Tantangan Pendidikan Zaman Now

Panji Futuhrahman

Beberapa hari lalu kita baru saja merayakan hari pendidikan nasional. Tapi seperti tahun yang lalu-lalu, perayaan itu hanya euphoria, tanpa jelas meninggalkan semangat baru dalam membangun pendidikan atau semacamnya. Padahal, hari ini pendidikan ditantang oleh banyak persoalan, mulai dari rusaknya moral, hilangnya keteladanan, maraknya kriminalitas maupun tindak kenakalan remaja di sekolah dan masih banyak lagi yang kiranya  tak perlu saya sebut satu persatu di sini.

Ada tiga kata kunci yang akan coba diurai dan ditarik benang-benang merah keterkaitannya dengan pendidikan: milenials, bonus demografi dan revolusi industry 4.0. untuk dua kata yang pertama sudah tidak asing di telinga kita, tapi yang terakhir saya yakin masih belum banyak dibahas. Padahal revolusi indutri tidak kalah penting dari dua hal yang lainnya.

Milenials adalah kata yang disematkan bagi generasi yang lahir di era tahun 2000. Generasi ini lahir setelah generasi X, Y, dan generasi Z. Generasi ini lahir dengan karakteristiknya, banyak yang menganalisa karakteristik ini bawaan ada pula yang menyebutnya bentukan struktur sosial yang berubah. Generasi ini sering disebut lebih  manja ketimbang para pendahulunya dan cenderung menginginkan hasil instan dari setiap apa yang ia kerjakan. Namun para milenial juga punya kelebihan semisal lebih cepat menangkap perubahan dan menyesuakan diri dengan perubahan itu.

Kedua adalah bonus demografi. Sederhananya berarti sebuah fase di mana penduduk dari suatu negara kebanyakan berusia produktif, usia 14-64 tahun. Dengan banyaknya penduduk di usia produktif itu banyak pihak meramalkan kebangkitan bangsa Indonesia. Keadaan ini diperkirakan akan dialami bangsa ini menjelang pertengahan abad 21. 

Sedangkan revolusi industry 4.0 adalah istilah yang mulanya dikenalkan para pengamat Jerman dalam menggambarkan revolusi industri yang akan dialami peradaban manusia. Kita perah mengalami revolusi pertama saaat ditemukannya mesin uap. Saat itu pekerjaan petani banyak terbantu saat ditemukannya alat untuk mengolah padi dan gandum. Revolusi berikutnya menimpa peradaban  manusia tepatnya Eropa saat ditemukan sistem motor, Walter bersaudara tokohnya. Beragam alat pembantu kegiatan produksi mulai tekstil hingga makanan juga transportasi bermunculan setelahnya—Walter bersaudara ini juga penemu pesawat terbang, sontak hal ini membuat banyak lahan pekerjaan kemudian alih tangan dari yang mulanya memperkerjakan manusia menjadi dikerjakan oleh mesin-mesin produksi di banyak pabrik. Ratusan ribu hingga jutaan orang kehilangan pekerjaan, perang dunia pertama menjadi saksi banyaknya pemuda yang dengan suka rela menjadi pejuang karena ruang untuk pekerja menyempit. Maka menjadi prajurit mereka anggap sebagai mata pencaharian yang menjanjikan saat itu.

Tapi bukan manusia jika tidak belajar dan menyelesaikan masalahnya. Pengoperasian mesin rupanya butuh manusia untuk tetap berada di ruang kerja untuk memastikan mesin bekerja baik dan mengurus perawatan mesinnya. Pengecekan kualitas, perpindahan informasi--surat, pesanan barang, kirim-mengirim barang--hingga penyelesaian detil pekerjaan menjadi lahan pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada. Tapi di kemudian hari Manusia juga yang kelak menemukan hal baru lagi, yang kemudian kembali menjadi revolusi indutri berikutnya, artinya menimbulkan masalah berikutnya pula. Penemuan internet dan efesiensinya yang terus berkembang dengan pesat membuat beberapa pekerjaan harus gulung tikar dan gantung alat. Lihat kantor pos kita sekarang sepi. Dan sekarang, kita dihadapi revolusi ke empat di dunia insutri, penemuan robot dan kecerdasan buatan. Inilah yang para ahli labeli sebagai revolusi 4.0 dan ditakuti mengancam eksistensi dari banyak lahan pekerjaan manusia.

Faktanya, banyak yang menyambut baik kemunculan tiga terminologi ini pada masa sekarang, sayangnya sebagian abai menyadari bahwa ketiga hal tersebut juga membawa ancaman. Ancaman yang tidak sederhana, yang bisa mengancam euphoria sebagian dari kita yang kadung senang bahwa di masa akan datang bangsa kita akan menjadi bangsa yang hebat setara Amerika, Rusia, Cina dan bangsa-bangsa besar lainnya.

Dari istilah pertama kita akan diberi masalah cukup kompleks bahwa generasi calon pekerja dan orang-orang yang akan mengaktori panggung bangsa kita di kemudian hari adalah orang yang kecenderungannya manja dan menginginkan hasil instan. Dari terma kedua kita  dapati jumlah orang siap kerja yang melonjak jumlahnya, jauh dari fase manapun yang pernah bangsa kita hadapi. Sedangkan dari istilah terakhir kita dapati bahwa ada ancaman nyata yang datang dari dunia industri bahwa kemungkinan di masa depan banyak pekerjaan yang semula dilakukan manusia akan diambil alih oleh robot-robot atau mesin serba otomatis lainnya.

Namun sekali lagi, bukan manusia namanya kalau tak sanggup menyelesaikan masalahnya, ada benarnya apa yang dirumuskan Darwin puluhan tahun silam bahwa yang bertahan hidup adalah yang mampu menyesuaikan diri. Maka beberapa hal ini harap diperhatikan oleh mereka yang peduli terhadap kelangsungan nasib bangsa kita kedepannya, terutama masukan ini bagi mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan.

1. Arah pendidikan vokasi
Pendidikan vokasi sudah semestinya siap menghadapi perubahan ini, jika beberapa tahun lalu arah pendidikan vokasi kita untuk menyiapkan lulusan siap kerja di sektor industri saat ini. Maka pendidikan vokasi saaat ini harus menyiapkan lulusan yang siap diserap kebutuhan indutri dimasa depan. Pendidikan harus selangkah bahkan seloncatan kedepan melihat potensi yang akan dibutuhkan industri. 

2. Pembekalan basic life skill di sekolah umum.
Tak hanya pendidikan vokasi, pendidikan umum pun harus berbenah, jangan hanya berkutat dengan urusan akademik siswa, karena mereka juga harus disiapkan kemampuan-kemampuan lainnya  yang sekiranya menunjang lulusan untuk eksis di kemudian hari.
Kesiapan perguruan tinggi.

Kampus-kampus tempat diselenggarakannya pendidikan tinggi pun harus bersiap, pembukaan jurusan-jurusan baru yang memang akan dibutuhkan lulusannya di kemudian hari harus mulai di rancang, bahkan harus mulai diselenggarakan secepat mungkin, mengingat perubahan yang terjadi berlangsung dengan cepat, jangan sampai pendidikan tinggi justru bergerak lambat dan tertinggal oleh peruahan itu sendiri.

3. Peran orang tua
Peran orang tua menjadi hal terakhir namun yang paling penting  dalam hal ini, orang tua harus menyiapkan anak-anak mereka, mengajarinya dengan hal yang tepat, menanamkan mental kuat dan tidak cengeng juga kesiapan mental menghadapi tantangan yang mungkin tidak mudah. Biasakan mereka mandiri dan menghargai proses dari setiap pekerjaan dengan begitu apa yang ditakutkan selama ini oleh para ahli tentang sifat generasi milenial dapat berkurang atau bahkan hilang sama sekali.

Di samping itu, dukungan bagi anak agar terus belajar dan mengikuti kemajuan-kemajuan teknologi yang ada. Hal ini penting mengingat perkembangan di bidang teknologi  pun terjadi begitu cepatnya  dan merekalah yang akan berhadapan dengan teknologi-teknologi itu secara langsung di kemudian hari, penting bagi mereka untuk terbiasa dengan semua kemajuan tersebut.

Inilah tantangan bagi pendidikan kita, jika kita bisa berbenah maka apa yang selama ini di gaungkan bahwa dipertengahan abad 21 tepatnya 2045 bangsa kita ada masa kejayaannya bersamaan dengan seratus tahun kemerdekaan bangsa akan terlaksana. Tapi jika kita abai dan lengah juga tertinggal saat melakukan perubahan-perubahan tersebut, bukan mustahil apa yang diorasikan salah satu ketua parpol bahwa bangsa ini sedang menuju kehancurannya di tahun 2030 yang akan terjadi. Maka bersiaplah.

Sumber gambar: www.detak-unsyiah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar