Menang dan Kalah di Hari Raya Idulfitri

Setiap menjelang berakhirnya Bulan Ramadan, umat muslim dihadapkan pada sebuah dilema. Di satu sisi mereka harus bergembira menyambut hari raya namun di sisi lain juga bersedih karena Bulan yang penuh rahmat ini akan berakhir.

Wajar, memang karena Bulan Ramadan adalah bulan yang mulia. Pahala ibadah dilipat gandakan, ampunan Allah terbuka lebar, dan pintu setan (kejahatan) di tutup. Setiap muslim yang paham tentang keutamaan ini pasti merasa sedih. Begitu pun dengan hari raya idulfitri yang merupakan puncak kebahagiaan dan kemenangan karena telah berhasil melawati perjuangan melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh.

Pada tanggal 1 syawal, orang-orang menyebutnya dengan hari raya lebaran atau idulfitri. Umat muslim melakukan banyak hal sebagai euforia di hari tersebut. Ada yang mudik ke kampung halaman sambil bersilaturahim, ada yang bersedekah atau berbagi ampau, memakai baju baru, makan-makan masakan khas daerah atau khas di hari lebaran dan sebagainya. Yang jelas di hari raya idulfitri semua orang terlihat bahagia.

Namun di hari raya yang bahagia itu, ada hal-hal yang jarang orang-orang renungkan. Mungkin karena tersibukkan oleh euforia lebaran.  Bahkan dari sebelum lebaran tiba pun sudah disibukkan. Sedikit orang yang berusaha meraih lailatul qadar, jamaah salat di masjid berkurang sedangkan mall dan pasar membludak, bahkan sebagian orang sudah tak malu lagi makan di siang hari di penghujung Bulan Ramadan. Semangat ibadah di awal Bulan Ramadan tergeserkan oleh hal-hal duniawi.

Banyak orang larut dalam suasana bahagia di hari raya tanpa memikirkan apakah amal ibadah selama ramadan diterima oleh Allah? Kita berlindung pada Allah jangan sampai kita termasuk orang yang disabdakan Nabi saw sebagai orang yang rugi yaitu orang yang melewati Bulan Ramadhan namun dosa-dosanya tak diampuni atau hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja sedangkan pahala tak ada.

Kemudian pernahkah kita berpikir, masih sampaikah umur kita di Bulan Ramadan tahun depan? Lalu masihkah kita bersama orang-orang yang kita cintai di Bulan Ramadan depan? Tak ada yang menjamin umur kita sampai di Bulan Ramadan tahun depan.

Dengan merenung seperti ini akan membuat kita lebih semangat dan tak lalai dalam menjalankan ibadah selepas ramadan. Begitu pun dengan keluarga atau orang-orang yang kita cintai, tak ada yang menjamin kita masih bersama mereka. Hari ini kita berpuasa bersama orang tua, pasangan, adik-kakak tercinta, namun tahun depan belum tentu masih lengkap seperti ini. Maka dari itu jangan sia-siakan kebersamaan ramadan dan hari raya bersama mereka.

Semua orang bisa mendapatkan kebahagian lebaran, namun tak semua orang bisa mendapatkan idulfitri yang sesungguhnya. Orang yang berpuasa dan tak berpuasa bisa berlebaran bersama. Orang yang berzakat dan tidak juga berlebaran bersama, bahkan orang yang salat dan tidak salat juga berlebaran bersama. Namun berbeda dengan idulfitri, tak semua orang bisa mendapatkannya.

Idulfitri bermakna hati yang kembali fitrah dari dosa-dosa dan menjadi semakin baik setelahnya. Idulfitri juga menjadi kemenangan bagi orang yang telah sukses menahan hawa nafsunya di Bulan Ramadan. Idulfitri menjadi tanda bahwa mereka telah berhasil menundukkan hawa nafsu mereka untuk taat kepada Allah Swt., walaupun sungguh berat rasanya karena meninggalkan hal-hal yang sebelumnya diperbolehkan. Yang halal saja tidak diperbolehkan apalagi yang haram.

Begitulah hari raya idulfitri, kita memang harus menunjukan kebahagian di dalamnya. Bahkan orang yang papa sekali pun dibahagiakan dengan tersebarnya zakat, para karyawan mendapat THR, bahkan anak-anak mendapat uang lebaran (ampau). Namun jangan sampai kita tersilaukan oleh euforia di dalamnya. Idulfitri ibarat wisuda dalam pendidikan.

Selama sebulan kita dididik menahan nafsu. Maka setelah idulfitri kita lulus dan berubahlah akhlak kita menjadi lebih baik. Kurangi amarah dan sifat-sifat tercela lainnya.

Jangan menilai orang yang sukses ramadan ketika Bulan Ramadan, tapi lihatlah di bulan-bulan setelah ramadan. Adakah perubahan yang lebih baik setelahnya. Semoga di hari raya idulfitri ini kita mendapatkan kebahagiaan dan kemenangan yang sesunggunya, bukan bahagia sekadar euforia sedangkan pahala kita tak bertambah, dosa masih banyak dan akhlak tak kunjung lebih baik. Naudzsubillah. Itu hanya kebahagiaan semu.

Marilah bersama kita berdoa mendapat yang terbaik di hari raya. Penulis belum tentu lebih baik. Semoga tulisan ini membuat diri pribadi ini sadar dan mampu terus memperbaiki diri. Akhir kata selamat hari raya idulfitri. Taqabalalahu minna wa minkum wa siyamana wa siyaamakum. Jangan lupa bahagia !

sumber gambar: www.jambi.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar