Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 17)

Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.
 
Dakwah
Islam mewajibkan penganutnya, tanpa terkecuali, untuk melakukan aktivitas misi. Aktivitas ini terambil dari istilah dakwah yang berarti sebuah seruan atau ajakan. Tetapi di Indonesia, sebagaimana juga terjadi di banyak negara lainnya, dakwah telah menjadi sebuah istilah yang rumit (kompleks), lebih diarahkan kepada internal muslim itu sendiri dibanding non-muslim juga meliputi tabligh (ceramah) dan maksud yang lebih luas “bahwa penyebaran Islam tidak hanya melalui ceramah dan publikasi, melainkan juga melalui perbuatan dan aktivitas di seluruh ranah kehidupan...[atau] sebuah islamisasi menyeluruh kepada masyarakat. Dua pengertian dakwah ini akan dibahas di bagian ini. 

Dakwah merupakan sebuah cara perjuangan yang penting bagi Syiah Indonesia agar memperoleh pengakuan sebagai sebuah komunitas juga mazhab. Dalam pengertian yang luas, lembaga-lembaga Syiah itu sendiri dapat dilihat sebagai sebuah lembaga dakwah. 

Pada bagian ini akan dipaparkan deskripsi singkat mengenai perkembangan dakwah Syiah secara umum yang dilanjutkan pada pemeriksaan cita-cita idealnya. Kemudian saya akan mendeskripsikan unsur dasar dari institusinya dan ragam aktivitas dakwah yang dilakukannya, termasuk rincian mengenai pelatihan pendidikan bagi aktivis dakwah (dai) mereka.

Perkembangan Umum Institusi Dakwah
Dalam dekade pasca revolusi Iran 1978-1979, aktivitas dakwah yang dilakukan oleh Syiah Indonesia umumnya dilakukan secara individual dengan satu pengecualian: sebuah peran yang dilakukan oleh lembaga pendidikan terkenal, YAPI, yang didirikan di Bangil tahun 1976. Aktivitas dakwah di periode ini umumnya tidak terlembagakan; kenyataannya mereka lebih sering melakukannya secara underground. Sebagiannya karena ketiadaan lembaga pusat Syiah. (pemerintah dan otoritas agama di Indonesia belum dapat mengidentifikasikan eksistensi kelompok muslim minoritas di Indonesia sampai pembentukkan lembaga Syiah secara terbuka) 

Tetapi, sejak di akhir tahun 1980-an, figur-figur terkemuka Syiah mendirikan yayasan. Yayasan adalah lembaga yang diakui secara hukum berdasarkan pada sebuah kondisi yang relatif longgar: sejumlah orang membentuk badan eksekutif suatu yayasan, sejumlah uang ditetapkan sebagai modal dasar, dan alamat (lokasi) harus didaftarkan. 

Lembaga terkenal Syiah di Jawa, dalam urutan kronologis pendirian, yakni: Al-Hujjah (didirikan tahun 1987) di Jember, Muthahhari (1988) di Bandung, Al-Hadi (1989) di Pekalongan, Al-Jawad (1991) di Bandung, Al-Muntazar (1992) di Jakarta, IPABI (1993) di Bogor, Al-Kazim (1994) di Cirebon, Rausyanfikr (1995) di Yogyakarta, Fatimah (1997) di Jakarta, dan Islamic Cultural Centre Al-Huda (2000) di Jakarta. Selain itu, ada juga yayasan-yayasan Syiah di tempat lain seperti di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dll. 

Sejak akhir 1980-an, umat Islam Indonesia telah menyaksikan perkembangan lembaga-lembaga Syiah ini. Estimasi terakhir beranggapan bahwa ada lebih dari 80 lembaga yang tersebar di seluruh negeri. Meskipun jumlah pastinya tidak diketahui, sumber yang dapat dipercaya menunjukkan ada perkembangan yang signifikan dari segi kuantitas dan kualitas mereka. 

Di tahun 2001, 36 yayasan Syiah dan 43 majelis ta’lim berafiliasi dengan Yayasan Rausyanfikr. Senada dengan itu, beberapa tahun lalu, ICC Al-Huda menerbitkan list 79 yayasan Syiah. Dengan sedikit pengecualian, semua organisasi dalam list tersebut terdaftar sebagai yayasan. (Di tahun 2004, ketika saya mengakhiri penelitian saya, jumlahnya pasti lebih besar karena saya menemukan sejumlah yayasan lain yang tidak termasuk dalam list ICC). 

Sejumlah kecil yayasan tersebut berkembang ke dalam lembaga multifungsional, melakukan beragam peran di dalam komunitas Syiah (keagamaan, pendidikan, dan kebudayaan) tetapi kebanyakan yang bentuknya masih kecil hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Perkembangan lembaga-lembaga ini bisa jadi naik-turun, dengan beberapanya bahkan berhenti beroperasional. Atas alasan inilah sulit bagi kita untuk menetapkan figur yang akurat dari sejumlah yayasan Syiah di Indonesia ini. 

Mengingat jumlah penganut Syiah yang relatif sedikit di Indonesia, tetapi jumlah lembaga-lembaga mereka cukup besar. Distribusi geografis dari lembaga-lembaga ini mencerminkan pendistribusian yang tersebar dari kalangan Syiah di seluruh negeri. Juga mengilustrasikan dinamika aktivitas sosial, budaya, pendidikan, dan keagamaan mereka. Selain itu, sejak pendirian yayasan menjadi bagian satu kesatuan dengan proses dakwah, membuatnya dapat dilihat sebagai cerminan semangat misi di kalangan Syiah. Ini juga dapat menjadi bukti sebuah transformasi dari individu menuju institusional di dalam aktivitas dakwah. Dari perspektif sejarah, pendirian sejumlah besar lembaga menandai kemajuan perkembangan umat Syiah di Indonesia. 

Ada beberapa poin yang dapat dicatat dalam proses ini. Pertama, ada tendensi di kalangan ustaz dan intelektual Syiah (dengan sejumlah kecil pengecualian) untuk mendirikan yayasan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Hampir semua dari mereka telah terkoneksi dengan satu atau lebih yayasan. Motivasi untuk mendirikan yayasan ini dikuatkan pada kenyataan bahwa peraturan pendiriannya yang relatif mudah. Cukup dengan adanya tiga buah orang, anggaran dasar, dan sejumlah modal yang secara resmi diakui oleh seorang notaris. Ketika tempat-tempat ini tidak dibutuhkan, sangat umum bagi tempat kediaman dijadikan sebagai pusat operasional. 

Setidaknya ada dua motivasi yang saling berhubungan di kalangan para pendiri. Pertama, kebanyakan ustaz dan intelektual Syiah bertempat tinggal di sektor privat dan mereka membutuhkan sebuah platform institusi untuk aspirasi keberagamaannya. Karena mazhab mereka bukanlah menjadi mazhab mayoritas di Indonesia, hanya ada kemungkinan kecil bagi mereka untuk bergabung hadir di institusi-institusi keagamaan. Secara teori, keterlibatan mereka di dalam suatu yayasan merupakan sebuah cara untuk menghimpun ekonomi dan simbol modal yang mana keduanya saling berhubungan. 

Kemudian, motivasi kedua ialah sebagai cara untuk mengumpulkan modal sosial dalam mengembangkan relasi dan jaringan sosial. Dengan menggunakan yayasan, para ustaz dan intelektual Syiah dengan menciptakan komunikasi yang lebih formal dengan institusi atau organisasi internasional Syiah; mereka juga lebih mudah untuk memperoleh karya-karya ilmiah Syiah secara gratis (buku dan majalah) yang dicetak oleh institusi atau asosiasi di Iran, Irak, Kuwait, dan negara-negara lain. Karya-karya ini berkontribusi besar dalam perkembangan Syiah di Indonesia. 

Poin kedua, dengan sedikit pengecualian, ialah yayasan-yayasan Syiah berlokasi di area-area perkotaan di seluruh negeri, dari mulai Sumatra hingga Irian Barat. Kenyataan ini menegaskan perkembangan komunitas Syiah di Indonesia sebagai sebuah fenomena urban. Ini selaras dengan kenyataan bahwa kebanyakan lulusan alumni Qum yang menjadi intelektual, aktivis, atau ustaz Syiah yang tinggal di tempat-tempat tersebut. 

Pada umumnya, mereka mendirikan pusat yayasan berdekatan dengan, atau bahkan berada di dalam, rumah pendirinya dalam rangka memenuhi permintaan umat Syiah agar bisa mendapatkan bimbingan keagamaan dan sebagai pusat penyebaran pandangan-pandangan mereka terhadap umat muslim secara umumnya. (notabenenya aktivitas dakwah Syiah memiliki orientasi internal dan eksternal). Ada korelasi yang nyata bahwa di mana ada sejumlah besar penganut Syiah di suatu tempat maka di situlah akan ada sejumlah besar pula yayasan yang didirikan. 

Dengan demikian yayasan Syiah terbanyak berlokasi di Jakarta. Di tahun 1995 Jurnal Ulumul Qur’an menyebut ada 25 lembaga Syiah di Jakarta. Tetapi di sini tidak dimasukkan berapa banyak jumlah institusi Syiah di daerah-daerah pedalaman; sebagai contoh, Yayasan Al-Hakim, sebuah institusi Syiah terkenal yang didirikan oleh Zainal Abidin al-Muhdar (w. 2003) yang telah menarik sejumlah massa dari pedalaman dan pedesaan yang dekat dengan pusat lembaga tersebut di Pringsewu, Lampung. Betapapun, ringkasnya, pendirian institusi Syiah masih merupakan sebuah fenomena perkotaan. 

Poin penting ketiga mengenai pendirian institusi Syiah dalam rangka dakwah ialah perkembangan sejumlah yayasan di Indonesia juga sesuai dengan peningkatan sejumlah alumni Qum yang kembali ke Indonesia. Untuk sekadar menyebut nama, Fathoni Hadi mendirikan Yayasan Al-Hujjah di Jember tahun 1987, Ahmad Baragbah mendirikan Al-Hadi tahun 1984, Abdullah Assegaf mendirikan Yayasan Al-Wahdah di Solo tahun 1994, dan Rusdi al-Aydrus mendirikan yayasan Ath-Thohir di Surabaya tahun 2000. 

Kemudian, banyak dari alumni Qum yang menjadi pemimpin atau ustaz di yayasan-yayasan Syiah, di antaranya Zahir Yahya di Yayasan Al-Kautsar (Malang), Husein Al-Kaff di Yayasan Al-Jawad (Bandung), Abdullah Assegaf di IPABI (Bogor), Muhammad Syuaib di Yayasan Mujtaba (Purwakarta), Herman Al-Munthahar di Yayasan Amirul Mukminin (Pontianak). Terbukti bahwa semangat penyebaran ajaran Syiah ini telah memotivasi para alumni Qum untuk bertindak sehingga kegiatan dakwah dapat dilembagakan dan terorganisir dengan baik. 

Poin keempat yang menarik ialah yayasan Syiah semuanya didirikan oleh, atau dimiliki oleh sekelompok orang yang memiliki ikatan persahabatan atau kekeluargaan. Mengenai hal ini, institusi jarang dimliki oleh satu orang. Yayasan Al-Jawad misalnya, didirikan oleh sekelompok aktivis lulusan universitas di Bandung, termasuk Ahmad Jubaili, Wawan Tribudi Hermawan, Rivaldi, dan Yusuf Bachtiar. Sama halnya dengan pendirian Yayasan Muthahhari tiga tahun sebelumnya. 

Berbeda dengan para pendiri Yayasan Fatimah yang semuanya adalah anggota keluarga al-Muhdar yang tinggal di Jakarta. Marga al-Muhdar dikenal sebagai penganut Syiah di Indonsia jauh sebelum revolusi Iran 1978-1979. Anggota dari badan eksekutifnya di antaranya Muhammad Andy Assegaf, Akma Syarif, dan Imah Az-Zahra, yang kesemuanya adalah anak dari Abu Bakar Assegar dan istrinya Fatimah Syundus al-Muhdar. Ahmad Muhajir al-Muhdar dan Alwi Husein al-Muhdar berperan sebagai pengajar agama dan penasihat di sana. 

Tazkiya Sejati, yang juga termasuk yayasan Syiah, didirikan tahun 1997 oleh keluarga mantan presiden Indonesia Sudharmono yang bekerjasama dengan Jalaluddin Rakhmat. Karena mengadopsi beragam praktik sufisme, lembaga ini telah menarik sejumlah masyarakat perkotaan kelas menengah atas ke Syiah. 

Dibandingkan dengan pendirian lembaga-lembaga yang disebut di atas, pendirian ICC Al-Huda memiliki corak yang unik dalam pengertian bahwa lembaga ini melibatkan kolaborasi beberapa figur terkenal Indonesia dan Iran. Dewan pengurusnya termasuk Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dan Umar Shahab sebagai dewan pendiri, dan seorang asal Iran Muhsen Hakimollah sebagai direkturnya. 

ICC adalah yayasan Syiah terbesar di Indonesa yang memperkerjakan 30 pegawai, sebagiannya merupakan alumni Qum, untuk menjalankan aktivitasnya. Yayasan ini sangat bergantung pada direktur Irannya, tidak hanya dalam hal wewenang dan tanggung jawab melainkan juga untuk sumber keuangannya. Sejak didirikan, islamic centre ini berfungsi sebagai sebuah badan koordinasi dalam mengorganisir perayaan festival-festival keislaman. ICC juga berperan sebagai mediator dari lembaga-lembaga Syiah di Indonesia dan relasinya antara Iran dan komunitas Syiah di Indonesia, sebuah peran yang pernah dilakukan oleh Kedutaan Iran di Jakarta. 

Deskripsi ini mengarahkan kita kepada lima poin mengenai lembaga Syiah: di samping dari fungsi koordinasinya ICC Al-Huda, beberapa lembaga memiliki koneksi yang dekat dan saling bekerjasama satu dengan yang lainnya dalam ranah dakwah meski ada pula di antaranya yang saling bersitegang. Kedua situasi ini dikarenakan adanya pengaruh hubungan antara tokoh ustaz dan intelektual tertentu. Contohnya ialah kerjasama antara beberapa ustaz Syiah dengan lembaga-lembaga di Jawa Barat yang berkontribusi membangun asosiasi regional yang disebut KIBLAT (Komunitas Ahlul Bait Jawa Barat). Organisasi pemayung ini merangkul beberapa yayasan, termasuk Al-Jawad (Bandung), IPABI (Bogor), Al-Kazim (Cirebon), Al-Mujtaba (Purwakarta), dan As-Syifa (Garut). 

Tetapi mereka tidak memayungi Yayasan Muthahhari yang dikenal bersitegang dengan Yayasan Al-Jawad dan asosiasi tersebut. Kerjasama, perlombaan (kompetisi), dan ketegangan termasuk ke dalam hubungan antara para ustaz-intelektual dan lembaga-lembaga Syiah di Indonesia. 

Akhirnya, kehadiran lembaga-lembaga Syiah merupakan suatu yang sangat penting bagi komunitas Syiah secara keseluruhan, khususnya perihal kefungsionalannya. Pertama, ketika keberadaan masjid Sunni tidak bisa digunakan untuk melaksanakan ritual dan seremoni Syiah, yayasan yang ada dapat menjadi alternatif untuk pengekspresian keagamaan mereka.

Kedua, di samping fungsi keagamaannya, lembaga Syiah juga berguna sebagai tempat berkumpul untuk mendiskusikan berbagai macam persoalan Syiah maupun umat muslim pada umumnya. Pembinaan keagamaan juga program-program pendidikan dapat diberikan di atau melalui lembaga-lembaga tersebut. 

Ketiga, lembaga-lembaga ini merupakan suatu platform penyebaran ajaran Syiah untuk komunitas muslim secara luas. Pelbagai macam program dakwah dilakukan di atau melalui lembaga tersebut. Di tambah lagi, melalui publikasi majalah dan buku, lembaga Syiah memperluas perannya ke dalam ruang kebudayaan. Kemudian, kemultifungsionalan yayasan Syiah telah menjadi agen institusional dalam mereproduksi dan menyebarkan tradisi Syiah di Indonesia. Dengan demikian, kehidupan keagamaan komunitas Syiah sangat tergantung pada kontinuitas kehadiran dan kefungsionalan lembaga-lembaga tersebut.

sumber gambar: www.ahlulbaitindonesia.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar