Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 16)



Jiva Agung

Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Taqiyyah
Taqiyyah berarti “melindungi atau menjaga seseorang” dan merupakan salah satu ajaran Syiah yang paling disalahpahami. Umumnya taqiyyah dipahami sebagai sebuah strategi menyembunyikan iman untuk berlindung dari kejadian yang berbahaya.” Praktik taqiyyah adalah suatu hal yang penting di dalam Syiah dan telah menjadi suatu hal pembeda bagi Syiah di Indonesia. 

Kebanyakan dari mereka mempraktikkan itu sembari menolak kalau taqiyyah hanya dilakukan oleh Syiah. Mereka beranggapan bahwa praktik menjaga diri adalah suatu hal yang lazim di kalangan semua pemeluk agama atau mazhab di Islam, khususnya ketika mereka berada dalam tekanan dari faksi atau rezim otoriter. Tetapi denominasi muslim lain menolak penggunaan istilah taqiyyah. 

Bukti tekstual dikutip untuk mendukung praktik taqiyyah. Ayat yang paling sering digunakan ialah: “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” 

Mereka menganggap bahwa praktik ini juga pernah dilakukan di masa Nabi Muhammad. Kisah yang paling terkenal ialah kasus Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat dekat nabi dan Ali bin Abi Thalib. Kisah tersebut menceritakan bagaimana kafir Mekkah memenjarakan beberapa muslim dan menyiksa mereka, memaksa mereka untuk meninggalkan agama barunya dan kembali menyembah berhala. 

Di antara mereka termasuk Ammar bin Yasir dan kelurganya (ayah dan ibu). Keluargaya dibunuh karena menolak mematuhi perintah orang kafir tersebut. Agar dapat terhindar dari siksaan, Ammar secara lahiriah (ucapan) menyatakan bahwa dia telah meninggalkan Islam dan menerima penyembahan berhala. Setelah dia terbebas, diam-diam ia meninggalkan kota tersebut menuju Madinah. Dia menceritakan kembali kejadian tersebut kepada nabi dalam keadaan penyesalan. Kemudian nabi menghibur Ammar dengan membacakan sebuah ayat Alquran. 

Kisah ini dianggap menjadi latar belakang munculnya ayat: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”

Syiah Indonesia juga mengakui praktik taqiyyah memiliki pijakan dalam sejarah umat muslim yang di dalamnya “Syiah telah menjadi kelompok minoritas di tengah komunitas muslim global dan hidup di bawah rezim yang bermusuhan dengan keyakinan mereka.” Kezaliman dan kekejaman Dinansti Umayyah dan Abbasiyah memaksa para imam dan para pengikutnya menyembunyikan keyakinan mereka yang sesungguhnya agar dapat menyelamatkan diri mereka sembari menjamin kontinuitas Syiah. Taqiyyah hanya merupakan suatu strategi yang dipraktikkan Syiah untuk melindungi diri mereka dari rezim yang zalim dan kejam. 

Betapapun, taqiyyah yang dipraktikkan Syiah Indonesia tidak hanya karena ada rasa khawatir, tetapi juga bertujuan untuk menegakkan ukhuwah Islamiyyah. Berkaitan dengan taqiyyah jenis ini, Jalaluddin Rakhmat mengutip fatwa Khomeini, “Apa yang dimaksud dengan taqiyyah mudarat adalah taqiyyah yang dipraktikkan demi persatuan umat muslim dengan menarik rasa cinta dari lawan dan mendapat kasih sayangnya.” 

Fatwa Khomeini yang paling populer berkaitan dengan hal ini ialah rekomendasinya bahwa Syiah perlu mendirikan salat bersama dengan Sunni. Ketika ditanya perihal sahnya ibadah dengan jamaah Sunni, Khomeini merespon bahwa hal tersebut bukan saja sah melainkan juga dianjurkan. 

Dia mengatakan pahala salat dengan jamaah Sunni, dan menurut praktik hukum Islam Sunni, sama dengan banyaknya pahala ibadah yang dilakukan menurut tradisi Syiah. Dengan demikian, Khomeini menganjurkan hal tersebut demi persaudaraan Islam dan ini telah menjadi sebuah fondasi yang sah atas praktik taqiyyah jenis ini. 

Taqiyyah dapat dipahami sebagai sebuah strategi menjaga kerahasiaan identitas Syiah atas dasar beberapa alasan. Tetapi di kalangan mayoritas Sunni Indonesia, istilah tersebut telah memiliki konotasi yang negatif dan sejajar dengan kebohongan, kemunafikan, dan kepengecutan. Untuk alasan ini Jalaluddin Rakhmat mengusulkan, “kita dapat menggantinya dengan istilah ‘pendekatan fleksibel dan persahabatan’...” Mungkin istilah terbaiknya adalah diplomasi. Sebagai sebuah strategi atau diplomasi, taqiyyah diimplementasikan di dalam praktik ibadah, dakwah, pembicaraan, dialog, dan tulisan. 

Pilihan kosakata atau istilah yang umumnya diterima oleh mayoritas Sunni menandai implementasi taqiyyah di Indonesia. Dalam keadaan tertentu, Syiah akan menghindari kesan kontras antara Sunni dan Syiah. “Menurut saya fokus kita bukan pada menjadi Syiah atau Sunni, tetapi Islam.” Ucap Rakhmat dalam suatu kesempatan. Kata “Islam” merupakan suatu istilah yang diterima oleh kedua belah pihak. 

Di suatu kesempatan lain, tanggapannya atas sebuah pertanyaan tentang apakah ia penganut Sunni atau Syiah, Jalaluddin Rakhmat mengatakan “orang-orang menyebut saya Susyi” maksudnya Sunni-Syiah. Senada dengan itu, ketika ditanya apakah dirinya Sunni atau Syiah, Haidar Bagir menjawab: “Saya sama dengan yang lainnya, seseorang yang merindukan kesatuan umat Islam.” Kesimpulannya, pertanyaan simpel mengenai identitas kesyiahan biasanya direspon dengan jawaban yang diplomatis. 

Syiah di Indonesia juga mencoba menyembunyikan atau memodifikasi informasi, tidak hanya mengenai identitas dan kepercayaan mereka tetapi juga mengenai anggota, institusi, dan komunitas mereka. Sebagai contoh, berkenaan dengan Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir menyatakan “Saya tidak berani mengatakan kalau dia Syiah karena dia adalah seseorang yang membaca, mempelajari, dan berbicara mengenai keduanya. Secara berkelakar, Pak Jalal pernah menyebut dirinya Susyi, yang berarti Sunni-Syiah. Dia adalah seorang muslim yang terbuka pada beragam pandangan, baik dari Sunni maupun Syiah.” 

Senada dengan itu, ketika ditanya mengenai tempat di mana Syiah Indonesia berkumpul, Haidar Bagir menjawab, “Sejauh yang saya ketahui ada beberapa lembaga kecil. Saya tidak tahu nama-nama persisnya.”

Sehubungan dengan praktik taqiyyah, menarik dicatat bahwa sebuah terjemahan surat pribadi kepada seseorang di Iran (nama tidak sebutkan) diterbikan pada bulan November 1993 di Aula, sebuah majalah dari cabang NU di Jawa Timur di bawah sebuah judul “Sebuah surat kepada seseorang di Iran.” Penulis surat tersebut, yang diduga adalah Husein Al-Habsyi, menggunakan istilah “Tuanku” kepada seseorang di Iran. Tujuan inti dari surat itu ialah untuk merespon pendapat tuannya kalau si penulis harus melepaskan praktik taqiyyah dan menyatakan secara terbuka kesyiahannya. Surat tersebut memaparkan beberapa alasan si penulis mengapa ia perlu menjaga praktik taqiyyahnya.

Pertama, saya ucapkan terima kasih atas usulanmu kepada saya yang telah saya pertimbangkan sejak lama, yakni sejak kemenangan Imam [Khomeini] terhadap Shah. Meskipun saya menunda usulan itu [untuk berhenti mempraktikkan taqiyyah] Saya tidak meragukan kesahan mazhab ahlul bait dan ini bukan karena saya takut pada orang-orang, atau jika saya meninggalkan taqiyyah maka tidak akan dipuji oleh orang. Tetapi sekarang perlu saya mempertimbangkan lingkungan saya. Kefanatikan Sunni masih sangat kental. Untuk mendekati mereka, saya mau muncul layaknya seorang Sunni. Karena jika saya menunjukkan kepercayaan yang saya yakini dan merespon serangan para ulama anti Syiah, mereka akan berkata: seorang penganut Syiah [sedang] mempertahakan Syiah. Saya sudah berhasil mendekati sejumlah ulama penting mereka sehingga mereka dapat memahami kebaikan-kebaikan mazhab ahlul bait. Saya pikir ini merupakan sebuah langkah maju dalam perjuangan kita.   

Husein Al-Habsyi dikenal akan praktik taqiyyahnya di setiap dakwa, dialog, dan tulisannya. Dia selalu menyatakan bahwa dia adalah pengikut Sunni. Dalam sebuah dialog dengan kelompk mahasiswa dari UGM dan UII yang diselenggarakan di Solo, Husein Al-Hasbyi secara konsisten menggunakan istilah Ahlus Sunnah. Ketika diminta menjelaskan persoalan yang berhubungan dengan Syiah di tengah pertemuan pertama, dia menjawab “Tetapi sayang sekali karena saya sendiri bukanlah seorang Syiah, jadi akan lebih akurat jika kamu menanyakan pertanyaan tersebut kepada orang yang menyatakan dirinya sebagai Syiah.”

Tetapi, kontras dengan praktik luas taqiyyah, beberapa Syiah Indonesia, khususnya dari kalangan ustaz lulusan Qum, lebih berani menunjukkan sikap beragamaannya secara terbuka. Taqiyyah juga jarang dipraktikkan oleh kalangan santri dan ustaz di Pesantren Al-Hadi Pekalongan, sebuah pesantren yang diketuai Ahmad Baragbah. Senada dengan tu, para penganut Syiah yang berafiliasi dengan lembaga Al-Jawad di Bandung, IPABI di Bogor, dan Lembaga Fatimah di Jakarta, tidak melakukan taqiyyah. 

Saya melihat ketika memimpin ibadah salat Jumat di masjid Nurul Falah, pemimpin masjid, Husein Al-Kaff, menjalankan ibadahnya menurut fikih Ja’fari di tengah hampir seluruh jamaah adalah Sunni yang mempraktikkan fikih Sunni. 

Husein Al-Kaff mengungkapkan bahwa penting bagi umat Syiah untuk mempraktikkan seluruh ajarannya secara terbuka di depan Sunni agar dapat mengetahui ajaran sesungguhnya dari Syiah, para pengikutnya, lembaga-lembaganya, juga kontribusinya terhadap negara. Tetapi bukan berarti mereka meninggalkan kebolehan mempraktikkan taqiyyah. Mereka melihat bahwa mispersepsi di kalangan Sunni tidak akan muncul kecuali kalau Syiah menunjukkan ekspresi sesungguhnya dari ritual dan praktik-praktik keagamaan mereka. 

Tetapi beberapa intelektual Syiah seperti Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa praktik taqiyyah harus diinspirasikan oleh pandangan-pandangan persaudaraan Islam dan keketatan ketaatan pada fikih Ja’fari lebih sering menciptakan tensi antara Sunni dan Syiah di Indonesia. Dia menganggap para ustaz Syiah telah mempraktikkan sebuah paradigma hukumm fikih yang bertentangan dengan paradigma akhlaknya sendiri. Bagi Rakhmat, kesalehan tidak dilihat berdasarkan kepatuhan pada hukum fikih tertentu tetapi itu dinilai dari akhlak mulianya. 

Berhubungan dengan taqiyyah, dia menulis: “taqiyyah merupakan ketaatan hukum yang dipraktikkan oleh mayoritas orang atau hukum yang didirikan oleh otoritas agar terhindar dari perselisihan dan fraksi. Taqiyyah berarti meninggalkan hukum fikih kita demi menjaga persaudaraan umat muslim.”

Dengan demikian, taqiyyah dapat dilihat sebagai sebuah unsur strategi mazhab Syiah dengan tujuan untuk mempertahankan eksistensi mazhab dan pemeluknya, atau untu menjaga persaudaraan Islam. Tidak berlebihan jika kita berpendapat bahwa ajaran dan praktik taqiyyah merupakan sebuah instrumen untuk menyebarkan dan mengembangkan Syiah di Indonesia. 

Sumber gambar: www.mustanir.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar