Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 15)



Jiva Agung

Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Aspek-Aspek Peribadatan Syiah
Untuk menambah kekhasan hukum Islam yang telah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa aspek peribadatan yang menjadi ciri khas kehidupan keberagamaan mereka. Kesalehan dianggap lebih dari sekadar dimenasi formal dan legal keagamaan. 

Beberapa aspek peribadatan Syiah sangat mirip dengan yang dilakukan oleh para Sufi Sunni yang termasuk ritual harian, mingguan, dan tahunan. Untuk yang harian termasuk sejumlah ibadah pilihan (sunnah) seperti salat sunnah sebelum dan sesudah salat fardu. Ibadah lain yang direkomendasikan ialah membaca ayat-ayat Alquran, berzikir, dan doa-doa tertentu. Aktivitas ini biasa disebut ta’qib yang juga merupakan sebuah cara memperoleh kesempurnaan dalam kewajiban beribadah. 

Doa sangat kuat direkomendasikan dan merupakan suatu ciri khas kehidupan keberagamaan dalam komunitas Syiah Indonesia. Sejumlah doa di peribadatan Syiah jauh lebih besar daripada dalam doa-doa Sunni, sebagian karena ada beberapa doa khusus untuk masing-masing dari empat belas tokoh sempurna. Dengan membaca doa, keindahan bahasa Arab juga ditekankan, termasuk shalawat (terhadap nabi dan ahlul baitnya).

Di dalam seluruh perkumpulan Syiah, shalawat dikumandangkan. Bacaan yang paling sering digaungkan ialah: “Ya Allah, berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad.” Selain dipuji dalam teks ayat Alquran tertentu, pembacaan shalawat juga dianggap sebagai ekspresi cinta terhadap Nabi dan dipercaya akan mendekatkan dirinya dengan rasul kelak di akhirat nanti. Tidak hanya itu, dipercaya pula kalau rasulullah mendengar shalawat mereka bahkan hadir di tengah-tengah orang yang sedang bershalawat sebab jiwanya dianggap masih tetap hidup. 

Doa lain dalam tradisi Syiah dikenal dengan doa Kumail yang biasanya dilakukan pada kamis malam setelah melaksanakan salat. Hampir semua lembaga Syiah di Indonesia menyelenggarakan doa ini setiap minggunya. Biasanya dilakukan secara berjamaah yang dipimpin oleh seorang ustaz yang juga memberi sebuah khutbah (ceramah). Perkumpulan ini disebut dengan majelis kumail dan berlangsung selama beberapa jam. 

Doa ini dianggap sebagai salah satu doa terbaiknya Imam Ali bin Abi Thalib. Disebut Kumail karena doa ini disebar oleh sahabat setia Imam Ali, Kumail bin Ziyad. Katanya Imam Ali meminta Kumail bin Ziyad untuk membaca doa ini setidaknya sekali seumur hidup. 

Doa ini mengandung ucapan syukur, permintaan ampun, rintihan (ratapan), penyesalan yang mendalam, dan pengakuan dosa. Muatan pesannya sangat mendalam sehingga barangsiapa yang membacanya sulit untuk tidak mengeluarkan air mata; saat membaca doa Kumail ini, partisipan biasanya mengeluarkan air dan menangis bersama.  

Ada juga ibadah lain yang disebut tawasul yang juga telah dikenal luas oleh Sunni tradisionalis di Indonesia. Tawasul ialah doa permohonan pada Tuhan dengan mengucapkan nama tokoh-tokoh suci sebagai perantara. Bukti tekstual yang biasanya dikutip untuk mendukung praktik ini ialah: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” Untuk memperkuat ayat ini, sejumlah hadis juga dikemukakan. Rakhmat menulis: 

Kami bertawasul padanya (Nabi Muhammad) dan kepada seluruh hamba-Nya yang saleh berdasarkan yang telah dicontohkan oleh rasulullah.

Tidak seperti tasawulnya Sunni, tasawul di Syiah diarahkan langsung pada empat belas tokoh suci: Nabi Muhammad, anaknya (Fatimah), dan dua belas imam. Bagi Syiah Indonesia, menjadikan empat belas tokoh tersebut sebagai perantara berdoa adalah suatu yang masuk akal karena tidak ada seorang pun yang lebih tinggi dari pada mereka dari segi kesalehan, pengetahuan, dan dedikasinya terhadap perjuangan Islam. Tasawul dapat dilakukan pada hari selasa atau di bagian doa Syiah yang lain. 

Dalam perkumpulan Kumail, tasawul dibacaan sebelum pembacaan doa Kumail. Di dalam tasawul, setiap nama dari empat belas tokoh suci diucapkan, mulai dari Nabi Muhammad hingga imam yang kedua belas. Biasanya, di waktu nama Imam Husein dibacakan, majelis mulai menangis. 

Praktik ibadah yang cukup mirip dengan dengan tasawul ialah tabarruk yang berarti mengambil berkah, dari Nabi Muhammad, para imam, dan semua hamba saleh. Praktik ini ditengarai memiliki basis yang kuat di dalam Alquran dan hadis. Salah satu ayat menceritakan bagaimana Nabi Yusuf meminta saudara-saudaranya untuk mengusap bajunya ke wajah ayahnya yang buta (Nabi Ya’qub); setelah diusap matanya Ya’qub dapat melihat lagi. 

Selain itu ada banya jenis tabarruk yag dianggap dipraktikkan oleh para sahabat nabi, termasuk tabarruk dengan mengambil air, rambut dari kepala Nabi, pakaiannya, atau pasir makamnya. Di dalam tabarruk menggunakan air, misalnya, para sahabat nabi dikatakan berlomba-lomba untuk mengambil sisa-sisa air yang digunakan nabi untuk berwudhu.

Tabarruk juga dipercaya akan memberikan manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Jalaluddin Rakhmat menulis: “keberkahan Nabi Muhammad memandu kita untu dapat memperoleh kemakmuran di dunia dan akhirat.” Tabarruk dapat mengobati penyakit fisik dan psikis, serta menyelamatkan kita di akhirat nanti.

Tabarruk juga dianggap sebagai suatu ekspresi cinta pada Nabi Muhammad, para imam, dan orang-orang saleh. Dengan melakukan tabarruk dalam pikiran, Syiah Indonesia telah mencoba untuk membuat kontak fisik dengan ulama Syiah di Iran. Ketika Ayatullah Ali Taskhiri selesai memberi kuliah di ICC Al-Huda di Jakarta pada 20 Februari 2004, sebagai contoh, hampir semua partisipan mencoba untuk berjabat tangan dengannya. Saya (Zulkifli) juga diinformasikan ketika Jalaluddin Rakhmat mengunjungi kelompok Syiah di Makassar, sandal dan sikat giginya diambil (diminta) oleh partisipan dalam rangka mencari berkah. 

Selain praktik-praktik di atas, ada juga sejumlah perayaan yang dilakukan oleh Syiah Indonesia, seperti perayaan memperingati kelahiran dan kematian empat belas tokoh suci. Dalam hal ini, mereka (Sunni-Syiah) melakukan perayaan yang sama (maulid) dan mudah teramati karena juga dijadikan sebagai hari libur nasional. Bagi Syiah, maulid adalah cara lain pengekspresian cinta dan ketaatan mereka pada nabi bersama dengan tiga belas tokoh suci lainnya. 

Betapapun, praktik yang paling penting ialah perayaan kesyahidan Imam Husein, imam ketiga, yang terbunuh di peperangan di Karbala pada 10 Muharaam 61 H. Perayaan ini dikenal sebagai Asyura yang diselenggarakan setiap hari kesepuluh bulan Muharram. Perayaan ini diselenggarakan di seluruh wilayah di Indonesia oleh sejumlah besar umat Syiah, dan sejak era reformasi, perayaan ini dirayakan di ruang umum.
Asyura juga dirayakan oleh sebagian muslim Sunni di seluruh Indonesia tetapi dengan cara yang berbeda dengan Syiah. Perbedaan yang paling kelihatan ialah memasak dan menawarkan bubur sura setelah berpuasa yang direkomendasikan di dalam Sunni. Syiah tidak membuat bubur sura juga tidak berpuasa. Bagi Sunni, Nabi Muhammad mengajarkan bahwa puasa Asyura merupakan suatu bentuk rasa syukur atas kemenangan beberapa nabi. 

Sedangkan bagi Syiah, puasa di Asyura dianggap bid’ah dan terlarang. Mereka beranggapan bahwa puasa tersebut merupakan sebuah produk ajaran yang salah yang dibuat oleh rezim Dinasti Umayyah. Ketika perayaan kesyahidan bagi Syiah dianggap sebagai hari berkabung dan simbol perjuangan melawan tirani, Dinasti Umayyah membalikkan pola itu malah sebagai sebuah hari ucap syukur, bahkan dikatakan terlah membuat hadis (palsu) untuk menjustifikasi perubahan ini. Di mata Syiah Indonesia, perayaan puasa di Asyura (bagi kalangan Sunni) adalah suatu produk dari rezim Umayyah. 

Ritual Asyura di Indonesia terdiri dari empat aktivitas utama: kuliah agama (ceramah), ma’tam (pemukulan dada), pembacaan maqtal (kisah pembantain Husain dan pengikutnya) dan pembacaan doa ziyarah (doa kunjungan). Karena ini adalah peringatan berkabung, para peserta biasanya mengenakan pakaian hitam. Ciri lain adalah keyakinan dalam prinsip tegas bahwa Husein-lah yang benar dalam perjuagannya untuk Islam. Spanduk Asyura yang dibawa dan dibaca, “Husein adalah cahaya bimbingan dan bahtera kemenangan.” Ceramah yang dibawakan mengenai perjuangan Imam Husein dan relevansinya dengan kondisi masyarakat muslim kontemporer. Salah satu tujuannya ialah untuk mendorong spirit kesyahidan sebagaimana yang dicontohkan oleh Imam Husein. 

Ma’tam adalah pemukulan dada yang diiringi dengan nyanyian pujian, dilakukan oleh partisipan di bawah arahan seorang ustaz. Ma’tam ini merupakan suatu ekspresi kesedihan, ketidakadilan, dan kesiapan untuk berkorban. Tetapi ma’tam tidak ada di dalam perkumpulan Asyura-nya Jalaluddin Rakmat dkk. 

Pembacaan maqtal yang dibacakan oleh ustaz mewakili puncak kesedihan, tumpahan air mata, dan tangisan. Ini adalah presentasi dari narasi klasik tentang pembantain brutal yang dilakukan oleh ribuan prajurit Ummayyah terhadap Imam Husein, keluarga dan pendukung setianya yang berjumlah sekitar 70 orang, termasuk wanita dan anak-anak.

Tema utama dari maqtal adalah kebrutalan dan ketidakmanusiaan para tirani, khususnya Khalifah Yazid bin Muawiyyah dan bala tentaranya, melawan Imam Husein dan para pengikutnya. Pembacaan maqtal dalam nada yang sedih dan penuh emosi menghasilkan sebuah tumpahan air mata dan ratapan kolektif yang nyata. Bagian akhir dari perayaan Asyura ialah pembacaan doa ziyaah yang dipandu oleh seorang ustaz dan kemudian diikuti para partisipan. 

Perayaan peringatan kesyahidan Imam Husein yang lain yang dipraktikkan secara luas oleh Syiah Indonesia ialah arba’in, yakni peringatan 40 hari syahidnya Imam Husein. Diselenggarakan pada 20 Safar, bulan kedua di kalender muslim, 40 hari setelah penutupan ritual Asyura. Arba’in hanya dilakukan oleh Syiah. Praktik acaranya sangat mirip dengan Asyura termasuk ceramah, ma’tam, pembacaan maqtal, dan pembacaan ziyarah. Kedua ritual ini jelas memiliki tujuan yang mirip.  

Asyura dan Arbain merupakan dua perayaan penting yang dilakukan oleh Syiah Indonesia. Mereka menganggap kesyahidan Imam Husein sebagai suatu peristiwa tragedi yang penting, tidak hanya bagi umat muslim melainkan juga bagi manusia pada umumnya. Peristiwa tragedi ini juga mengajarkan ketaatan pada prinsip dan kesetiaan yang kuat terhadap pemimpin.

Sebagai sebuah tragedi, Asyura merupakan saksi bagi kita mengenai puncak kezaliman manusia dan kekejaman suatu rezim yang tiada bandingnya dalam sejarah. Seorang cucu yang biasa dipanggil nabi “anaknya” tercinta, dibunuh secara keji di bawah panas dataran tandus Karbala. Kesyahidan Imam Husein dan para pengikut setianya merupakan simbol keberadaan putra-putra tercinta pada saat itu yang sangat menentang sebuah rezim tirani.

Persitiwa-peristiwa Karbala terlihat mengandung sebuah aspek mulia, yakni perjuangan untuk memperoleh kesadaran sejati dari kebermaknaan hidup. “memperjuangan kebebasan manusia dari penindasan merupakan sebuah kehidupan sejati, meski tubuh terkubur.” 

Selain itu, pengorbanan Imam Husein dianggap lebih besar dibanding pengorbanan Nabi Ibrahim dalam ketaatannya untuk menyembelih anaknya sedangkan Husein memberi nyawanya sendiri. Mengikuti contoh pengorbanan untuk kebenaran dan keadilan Imam Husein adalah suatu pelajaran yang diperoleh dari peringatan kesyahidannya. 

Seruan untuk pengorbanan biasanya ditekankan dan diilustrasikan oleh slogan Syiah yang terkenal: “setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala.” Slogan ini agar menjadi daya dorong pengikut Syiah untuk mengontekstualisasikan perjuangan Imam Husein di Indonesia. 

Jalaluddin Rakhmat berkata “Bangkitlah, wahai pengikut Husein, sumbangkanlah jiwa dan ragamu untuk mentransformasikan seluruh kepulauan nusantara menjadi Karbala dan setiap hari menjadi hari Asyura.” Senada dengan itu, di akhir pembacaan maqtal yang lain, dia mengungkapkan:

Kami meninggalkan Karbala dan kembali ke tempat kita saat ini. Mereka telah menumpahkan darah mereka untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Cucu rasulullah dan tokoh-tokoh suci lain telah mengorbankan hidupnya untuk menegakkan Islam-nya Muhammad. Mari kita lanjutkan perjuangan mereka untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Mari kita lanjutkan bertekad untuk mengucapkan kesetiaan pada rasulullah dan ahlul baitnya yang suci untuk menegakkan ajaran Islam berdasarkan Alquran dan sunnah nabi yang dibawa oleh ahlul bait sucinya. Mari kita serukan keuletan murni untuk melanjutkan perjuangan ini sampai hari akhir.

Dengan demikian, kesyahidan Imam Husein dianggap sebagai pengorbanan terberat dalam sejarah manusia dan perayaannya menjadi suatu cara untuk menjaga spirit jihad yang merupakan sebuah ibadah di dalam tradisi Syiah. Selain itu, ada hal menarik lain di dalam Asyura yang menjadi pembentukkan dan pelestarian emosi. Kecintaan dan empati umat Syiah pada Imam Husein membuat mereka dapat meneteskan air mata. Menangis sendiri telah menjadi suatu bagian penting dari pengabdian, mencirikan hampr semua ritual yang dilakukan oleh umat Syiah Indonesia. 

Ritual menangis bahkan dipublikasikan. Sebagai contoh, televisi naasional telah memberi program-program doa di bulan Ramadan yang di dalamnya (partisipan dan pemimpin Syiah) menangis bersama. Bagi para penganut ini, menangis adalah sesuatu yang sangat didorong oleh nabi. “rasulullah menyuruh kita untu menangis dan mengisi aktivitas keagamaan kita dengan ratapan.” 

Ritual-ritual dan perayaan ini, bersamaan dengan praktik taqiyyah, adalah suatu hal unik yang mencirikhaskan mazhab Syiah. 

Sumber gambar: www.ibnushukran.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar