Menerawang Manusia Masa Depan yang Menjadi Tuhan



Sudah dua hari belakangan ini saya sedang membaca Homo Deus karangan Yuval Noah Harari, sebuah buku best seller international yang sangat fantastis, menarasikan sebuah prediksi mengenai umat manusia masa depan yang menurutnya akan menjadi sesosok tuhan. Pada kesempatan kali ini saya hanya akan sedikit menceritakan ulang bagian pendahuluannya saja, karena sisanya biar pembaca saja yang harus membacanya sendiri. 

Berbeda dengan pandangan umum umat beragama yang meyakini bahwa semakin mendekati kiamat dunia akan penuh dengan kejadian-kejadian destruktif, sebaliknya Harari malah memandang dunia semakin hari semakin menuju ke arah yang positif karena mereka telah berhasil mengatasi tiga buah musuh maha dahsyat umat manusia seluruh zaman, yakni kelaparan, epidemi (penyakit menular), dan kekerasan (perang), sesuatu yang dianggap oleh manusia sebagai keniscayaan yang tak terelakkan meski mereka telah meminta bantuan pada zat-zat supranatural atau orang-orang suci. 

Tidak seperti manusia zaman dulu yang hanya akan pasrah ketika menghadapi ketiganya, manusia sekarang telah bisa mengantisipasi, mengetahui langkah-langkah apa perlu dilakukan. Bahkan lucunya, menurut Harari, untuk pertama kalinya dalam sejarah lebih banyak di antara manusia yang meninggal karena usia tua daripada karena penyakit menular, lebih banyak yang mati karena terlalu banyak makan dibanding karena kelaparan, dan lebih banyak orang yang mati karena bunuh diri ketimbang karena dibunuh oleh tentara, teroris, atau penjahat. 

Mengenai bencana kelaparan, sesuatu yang sangat sulit dipecahkan oleh manusia-manusia zaman dahulu, saat ini telah dapat dipecahkan oleh perkembangan teknologi, ekonomi, dan politik. Bagi Harari, kalaupun saat ini masih ada kelaparan massal di beberapa tempat hal tersebut lebih dikarenakan oleh alasan-alasan politis, bukan alamiah, maksudnya karena peristiwa tersebut diinginkan terjadi oleh sebagian politisinya, seperti yang terjadi di Sudan, Somalia, dan Suriah.

Wabah penyakit yang merupakan lawan besar manusia sepanjang zaman pada dekade belakangan ini mengalami penurunan yang signifikan berkat kemajuan ilmu kedokteran yang belum pernah dicapai oleh generasi-generasi terdahulu, seperti vaksinasi, antibiotik, ilmu kesehatan, dan infrastruktur media yang lebih baik. 

Begitu pun dengan peperangan, sesuatu yang sudah dianggap lumrah oleh sebagian besar manusia penduduk bumi (kita akan selalu menemukan hal tersebut dalam buku-buku sejarah) pada abad ke-20 mulai dilanggar oleh manusia modern. Perang semakin jarang terjadi. Lebih lanjut Harari mengungkap keoptimisian umat manusia modern, bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka memprediksi tidak akan ada perang lagi. 

“Kalau dalam masyarakat agrikultural kuno kekerasan manusia menyebabkan sekitar 15% kematian, dalam abad ke-20 kekerasan menyebabkan hanya 5% kematian, dan pada awal abad ke-21 berkontribusi hanya 1% dari angka kematian global. Pada 2012, sekitar 56 juta orang mati di seluruh dunia, 600.000 di antaranya akibat kekerasan manusia (perang membunuh 120.000 orang, dan kejahatan membunuh 500.000 lainnya). Bandingkan! 800.000 orang melakukan bunuh diri dan 1.5 juta orang mati karena diabetes. Saat ini gula lebih berbahaya daripada bubuk mesiu.” (hal 16).

Betapapun demikian, Harari bukan sedang ingin menyampaikan bahwa kelaparan, epidemi, dan peperangan telah atau akan hilang seluruhnya di dunia, melainkan hendak mengirimkan sebuah pesan harapan sekaligus beban tanggung jawab kepada generasi mendatang bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang lebih baik lagi, bahwa kita tidak perlu lagi memeluk paham fatalistik atau menimpakan kesalahan pada alam atau Tuhan. 

Ketika manusia modern saat ini telah dapat mengatasi ketiga persoalan maha dahsyat tersebut, mencapai pengamanan kemakmuran, kesehatan, dan harmoni, sesuatu yang belum ada presedennya, pertanyaan yang terlontar dari Harari ialah apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh umat manusia? Apakah menulis puisi (hal 23)? Tidak! Ia mengatakan bahwa manusia akan berjalan menargetkan tiga hal, yaitu imortalitas (memperpanjang usia), kebahagiaan, dan ketuhanan. Inilah yang dimaksud dengan “evolusi” manusia dari Homo sapiens (level binatang yang melakukan perjuangan survival) menuju Homo deus (manusia tuhan/dewa).
**
Imortalitas. Harari melihat bahwa agama-agama dan ideologi dunia sebenarnya terlihat tidak terlalu menghagai kehidupan duniawi, dan cenderung lebih mementingkan urusan di luar itu (akhirat misalnya). Oleh karena itu kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mengharapkan cepat-cepat kedatangannya. 

Jelas hal ini sangat berbeda dengan sekali dengan pandangan manusia modern yang menganggap kematian bukanlah sesuatu yang diharapkan apalagi mengenakkan atau merupakan sebuah misteri, bersifat metafisik atau suatu kebermaknaan hidup, alih-alih mereka memahaminya sebagai suatu kesalahan teknis yang sebenarnya dapat diatasi oleh para ilmuwan atau pemerintah, sekalipun kematian yang terjadi itu dalam siatuasi-situasi yang menyeramkan seperti badai, perang, atau kecelakaan mobil. Ia mengatakan, 

“Kalau saja pemerintah menjalankan kebijakan yang lebih baik, seandainya pemerintah kota melakukan tugasnya dengan benar, dan seandainya panglima militer mengambil keputusan yang lebih bijaksana, kematian seharusnya dapat dihindarkan.” (hal 26)

Saat ini menurutnya, meski masih minor tetapi terus bertambah jumlahnya, para pemikir dan ilmuwan menyatakan bahwa misi andalan dari sains modern adalah untuk mengalahkan kematian dan memberikan manusia usia muda abadi. Di antaranya adalah Aubrey de Grey (seorang gerontolog), Ray Kurzweil (peraih US National Medal of Technology and Innovation tahun 1999), Bill Maris (pemimpin perusahaan pengelola inventasi Google Venture), Peter Thiel (pendiri PayPal). Mereka ini memiliki keyakinan bahwa beberapa tahun mendatang manusia akan bisa hidup abadi. 

Tetapi Harari sendiri menganggap keyakinan mereka terlalu lebay, apalagi kalau itu terjadi di abad ke-21. Harapan yang terlalu terburu-buru. Yang masuk akal menurutnya ialah manusia tetaplah mortal (dapat meninggal) baik dalam peperangan atau kecelakaan. Walaupun begitu, kemortalan manusia super masa depan tidaklah seperti kita saat ini sebab kehidupan mereka tidak mengenal istilah kadaluwarsa. 

“Sepanjang tidak ada bom yang menghancurkan mereka menjadi berkeping-keping atau tidak ada truk menerjang, mereka masih bisa terus hidup tanpa batas waktu.” (hal 28)

Kebahagiaan. Setelah melakukan analisis terhadap pencapaian-pencapaian yang telah diraih oleh umat manusia, sampailah pada kesimpulan bahwa baginya pertumbuhan ekonomi (kemakmuran dan kesejahteraan), reformasi sosial, dan revolusi politik, tidaklah membuat manusia menjadi bahagia, untuk itu diperlukan upaya pemanipulasian biokimia, perekayaan ulang tubuh dan pikiran agar mereka dapat merasakan sensasi kebahagiaan yang lama bahkan mungkin abadi. 

Menjadi Tuhan. Jika dahulu dan sekarang peningkatan kemampuan manusia bertumpu pada hal-hal yang berada di luar diri (badan)-nya, maka menurut Harari manusia mendatang lebih bertumpu pada peningkatan internal tubuh dan pikiran manusia, atau mungkin dengan penggabungan alat-alat. 

Dari pandangan ini, Harari kemudian menjabarkan bahwa setidaknya manusia dapat menjadi tuhan dengan cara menempuh salah satu dari ketiga cara ini: rekayasa biologis, rekayasa cyborg, dan rekayasa benda-benda organik. 

Berpijak pada keyakinan bahwa Homo sapiens bukanlah hasil final evolusi (seleksi alam) umat manusia, maka para ilmuwan kali ini perlu mengoptimalkan potensi mereka secara penuh dengan salah satunya ialah melakukan rekayasa biologis melalui tulis ulang kode genetika manusia, menata ulang sambungan sirkuit otak, mengubah keseimbangan biokimiawinya, dan bahkan mungkin dengan cara menumbuhkan organ yang sama sekali baru. 

Sedangkan rekayasa cyborg lebih fantastik lagi sebab di sini telah terjadi upaya penggabungan tubuh organik dengan alat-alat non-organik seperti tangan bionik, mata artifisial, atau jutaan robot nano yang akan menjadi navigasi aliran darah manusia, yang dapat mendiagnosis juga memperbaiki kerusakan yang terjadi. 

Meski terdengar layaknya sains fiksi, tetapi nyatanya rekayasa cyborg ini telah terjadi. Sejumlah monyet telah belajar untuk mengendalikan tangan dan kaki bionik yang dilepaskan dari tubuhnya melalui elektroda yang ditanam di otak. Contoh lain adalah para pasien lumpuh mampu menggerakkan organ-organ bionik atau mengoperasikan komputer dengan kekuatan pikiran saja. Kita pun telah bisa mengendalikan jarak jauh alat-alat elektronik di rumah dengan menggunakan helm elektrik “pembaca pikiran”. Lalu Harari mengungkapkan:

“Meskipun demikian rekaya cyborg  relatif konservatif, mengingat asumsi bahwa otak organik akan tetap menjadi pusat pengendali kehidupan. Pendekatan yang lebih berani [adalah] berani membebas-tugaskan bagian-bagian organik sekaligus dan berharap merekayasa benda-benda non-organik sepenuhnya.” (hal 51).

Patut diketengahkan di sini bahwa yang dimaksud manusia menjadi tuhan tidaklah sama dengan kemahakuasaan, memiliki kualitas metafisik yang samar, atau layaknya Tuhan dalam biblikal, tetapi kurang lebih seperti dewa-dewa Yunani atau Hindu. Manusia tuhan ini masih memiliki kelemahan, kekauan, keterbatasan, sebagaimana yang dimiliki oleh dewa Zeus atau Indra, namun mereka dapat mencintai, membenci, menciptakan, dan menghancurkan dengan kekuatan yang jauh digdaya ketimbang manusia sekarang. 









Terakhir, Harari telah menyiapkan semacam argumentasi klarifikasi atas prediksinya ini kalau-kalau ada pihak yang merasa keberatan. Yang pertama, prediksi ini bukan merupakan sesuatu yang akan benar-benar dilakukan oleh mayoritas masyarakat abad ke-2. Kedua, ini adalah prediksi historis bukan manifesto politik. Ketiga, mengejar tidaklah sama dengan mendapatkan. Fokus prediksi Harari ialah pada apa yang dicoba dicapai oleh manusia abad 21, bukan apa yang berhasil dicapai. Keempat, dan menurutnya merupakan hal yang paling penting, prediksi ini bukanlah suatu risalah, melainkan condong pada upaya pembentangan opsi-opsi lain. 

sumber gambar:  
www.readandsurvive.com
www.readingraphic.com 
www.civigadget.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar