Euforia dan Esensi Bulan Ramadan





Setiap agama dan kepercayaan mempunyai waktu-waktu khusus yang dimuliakan. Mereka memiliki euforia perayaan dan kegiatan tertentu di dalamnya. Bahkan di luar negeri hal seperti ini bisa menjadi daya tarik wisata tersendiri yang bisa memberikan keuntungan. Memang para pelaku ekonomi selalu kreatif mengambil inisiatif dan peluang.
 
Agama Islam sendiri memiliki waktu khusus yang dimuliakan yaitu salah satunya  Bulan Ramadan. Setiap tahun biasanya saya mulai tahu jika Bulan Ramadan telah dekat ketika melihat iklan sirup m4rjan di TV. Pada tahun ini awalnya iklan tersebut menayangkan adegan wayang golek Cepot yang dilempar-lempar sampai menabrak benda lain. Namun kini telah diganti, mungkin karena ada yang merasa keberatan karna Cepot adalah salah satu lambang budaya Jawa Barat. Kini iklan tersebut menayangkan pembuatan akulturasi budaya wayang golek dan robot modern dari Jepang, bagus saya kira. 

Kembali membahas tema kita, memang begitulah setiap menjelang datangnya Bulan Ramadan di Indonesia ini selalu ada momen-momen unik yang mengisinya. Selain iklan sirup tadi, masih ada pula yang lainnya. Misalnya  ngabuburit (kegiatan menjelang berbuka puasa), mudik, lagu-lagu religi, acara TV religi, munculnya banyak pedagang di pinggiran jalan ketika sore, buka bersama dengan rekan bahkan teman lama, THR, diskon berbagai produk, hingga belanja keperluan lebaran. Semua kegiatan itu menambah semarak suasana Bulan Ramadan. Wah rasanya jadi ingin segera Bulan Ramadan. 

Tak ada yang salah dengan euforia tersebut selama kita tidak melupakan esensi dari Bulan Ramadan. Islam mengajarkan tujuan yang mulia dari Bulan Ramadan ini. Jangan sampai kita terlena dan terlupa dengan esensi ramadan karena sibuk dengan euforianya. Nanti kita termasuk orang yang rugi sebagaimana yang disabdakan Rasul saw bahwa orang yang rugi yaitu orang yang melewati Bulan Ramadan namun dosa-dosanya tidak diampuni. Maka dari itu sebaiknya kita mempersiapkan sebaik mungkin menyambut bulan mulia ini agar kita benar-benar siap menjalaninya dengan maksimal.

Beberapa hari menjelang ramadan ini ada beberapa hal yang mesti kita persiapkan. Dalam persiapan untuk euforia Bulan Ramadan, mungkin diantara kita sudah mempersiapkan beberapa agenda dan finansial untuk mengisinya. Hal yang bagus. Namun jangan lupa jadikan agenda dan finansial tersebut untuk bersilaturahim dengan rekan atau teman lama, sedekah, dan zakat fitrah tentunya. Biasanya banyak reuni mulai dari TK sampai kuliah mengadakan buka bersama, belum lagi buka bersama geng atau komunitas kita hha

Selain itu jangan lupakan persiapan kita agar mendapat esensi dari Bulan Ramadan. Diantaranya yaitu  pertama ilmu, pelajarilah kembali ilmu seputar Bulan Ramadan seperti tata cara & ketentuan puasa, sunnah puasa, makruh puasa, hal yang membatalkan puasa, fidyah, zakat dan yang terpenting yaitu tujuan dan hikmah dari puasa agar kita semakin paham esensi puasa itu. Kedua siapkan target ketika puasa. Jadikanlah bulan mulia ini diisi pula oleh kegiatan yang mulia. Buatlah target mengenai ibadah atau akhlak. Misalnya target menghapal surat alquran, sedekah, ibadah sunnah, dan kegiatan produktif lainnya. Ketiga jaga kesehatan fisik. Siapkan tubuh kita untuk menjalani puasa, makanlah makanan yang baik, kurangi makanan kurang sehat. Terutama jika memiliki kebiasaan merokok. Bulan Ramadan bisa dijadikan moment untuk mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan buruk itu.

Orang yang memahami Bulan Ramadan akan merasa suka cita menyambut dan menjalaninya, berbeda dengan orang yang belum memahaminya. Di antaranya yang paling populer yaitu Bulan Ramadan yang penuh ampunan dan pahala dilipatgandakan. Jika bisa saya ibaratkan, misalnya ada sebuah toko yang memberikan diskon tinggi atau bahkan gratis beberapa produknya selama satu jam di suatu hari. Tentu orang yang paham keuntungannya tidak akan menyianyiakan waktu tersebut. Ia akan rela antri dan menunggu bahkan mempersiapkannya dengan baik. Begitu pun Bulan Ramadan jangan sampai kita melewati kesempatan emas itu.

Bulan Ramadan identik dengan puasa dari makan dan minum. Padahal sejatinya Bulan Ramadan adalah saatnya puasa dari hawa nafsu kita. Jangan sampai kita termasuk yang disabdakan Rasul saw bahwa ada orang yang sia-sia amalan pahalanya ketika puasa ramadan karena ia hanya sekadar puasa dari makan dan minum saja sedangkan hawa nafsunya belum.

Jika hanya berpuasa dari makan dan minum, maka binatang pun bisa melakukannya, apa bedanya puasa kita dengan mereka. Bahkan beberapa binatang mampu menjadi indah setelah puasa makan dan minum. Ketika ulat menjadi kepompong ia berpuasa sampai menjadi kupu-kupu yang indah, begitupun ular ketika hendak berganti kulit juga berpuasa sampai ia mendapat kulit yang baru dan bagus. Lihatlah hasil dari puasa binatang itu tampak lebih indah rasanya.

Puasa mengajarkan kita banyak hal. Di antaranya mengajarkan hidup sehat, kita dilarang rakus terdahap makanan apalagi serba dimakan. Puasa mengajarkan kita empati ikut merasakan kelaparan dan kekurangan makanan. Hal ini akan menumbuhkan ketaatan pada Allah dan kepedulian kita pada sesama. Rasakanlah manusia lain yang selalu kelaparan. Atau jika tak ada di sekitar anda, rasakan saja misalnya kelaparan yang dialami kucing liar yang selalu mengeong meminta makanan pada kita namun enggan kita beri. Salah satu indikator keberhasilan seseorang menjalani bulan ramadan tidak hanya dilihat ketika bulan ramadan saja, namun justru setelah bulan ramadan. Orang yang setelah ramadan semakin baik ibadah dan akhlaknya, maka ia telah berhasil menjalani ramadan.

Ada satu hal yang saya kira perlu kita renungkan pula. Berkaitan dengan kondisi dan situasi negeri kita yang akhir-akhir ini terlihat chaos. Baik itu dari segi politik, sosial,dan ekonomi. Tahun ini banyak kasus korupsi, ujaran kebencian dan saling melaporkan. Melalui ramadan ini marilah kita saling introspeksi dan memaafkan. Marilah berpikir untuk kemajuan bangsa jangan sampai berkelahi sesama bangsa baik di media sosial, secara lisan atau bahkan fisik. Tidak kah kita lelah? Bulan Ramadan adalah salah satu waktu diijabahnya doa. Manfaatkan lah berdoa untuk kebaikan negeri ini. doakan agar negeri ini semakin baik, semakin berkurang korupsinya, dan semakin erat persatuannya.

Sudah berapa kali Bulan Ramadan kita lewati, namun kebanyakan orang hanya melewatinya begitu saja seakan dia lupa kemulian bulan tersebut. Mungkin karena saking seringnya lewat sehingga hanya dianggap bulan-bulan biasa yang berlalu sebagaimana bulan lainnya. Jujur saya sendiri belum bisa memaksimalkan Bulan Ramadan selama ini. Saya pun takut seperti apa yang dikatakan surah As-Saff ayat 2-3 hanya berkata atau mengajak saja padahal saya sendiri belum melakukannya. Meskipun demikian, dengan menulis tulisan ini saya berharap bisa menjadi peringatan khususnya bagi saya sendiri untuk lebih baik. Yaitu bisa meraih esensi Bulan Ramadan tak hanya sekedar euforianya saja.

Sumber gambar: www.rectmedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar