Hendrik Mulyana
Di waktu masa kampanye, beberapa lembaga survei memprediksi siapa yang akan menjadi pasangan Jabar 1. Sayangnya, ada di antara mereka yang menelurkan hasil yang sangat-sangat meleset dari kenyataan. 

Paslon Asyik hanya diprediksi akan mendulang suara sebanyak 7% saja (cek sendiri apa lembaga surveinya), sesuatu yang kelihatannya biasa-biasa saja (namanya juga cuma prediksi) tetapi ternyata berdampak besar pada kondisi psikologis masyarakat pendukungnya pra pemilu. 

Tidak sedikit di antara mereka akhirnya lebih memilih untuk menjatuhkan pilihannya kepada D2 atau Rindu. Demikianlah pemikiran praktis mereka. Tetapi mereka terkecoh, ternyata menurut perhitungan quick count-nya Saiful Mujani Asyik memperoleh suara yang berdempetan dengan Rindu.  

Dari sini kita dapat bertanya-tanya, mengapa prediksi lembaga survei ini bisa meleset sedemikian jauh? Apakah ada udang di balik bakwan? Semoga saja tidak. 

Oleh karena itu saya cenderung menyimpulkan bahwa kemenangan kang Emil (versi quick count) kemarin dimungkinkan oleh dua hal, pertama karena memang pendukungnya banyak, atau yang kedua, karena pecahnya suara para pendukung Asyik yang disebabkan oleh pengaruh psikologis dari hasil prediksi lembaga survei. 

Terlepas dari kejadian yang telah berlalu ini, sebagai rakyat kecil kita hanya bisa menunggu keputusan resminya saja sebab ternyata Gerindra memiliki perhitungan dan hasilnya sendiri atas pemilu Jabar kemarin yang menurut mereka Asyik-lah yang memperoleh suara terbanyak.

Alhasil, dari lelucon perpolitikan ini seharusnya kita dapat belajar bahwa untuk pemilihan presiden nanti sudah seharusnya rakyat tidak usah bergantung atau terpengaruh pada prediksi para lembaga survei. Telaah saja visi-misinya, karakternya, background partai pengusungnya, dan lain sebagainya. Begitu pret!

*penulis adalah pendukung gerakan 2019gantipresiden 

sumber gambar: www.kompas.com
Sore tadi hasil quick count menunjukkan kalau pasangan paslon nomor 1 Jabar, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum mendapat perolehan suara terbanyak yang menandakan bahwa merekalah yang terpilih menjadi gubernur Jabar, menggantikan posisi Ahmad Heriawan-Deddy Mizwar, meskipun mereka berdua meski harus menunggu hasil perhitungan resminya.

Pertanyaan besarnya, mengapa mereka bisa memenangkan kontestasi politik ini? mengapa rakyat, misalnya, tidak mendukung Deddy Mizwar saja yang setidaknya sudah memiliki pengalaman menduduki posisi sebagai wakil gubernur? Tentu, alasannya banyak dan beragam, tetapi cukuplah di sini akan saya paparkan sebagiannya.

Branding (Figuritas)
Ini yang pertama dan paling utama alasan mengapa kang Emil menang, sesuatu yang sayangnya tidak dilakukan, dengan skala yang masif, oleh calon-calon gubernur lainnya. Sudah sangat sejak lama ia membranding diri, khususnya ketika ia sedang menjabat sebagai wali kota Bandung.

Kang Emil adalah orang yang cerdas, ia bisa membaca realitas kekinian, setidaknya setelah mengetahui kalau kebanyakan warganya adalah dari kalangan muda-mudi, maka strategi pendekatannya pun serba kekinian. Tidak melulu serius tetapi sarat makna. Malah lebih sering berisi guyonan. Kita bisa langsung menelusurinya di akun instagram dan facebooknya, tempat di mana ia begitu masif membranding dirinya. Alhasil ia dapat dikenal sekaligus dicintai oleh warganya.

Tidak hanya Bandung, tetapi juga oleh masyarakat luas lintas umur dan lintas agama. Bahkan saya juga mengira tidak sedikit dari masyarakat Indonesia saat ini yang lebih mengenal dirinya dibanding pemimpin daerahnya sendiri.

Religius yang Inklusif
Ini sebenarnya turunan dari alasan yang pertama. Menurut salah satu survei Indonesia merupakan negara yang sangat mementingkan norma agama, sehingga wajar jika segalanya selalu diperhitungkan melalui indikator-indikator keagamaan, termasuk soal perpolitikan. Oleh karena itu, hanya akan bunuh diri saja jika ada seseorang yang berpolitik tanpa berpakaian agama.

Tetapi kenyataannya empat pasang cagub Jabar kemarin tidak semuanya membranding diri sebagai sosok pemimpin yang begitu religius. Pasangan Hasanah salah satunya, mereka kering sekali dan kurang melihat potensi ini, sesuatu yang kontras dengan apa yang dilakukan oleh kang Emil.

Begitu pun dengan pasangan D2, meski Deddy Mizwar suka mengucapkan terminologi-terminologi agama, tetapi sepertinya kurang sinkron dengan apa yang dilakukan oleh Deddy Mulyadi yang terkesan ingin mencampurkan nilai agama dengan unsur-unsur kearifan lokal dalam kampanyenya, sesuatu yang ternyata kurang disukai oleh kalangan muslim modern apalagi  masyarakat perkotaan yang malah menganggap upaya tersebut dapat mereduksi ajaran murni agama (Islam).
Bahkan namanya semakin memburuk saja saat dia diadukan oleh salah satu ormas Islam karena dianggap telah menistakan agama yang tertuang dalam salah satu bukunya. Berita ini tersiar luas, baik di medsos maupun televisi.

Tinggal kubu Rindu dan Asyik. Yang belakangan disebut adalah paslon yang sangat menggunakan pendekatan ini, bahkan tidak sedikit yang menempelkan cap ustaz kalau enggan berkata ulama, kepada Syaikhu, termasuk dari kalangan ulama kondang.

Tetapi Ridwan Kamil tak mau “kalah”. Ia pun menggaet Uu yang sudah sangat familiar sama dunia keislaman dan kepesantrenan. Tidak cukup dengan battle Uu-Syaikhu, bapak dua anak lulusan ITB ini pun dengan cerdas membranding dirinya, bahwa ia pun adalah sosok yang begitu religius. Berkal-kali ia memperkenalkan dirnya sebagai cucu dari ulama NU sekaligus Panglima kaHisbullah (KH Muhijiddin) yang dengannya kang Emil diwarisi 18 pesantren. Ia pun istiqamah mengampanyekan sembari menjadi role model pemimpin yang selalu shalat subuh berjamaah di masjid. 

Ia juga getol membantu Palestina, Rohingya, dan menyelesaikan persoalan aktivitas-aktivitas keagamaan yang ditutup secara sepihak oleh pihak tak bertanggung jawab. Berbeda dengan paslon Asyik yang dengan kereligiusitasannya dapat menggaet umat muslim perkotaan, lebih jauh sikap inklusifnya kang Emil membuatnya dapat diterima oleh banyak kalangan dari lintas agama. Jangan harap umat Kristen atau agama lain memilih Asyik, karena di mata mereka, umumnya, PKS sangatlah enggak banget.

Program Inovatif
Jika tiga paslon lain umumnya merencanakan program yang terlihat itu-itu saja, bedanya hanya pada level kuantitas yang biasanya terlalu dipaksakan dan bombastis, program yang diusung paslon nomor 1 ini lebih inovatif dan kekinian sehingga mudah sekali menarik hati kaum milenial. Betapapun, menurut saya, masyarakat Indonesia belum terlalu melihat sisi program dan cenderung masih stuck pada persoalan figuritas.

Perempuan (pasangan)
Kalau ingin melihat apa yang paling membedakan Ridwan Kamil dengan ketiga cagub lainnya, perempuan adalah jawabannya. Si Cinta, begitulah ia sering menyebut istrinya, selalu dibawa ke mana pun ia pergi, suatu approaching yang meskipun tidak baru, tetapi kembali diaktifkan lagi oleh kang Emil. Kemesraan di antara keduanya, yang sering diungkapkan dengan lelucon kekinian, menjadi daya pikat tersendiri bagi para generasi kita saat ini.

Demikianlah keempat alasan mengapa paslon RK-UU dapat memenangkan hati warga Jabar. Pesan kami sederhana, semoga mereka dapat amanah, dapat merangkul semua pihak, dan bisa menaikkan derajat kaum lemah-tertindas. Amin

sumber gambar: www.kumparan.com
Sungai Citarum mendadak menjadi pusat perhatian dunia. Hal ini terjadi setelah Gary A Benchegib seorang pembuat film asal Perancis membuat film dokumenter tentang kondisi Sungai Citarum. Gary mengarungi Sungai Citarum dengan sampan buatannya sendiri selama dua minggu. Terrekamlah kondisi yang sebenarnya dari sungai yang memiliki panjang 290 km ini. Berdasarkan rekamannya sungai citarum layak disebut salah satu sungai terkotor di dunia. Menurut Gary hal yang paling banyak mengotori sungai Citarum adalah sampah rumah tangga.

Merespon hal ini pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dengan sigap dengan mencanangkan program penanggulangan pencemaran dan kerusakan daerah aliran sungai Citarum. Peresmian program tersebut dilakukan di kilometer 0 Citarum Situ Cisanti Kertasari Bandung. Tentu saja sudah puluhan tahun pemerintah berusaha menyelesaikan masalah di daerah aliran sungai Citarum. Namun sampai hari ini hasilnya belum maksimal.

Sungai Citarum adalah salah satu permasalahan di Provinsi Jawa Barat. Selain persoalan lingkungan, kemiskinan juga menjadi salah satu permasalahan yang harus diselesaikan. Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa angka kemiskinan tertinggi untuk perkotaan ditempati oleh provinsi Jawa Barat. Jawa Tengah menempati peringkat kedua.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik ( BPS) per Maret 2017, angka kemiskinan di Jawa Barat mengalami penurunan. Namun, penurunan ini tidak signifikan yaitu dari 8,77 persen menjadi 8,71 persen atau hanya mengalami penurunan 0,006 persen dari target 1 persen setiap tahun. Artinya, masih ada sekitar 4 juta lebih warga Jawa Barat yang hidup dalam garis kemiskinan.

Dua hal tersebut merupakan sekelumit dari berbagai macam permasalahan Provinsi Jawa Barat. Banyaknya permasalahan ini merupakan tanggung jawab pemimpin untuk mengatasinya. Tentu bukan berarti bahwa segala hal harus dikerjakan oleh pemimpin Jawa Barat sendirian. Melainkan seorang pemimpin lah yang harus mengkoordinasikan seluruh elemen dan stakeholders yang ada. Koordinasi yang baik akan melahirkan penyelesaian masalah yang efektif dan efisien.

Ada beberapa kriteria pemimpin yang dibutuhkan Jawa Barat hari ini. Jika merujuk kepada sifat-sifat Nabi Muhammad SAW ada empat kriteria yang wajib dimiliki oleh pemimpin. Pertama adalah integritas, hal ini merupakan syarat mutlak bagi seorang pemimpin.

Tanpa integritas, seorang pemimpin dapat melakukan tindakan korupsi yang merugikan rakyatnya. Menurut mendagri, pasca otonomi daerah 313 kepala daerah tersangkut kasus korupsi. Hal ini memperlihatkan bahwa integritas masih belum menjadi karakter sebagian pemimpin kita.

Kriteria kedua adalah kepercayaan rakyat. Seorang pemimpin yang baik harus menjadi sosok yang memang dipercaya oleh konstituennya. Sistem demokrasi kita memungkinkan mayoritas rakyat memilih pemimpin yang paling mereka percaya. Tentu saja bukan berarti menihilkan peran oposisi sebagai control terhadap kekuasaan.

Kriteria ketiga adalah kompetensi. Pemimpin Jawa Barat haruslah seorang yang kompeten setidaknya dalam dua hal, yakni leadership dan manajerial. Dengan leadership yang bagus maka kebijakan akan berjalan efektif. Dengan manajerial yang baik maka kebijakan akan berjalan dengan efisien dan sesuai perencanaan.

Kriteria keempat adalah komunikatif. Komunikasi yang baik merupakan hal yang sangat penting dimiliki seorang pemimpin. Banyak pemimpin yang disalahfahami karena kurang pandai mengkomunikasikan gagasannya. Maka dari itu kemampuan komunikasi yang baik dapat menunjang keberhasilan kepemimpinan.

Seseorang yang memenuhi empat kriteria tersebut dapat menjadi sosok pemimpin yang ideal. Namun pemimpin pada masa ini telah memasuki era baru, yakni era millennial. Menurut Alvin Toffler peradaban manusia telah melewati tiga gelombang. Gelombang pertama adalah masyarakat pertanian. Gelombang kedua masyarakat industri. Gelombang ketiga adalah masyarakat informasi. Kita berada pada gelombang ketiga yaitu era millennial.

Tentu saja tantangan seorang pemimpin pada era ini berbeda dengan era sebelumnya. Maka dari itu selain keempat kriteria di atas, ada satu kriteria lagi yang harus dimiliki oleh pemimpin masa ini, yakni kreatifitas. Jawa Barat memerlukan pemimpin yang kreatif, yang berani melakukan hal-hal yang baru dan out of the box. Seorang pemimpin yang terbuka dengan gagasan baru dan tidak alergi dengan perubahan yang ada. Perubahan dijadikan sebagai tantangan bukan ancaman. Pemimpin seperti ini yang akan menyelesaikan permasalahan di Jawa Barat dengan lebih baik lagi.

Menurut Rhenald Kasali ada sebuah fenomena baru pada masa ini yang bernama disrupsi. Fenomena ini ditandai dengan runtuhnya raksasa-raksasa bisnis yang selama bertahun-tahun menguasai pasar. Disrupsi bisa diatasi salah satunya dengan kreatifitas dan inovasi tiada henti. Tentu saja pemerintah berbeda dengan perusahaan. Namun pemimpin kreatif sangatlah relevan untuk Jabar dalam menghadapi era disrupsi ini.

sumber gambar: www.tribunnews.com


Banyak sekolah dan guru yang kepalang pusing dengan perubahan kurikulum yang terus bergulir di negeri ini. Belum lagi selesai diaplikasikan di semua tempat, kurikulum telah berubah, yang tentunya sedikit banyak merugikan guru apalagi murid. Dalam suasana pendidikan yang tidak menentu ini akhirnya tidak sedikit dari sekolah di Indonesia, termasuk Sekolah Tunas Unggul, yang memutuskan untuk mengadopsi kurikulum internasional meski dalam waktu yang sama perlu mendialektikakan dengan kurikulum pemerintah, seperti Cambridge dan International Baccalaureate (IB). Pada artikel ini saya memperkenalkan secara singkat mengenai salah dua dari program IB yang di antara adalah Middle Years Programme (MYP) dan Diploma Programme (DP).

Middle Years Programme (MYP)
Yang pertama disebut merupakan sebuah program dari International Baccalaureate (IB), yayasan pendidikan internasional yang bepusat di Jenewa (Swiss), yang diperuntukkan bagi pelajar berumur 11-16 tahun yang memiliki fokus pada perelasian ilmu-ilmu yang mereka pelajari dengan situasi dunia nyatanya, mempersiapkan kesuksesan masa depan studi dan kehidupan mereka. 

Tujuan dari program MYP ini ialah untuk dapat mengembangkan pembelajaran aktif dan pemikiran global sehingga siswa dapat memiliki sifat empati terhadap orang lain serta bisa mengejar tujuan dan pemaknaan hidupnya. Program ini pun memberdayakan siswa untuk dapat mengamati berbagai masalah dan pandangan-pandangan penting secara lokal, nasional, bahkan global. Hasilnya, mereka akan memiliki pemikiran yang kreatif, kritis, dan reflektif. 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti program MYP akan: (1) terbangun rasa percaya dirinya dalam mengatur pola belajar mereka. (2) dengan learn by doing dapat menghubungkan suasana kelas dengan kultur global. (3) memiliki skill kekritisan akademik yang mengungguli siswa non IB. (4) memiliki kesuksesan besar di dalam ujian Diploma Program secara konsisten. (5) memiliki perkembangan untuk unggul di dalam kultur sekolah yang positif. 

Jika diturunkan ke tataran praktis, MYP terbagi ke dalam delapan kelompok mata pelajaran: (1) tambahan bahasa, memberikan siswa kesempatan untuk mengembangkan wawasan ke dalam fitur, proses, dan keahlian berbahasa, serta konsep budaya agar dapat menyadari bahwa ada beragam cara hidup, cara memandang sesuatu, dan cara berperilaku di dunia ini. (2) bahasa dan sastra yang terdiri dari beberapa keterampilan seperti mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, mengamati, dan mempresentasikan. Tujuannya untuk mendukung pemahaman siswa dengan cara memberi mereka kesempatan menginvestigasi, baik secara pesonal maupun kelompok, bertindak dan merefleksikan belajarnya. 

(3) humaniora dan ilmu sosial. Di kelompok mata pelajaran ini siswa mengumpulkan, mendeskripsikan, dan menganalisis data yang digunakan di dalam ilmu sosial, menguji hipotesis, dan belajar bagaimana menafsirkan informasi yang kompleks termasuk yang berasal dari sumber-sumber utama. (4) ilmu alam. Di sini siswa didorong untuk menginvestigasi permasalahan-permasalahan melalui penelitian, observasi, dan eksperimen, secara individu maupun kelompok. 

(5) matematika. Kelompok mata pelajaran ini (bilangan, aljabar, geometri, trigonometri, statistik, dll) memperkenalkan pengamatan dan pengaplikasikan, menolong siswa untuk mengembangkan teknik penyelesaian masalah yang akan berguna di dunia luar sekolah. (6) kesenian

(7) pendidikan olahraga, agar siswa dapat memahami dan mengapresiasi nilai aktif secara fisik dan mengembangkan motivasi untuk memilih gaya hidup sehat. (8) desain. Di bagian ini siswa ditantang untuk menggunakan keterampilan berpikir praktik dan kreatif untuk menyelesaikan persoalan desain, untuk mengeksplorasi peran desain dalam konteks historis dan kontemporer, dan untuk mempertimbangkan tanggung jawab mereka saat membuat keputusan desain. 

Setidaknya dibutuhkan 50 jam pelajaran di setiap kelompok mata pelajarannya. Setiap tahun siswa perlu terlibat dalam satu unit interdisipliner yang dicanangkan secara berkelompok yang melibatkan setidaknya dua kelompok mata pelajaran. Tidak hanya itu, siswa pun perlu menyelesaikan proyek jangka panjang yang mana mereka akan memutuskan apa yang ingin mereka pelajari (teliti), mengidentifikasi apa yang telah mereka ketahui, menemukan apa yang perlu mereka ketahui untuk menyelesaikan proyek, dan membuat proposal untuk menyelesaikannya. 

Karena MYP bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman kepribadian dan tanggug jawab sosialnya, maka ada beberapa konsep yang dapat mendukung tujuan itu seperti: (1) belajar dan pembelajaran yang kontekstual. Pembelajaran yang terbaik ialah ketika siswa mendapat pengalaman belajar yang memiliki keterhubungan dengan persoalan kehidupan real mereka. Dengan menggunakan konteks global siswa dapat mengembangkan pemahaman tentang nilai kemanusiaan universal serta pengembangan eksplorasi terhadap identitas dan pertaliannya, identitas personal dan kultural, orientasi ruang dan waktu, inovasi saintifik dan teknis, keadilan dan pengembangan, globalisasi dan keberlanjutan. 

(2) pemahaman konseptual. Konsep adalah ide-ide besar yang memiliki relevansi dalam disiplin ilmu atau interdisipliner ilmu tertentu yang dengannya siswa dapat menyelidiki isu-isu dan ide-ide penting personal, lokal, dan global yang diuji secara holistik. (3) pendekatan pembelajaran. Integrasi dari seluruh kelompok mata pelajaran memberi sebuah fondasi untuk pembelajaran mandiri juga mendorong pengaplikasian pengetahuan dan keterampilan mereka di dalam konteks-konteks yang tidak familiar. Pengembangan dan pengaplikasian skill sosial, berpikir, meneliti, komunikasi, dan manajemen diri akan mengajarkan mereka bagaimana mereka belajar. 

(4) layanan sebagai tindakan melalui community service. Para siswa melakukan aksi sosial untuk mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya di dalam kelas sebagai bentuk kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan. Community service ini merupakan bagian interagral dari program MYP. (5) inklusi dan keragaman belajar

Diploma Programme (DP)
Ini merupakan program lanjutan dari MYP yang diperuntukkan bagi pelajar berumur 16-19 tahun. Melalui program ini sekolah dapat mengembangkan siswa yang memiliki beberapa keahlian, seperti: (1) pengetahuan yang luas dan mendalam. (2) unggul secara fisik, intelektual, emosional, dan etika. (3) studi setidaknya dua baasa asing. (4) unggul dalam pelajaran akademik tradisional. (5) mengeksplorasi karakteristik pengetahuan melalui pembelajaran teori yang unik.

Sebagai sebuah pembelajaran holistik, MYP memberi siswa sebanyak dan seberagam mungkin mata pelajaran sehingga mereka dapat belajar melihat pengetahuan sebagai satu kesatuan yang utuh.
Beberapa penelitian telah menunjukkan keuntungan atau kelebihan dari siswa yang menggunakan program DP ini, di antaranya: (1) mereka lebih mampu mengatasi beban kerja yang menuntut, lebih mampu mengatur waktu, dan dapat memenuhi harapan di tempat mereka bekerja. (2) analisis di Kanada, Inggris, dan Amerika, menemukan bahwa tugas esai panjang yang dilakukan oleh siswa DP dapat meningkatkan pendekatan mereka untuk belajar di perguruan tinggi. (3) menurut penelitian tahun 2013, 72% siswa DP di Cina diterima di salah satu 500 universitas top dunia. 

Mengenai kurikulumnya, DP terbagi menjadi dua yakni inti dan kelompok mata pelajaran. Di dalam kurikulum inti, ada tiga buah unsur penting, seperti: teori pengetahuan yang di dalamnya siswa merefleksikan karakteristik pengetahuan dan bagaimana cara mengetahui apa yang dianggap telah ketahui. Esai panjang yang merupakan esai penelitian mandiri yang dibuat dalam bentuk makalah 4000 kata. Kreativitas, aktivitas, dan pelayanan yang di dalamnya siswa akan menyelesaikan suatu proyek terkait dengan ketiga konsep tersebut.   

Sedangkan di dalam kelompok mata pelajaran terbagi menjadi enam buah, di antaranya: (1) kajian bahasa dan sastra. (2) tambahan bahasa. (3) humaniora dan ilmu sosial. (4) ilmu alam. (5) matematika. (6) kesenian.
Kemudian mengenai assessment. DP akan mengukur sejauh mana siswa telah menguasai keterampilan akademik lanjutan, misalnya (1) dalam menganalisis dan menyajikan informasi, (2) mengevaluasi dan membangun argumen, (3) memecahkan masalah secara kreatf. Tidak selesai di sana, keterampilan dasar pun dinilai, termasuk (1) menguasai pengetahuan, (2) memahami konsep-konsep kunci, (3) menerapkan metode-metode standar. Selain keterampilan akademik, penilaian DP mendorong siswa untuk memiliki pandangan global dan keterampilan budaya luar selama sesuai. 



IB menggunakan penilaian ekternal dan internal di dalam DP. Bentuk-bentuk penilaian yang pertama termasuk esai, masalah terstruktur, pertanyaan tanggapan singkat, pertanyaan respon data, pertanyaan respon teks, pertanyaan studi kasus, pertanyaan pilihan ganda (meskipun jarang digunakan). Adapun bentuk penilaian internal dapat berupa tugas lisan (dalam mata pelajaran bahasa), kerja lapangan (dalam mata pelajaran geografi), riset di laboratorium (dalam mata pelajaran sains), investigasi (dalam mata pelajaran matematika), dan penampilan (dalam mata pelajaran kesenian)

Referensi
www. Ibo.org/programmes/diploma-programme/ diakses pada 1 Mei 2018
www. Ibo.org/programmes/middle-years-programme/ diakses pada 1 Mei 2018
International School of Paris. (2017). MYP Handbook 2017-18: Education for Complexity
International Baccalaureate Organization. (2014). MYP: From Principles into Practice.

sumber gambar: www.osc-ib.com