Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 14)

Jiva Agung

Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Fikih Ja’fari
Selain ushuluddin yang harus dipercaya oleh setiap umat Syiah, ada konsep furu al-din (cabang agama) yang membentuk kitab undang-undang dari segala perbuatan Syiah. Konsep ini serupa dengan konsep rukun islam-nya Sunni. Pada dasarnya ushuluddin berada di bawah naungan akidah, sedangkan furu ad-din merupakan bagian dari hukum Islam (syariat). Ada tujuh rukun furu ad-din: salat, puasa, zakat, khumus, haji, jihad, dan amr makruf nahi munkar. Ketujuh rukun ini juga disebut dengan ibadah. Semua Syiah Indonesia menganggap semuanya ini sebagai sebuah kewajiban yang perlu dilaksanakan.

Mereka juga menganggap dirinya sebagai pengikut mazhab Ja’fari, sesuatu yang membedakan mereka dari mayoritas muslim di Indonesia yang menganut mazhab Syafi’i. Para pemimpin Syiah Indonesia sering menegaskan bahwa mazhab Ja’fari pada umumnya sangat dekat (mirip) dengan fikih Syafi’i bahkan perbedaannya lebih sedikit dibanding perbedaan antara fikih Syafi’i dengan ketiga mazhab fikih Sunni lainnya.

Ada keserupaan di semua aspek fikih antara mazhab Ja’fari dengan keempat mazhab Sunni. Meskipun istilah fikih Ja’fari asalnya dari nama Imam ke-6 Syiah, Ja’far Al-Shadiq (w.765 H) tetapi itu berbeda arti dengan empat mazhab Sunni, yang berisi kumpulan pendapat hukum Islam, atau produk ijtihad yang diberikan oleh pendirinya. Umar Shahab menulis:

Istilah Ja’fari tidak mewakili seluruh kumpulan produk ijtihad dari Imam Ja’far Al-Shadiq karena dalam pandangan Syiah, Imam Ja’far Al-Shadiq, seperti sebelas imam lainnya...ia bukanlah seorang mujtahid melainkan seorang imam yang memiliki otoritas membuat hukum (tashri’ al-hukm).

Apa yang dianggap sebagai poin penting perbedaan antara mazhab Ja’fari dengan Sunni ialah mereka tidak menutup pintu ijtihad di mana Sunni melakukan hal tersebut sejak abad ke-9. Ijtihad adalah upaya penyelidikan ilmiah untuk merumuskan opini hukum dari sumber utama Islam (Alquran dan hadis). Meskipun secara teoritis pintu ijtihad terbuka bagi Syiah, para ulamanya mewajibkan kaum awam untuk taklid pada mujtahid yang dikenal sebagai marja’ al-taqlid, seseorang yang telah mendapat otoritas untuk menjadi referensi bagi kaum awam. Tindakan mengikuti fatwa dari seorang mujtahid disebut dengan taklid, dan seseorang yang bertaklid pada marja’ disebut muqallid. Jadi, di mazhab Ja’fari, umat muslim diklasifikasikan menjadi dua kelompok, mujtahid dan muqallid.

Seorang mujtahid patut memenuhi persyaratan tertentu: dia harus adil, saleh, asketis (spritualis), teguh pendirian, dan bebas dari melakukan perbuatan dosa. Seorang marja’ al-taqlid menerbitkan hasil ijtihadnya (dari mulai peribadatan hingga urusan politik) yang dikenal sebagai risalah amaliyyah yang menjadi kitab keagamaan (panduan) bagi pada muqallid. Hubungan antara marja dan muqallid disebut dengan marja’iyyah.

Rakhmat menjelaskan:
Di mazhab Ja’fari, kami hanya melakukan praktik keagamaan dengan cara mengikuti marja, seorang lelaki yang terpelajar ilmu agama, yang menerbitkan hukum Islam dalam sebuah kitab (buku). Kemudian kami membaca fatwanya karena di dalam mazhab Ja’fari kami wajib melakukan taqlid. Jadi, orang awam harus mencari seorang terpelajar tempat dia akan mentaklid. Kemudian dia mempraktikkan praktik keagamaan sesuai dengan fatwa dari seorang marja tersebut. [Kami mungkin mengatakan] mazhab Ja’fari sudah usang...karena mempertahankan taklid, atau bahwa mazhab Ja’fari bersifat progresif, maksudnya itu hanya bergantung pada seseorang yang memiliki otoritas atau yang memiliki spesialisasi di bidangnya.

Selain alasan ini, ada juga bukti Alquran untuk mendukung kewajiban bertaklid bagi kalangan masyarakat awam. Teksnya sama dengan yang digunakan pada perintah untuk mematuhi para Imam. Ayat lainnya seperti: “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” Seorang penulis Syiah menegaskan: “sangat jelas bahwa ayat ini menjadi tanda kewajiban bertaklid bagi orang awam yang tidak memiliki posisi sebagai mujtahid.”

Meskipun istilah ulul amri dan ahlul dzikir di dalam teks-teks Alquran mengacu pada para Imam, pandangan umat Syiah ialah bahwa di era kegaiban besar mereka menunjuk para ulama yang memiliki pengetahuan Alquran dan hadis, yakni wali faqih atau marja al-taqlid. Diyakini juga bahwa di masa kegaiban ini, Imam Mahdi menunjuk umat beriman untuk mengkuti ulama atau faqih yang mengabdikan dirinya pada agama dan ketaatan pada perintah Allah. Selanjutnya, ada sebuah hadis yang terkenal yang menyatakan “para ulama adalah pewaris para nabi.” Yang juga membenarkan perintah untuk taklid bagi kalangan awam.

Semua Syiah di Indonesia adalah muqallid. Kebanyakan mereka menjadikan Ayatullah Ali Khamene’i, wali faqih Iran saat ini, sebagai marja-nya. Beberapa yang lain mengikuti Grand Ayatullah Ali Sistani dari Irak, dan yang lain mengikuti Grand Ayatullah Bahjat Fumani dari Iran. Sejumlah sangat kecil ada yang mengikuti seorang ulama liberal Muhammad Husein Fadlallah dari Libanon. Segala upaya telah dilakukan, khususnya dari kalangan ustaz alumni Qum, untuk mendoong mereka mengikuti Ali Khamene’i sebab ini dapat dijadikan sebagai keuntungan karena terkombinasi dua status, sebagai maja’iyyah dan wilayah di dalam satu person.

Seorang penulis Syiah, Maulana memuji Tuhan karena pada Khamene’i umat Islam saat ini diberkati dengan baik sebagai wali faqih sekaligus marja yang memiliki posisi sebagai a’lam (paling berpengetahuan). Selain itu Maulana menyatakan bahwa wajib untuk mengikuti Khamene’i karena kesempurnaan dan superioritas pengetahuannya. Ahmad Baragbah mengungkapkan:

Di Indonesia pada khususnya, sebenarnya kami tidak memiliki alasan yang memadai untuk mengikuti marja lain selain Ali Khamene’i. Ini merupakan kekuatan dan kebanggaan kami karena figur ini sempurna...Kemudian, bagi saya sangat aneh jika masih ada orang yang mempertanyakan apakah ada yang lebih alim dibanding Ali Khamene’i. Apa alasannya? Para ulama yang telah menyaksikan komitmen memperjuangkan Islam dan keuntungan bagi masyarakat menyatakan bahwa memilih Ali Khamenei sebagai marja adalah sangat bermaslahat...Dalam pada itu, kami butuh pendapat hukum mengenai persoalan-persoalan aktual. Dan ini artinya kami membutuhkan seorang marja yang menguasai perkembangan terbaru di dalam masyarakat. Yang lain berkata bahwa kami membutuhkan hukum mengenai persoalan-persoalan internasional. Oleh karena itu, nampaknya tidak ada yang masuk akal atau lebih tepat daripada Ayatullah Ali Khamene’i.

Tanpa melihat perbedaan dalam memilih marja, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mujtahid di dalam hal kewajiban dasar praktik ibadah ritual; umumnya hasil ijtihad berbeda di dalam detail-detailnya saja. Hal-hal penting dalam ibadah (salat, puasa, zakat, haji) tidak ada perbedaan sebagaimana yang dipahami oleh mayoritas Sunni Indonesia. Tetapi, uraian berikut ini membahas beberapa aspek ibadah dan muamalat di antara kalangan Syiah Indonesa yang berbeda dengan praktik mazhab Sunni.

Dalam soal kewajiban salat, Syiah Indonesia meyakini bahwa ada lima waktu salat yang terdiri dari 17 rakaat yang harus dilaksanakan setiap hari; subuh, zuhur, asar, maghrib, dan isya. Sebagaimana Sunni, wajibnya salat menurut Syiah merupakan suatu aspek ibadah yang sangat penting yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun. Tetapi bagi Syiah diperbolehkan untuk menggabungkan salat zuhur dan asar, maghrib dan isya, yang artinya Syiah dapat menyelesaikan kewajiban salat hanya dalam tiga waktu dalam sehari. Tujuannya ialah untuk mengurangi beban umat muslim sehingga salat tidak pernah tertinggal, terlihat lebih dapat dipahami dalam kehidupan kompleks masyarakat modern.

Di tambah lagi, ibadah salat sehari-hari yang dilakukan oleh Syiah Indonesia cenderung individual dibanding kolektif (berjamaah). Ini juga berhubungan dengan kenyataan bahwa mereka tidak menganggap pentingnya ibadah salat jumat berjamaah di masjid. Meskipun, sebagaimana salat, ibadah ini wajib, tingkat kepentingannya berkurang dengan keadaan kegaiban imam yang dianggap menjadi pemimpin sejati ibadah tersebut. Penafsiran Syiah memberikan kebebasan memilih untuk melaksanakan salat jumat atau sekadar menjalankan ibadah salat zuhur. Ada juga sejumlah salat lain yang direkomendasikan sehingga mereka dapat melaksanakannya hingga 51 rakaat dalam sehari. Bagi mereka inilah ajaran nabi yang sesungguhnya perihal ibadah (salat).

Bacaan-bacaan salat inti mirip antara Sunni dan Syiah, tetap ada beberapa perbedaan dalam ucapan anjuran (sunnah) dan gerakan-gerakan. Perbedaan yang paling berbeda ialah mengenai posisi tangan saat posisi berdiri. Saat mazhab Syafi’ menganjurkan bersedekap, ini malah terlarang di mazhab Syiah Indonesia yang menurutnya salat menjadi tidak sah, kecuali sedang dalam keadaan bertaqiyah.
Perbedaan lain ialah di saat posisi sujud, Syiah meletakkan dahinya di atas bumi (tanah) atau kertas, tetapi tidak pernah di karpet karena mempercayai bahwa dahi harus berada di atas sesuatu yang berasal dari bumi, seperti kayu, daun, atau batu. Pilihan mereka ialah cetakan yang diambil dari tanah Karbala yang dikenal sebagai turba. Menurut pandangan mereka, “tanah Imam Husein adalah tanah yang mulia. Oleh karena itu, sujud di tanah Karbala lebih baik dibanding sujud di tanah lain.”

Perbedaan kecil juga ditemukan di dalam wudu’. Syiah menyapu bagian atas kakinya alih-alih mencucinya secara keseluruhan. Kemudian, di dalam azan mereka memasukkan bacaan “hayya ala khairul amal” sebagai bagian dari azan yang asli yang telah dihilangkan (oleh Sunni) atas perintah Umar bin Khattab. Tambahan lain di dalam azan Syiah adalah “asyhadu anna Aliyyan waliyullah.” Bacaan ini dibaca setelah redaksi asyhadu anna Muhammadan rasulullah.

Ibadah khas yang terlihat dari Syiah Indonesia khumus, pajak sebesar 1/6 dari kekayaan, yang didasarkan dari teks Alquran. Pajak ini dianggap sebagai kewajiban individual karena di setiap keuntungan materil yang diperoleh seseorang di sana ada hak atas orang lain, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah. Syiah membayar khumus sebagai kewajiban tahunan, dan seperti zakat, khumus dibayar ke marja al-taqlid mereka masing-masing melalui perwakilannya di Indonesia.

Sebagai contoh, Jalaluddin Rakhmat dan Ahmad Baraghbah merupakan perwakilan dari Ali Khamene’i. Kewajiban mereka ialah mengumpulkan dan mendistribusikan zakat dan khumus. Khumus didistribusikan untuk keperluan dakwah Islam dan untuk anak yatim, fakir-miskin, dan untuk perjalanan Sayyid yang menurut hukum Ja’fari tidak boleh menerima zakat. Perlu dicatat khumus memberi fungsi yang sangat penting di dalam pertumbuh-kembangan komunitas Syiah di Indonesia. 

Dalam pengertian transaksi sosial, budaya mut’ah (nikah kontrak) merupakan suatu praktik khusus di Syiah dan sesuatu yang telah menjadi sebuah kontroversi dalam relasi Sunni-Syiah. Sunni melarang jenis pernikahan ini, menganggap hal tersebut sebagai sebuah praktik prostitusi.

Bagi Syiah Indonesia, nikah mut’ah diperbolehkan sebagaimana hal tersebut pernah dipraktikkan di zaman rasulullah. Mereka beranggapan bahwa Umar bin Khattab-lah yang telah melarang jenis pernikahan ini. Mereka pun mengutip ayat Alquran untuk melegitimasi pernikahan mut’ah, seperti ayat ke-24 dari surat An-Nisa. Selain itu mereka pun memberikan argumentasi rasionalnya. Bagi mereka, tujuan dari pernikahan ialah untuk menghalalkan hubungan seksual yang sesuai dengan perintah Tuhan.

Sebenarnya, pernikahan tiada lain supaya terpenuhinya kebutuhan biologis dari seseorang yang, jka dilihat dari sisi penciptaan kehidupan, muncul di setiap zaman. Islam, sebagai agama yang diciptakan oleh pencipta manusia sangat memahami kondisi tersebut dan karenanya Islam membuat regulasi yang cukup jelas dan simpel, salah satunya ialah mut’ah. Praktik ini dilakukan hanya agar manusia menikah dan berhenti dari berbuat zina. Kebutuhan biologis telah ada sejak penciptaan manusia.

Legitimasi mut’ah juga dijelaskan dengan pentingnya ajaran ini. Mut’ah dilihat sebagai pemeliharaan keinginan vital manusia karena perzinaan dilarang keras oleh Islam, di dalam keadaan tertentu pernikahan permanen juga tidak memuaskan hasrat manusia, atau pernikahan permanen tidak dapat dilakukan golongan tertentu dalam suatu masyarakat. Kemudian mut’ah dapat dijadikan alternatif.
Jalaluddin Rakhmat memberikan lima hal keuntungan melakukan nikah mut’ah: untuk melindung agama, akal, harta, jiwa, dan keturunan. Rakhmat beranggapan bahwa mut’ah dapat menjadi cara alternatif bagi sebagian orang, seperti pelajar yang tetap ingin mematuhi semua perintah Tuhan tetapi juga tetap terbebas dari perzinaan.

Masih menurutnya, dalam pernikahan ini status anak terlindungi, karena seseorang perempuan yang menikah dengan cara mut’ah merupakan seorang istri yang sah. Mut’ah juga melindungi manusia dari kerusakan/penyakit mental dan fisik. Untuk pentingnya mut’ah dalam menjaga kekayaan, Rakhmat mengungkapkan bahwa mut’ah menjamin janda untuk dapat menerima bantuan materil dari pria kaya, yang kembali memenuhi harsat seksualnya. Alasan ini masuk akal karena pernikahan atas dasar (motivasi) ekonomi diperbolehkan di dalam Syiah. 

Meski prosedur nikah mut’ah mudah, Syiah Indonesia menganggap nikah kontrak dilakukan antara seorang lelaki dan perempuan, dengan sejumlah mas kawin tertentu, adalah sah bahkan jika tidak ada saksi atau wali, dua hal yang diperlukan ada di dalam mazhab Sunni. Karena kebolehan dan kemudahannya, sejumlah Syiah Indonesia mempraktikkan jenis pernikahan ini sembari melakukan pernikahan permanen. Tetapi praktik ini dilakukan secara rahasia karena mut’ah tidak diakui oleh pemerintah ataupun otoritas keagamaan.

Segolongan kecil Syiah mengkritisi orang yang sering melakukan praktik ini sembari mengabaikan nilai-nilai moral. Mereka beranggapan bahwa meski mut’ah sah (halal) tetapi tidak ada kewajiban untuk melakukannya. Hal ini dapat disamakan dengan praktik perceraian yang meskipun halal tetapi tidak wajib dilakukan. Legitimasi mu’at diklaim sebagai suatu upaya untuk memelihara otentisitas ajaran Nabi Muhammad.

Kebiasaan-kebiasaan di persoalan makanan merupakan aspek perbedaan lain dari fikih Ja’fari yang terlihat dari Syiah di Indonesia. Meskipun pada umumnya Syiah dan sunni memiliki pandangan yang serupa mengenai ketaatan untuk mengkonsumsi berbagai makanan, tetapi ada beberapa makanan yang dilarang bagi Syiah. Contoh pertama ialah Syiah tidak memakan ikan tanpa sisik (yang tidak boleh di dalam fikih Ja’fari). Kedua, Syiah Indonesia tidak makan makanan yang telah tersentuh oleh non-mukmin. Di dalam fikih Ja’fari non-mukmin dari kelompok khawarij dan nawasib (pembenci ahlul bait) dianggap najis dan segala hal yang najis tidaklah sah. Jalaluddin Rakhmat menjelaskan bahwa dia, seperti kebanyakan Syiah, mengalami kesulitan hidup di negeri non-muslim.

Ketika saya di Jerman, saya tidak mau memakan masakan yang tersentuh oleh tangan non-muslim. Pertamanya, saya memilih makan buah. Ketika saya melihat buah yang diambil dengan tangan tanpa mengenakan sarung tangan, saya (beralih) mencari roti. Saya pikir roti itu dibuat di pabrik. Dan di tepi stasiun di Frankfurt saya melihat non-muslim sedang membuat roti. Tangannya (tanpa menggunakan sarung tangan) membentuk balok roti. Hari itu, saya mengalami kelaparan.

Aspek-aspek fikih Ja’fari yang dideskripsikan di atas mengindikasikan ciri khas kehidupan keagamaan Syiah yang berbeda dengan Sunni. Umumnya, syiah Indonesia melakukan praktik-praktik tersebut di rumah atau di institusinya sendiri, tetapi kebanyakan dari mereka menutupinya dari pandangan publik. Dengan ajaran taqiyyah, hal itu diperbolehkan.

Sumber gambar: www.tebyan.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar