Mengguncang Dasar-Dasar Islam

Jiva Agung

Jumat lalu (04/05/18) pertemuan ke-2 Super Exclusive Literacy Short Couse digelar di depan aula Masjid Al-Furqon UPI, Bandung. Meski hanya dihadiri lima orang plus satu pemateri, sesuai dengan namanya (super exclusive), suasana dialog yang berlangsung cukup hidup.

Jika di pertemuan pertama materi yang dibahas ialah mengenai pentingnya membaca dan menulis bagi kalangan pemuda, kali ini, memasuki pertemuan inti, kami membincangkan Islam Dasar. Walaupun dasar, bukan berarti yang dibahas adalah sesuatu yang sudah common dipahami oleh umat muslim, alih-alih kami hendak menggali diskursus intelektual seputar topik yang berfokus pada mempertanyakan kembali suatu ajaran yang sudah dianggap final oleh umat muslim.

Hari itu sayalah yang pertama berbicara, memaparkan pengantar sebuah khazanah revisionis yang diperkenalkan oleh Mun’im Sirry, seorang dosen di Universitas Notre Dame (USA) asal Madura. Revisionis gampangnya ialah sebuah “gerakan” intelektual yang berusaha untuk menggoyang ajaran-ajaran keagamaan yang telah mapan diyakini oleh umat beragama, termasuk Islam.

Di dalam buku dan artikelnya, Sirry mengutip beberapa sarjana revisionis Barat mengenai keraguan keotentikan buku Sirah Nabawiyah karya Ibn Ishaq yang konon merupakan kitab paling tertua dan lengkap (sekaligus rinci) yang mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad, sebuah kitab sirah yang sampai saat ini masih dijadikan rujukan utama bagi seluruh umat muslim.

Bagi mereka, dari sudut pandang penilaian ilmu sejarah, kitab ini sudah tidak memenuhi persyaratan paling mendasarnya sebab buku sejarah yang bisa dirujuk haruslah yang munculnya sezaman dengan kisah yang diceritakan, padahal kitab sirah ini baru ditulis di kisaran 100 tahun pasca nabi wafat.

Salah satu isi kitab itu yang paling sering “digoyang” oleh sejarawan revisionis Barat ialah mengenai riwayat yang mengisahkan kemukjizatan Nabi Muhammad. Mereka menganggap bahwa ini hanya kumpulan riwayat palsu, atau buatan umat muslim sendiri sebagai bentuk polemik dus glorifikasi umat muslim dalam rangka menghadapi umat Yahudi dan Kristen yang saat itu sangat membangga-banggakan keistimewaan (mukjizat) tokoh-tokoh sentral mereka (Musa dan Yesus). Bagi Sirry, riwayat-riwayat ini sungguh bertentangan dengan narasi Alquran yang memperlihatkan rasulullah sebagai sosok manusia yang seperti manusia pada umumnya, misalnya, berjalan-jalan di pasar.

Saya juga memaparkan sekilas tentang pandangan beberapa cendekiawan yang mengungkapan bahwa Nabi Muhammad tidaklah membawa agama Islam. Adalah salah seorang khalifah di Bani Umayyah-lah yang akhirnya mulai membentuk Islam sebagai suatu agama yang terlembaga, yang kemudian terbedakan dengan agama-agama pendahulunya (Yahudi-Kristen). 

Terakhir saya menyampaikan diskursus seputar “penyerangan” Alquran terhadap agama lain yang menurut Sirry sering disalahpahami baik oleh kalangan muslim maupun non-muslim. Umat muslim terlalu menggeneralisir kritik Alquran, sedangkan non-muslim malah menganggap Alquran sering salah alamat. Dalam beberapa tulisannya, terkesan Sirry hendak menyampaikan bahwa kritik Alquran lebih ditujukan kepada sekte heterodoks (sesat) di dalam agama-agama mayor (Yahudi-Kristen) dan bukan ke golongan mainstream mereka.

Lalu pemaparan dilanjutkan oleh Fauzi. Masih sama dengan saya, ia pun mencoba untuk me-review hasil bacaannya atas Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal, buku kumpulan tulisan pendek karya Mun’im Sirry. Melengkapi beberapa hal yang telah saya sampaikan sebelumnya, Fauzi mengutarakan keraguan Sirry mengenai keotentikan hari kelahiran Nabi Muhammad yang sudah diterima luas yang bertepatan pada tahun gajah.

Sirry juga mencoba mempertanyakan kembali konsep syahadat, sesuatu yang telah diangap sangat final oleh umat muslim. Baginya, jika dikaji melalui pendekatan arkeologi, redaksi asyhadu anna muhammadan rasulullah baru terlembagakan sebagai pernyataan pengakuan iman setelah salah seorang khalifah di dinasti Umayyah mengukir dua kalimat syadahat ke dalam sebuah uang koin.

Pe-review terakhir ialah Zahro yang seminggu lalu diberi tugas untuk menuntaskan buku Pendidikan Agama Islam, sebuah buku rujukan utama seluruh mahasiswa muslim di kampus UPI.

Setelah kami menyampaikan hasil bacaan, barulah stimulator, Dr. Wawan Hermawan yang tiada lain juga dosen di Prodi IPAI UPI, memberikan tanggapan atas penyampaian kami sebelumnya. Baginya pembahasan kali ini sangat penting didiskusikan supaya umat muslim tidak menjadi orang-orang yang kagetan.

Tetapi menurutnya memang dalam pelaksanaannya harus pintar-pintar memilih ruang dan waktu yang tepat. Beliau sendiri masih sering menahan-nahan diri untuk mengungkapkan apa yang diyakininya, bahkan di kalangan para dosen sekali pun, supaya ia tidak distigmakan negatif, karena jika sudah ada cap negatif pada dirinya, maka pesan apa pun yang hendak disampaikan olehnya sudah berpagi-pagi ditolak.

Menurutnya istilah revisionis tidaklah sesuatu yang benar-benar baru. Dulu ada istilah yang semangatnya mirip-mirip dengan hal itu, seperti terminologi rekonstruksi, dekonstruksi, dan lain sebagainya.
Lalu mengenai pendapat yang mengatakan bahwa Islam baru muncul di masa belakangan, kira-kira di abad kedua hijiah, baginya itu merupakan suatu pendapat yang wajar karena memang pada saat itulah Islam mulai “dibakukan”, dari segi keilmuan, kemiliteran, maupun keadiministrasian.

Ia juga menjelaskan umat muslim janganlah berpemahaman eksklusif, dalam artian menganggap bahwa apa-apa yang datang dari Islam semuanya adalah baru, sesuatu yang tidak dimiliki oleh agama-agama lainnya. Jelas ini pandangan yang tidak berdasarkan kenyataan atau fakta sejarah. Selain karena Islam (Alquran & hadis) tidak datang di ruang yang hampa, ajaran-ajaran Islam juga sejatinya telah ada di agama-agama lainnya. Esensinya sama tetapi berbeda dalam perincian dan manifestasinya saja.

Pernyataan keimanan (syahadat di dalam Islam) ada juga di agama lain, salat (doa) juga merupakan sesuatu yang penting di dalam praktik agama mana pun. Begitu pun dengan puasa dan zakat. Mungkin penamaannya berbeda, tetapi tradisi “menahan diri” dan “berbagi” ada di setiap agama. Baginya semua agama juga menyembah satu Tuhan.

Di sela diskusi, saya melemparkan pertanyaan yang selama ini saya belum dapatkan jawaban yang memuaskan. Di dalam Alquran ada istilah ushul al-din dan furu al-din. Yang pertama adalah sesuatu yang pokok di dalam ajaran Islam yang mana seharusnya tidak boleh ada perbedaan pemahaman di seluruh kalangan umat muslim. Salah satu yang masuk ke dalam ushul al-din ialah tauhid, mengesakan Allah. Pertanyaan intinya ialah mengapa Allah sangat “ngotot” untuk bisa dipahami secara benar oleh umat manusia, padahal manusia sangatlah terbatas.

Tak mau kalah, Fauzi juga melempar pertanyaan yang seringkali ia dengar belakangan ini, yakni mengenai maksud pernyataan kembali ke Alquran dan As-Sunnah. Ia juga bertanya tentang sebuah kasus di mana sekelompok orang sedang melaksanakan rapat atau proses pembelajaran lalu mereka mendengar azan. Apa yang sebaiknya dilakukan.

Demikianlah kurang lebihnya proses diskusi berlangsung. Dan minggu depan kami akan melanjutkan diskusi mengenai Islam kiri. Ada yang mengistilahkannya Islam Sosialis dan ada pula yang menamakannya sebagai Islam progressif. Apa pun itu namanya, yang pasti mulai dari hari itu para peserta telah ditugaskan untuk membaca buku seputar Islam dan sosialisme yang nantinya akan mereka review di hari H.

Sumber gambar: www.kaligrafikufi.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar