3+1 Alasan Kemenangan Ridwan Kamil

Sore tadi hasil quick count menunjukkan kalau pasangan paslon nomor 1 Jabar, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum mendapat perolehan suara terbanyak yang menandakan bahwa merekalah yang terpilih menjadi gubernur Jabar, menggantikan posisi Ahmad Heriawan-Deddy Mizwar, meskipun mereka berdua meski harus menunggu hasil perhitungan resminya.

Pertanyaan besarnya, mengapa mereka bisa memenangkan kontestasi politik ini? mengapa rakyat, misalnya, tidak mendukung Deddy Mizwar saja yang setidaknya sudah memiliki pengalaman menduduki posisi sebagai wakil gubernur? Tentu, alasannya banyak dan beragam, tetapi cukuplah di sini akan saya paparkan sebagiannya.

Branding (Figuritas)
Ini yang pertama dan paling utama alasan mengapa kang Emil menang, sesuatu yang sayangnya tidak dilakukan, dengan skala yang masif, oleh calon-calon gubernur lainnya. Sudah sangat sejak lama ia membranding diri, khususnya ketika ia sedang menjabat sebagai wali kota Bandung.

Kang Emil adalah orang yang cerdas, ia bisa membaca realitas kekinian, setidaknya setelah mengetahui kalau kebanyakan warganya adalah dari kalangan muda-mudi, maka strategi pendekatannya pun serba kekinian. Tidak melulu serius tetapi sarat makna. Malah lebih sering berisi guyonan. Kita bisa langsung menelusurinya di akun instagram dan facebooknya, tempat di mana ia begitu masif membranding dirinya. Alhasil ia dapat dikenal sekaligus dicintai oleh warganya.

Tidak hanya Bandung, tetapi juga oleh masyarakat luas lintas umur dan lintas agama. Bahkan saya juga mengira tidak sedikit dari masyarakat Indonesia saat ini yang lebih mengenal dirinya dibanding pemimpin daerahnya sendiri.

Religius yang Inklusif
Ini sebenarnya turunan dari alasan yang pertama. Menurut salah satu survei Indonesia merupakan negara yang sangat mementingkan norma agama, sehingga wajar jika segalanya selalu diperhitungkan melalui indikator-indikator keagamaan, termasuk soal perpolitikan. Oleh karena itu, hanya akan bunuh diri saja jika ada seseorang yang berpolitik tanpa berpakaian agama.

Tetapi kenyataannya empat pasang cagub Jabar kemarin tidak semuanya membranding diri sebagai sosok pemimpin yang begitu religius. Pasangan Hasanah salah satunya, mereka kering sekali dan kurang melihat potensi ini, sesuatu yang kontras dengan apa yang dilakukan oleh kang Emil.

Begitu pun dengan pasangan D2, meski Deddy Mizwar suka mengucapkan terminologi-terminologi agama, tetapi sepertinya kurang sinkron dengan apa yang dilakukan oleh Deddy Mulyadi yang terkesan ingin mencampurkan nilai agama dengan unsur-unsur kearifan lokal dalam kampanyenya, sesuatu yang ternyata kurang disukai oleh kalangan muslim modern apalagi  masyarakat perkotaan yang malah menganggap upaya tersebut dapat mereduksi ajaran murni agama (Islam).
Bahkan namanya semakin memburuk saja saat dia diadukan oleh salah satu ormas Islam karena dianggap telah menistakan agama yang tertuang dalam salah satu bukunya. Berita ini tersiar luas, baik di medsos maupun televisi.

Tinggal kubu Rindu dan Asyik. Yang belakangan disebut adalah paslon yang sangat menggunakan pendekatan ini, bahkan tidak sedikit yang menempelkan cap ustaz kalau enggan berkata ulama, kepada Syaikhu, termasuk dari kalangan ulama kondang.

Tetapi Ridwan Kamil tak mau “kalah”. Ia pun menggaet Uu yang sudah sangat familiar sama dunia keislaman dan kepesantrenan. Tidak cukup dengan battle Uu-Syaikhu, bapak dua anak lulusan ITB ini pun dengan cerdas membranding dirinya, bahwa ia pun adalah sosok yang begitu religius. Berkal-kali ia memperkenalkan dirnya sebagai cucu dari ulama NU sekaligus Panglima kaHisbullah (KH Muhijiddin) yang dengannya kang Emil diwarisi 18 pesantren. Ia pun istiqamah mengampanyekan sembari menjadi role model pemimpin yang selalu shalat subuh berjamaah di masjid. 

Ia juga getol membantu Palestina, Rohingya, dan menyelesaikan persoalan aktivitas-aktivitas keagamaan yang ditutup secara sepihak oleh pihak tak bertanggung jawab. Berbeda dengan paslon Asyik yang dengan kereligiusitasannya dapat menggaet umat muslim perkotaan, lebih jauh sikap inklusifnya kang Emil membuatnya dapat diterima oleh banyak kalangan dari lintas agama. Jangan harap umat Kristen atau agama lain memilih Asyik, karena di mata mereka, umumnya, PKS sangatlah enggak banget.

Program Inovatif
Jika tiga paslon lain umumnya merencanakan program yang terlihat itu-itu saja, bedanya hanya pada level kuantitas yang biasanya terlalu dipaksakan dan bombastis, program yang diusung paslon nomor 1 ini lebih inovatif dan kekinian sehingga mudah sekali menarik hati kaum milenial. Betapapun, menurut saya, masyarakat Indonesia belum terlalu melihat sisi program dan cenderung masih stuck pada persoalan figuritas.

Perempuan (pasangan)
Kalau ingin melihat apa yang paling membedakan Ridwan Kamil dengan ketiga cagub lainnya, perempuan adalah jawabannya. Si Cinta, begitulah ia sering menyebut istrinya, selalu dibawa ke mana pun ia pergi, suatu approaching yang meskipun tidak baru, tetapi kembali diaktifkan lagi oleh kang Emil. Kemesraan di antara keduanya, yang sering diungkapkan dengan lelucon kekinian, menjadi daya pikat tersendiri bagi para generasi kita saat ini.

Demikianlah keempat alasan mengapa paslon RK-UU dapat memenangkan hati warga Jabar. Pesan kami sederhana, semoga mereka dapat amanah, dapat merangkul semua pihak, dan bisa menaikkan derajat kaum lemah-tertindas. Amin

sumber gambar: www.kumparan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar