Pengalaman Menjemput Jodoh

Pembahasan mengenai jodoh dan karir sepertinya sedang menjadi topik yang hangat dibicarakan bagi orang-orang yang sebaya denganku (umur 20 tahun-an). Wajar memang karena pada usia ini adalah masa-masanya menuju kedewasaan yang sebenarnya. Jodoh dan karir merupakan dua hal yang melekat pada orang dewasa.

Berbicara mengenai jodoh, Alhamdulillah saya sendiri sudah menikah di usia ini. Sebenarnya semenjak masa sekolah saya termasuk orang yang jarang bergaul apalagi dengan lawan jenis.

Ada beberapa faktor penyebabnya, pertama karena didikan dari orang tua membuat saya enggan mendekati perempuan ketika masih sekolah/kuliah. Melihat saya berboncengan dengan perempuan saja, orang tua ku langsung menegur dan melarangku, apalagi kalau saya berpacaran, tidak memungkinkan pastinya. Kedua, merasa minder. Penampilan fisik saya biasa saja sebenarnya, ga jelek juga hha. Tapi tetap saja punya perasaan minder, mungkin karena tak biasa bergaul dengan meraka. Ketiga, faktor ekonomi, you know lah biaya pacaran yang saya perhatikan waktu itu mahal sepertinya. Ada biaya pulsa, jalan-jalan, nonton, hadiah, dll. Sedangkan uang jajan saya sendiri pas-pasan hehe.

Meskipun demikian, saya masih tetap punya rasa suka atau sekedar kagum pada lawan jenis, namun tidak diungkapkan. Bahkan ada juga perempuan yang mendekat namun tidak terlalu saya respon. Jujur saja ketika masa-masa akhir SMP, saya pernah berpacaran, namun itu pun hanya hubungan yang main-main, bahkan bukan saya yang nembak, tapi dia duluan yang nembak.

Pacaran pun hanya berlangsung selama kurang lebih sebulan dan berakhir dengan tidak jelas. Duhh. Semenjak itu saya pun jadi enggan berpacaran. Alhamdulillah Allah kemudian menjauhkan saya dari pacaran. Walaupun jujur saja saya pernah sempat dekat dengan beberapa perempuan ketika masih SMA tetapi sebentar saja.

Dengan karakter seperti itu, saya sendiri bingung bagaimana caranya saya bisa menikah nanti. Namun Allah Maha Kuasa, jika sudah takdirnya menikah muda maka terjadilah. Meskipun jodoh termasuk takdir dan sudah ada ketetapannya, kita tetap saja harus berusaha. Ada perpaduan doa, ikhtiar, dan tawakal di dalamnya.

Setelah masa kelam di zaman sekolahan, akhirnya tibalah di masa-masa perkuliahan. Karena kuliah di jurusan agama, tentunya membuat saya semakin enggan untuk pacaran. Walaupun sebagian teman saya justru malah berpacaran. Selama perkuliahan kadang saya sedikit nakal jelalatan mencari kecengan hha. Dan tak kusangka, setelah melirik serta mempertimbangkan ke sana dan ke sini ternyata jodoh pun aku temukan di masa-masa perkuliahan. Bahkan dengan teman se-organisasi dan sekelas. Sebut saja namanya Devia.

Di awal perkuliahan kami biasa saja sebenarnya, namun seiring semakin berjalannya waktu, dengan tak sengaja maupun sengaja saya terkadang memperhatikan dia hingga saya pun mulai jatuh cinta semenjak semester 2 akhir. Tak berselang waktu yang lama Devia pun mulai menyukaiku semenjak semester 3 akhir. Alhamdulillah kalau memang sudah jodoh akan saling merespon.

Ada beberapa hal yang membuatnya menjadi wanita idamanku, selain karena agamanya dan parasnya yang cantik, dia juga enak dan nyambung jika mengobrol sehingga membuatku nyaman dan betah. Ada perasaan tersendiri dalam hati jika mengobrol dengannya. Bagiku inti dari hubungan antara dua lawan jenis adalah “kenyamanan” sehingga menimbulkan betah dan bahagia. Itulah makna sakinah yang sama dengan kata askun yang artinya tempat tinggal atau tempat beristirahat yang memberikan kenyamanan tentunya.

Meskipun saling menyukai, namun diantara kami tak ada yang berani mengungkapkan perasaan pada waktu itu. Kami hanya melalui masa-masa perkuliahan begitu saja, paling hanya sekedar menyapa atau bertanya jika perlu. Itu pun sudah membuatku bahagia waktu itu. Hha. dan terkadang pula saya merasa galau jika ia tampak dekat atau akrab dengan lelaki lain. Mungkin ini lah yang namanya cemburu. Barulah ketika memasuki akhir perkuliahan kami merasa semakin dekat dan akrab.

Ketika selesai mengerjakan skripsi dan menunggu untuk daftar sidang, saya mulai merasa galau memikirkan bagaimana kehidupan selanjutnya. Hanya ada 3 (tiga) pilihan saat itu, yaitu bekerja, melanjutkan kuliah atau menikah. Akhirnya saya memilih bekerja lebih dahulu. Alhamdulillah saat itu meskipun belum sidang skripsi namun saya sudah interview pekerjaan dan diterima bekerja di sebuah sekolah swasta. Hal ini membuatku semakin termotivasi untuk langsung melamar Devia menikah.

Keinginan saya menikah semakin mengebu setelah diterima bekerja. Apalagi setelah mendapatkan wejangan dan nasihat dari seorang guru di tempat saya kuliah praktik mengajar (PPL). Kebetulan guru tersebut masih belum menikah dan tidak jarang curhat dikarenakan sulitnya mencari jodoh jika sudah bekerja. Belajar dari orang tersebut, saya menjadi ikut khawatir sehingga saya targetkan selagi masih belum lulus kuliah maka sudah harus seminimal mungkin mendapatkan seorang calon istri. Berbagai motivasi dari teman kuliah juga mempengaruhi keinginan saya untuk menikah ini.

Selain itu, faktor menjaga diri juga menjadi pemicu saya untuk segera menikah. Jujur saja saat itu saya merasa banyak godaan dari lawan jenis. Entah itu dari lingkungan, teman, rekan kerja, bahkan beberapa murid saya sendiri. Ada beberapa lawan jenis baik terang-terangan atau menyindir yang bagiku itu menggoda. Saat itu saya khawatir tergoda apalagi berzina. Maka saya putuskan ingin segera menikah.

Setelah memantapkan diri, kini saya pun melangkah pada tahap selanjutnya, yaitu berdiskusi dengan keluarga sendiri. Ini membuat saya penuh dengan khawatir dan bingung dari mana memulainya. Membicarakan lawan jenis, pacaran, suami-istri atau menikah merupakan hal yang tabu di keluarga saya.

Dan benar saja, ketika saya mulai berkata pada ibu jika lulus nanti kemungkinan mau menikah, sontak ibu pun langsung merespon agak marah dan kaget. Ibu berkata, “baru juga lulus udah nikah, baru juga mulai kerja udah nikah, nikah itu mahal, coba pikirkan lagi, nikah sama siapa? Ada yang mau gitu ?”. Duhh aku pun dicecar habis-habisan. Sementara bapak ku pun hanya tersenyum sinis agak tertawa dan meragukanku.

Saya paham sebenarnya keluarga bukan menghalangiku menikah, namun hanya menilai bahwa saya belum siap untuk menikah. Maka dari itu saya berusaha meyakinkan mereka. Di hari-hari selanjutnya saya mencoba mencuri-curi kesempatan untuk mengobrol kembali.

Saya gunakan pendekatan mengobrol dengan baik, saya kemukakan alasan logis saya ingin menikah. Alhamdulillah secara bertahap orang tua pun sedikit terbuka, mereka memberikan kelonggaran untukku mencari dan bertanya langsung pada orang yang dimaksud, apakah dia mau menikah dengan saya. Namun orang tua ku berpesan bahwa mereka belum sanggup secara finansial jika harus menikah dalam waktu dekat. Hal ini tidak membuat saya putus asa untuk segera menikah.

Kebetulan di waktu itu, skripsi saya lebih cepat selesai. Tak jarang Devia bertanya bahkan meminta bantuan dalam mengerjakan skripsi. Tentu saja saya melayaninya sepenuh hati, selain untuk modus juga hha. Bahkan hingga penelitiannya ke lapangan, saya pun turut membantu. Hingga akhirnya ketika penelitian terakhir, saya memberanikan diri ingin melamar dia. Ini adalah pengalaman pertamaku “nembak” perempuan, saya khawatir salah dan ditolak. Saat itu saya bingung dan akhirnya memutuskan memberanikan diri chatting lewat medsos. “Gpp lah meskipun kurang gentle juga dari pada tidak diungkapkan”, pikir saya.

Inti dari kalimat chatting itu adalah pernyataan bahwa saya berniat untuk mengajak Devia menikah dan memintanya merundingkan hal ini dengan orang tuanya. Setelah chat terkirim, hanya tanda read saja yang muncul tanpa balasan.

Keadaan itu membuatku semakin galau dan deg-degan rasanya. Dan ternyata hal yang sama juga dirasakan oleh Devia, bahkan ia sempat mematikan HP-nya kemudian menghidupkannya lagi, salat istikharah, dan sulit tidur di malam itu.
Lama tak ada jawaban aku pun memilih untuk tidur sambil hati terasa gundah menunggu kepastian. Baru lah ketika pagi muncul chat dari Devia mengatakan bahwa orang tuanya bersedia membuka diri untuk mengobrol bersamaku. Saya merasa senang dan masih deg-degan saat itu.
Waktu janjian bersama orang tua Devia pun tiba.

Saya datang ke rumah Devia untuk pertama kalinya. Saat itu hanya ada ibunya, alhamdulillah ternyata ibu dan anak tidak terlalu berbeda. Saya dan ibu Devia bisa mengobrol dengan baik dan cukup akrab. Apalagi kebetulan ibu Devia berasal dari Tasikmalaya sama dengan bapak saya. Berbicara menggunakan kearifan lokal sendiri memang membuat lebih akrab. Adapun dengan ayahnya, Devia pernah bilang jika ayahnya pendiam, kurang suka mengobrol, dan berasal dari Padang. Hal ini membuatku jadi gugup pada awalnya, tapi ternyata alhamdulillah sebenarnya ramah dan baik.

Setelah memantapkan diri untuk menikah, meyakinkan orang tua sendiri, dan bersilaturahim dengan keluarga Devia, maka tibalah waktunya keluarga kami saling bertemu. Saat itu saya sempat gugup dan galau apalagi saat membicarakan teknis pernikahan, biaya pernikahan, dan waktu pernikahan. Saya yang selama ini hanya bermodalkan “semangat” saja untuk menikah akhirnya galau setelah tahu betapa ribet dan besarnya biaya pernikahan itu. Justru permasalahan teknis dan biaya pernikahan ini lah yang harus disiapkan sedetail mungkin. Bahkan tak jarang pernikahan batal karena tak adanya kesepakatan kedua keluarga dalam masalah ini.

Beberapa bulan lamanya keluarga kami mencari kesepakatan dan titik temu. Awalnya saya mengajukan untuk menikah 2 atau 3 tahun lagi, namun pihak Devia berkeberatan, begitupun dengan hal-hal yang lain seputar teknis dan biaya pernikahan. Akhirnya setelah beberapa kali bertemu, alhamdulillah kesepakatan muncul diantara keluarga kami. Diantaranya mengenai biaya dan waktu pernikahan yang akan dilaksanakan setahun setelahnya.

Selama setahun tersebut saya berusaha menabung dengan giatnya. Awalnya saya merasa pesimis tapi Allah memberikan banyak jalan rezeki. Saat itu bermunculan tawaran privat ngaji dan khutbah/ceramah, uang dari amplopnya mencukupi keperluan sehari-hariku. Sementara itu penghasilan saya dari mengajar di sekolah 100% ditabungkan. Adapun makan sehari-hari masih menumpang dengan orang tua. Tak pernah rasanya saya punya semangat menabung dan jumlah uang tabungan sebesar itu dari dahulu.

Mengenai jumlah, tak elok rasanya jika saya sebutkan, namun yang jelas uang tersebut dan ditambah beberapa uang dari orang tuaku cukup untuk biaya pernikahan dari pihak laki-laki. Selain menabung, tak lupa bersedekah baik berbentuk materi ataupun non-materi juga giat saya lakukan. Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan bagi hamba-Nya yang ingin menikah jika benar-benar siap.

Setelah melewati berbagai hal itu, akhirnya pernikahan pun terlaksana dengan lancar. Alhamdulillah saya bersyukur ini semua berkat kuasa-Nya. Dari pengalaman tersebut saya semakin yakin bahwa Allah akan selalu membimbing hamba-Nya. Jika ia yakin dengan imannya, selalu berdoa padanya, menolong hamba-hamba-Nya yang lain, dan memantaskan diri untuk dikabulnya harapan kita. Berbagai kesulitan pasti akan ada, bukan berarti Allah tak sayang, namun justru dengan hal itu kita semakin belajar, kuat dan memantaskan diri.

Jika ada seorang anak SD yang meminta motor pada ayahnya pasti tidak akan diberi, namun ketika anak itu sudah besar pasti ayahnya pun memberi. Bukan karena ayahnya pelit, namun karena anaknya yang belum siap. Begitupun Allah akan memberi jika memang kita sudah siap dan mampu. Maka memantaskan diri untuk menikah atau harapan lainnya mesti dilakukan dengan baik. semoga secuil pengalaman saya ini bisa bermanfaat.

Sumber gambar: www.lifestyle.okezone.com

1 komentar: