SMPN 2 Bandung Tetap di Hati



Jiva Agung

Awal mulanya ada sebuah kiriman di grup WA yang memberitahukan sedang dibutuhkan segera guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk mengajar di SMPN 2 Bandung. Ini tepat sekali, pikir saya, sebab memang saat itu saya sedang sangat membutuhkan pekerjaan pasca tak jadi melanjutkan studi S2. 

Selain karena alasan di atas, faktor lain yang membuat saya semangat untuk segera menanggapi lowongan tersebut ialah karena saya ingin “kabur” dari Bekasi yang memang kurang saya sukai (you know what i mean). Alasan lainnya ialah karena SMPN 2 itu sendiri yang konon merupakan sekolah number one di Kota Bandung. Siapa sih yang tidak mau mengajar di tempat unggulan...

Singkat cerita, di sana saya menjadi guru inval (pengganti) sekaligus akan diproses sebagai guru honorer kalau proses pemindahan Pak Aip, guru senior PAI SMPN 2, ke SMAN 3 Bandung berjalan lancar.  

Awalnya Pak Aip mengatakan kepada saya apakah saya siap untuk mengajar di tempat ini yang honornya kecil, karena memang gaji guru honorer hanya didapat dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sedangkan sistem pembagiannya ialah semakin semakin banyak guru honorer di suatu sekolah maka akan semakin kecil gaji yang akan didapatinya karena harus dibagi rata dengan seluruh guru honorer yang ada. Saya langsung menyanggupinya. Pikir saya waktu itu setidaknya saya bisa melakukan aktivitas yang jelas, sembari tetap memikirkan opsi-opsi lain.

Mengapa saya harus menuliskan ini? karena, jujur, saya jatuh cinta dengan SMPN 2. Dan dua hal yang membuat saya jatuh cinta ialah: para guru dan murid-muridnya. Kalau boleh ditambahkan satu lagi, alasannya karena Bandung itu sendiri, kota yang sudah saya cintai sejak menginjakkan kaki waktu kuliah dulu. Bandung itu hawanya sejuk, airnya jernih dan dingin, serta kultur masyarakatnya yang sopan. Selain itu di Bandung juga banyak sekali aktivitas sosial kepemudaan, yang membuat Bandung benar-benar dinaungi oleh manusia-manusia hidup tidak seperti Bekasi, maaaaf sekali tanpa mengurangi rasa hormat, yang layaknya kota mati. 

Kembali ke SMPN 2. Mayoritas guru-guru di sana telah berumur, mungkin yang berkepala dua bisa dihitung jari, tetapi alhamdulillah-nya hampir semua guru di sana sangat hangat menerima saya, tak juga menghalangi mereka untuk memulai menegur saya yang sedikit pemalu yang segan untuk mengawali perbincangan, termasuk dari guru pengajar Pendidikan Agama Kristen (PAK) atau guru Kristen yang mengajar mata pelajaran umum. 

Tidak hanya itu, selain ikatan kekeluargaan yang erat di antara mereka dan semagat religiusitas yang cukup tinggi, saya pun merasa bahwa mereka sangat loyal dalam urusan makanan. Ada yang dengan mudah membagikan bekal makanannya kepada guru-guru lain, ada yang berjualan makanan ringan tetapi makanannya malah dibagi-bagikan secara gratis. Sewaktu mereka study tour, mereka memberikan saya oleh-oleh. Ada yang, mungkin melihat wajah saya yang iba, memberikan saya sebagian dari makanannya. Dan kasus ini tidaklah satu-dua kali, melainkan sering. Bagi saya habit ini sangatlah tidak remeh-temeh, melainkan suatu budaya yang sangat-sangat luhur. 

Murid-murid di SMPN 2 memang beragam, tapi umumnya mereka memiliki rasa percaya diri yang baik (tinggi), rasa penasaran yang tinggi, dan cerdas-kritis. Saya sering memberi stimulus pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka berpikir keras, dan mereka menanyakan banyak hal meski ada juga sedikit siswa yang kurang menghargai saya misalnya tetap bermain gawai atau berbicara dengan etika yang kurang sopan saat proses pembelajaran berlangsung.  

Kalau bukan karena alasan pragmatis, yakni karena kecilnya honor di sana sedangkan di sisi lain saya adalah seorang laki-laki yang nantinya akan menanggung biaya keluarga, maka dengan berat hati saya pindah ngajar ke sekolah yang baru yang lebih benefit. 

Bayangkan saja, honor di sana, pun sama di sekolah negeri mana pun, selama status kita masih honorer, gajinya tak lebih dari 1 juta. Itu pun kalau jam mengajarnya telah maksimal yakni 30 jam pelajaran. Padahal realitanya banyak sekali guru honorer yang tak mendapat jam mengajar sebanyak itu. 

Tak habis pikir, memang ada yah orang yang bisa memenuhi kebutuhannya (bergaya hidup normal) selama sebulan dengan jumlah pengeluaran kurang dari 1 juta? Hampir mustahil. Makanya yang didapat oleh guru honorer umumnya alih-alih untung, malah defisit. Teman-teman saya pun mengafirmasi hal tersebut. Untuk konteks ini kita batasi hanya orentasi materil bukan yang lainnya. Sebab soal dedikasi, keikhlasan, dan nilai-nilai moril lain, bukan berarti harus menggadaikan kebutuhan primer seseorang. 

Layaknya manusia biasa, saya perlu membayar kosan 500 ribu, bensin dan perawatan motor sekitar 300 ribu, terus untuk makan kalau saya paksa 20rb sehari berarti butuh 600rb, kuota 50rb. Totalnya sudah 1.45 juta. Ini belum kebutuhan primer lainnya, apalagi tentu selalu ada pengeluaran tak terduga. Belum lagi guru juga perlu update ilmu, berarti buku bacaan baru pun perlu dimiliki. Uang untuk kesehatan, menabung untuk masa depan (apalagi kalau yang sudah berkeluarga), untuk orang tua, membantu adik. Ahhh jangan diterusin...bisi tambah nyeri hate.. Terima kasih ya pemerintahku...

Kemarin saya menemani murid-murid (di tempat saya mengajar yang baru) mengikuti lomba PAI tingkat Kota Bandung di SMPN 2, membuat saya kembali bernostalgia apalagi saat itu saya bertemu dengan beberapa murid yang saya ajar, melepas rasa kangen saya setelah beberapa waktu tak berjumpa. Dan seperti yang telah diduga sebelumnya, mereka menyabet juara umum lagi. Entah mengapa meski sudah tidak mengajar di sana hati saya tetap saja terpaut. 

Kali ini saya hanya bisa mendoakan seluruh warga SMPN 2, semoga tetap jaya, dan yang paling penting, tetap rendah hati.

Sumber gambar: skyscapercity.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar