Fase-Fase Menjadi Seorang Teroris, Kamu Ada di Tahap Mana?



Indonesia kembali berduka. Kemarin lusa serangkaian bom diledakkan oleh kelompok teroris di Surabaya dan Sidoarjo. Tak tanggung-tanggung, gereja dan polrestabes menjadi targetnya. Yang baru dari tindakan terorisme kali ini ialah mereka sudah mengikutsertakan, dalam aksi tersebut, anak yang masih kecil dan istrinya, sesuatu yang tentunya mengejutkan para pakar terorisme. 

Betapapun, kejadian ini telah kadung terjadi dan mari kita serahkan saja penyelesaian strukturalnya kepada pemerintah. Tetapi bukan berarti kita hanya cukup berpangku tangan. Sebagai satu kesatuan unsur di dalam wadah negara, kita, selaku masyarakat sipil berkewajiban untuk melakukan tindakan-tindakan kooperatif yang sejatinya dapat membantu mereka mengentaskan terorisme. Salah satunya ialah dengan melakukan upaya-upaya preventif, mendeteksi kemudian men-stop sedini mungkin benih-benih terorisme di dalam diri dan lingkungan kita masing-masing. 

Telah lazim diketahui, untuk menjadi seorang teroris hampir mustahil hanya dengan berbekal pelatihan sehari dua hari melainkan pasti telah dan perlu melalui serangkaian proses panjang, yang berkelanjutan dan masif. Dengan demikian ada beberapa fase yang akan mereka lalui sebelum tindakan terorisme merupakan suatu hal yang possible dalam pandangan mereka. 

Yang pertama saya menyebutnya sebagai fase intoleran pasif. Menurut saya fase ini akan dilalui oleh hampir seluruh umat beragama (Islam, Kristen, Yahudi, dll) yang mulai menyadari pentingnya hidup di dalam naungan agama. Biasanya fase ini akan terjadi di umur SMP-SMA-Perkuliahan yang mana ghirah keagamaan mereka terlihat menggebu-gebu tetapi belum bisa diimbangi dengan kekritisan berpikir sehingga yang muncul adalah serba sederhana, instan, dan berpola hitam-putih.  

Karena memang masih berpikiran sederhana, maka ia menginginkan segalanya serba seragam. Sesuatu yang berbeda dengan yang dipahami atau dipraktikkan, berindikasi kuat akan disalahkan. Mereka biasanya mengafirkan agama lain (tanpa dasar argumentasi yang kuat) bahkan mudah menyesatkan saudara seagamanya kalau mereka mempraktikkan sesuatu yang berbeda dengannya. 

Indikator lainnya seperti: tidak ingin mengetahui alasan yang melatar belakangi mengapa perbedaan bisa terjadi, menelan mentah-mentah ilmu atau informasi yang didapat dari guru maupun ustaznya, belum bisa memaknai kekompleksitasan kitab suci dan realiatas kehidupan umat manusia, serta dalam level tertentu memang bisa jadi dia tidak membatasi diri ketika bergaul dengan yang berbeda tetapi dia menyimpan puluhan stereotip di pikirannya. Contoh stereotip yang berkembang ialah menganggap umat Kristen menyembah tiga Tuhan, kitab mereka telah dipalsukan, suka berfoya-foya, dsb. Fase ini biasanya terfasilitasi di rohis-rohis sekolah, kampus-kampus, dan kegiatan-kegiatan masjid. 

Uniknya, banyak orang yang tidak naik kelas di dalam fase ini, sehingga wajar meski telah berumur dewasa pemikirannya bisa saja tetap stuck di fase ini. Unfortunately, saya merasa mayoritas masyarakat Indonesia berada di fase ini. Setidaknya itulah yang saya lihat dan rasakan dari kenyataan umat Islam dan Kristen yang selama ini mengelilingi hidup saya.

Satu poin lagi mengenai hal ini. Orang-orang yang di dalam hidupnya hanya disibukkan dengan hal-hal keduniawian (perut, karir, dll) tidak akan melalui fase ini. Saya menyebut mereka sebagai orang yang “bodoh” yang tidak mengetahui (menyadari) kalau dirinya “bodoh” atau sebut saja berada di fase nol.  
Tetapi jika seseorang tersebut dapat melewati fase pertama ini, mereka akan beranjak menemui dua jalan pilihan. Fase radikal atau moderat. Jika merasa telah menemui jalan persimpangan ini, saya menyarankan, maka pilihlah jalan yang moderat yang ciri-cirinya seperti: mulai mencoba memahami ajaran agama dengan kritis (tak buru-buru menyimpulkan), bersikap toleran dan menghargai perbedaan, memiliki rasa curiosity yang besar terhadap sesuatu yang baru dan berbeda, dan mencoba melihat sesuatu dengan perspektif yang luas atau beragam. 

Saya mengira dunia akademis akan sangat membantu kita mengarah pada fase moderat ini. Menyekolahkan anak ke kampus seperti IAIN, UIN, atau Al-Azhar Kairo, hemat saya adalah suatu pilihan yang bagus karena di sana seseorang akan dibimbing untuk berpikir secara jernih, kritis, dan bertanggung jawab.     
Jika jalan ini tidak dipilih, maka orang tersebut telah memasuki fase kedua di mana seseorang akan menjadi calon teroris, yang tiada lain ialah fase radikal. Sekumpulan indikator dari fase pertama berfusi ke dalam sebuah misi besar untuk menciptakan sebuah tatanan tertentu, yang menurut mereka merupakan cita-cita ideal agama Islam, bisa dalam bentuk mendirikan sistem kekhilafahan atau sekadar memperjuangkan penerapan “syariat Islam” di seluruh muka bumi.  

Karena menganggap bahwa saat ini kezaliman-kekufuran sudah merebak di seluruh dunia sedangkan Islam sendiri posisinya sedang tertidur, bahkan dizalimi, tercampakkan, dan tak mendapat ketidakadilan oleh kaum kafir bengis (yang direpresentasikan oleh USA, Israel, dan siapa pun yang mendukungnya) dan itu terlihat jelas terjadi di beberapa negara muslim, oleh karena itu mereka menyerukan persatuan umat Islam di bawah satu komando untuk menjayakan kembali Islam sebagaimana yang pernah terjadi di era Dinasti Abbasiyah (golden age), menguasai dunia yang berdasarkan pada kehendak Allah. 

Fase kedua ini memiliki dua buah implikasi. Yang agak lunak, mereka meyakini bahwa perjuangan tersebut tidak boleh dengan menggunakan cara-cara kekerasan, tetapi kebanyakan tidak memilih jalan ini, mereka cenderung berkeyakinan bahwa perjuangan tersebut boleh dengan menggunakan cara-cara kekerasan, seperti yang dilakukan oleh ISIS dan kelompok teroris lain di seluruh dunia. Memilih cara ini berarti mereka sudah tergolong ke dalam fase ketiga, yakni fase menjelang menjadi seorang teroris (pra-teroris). Fase kedua dan ketiga ini bisa dihentikan dengan melakukan dialog kritis melalui metode jemput bola, sesuatu yang sayangnya masih amat jarang dilakukan oleh para kaum moderat.  

Sebagai catatan akhir, berbeda dengan pendapat sebagian cendekiawan muslim Indonesia yang menganggap bahwa terorisme yang dalam dekade belakangan ini terjadi bukanlah berasal ajaran Islam, saya lebih mengakui bahwa tindakan mereka memang based on Islamic source. Semua yang mereka lakukan dapat kita temukan dasarnya dalam Alquran maupun hadis karena harus diakui bahwa pluralitas penafsiran adalah suatu keniscayaan, yang sebenarnya juga dapat terjadi di semua agama apa pun. Dengan mengakui adanya penafsiran yang polemis dan problematis di dalam sumber-sumber keagamaan, alih-alih bercuci tangan maka kita akan lebih giat untuk memberikan antidotnya, yang tiada lain berupa counter narasi dari internal sumber itu sendiri. 

sumber gambar: www.malangtoday.net

4 komentar:

  1. Tulisannya Asik untuk dibaca

    BalasHapus
  2. Kurang paham paragraf akhir kang, hehe berharap bisa ngobrol kalau bertemu

    BalasHapus
  3. Yang saya fahami setelah baca tulisan akang dan baca-baca dari sumber lain, radikal merupakan cara mengutarakan ide-ide dengan jalur non kooperatif. Sedangkan moderat lebih bersifat toleran serta kooperatif.

    nah teror yang dilakukan di indonesia ini pastilah ada aktor dibaliknya yang ingin memaksakan idenya diterapkan di negeri ini. Apa sih motif mereka?. Hatur nuhun kang..

    BalasHapus
  4. Coba nonton lagi video Pak Tito kemarin di ILC (via youtube) di sana beliau menjelaskan sangat-sangat lengkap

    BalasHapus