditantang untuk menggunakan keterampilan berpikir praktik dan kreatif untuk menyelesaikan persoalan desain, untuk mengeksplorasi peran desain dalam konteks historis dan kontemporer, dan untuk mempertimbangkan tanggung jawab mereka saat membuat keputusan desain. 

Setidaknya dibutuhkan 50 jam pelajaran di setiap kelompok mata pelajarannya. Setiap tahun siswa perlu terlibat dalam satu unit interdisipliner yang dicanangkan secara berkelompok yang melibatkan setidaknya dua kelompok mata pelajaran. Tidak hanya itu, siswa pun perlu menyelesaikan proyek jangka panjang yang mana mereka akan memutuskan apa yang ingin mereka pelajari (teliti), mengidentifikasi apa yang telah mereka ketahui, menemukan apa yang perlu mereka ketahui untuk menyelesaikan proyek, dan membuat proposal untuk menyelesaikannya. 

Karena MYP bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman kepribadian dan tanggug jawab sosialnya, maka ada beberapa konsep yang dapat mendukung tujuan itu seperti: (1) belajar dan pembelajaran yang kontekstual. Pembelajaran yang terbaik ialah ketika siswa mendapat pengalaman belajar yang memiliki keterhubungan dengan persoalan kehidupan real mereka. Dengan menggunakan konteks global siswa dapat mengembangkan pemahaman tentang nilai kemanusiaan universal serta pengembangan eksplorasi terhadap identitas dan pertaliannya, identitas personal dan kultural, orientasi ruang dan waktu, inovasi saintifik dan teknis, keadilan dan pengembangan, globalisasi dan keberlanjutan. 

(2) pemahaman konseptual. Konsep adalah ide-ide besar yang memiliki relevansi dalam disiplin ilmu atau interdisipliner ilmu tertentu yang dengannya siswa dapat menyelidiki isu-isu dan ide-ide penting personal, lokal, dan global yang diuji secara holistik. (3) pendekatan pembelajaran. Integrasi dari seluruh kelompok mata pelajaran memberi sebuah fondasi untuk pembelajaran mandiri juga mendorong pengaplikasian pengetahuan dan keterampilan mereka di dalam konteks-konteks yang tidak familiar. Pengembangan dan pengaplikasian skill sosial, berpikir, meneliti, komunikasi, dan manajemen diri akan mengajarkan mereka bagaimana mereka belajar. 

(4) layanan sebagai tindakan melalui community service. Para siswa melakukan aksi sosial untuk mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya di dalam kelas sebagai bentuk kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan. Community service ini merupakan bagian interagral dari program MYP. (5) inklusi dan keragaman belajar

Diploma Programme (DP)
Ini merupakan program lanjutan dari MYP yang diperuntukkan bagi pelajar berumur 16-19 tahun. Melalui program ini sekolah dapat mengembangkan siswa yang memiliki beberapa keahlian, seperti: (1) pengetahuan yang luas dan mendalam. (2) unggul secara fisik, intelektual, emosional, dan etika. (3) studi setidaknya dua baasa asing. (4) unggul dalam pelajaran akademik tradisional. (5) mengeksplorasi karakteristik pengetahuan melalui pembelajaran teori yang unik.

Sebagai sebuah pembelajaran holistik, MYP memberi siswa sebanyak dan seberagam mungkin mata pelajaran sehingga mereka dapat belajar melihat pengetahuan sebagai satu kesatuan yang utuh.
Beberapa penelitian telah menunjukkan keuntungan atau kelebihan dari siswa yang menggunakan program DP ini, di antaranya: (1) mereka lebih mampu mengatasi beban kerja yang menuntut, lebih mampu mengatur waktu, dan dapat memenuhi harapan di tempat mereka bekerja. (2) analisis di Kanada, Inggris, dan Amerika, menemukan bahwa tugas esai panjang yang dilakukan oleh siswa DP dapat meningkatkan pendekatan mereka untuk belajar di perguruan tinggi. (3) menurut penelitian tahun 2013, 72% siswa DP di Cina diterima di salah satu 500 universitas top dunia. 

Mengenai kurikulumnya, DP terbagi menjadi dua yakni inti dan kelompok mata pelajaran. Di dalam kurikulum inti, ada tiga buah unsur penting, seperti: teori pengetahuan yang di dalamnya siswa merefleksikan karakteristik pengetahuan dan bagaimana cara mengetahui apa yang dianggap telah ketahui. Esai panjang yang merupakan esai penelitian mandiri yang dibuat dalam bentuk makalah 4000 kata. Kreativitas, aktivitas, dan pelayanan yang di dalamnya siswa akan menyelesaikan suatu proyek terkait dengan ketiga konsep tersebut.   

Sedangkan di dalam kelompok mata pelajaran terbagi menjadi enam buah, di antaranya: (1) kajian bahasa dan sastra. (2) tambahan bahasa. (3) humaniora dan ilmu sosial. (4) ilmu alam. (5) matematika. (6) kesenian.
Kemudian mengenai assessment. DP akan mengukur sejauh mana siswa telah menguasai keterampilan akademik lanjutan, misalnya (1) dalam menganalisis dan menyajikan informasi, (2) mengevaluasi dan membangun argumen, (3) memecahkan masalah secara kreatf. Tidak selesai di sana, keterampilan dasar pun dinilai, termasuk (1) menguasai pengetahuan, (2) memahami konsep-konsep kunci, (3) menerapkan metode-metode standar. Selain keterampilan akademik, penilaian DP mendorong siswa untuk memiliki pandangan global dan keterampilan budaya luar selama sesuai. 



IB menggunakan penilaian ekternal dan internal di dalam DP. Bentuk-bentuk penilaian yang pertama termasuk esai, masalah terstruktur, pertanyaan tanggapan singkat, pertanyaan respon data, pertanyaan respon teks, pertanyaan studi kasus, pertanyaan pilihan ganda (meskipun jarang digunakan). Adapun bentuk penilaian internal dapat berupa tugas lisan (dalam mata pelajaran bahasa), kerja lapangan (dalam mata pelajaran geografi), riset di laboratorium (dalam mata pelajaran sains), investigasi (dalam mata pelajaran matematika), dan penampilan (dalam mata pelajaran kesenian)

Referensi
www. Ibo.org/programmes/diploma-programme/ diakses pada 1 Mei 2018
www. Ibo.org/programmes/middle-years-programme/ diakses pada 1 Mei 2018
International School of Paris. (2017). MYP Handbook 2017-18: Education for Complexity
International Baccalaureate Organization. (2014). MYP: From Principles into Practice.

sumber gambar: www.osc-ib.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar