Bagaimana Seharusnya Menyikapi Tindak Terorisme

Dalam kurun waktu seminggu, Indonesia diserang tiga kali kasus terror. Mulai dari geger Mako Brimob, serangan di tiga titik gereja, hingga ledakan di polrestabes Surabaya. Aksi ini direspon cepat oleh pihak berwajib, terjadi penggerebekan di beberapa tempat, beberapa tersangka ditangkap bahkan ada yang sudah menyiapkan bom aktif siap ledak.

Teringat kasus bom Thamrin, saat itu terjadi serangan yang bisa dibilang sukses dari sudut pandang teroris, karena aksi itu cukup membuat kondisi mencekam di masyarakat. Serangannya terbilang menimbulkan dampak psikologis yang hebat, terutama saat ada pria berpakaian pada umumnya menenteng senjata dan ikut berkerumun bersama warga lalu menyerang aparat.

Kala itu pimpinan polri menyampaikan beberapa poin dalam press conference, satu hal yang paling saya ingat, menurutnya jika teroris punya seratus rencana penyerangan, 99-nya gagal tereksekusi dan satunya terlaksana, itu adalah kesuksesan bagi mereka, sedang  bagi polisi sebaliknya, 99 kali berhasil menggagalkan aksi terror dan sekali saja mereka kecolongan, artinya mereka gagal.

Keberhasilan pihak keamanan mengantisipasi serangan teroris lewat penyergapan-penyergapan acap kali luput dari media, mungkin karena penangkapan serupa itu bukanlah materi yang seksi untuk dijadikan bahan berita. Terlebih di masyarakat yang kian hari kian tajam polarisasinya, di mana ada kalangan yang senang sekali menuduh semua upaya yang dilakukan pemerintah hanya main-main belaka.

Entah terlalu banyak mengonsumsi buku-buku nonfiksi berisi teori konspirasi yang sejatinya hanya kumpulan karangan cocoklogi, atau memang kadung benci pada pemerintah hingga semua yang dilakukan pemerintah selalu salah di matanya. Yang pasti, tanggapan masyarakat terhadap upaya pemerintah atas penanggulangan teroris banyak didominasi oleh suara-suara sumbang, yang dengan serta merta mengklasifikasikan upaya penanggulangan teroris itu ke dalam kamus besar kecurigaan mereka terhadap pembodohan publik yang dilakukan pemerintah dalam rangka menutupi isu remeh temeh yang mereka besar-besarkan sendiri. Fakta bom meledak yang merenggut nyawa saja masih disebut “isu terorisme”, padahal bom benar-benar meledak, dan nyawa nyata-nyata hilang di kandung badan.

Padahal, jika hendak dilacak, penangkapan aktor-aktor terror, dengan segala perlengkapan “perangnya" banyak di media, hanya memang sering kali tertimbun oleh berita-berita lain. Dan kita pun memang acuh terhadap apa yang dilakukan aparat kita terhadap para calon pengantin jihad itu. Kita sendiri memang lebih asyik membaca isu hamilnya artis yang diduga transgender itu atau lebih senang mengeryitkan dahi untuk menelisik kira-kira apa alasan istri Sule menggugat suaminya untuk bercerai itu ketimbang membaca baik-baik kabar penangkapan teroris itu. Barulah ketika pemboman sudah terjadi, berita-berita penggerebekan teroris itu naik ratingnya. Itu pun masih dipandangi sebelah mata sebagai “kebohongan untuk menguatkan isu yang sedang digoreng”.

Ada ekses lain yang lebih parah ketimbang berprasangka buruk di tengah kondisi yang lebih membutuhkan empati ketimbang cara berfikir yang sok sok'an mendetektif itu. Hal itu yang dalam pepatah sunda disebut “lauk buruk milu mijah”. Sederhananya adalah adanya orang atau golongan yang senang memancing di air keruh, memanfaatkan keresahan di masyarakat untuk menyempil dan menyebarkan kepentingan politis.

Menyerang Jokowi sebagai pemimpin yang gagal memberikan rasa aman, menyentil kapolri yang kurang becus menjaga keamanan, bahkan BNPT dan BIN pun ikut kena sindir. Padahal seperti disebutkan sebelumnya, dibalik kecolongannya pemerintah atas kasus ini, ada puluhan mungkin ratusan aksi mereka dibalik layar menangkal dan meredam kemungkinan-kemungkinan teror.

Mari gunakan akal sehat, tak mungkin sebuah pemerintahan membiarkan adanya aksi teror hanya untuk menutup sebuah isu. Karena munculnya aksi teror justru dapat melemahkan posisi mereka di pemerintahan. Dan cukuplah tak perlu banyak mendakwa kepada siapa kesalahan ini dialamatkan, karena kasus teror tetap terjadi bahkan di negara besar dengan keamanan yang baik karena terorisme sendiri adalah extraordinary crime, kejahatan luar biasa. Disebut luar biasa karena baik tujuan hingga modus operandinya beragam dan tak mudah ditebak.

Siapa yang bisa menyangka bahwa orang yang menenteng panci ternyata adalah bom bunuh diri, siapa yang mengira bahwa pengendara motor itu membawa misi menjadi pengantin jihad? Siapa juga yang  bisa menduga bahwa di tengah kerumunan warga terdapat salah satu anggota kelompok teroris itu yang siap menyebar teror sambil menenteng senapan untuk memburu setiap aparat yang ada di depannya.

Mengutip apa yang dikatakan Man, vokalis band metal asal Bandung, Jasad, katanya: “tong ngan POK, tong ngan PEK, tapi hayu urang PRAK” jika dikaitkan dengan pembahasan terorisme di atas maksud dari kata-kata itu bahwa kita jangan hanya bicara salahnya di mana, siapa penyebabnya, apa yang menimbulkan terjadinya hal tersebut, bagaimana terornya terjadi.

Jangan juga hanya mengimbau kepada pihak a, b, c dan lain-lain untuk melakukan d, e dan f. Karena di tengah kondisi seperti ini bukan itu yang  dibutuhkan, yang harus diperbuat adalah bertindak secara nyata.

Terorisme tumbuh di lahan yang subur, dan lahan subur tersebut adalah masyarakat yang tercemar radikalisme. Maka Masyarakatlah yang memiliki kesempatan untuk menanggulangi kasus ini sedari kecil.  Menyiapkan anak agar memiliki imunitas terhadap paparan paham radikal bahkan teroris sekalipun karena penulis sendiri pernah hampir berbaiat pada imam yang entah siapa.  Saat itu penulis baru kelas 2 SMP.

Jadi tak perlu mengimbau ke sana ke mari, tak perlu menyalahkan pihak-pihak, apalagi ternyata pendakwaan itu hanya kedok dari niatan lain yang  bersifat politis. Dalam menanggulangi terorisme ini semua orang bisa berkontribusi.

Orang tua harus mendidik anaknya agar menjadi pribadi yang bermanfaat, guru harus mengantarkan siswa pada pemahaman anti terorisme, dan masyarakat bisa turut andil meredam terorisme dengan tidak ikut-ikutan tercemar paham radikalisme. Jika para teroris itu tahu bahwa masyarakat di sini tidak tertarik pada pemahaman yang dia pegang, saya yakin mereka akan urungkan niat untuk beraksi.

sumber gambar: www.cnbcindonesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar