Ibadah yang Melalaikan



Tibanya bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Iklan-iklan bernuansa Ramadhan sudah ramai tayang di layar kaca. Tak lupa, teman-teman sekolah pun ramai menghubungi kita untuk merencanakan buka bareng. Mulai dari teman SD hingga teman kerja, sibuk menentukan tempat dan tanggal janjian untuk buka puasa bersama. Rasanya kita harus siap-siap menebalkan dompet kita, merelakan beberapa lembar uang bergambar Sang Proklamator atau I Gustu Ngurah Rai untuk pergi dari dompet kita selama bulan Ramadhan nanti. 

Tapi itu semua nyatanya akan terbayar dengan keseruan yang akan tercipta di acara buka puasa, bertemu kawan lama, bercerita pengalaman kerja, bercengkrama tentang usaha bisnis yang kita rintis, atau juga bertukar informasi mengenai calon pendamping yang siap kita lamar. Eh, atau bahkan nanti kita sudah bawa buntut, hehehe. Pokoknya, silaturrahim membawa kebahagiaan.

Apalagi jika niatnya benar, niat silaturrahim ini bernilai ibadah. Rasulullah Saw. pernah bersabda perihal istimewanya silaturrahim ini: “Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim.” (H.R. Bukhari). Siapa yang nggak suka dengan ganjaran seperti itu? Sudah temu kangen dengan kawan-kawan, dapet pahala pula!
Biasanya, tempat buka puasa bersama sudah mulai penuh menjelang sore. Maklum, ingin cepat bertemu kawan lama. Sudah rindu, eh kangen. Setelah sampai di tempat buka puasa dan bertemu kawan-kawan, bergegas kita memesan menu yang pas di kantong. Kalo urusan pas di perut sih urusan kedua. Maklum, jadwal buka puasa bersama biasanya padat merayap. 

Namun, jika kita perhatikan dan resapi lebih dalam, pemandangan lain justru terlihat ketika adzan maghrib yang begitu dinanti-nantikan telah berkumandang. Kita kalap melihat makanan dan minuman segar yang sudah tersedia di meja makan. Seperti pelari atletik yang baru saja memulai start-nya. Dilahap dengan cepat dan tak bersisa. Namun melupakan esensi dari adzan maghrib pada bulan puasa, yaitu membatalkan. Kita mah mendengar adzan maghrib bukan hanya membatalkan, tapi juga dikenyangkan, full tank!

Dan yang lebih parahnya lagi, terkadang setelah makan, kita malah melanjutkan obrolan santai dengan kawan-kawan kita. Melupakan seruan adzan yang sudah berlalu puluhan menit yang lalu. Melupakan janjian dan silaturrahim dengan Tuhan kita. Jika sudah seperti ini, silaturrahim yang dibungkus melalui acara buka puasa bersama menjadi nihil dari maknanya. Nihil dari ruh silaturrahimnya. Jika demikian, buka puasa bersama ini menjadi ibadah yang melalaikan. 

Semestinya, semua tahu diri dan tahu waktu. Kapan kita memberi jatah pada diri dan kepada Tuhan kita. Kapan kita membagi waktu bersama kawan dan Tuhan kita. Agar nilai ibadah pada silaturrahim akan bertemu dan bertambah dengan pahala shalat maghrib berjamaah bersama kawan-kawan. Itu akan jauh lebih mantap dan berfaedah!

Jadi, mau buka puasa bareng di mana tahun ini?

sumber gambar: www.waspada.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar