Indonesia kembali berduka. Kemarin lusa serangkaian bom diledakkan oleh kelompok teroris di Surabaya dan Sidoarjo. Tak tanggung-tanggung, gereja dan polrestabes menjadi targetnya. Yang baru dari tindakan terorisme kali ini ialah mereka sudah mengikutsertakan, dalam aksi tersebut, anak yang masih kecil dan istrinya, sesuatu yang tentunya mengejutkan para pakar terorisme. 

Betapapun, kejadian ini telah kadung terjadi dan mari kita serahkan saja penyelesaian strukturalnya kepada pemerintah. Tetapi bukan berarti kita hanya cukup berpangku tangan. Sebagai satu kesatuan unsur di dalam wadah negara, kita, selaku masyarakat sipil berkewajiban untuk melakukan tindakan-tindakan kooperatif yang sejatinya dapat membantu mereka mengentaskan terorisme. Salah satunya ialah dengan melakukan upaya-upaya preventif, mendeteksi kemudian men-stop sedini mungkin benih-benih terorisme di dalam diri dan lingkungan kita masing-masing. 

Telah lazim diketahui, untuk menjadi seorang teroris hampir mustahil hanya dengan berbekal pelatihan sehari dua hari melainkan pasti telah dan perlu melalui serangkaian proses panjang, yang berkelanjutan dan masif. Dengan demikian ada beberapa fase yang akan mereka lalui sebelum tindakan terorisme merupakan suatu hal yang possible dalam pandangan mereka. 

Yang pertama saya menyebutnya sebagai fase intoleran pasif. Menurut saya fase ini akan dilalui oleh hampir seluruh umat beragama (Islam, Kristen, Yahudi, dll) yang mulai menyadari pentingnya hidup di dalam naungan agama. Biasanya fase ini akan terjadi di umur SMP-SMA-Perkuliahan yang mana ghirah keagamaan mereka terlihat menggebu-gebu tetapi belum bisa diimbangi dengan kekritisan berpikir sehingga yang muncul adalah serba sederhana, instan, dan berpola hitam-putih.  

Karena memang masih berpikiran sederhana, maka ia menginginkan segalanya serba seragam. Sesuatu yang berbeda dengan yang dipahami atau dipraktikkan, berindikasi kuat akan disalahkan. Mereka biasanya mengafirkan agama lain (tanpa dasar argumentasi yang kuat) bahkan mudah menyesatkan saudara seagamanya kalau mereka mempraktikkan sesuatu yang berbeda dengannya. 

Indikator lainnya seperti: tidak ingin mengetahui alasan yang melatar belakangi mengapa perbedaan bisa terjadi, menelan mentah-mentah ilmu atau informasi yang didapat dari guru maupun ustaznya, belum bisa memaknai kekompleksitasan kitab suci dan realiatas kehidupan umat manusia, serta dalam level tertentu memang bisa jadi dia tidak membatasi diri ketika bergaul dengan yang berbeda tetapi dia menyimpan puluhan stereotip di pikirannya. Contoh stereotip yang berkembang ialah menganggap umat Kristen menyembah tiga Tuhan, kitab mereka telah dipalsukan, suka berfoya-foya, dsb. Fase ini biasanya terfasilitasi di rohis-rohis sekolah, kampus-kampus, dan kegiatan-kegiatan masjid. 

Uniknya, banyak orang yang tidak naik kelas di dalam fase ini, sehingga wajar meski telah berumur dewasa pemikirannya bisa saja tetap stuck di fase ini. Unfortunately, saya merasa mayoritas masyarakat Indonesia berada di fase ini. Setidaknya itulah yang saya lihat dan rasakan dari kenyataan umat Islam dan Kristen yang selama ini mengelilingi hidup saya.

Satu poin lagi mengenai hal ini. Orang-orang yang di dalam hidupnya hanya disibukkan dengan hal-hal keduniawian (perut, karir, dll) tidak akan melalui fase ini. Saya menyebut mereka sebagai orang yang “bodoh” yang tidak mengetahui (menyadari) kalau dirinya “bodoh” atau sebut saja berada di fase nol.  
Tetapi jika seseorang tersebut dapat melewati fase pertama ini, mereka akan beranjak menemui dua jalan pilihan. Fase radikal atau moderat. Jika merasa telah menemui jalan persimpangan ini, saya menyarankan, maka pilihlah jalan yang moderat yang ciri-cirinya seperti: mulai mencoba memahami ajaran agama dengan kritis (tak buru-buru menyimpulkan), bersikap toleran dan menghargai perbedaan, memiliki rasa curiosity yang besar terhadap sesuatu yang baru dan berbeda, dan mencoba melihat sesuatu dengan perspektif yang luas atau beragam. 

Saya mengira dunia akademis akan sangat membantu kita mengarah pada fase moderat ini. Menyekolahkan anak ke kampus seperti IAIN, UIN, atau Al-Azhar Kairo, hemat saya adalah suatu pilihan yang bagus karena di sana seseorang akan dibimbing untuk berpikir secara jernih, kritis, dan bertanggung jawab.     
Jika jalan ini tidak dipilih, maka orang tersebut telah memasuki fase kedua di mana seseorang akan menjadi calon teroris, yang tiada lain ialah fase radikal. Sekumpulan indikator dari fase pertama berfusi ke dalam sebuah misi besar untuk menciptakan sebuah tatanan tertentu, yang menurut mereka merupakan cita-cita ideal agama Islam, bisa dalam bentuk mendirikan sistem kekhilafahan atau sekadar memperjuangkan penerapan “syariat Islam” di seluruh muka bumi.  

Karena menganggap bahwa saat ini kezaliman-kekufuran sudah merebak di seluruh dunia sedangkan Islam sendiri posisinya sedang tertidur, bahkan dizalimi, tercampakkan, dan tak mendapat ketidakadilan oleh kaum kafir bengis (yang direpresentasikan oleh USA, Israel, dan siapa pun yang mendukungnya) dan itu terlihat jelas terjadi di beberapa negara muslim, oleh karena itu mereka menyerukan persatuan umat Islam di bawah satu komando untuk menjayakan kembali Islam sebagaimana yang pernah terjadi di era Dinasti Abbasiyah (golden age), menguasai dunia yang berdasarkan pada kehendak Allah. 

Fase kedua ini memiliki dua buah implikasi. Yang agak lunak, mereka meyakini bahwa perjuangan tersebut tidak boleh dengan menggunakan cara-cara kekerasan, tetapi kebanyakan tidak memilih jalan ini, mereka cenderung berkeyakinan bahwa perjuangan tersebut boleh dengan menggunakan cara-cara kekerasan, seperti yang dilakukan oleh ISIS dan kelompok teroris lain di seluruh dunia. Memilih cara ini berarti mereka sudah tergolong ke dalam fase ketiga, yakni fase menjelang menjadi seorang teroris (pra-teroris). Fase kedua dan ketiga ini bisa dihentikan dengan melakukan dialog kritis melalui metode jemput bola, sesuatu yang sayangnya masih amat jarang dilakukan oleh para kaum moderat.  

Sebagai catatan akhir, berbeda dengan pendapat sebagian cendekiawan muslim Indonesia yang menganggap bahwa terorisme yang dalam dekade belakangan ini terjadi bukanlah berasal ajaran Islam, saya lebih mengakui bahwa tindakan mereka memang based on Islamic source. Semua yang mereka lakukan dapat kita temukan dasarnya dalam Alquran maupun hadis karena harus diakui bahwa pluralitas penafsiran adalah suatu keniscayaan, yang sebenarnya juga dapat terjadi di semua agama apa pun. Dengan mengakui adanya penafsiran yang polemis dan problematis di dalam sumber-sumber keagamaan, alih-alih bercuci tangan maka kita akan lebih giat untuk memberikan antidotnya, yang tiada lain berupa counter narasi dari internal sumber itu sendiri. 

sumber gambar: www.malangtoday.net
Dalam kurun waktu seminggu, Indonesia diserang tiga kali kasus terror. Mulai dari geger Mako Brimob, serangan di tiga titik gereja, hingga ledakan di polrestabes Surabaya. Aksi ini direspon cepat oleh pihak berwajib, terjadi penggerebekan di beberapa tempat, beberapa tersangka ditangkap bahkan ada yang sudah menyiapkan bom aktif siap ledak.

Teringat kasus bom Thamrin, saat itu terjadi serangan yang bisa dibilang sukses dari sudut pandang teroris, karena aksi itu cukup membuat kondisi mencekam di masyarakat. Serangannya terbilang menimbulkan dampak psikologis yang hebat, terutama saat ada pria berpakaian pada umumnya menenteng senjata dan ikut berkerumun bersama warga lalu menyerang aparat.

Kala itu pimpinan polri menyampaikan beberapa poin dalam press conference, satu hal yang paling saya ingat, menurutnya jika teroris punya seratus rencana penyerangan, 99-nya gagal tereksekusi dan satunya terlaksana, itu adalah kesuksesan bagi mereka, sedang  bagi polisi sebaliknya, 99 kali berhasil menggagalkan aksi terror dan sekali saja mereka kecolongan, artinya mereka gagal.

Keberhasilan pihak keamanan mengantisipasi serangan teroris lewat penyergapan-penyergapan acap kali luput dari media, mungkin karena penangkapan serupa itu bukanlah materi yang seksi untuk dijadikan bahan berita. Terlebih di masyarakat yang kian hari kian tajam polarisasinya, di mana ada kalangan yang senang sekali menuduh semua upaya yang dilakukan pemerintah hanya main-main belaka.

Entah terlalu banyak mengonsumsi buku-buku nonfiksi berisi teori konspirasi yang sejatinya hanya kumpulan karangan cocoklogi, atau memang kadung benci pada pemerintah hingga semua yang dilakukan pemerintah selalu salah di matanya. Yang pasti, tanggapan masyarakat terhadap upaya pemerintah atas penanggulangan teroris banyak didominasi oleh suara-suara sumbang, yang dengan serta merta mengklasifikasikan upaya penanggulangan teroris itu ke dalam kamus besar kecurigaan mereka terhadap pembodohan publik yang dilakukan pemerintah dalam rangka menutupi isu remeh temeh yang mereka besar-besarkan sendiri. Fakta bom meledak yang merenggut nyawa saja masih disebut “isu terorisme”, padahal bom benar-benar meledak, dan nyawa nyata-nyata hilang di kandung badan.

Padahal, jika hendak dilacak, penangkapan aktor-aktor terror, dengan segala perlengkapan “perangnya" banyak di media, hanya memang sering kali tertimbun oleh berita-berita lain. Dan kita pun memang acuh terhadap apa yang dilakukan aparat kita terhadap para calon pengantin jihad itu. Kita sendiri memang lebih asyik membaca isu hamilnya artis yang diduga transgender itu atau lebih senang mengeryitkan dahi untuk menelisik kira-kira apa alasan istri Sule menggugat suaminya untuk bercerai itu ketimbang membaca baik-baik kabar penangkapan teroris itu. Barulah ketika pemboman sudah terjadi, berita-berita penggerebekan teroris itu naik ratingnya. Itu pun masih dipandangi sebelah mata sebagai “kebohongan untuk menguatkan isu yang sedang digoreng”.

Ada ekses lain yang lebih parah ketimbang berprasangka buruk di tengah kondisi yang lebih membutuhkan empati ketimbang cara berfikir yang sok sok'an mendetektif itu. Hal itu yang dalam pepatah sunda disebut “lauk buruk milu mijah”. Sederhananya adalah adanya orang atau golongan yang senang memancing di air keruh, memanfaatkan keresahan di masyarakat untuk menyempil dan menyebarkan kepentingan politis.

Menyerang Jokowi sebagai pemimpin yang gagal memberikan rasa aman, menyentil kapolri yang kurang becus menjaga keamanan, bahkan BNPT dan BIN pun ikut kena sindir. Padahal seperti disebutkan sebelumnya, dibalik kecolongannya pemerintah atas kasus ini, ada puluhan mungkin ratusan aksi mereka dibalik layar menangkal dan meredam kemungkinan-kemungkinan teror.

Mari gunakan akal sehat, tak mungkin sebuah pemerintahan membiarkan adanya aksi teror hanya untuk menutup sebuah isu. Karena munculnya aksi teror justru dapat melemahkan posisi mereka di pemerintahan. Dan cukuplah tak perlu banyak mendakwa kepada siapa kesalahan ini dialamatkan, karena kasus teror tetap terjadi bahkan di negara besar dengan keamanan yang baik karena terorisme sendiri adalah extraordinary crime, kejahatan luar biasa. Disebut luar biasa karena baik tujuan hingga modus operandinya beragam dan tak mudah ditebak.

Siapa yang bisa menyangka bahwa orang yang menenteng panci ternyata adalah bom bunuh diri, siapa yang mengira bahwa pengendara motor itu membawa misi menjadi pengantin jihad? Siapa juga yang  bisa menduga bahwa di tengah kerumunan warga terdapat salah satu anggota kelompok teroris itu yang siap menyebar teror sambil menenteng senapan untuk memburu setiap aparat yang ada di depannya.

Mengutip apa yang dikatakan Man, vokalis band metal asal Bandung, Jasad, katanya: “tong ngan POK, tong ngan PEK, tapi hayu urang PRAK” jika dikaitkan dengan pembahasan terorisme di atas maksud dari kata-kata itu bahwa kita jangan hanya bicara salahnya di mana, siapa penyebabnya, apa yang menimbulkan terjadinya hal tersebut, bagaimana terornya terjadi.

Jangan juga hanya mengimbau kepada pihak a, b, c dan lain-lain untuk melakukan d, e dan f. Karena di tengah kondisi seperti ini bukan itu yang  dibutuhkan, yang harus diperbuat adalah bertindak secara nyata.

Terorisme tumbuh di lahan yang subur, dan lahan subur tersebut adalah masyarakat yang tercemar radikalisme. Maka Masyarakatlah yang memiliki kesempatan untuk menanggulangi kasus ini sedari kecil.  Menyiapkan anak agar memiliki imunitas terhadap paparan paham radikal bahkan teroris sekalipun karena penulis sendiri pernah hampir berbaiat pada imam yang entah siapa.  Saat itu penulis baru kelas 2 SMP.

Jadi tak perlu mengimbau ke sana ke mari, tak perlu menyalahkan pihak-pihak, apalagi ternyata pendakwaan itu hanya kedok dari niatan lain yang  bersifat politis. Dalam menanggulangi terorisme ini semua orang bisa berkontribusi.

Orang tua harus mendidik anaknya agar menjadi pribadi yang bermanfaat, guru harus mengantarkan siswa pada pemahaman anti terorisme, dan masyarakat bisa turut andil meredam terorisme dengan tidak ikut-ikutan tercemar paham radikalisme. Jika para teroris itu tahu bahwa masyarakat di sini tidak tertarik pada pemahaman yang dia pegang, saya yakin mereka akan urungkan niat untuk beraksi.

sumber gambar: www.cnbcindonesia.com
Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.
 
Dakwah
Islam mewajibkan penganutnya, tanpa terkecuali, untuk melakukan aktivitas misi. Aktivitas ini terambil dari istilah dakwah yang berarti sebuah seruan atau ajakan. Tetapi di Indonesia, sebagaimana juga terjadi di banyak negara lainnya, dakwah telah menjadi sebuah istilah yang rumit (kompleks), lebih diarahkan kepada internal muslim itu sendiri dibanding non-muslim juga meliputi tabligh (ceramah) dan maksud yang lebih luas “bahwa penyebaran Islam tidak hanya melalui ceramah dan publikasi, melainkan juga melalui perbuatan dan aktivitas di seluruh ranah kehidupan...[atau] sebuah islamisasi menyeluruh kepada masyarakat. Dua pengertian dakwah ini akan dibahas di bagian ini. 

Dakwah merupakan sebuah cara perjuangan yang penting bagi Syiah Indonesia agar memperoleh pengakuan sebagai sebuah komunitas juga mazhab. Dalam pengertian yang luas, lembaga-lembaga Syiah itu sendiri dapat dilihat sebagai sebuah lembaga dakwah. 

Pada bagian ini akan dipaparkan deskripsi singkat mengenai perkembangan dakwah Syiah secara umum yang dilanjutkan pada pemeriksaan cita-cita idealnya. Kemudian saya akan mendeskripsikan unsur dasar dari institusinya dan ragam aktivitas dakwah yang dilakukannya, termasuk rincian mengenai pelatihan pendidikan bagi aktivis dakwah (dai) mereka.

Perkembangan Umum Institusi Dakwah
Dalam dekade pasca revolusi Iran 1978-1979, aktivitas dakwah yang dilakukan oleh Syiah Indonesia umumnya dilakukan secara individual dengan satu pengecualian: sebuah peran yang dilakukan oleh lembaga pendidikan terkenal, YAPI, yang didirikan di Bangil tahun 1976. Aktivitas dakwah di periode ini umumnya tidak terlembagakan; kenyataannya mereka lebih sering melakukannya secara underground. Sebagiannya karena ketiadaan lembaga pusat Syiah. (pemerintah dan otoritas agama di Indonesia belum dapat mengidentifikasikan eksistensi kelompok muslim minoritas di Indonesia sampai pembentukkan lembaga Syiah secara terbuka) 

Tetapi, sejak di akhir tahun 1980-an, figur-figur terkemuka Syiah mendirikan yayasan. Yayasan adalah lembaga yang diakui secara hukum berdasarkan pada sebuah kondisi yang relatif longgar: sejumlah orang membentuk badan eksekutif suatu yayasan, sejumlah uang ditetapkan sebagai modal dasar, dan alamat (lokasi) harus didaftarkan. 

Lembaga terkenal Syiah di Jawa, dalam urutan kronologis pendirian, yakni: Al-Hujjah (didirikan tahun 1987) di Jember, Muthahhari (1988) di Bandung, Al-Hadi (1989) di Pekalongan, Al-Jawad (1991) di Bandung, Al-Muntazar (1992) di Jakarta, IPABI (1993) di Bogor, Al-Kazim (1994) di Cirebon, Rausyanfikr (1995) di Yogyakarta, Fatimah (1997) di Jakarta, dan Islamic Cultural Centre Al-Huda (2000) di Jakarta. Selain itu, ada juga yayasan-yayasan Syiah di tempat lain seperti di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dll. 

Sejak akhir 1980-an, umat Islam Indonesia telah menyaksikan perkembangan lembaga-lembaga Syiah ini. Estimasi terakhir beranggapan bahwa ada lebih dari 80 lembaga yang tersebar di seluruh negeri. Meskipun jumlah pastinya tidak diketahui, sumber yang dapat dipercaya menunjukkan ada perkembangan yang signifikan dari segi kuantitas dan kualitas mereka. 

Di tahun 2001, 36 yayasan Syiah dan 43 majelis ta’lim berafiliasi dengan Yayasan Rausyanfikr. Senada dengan itu, beberapa tahun lalu, ICC Al-Huda menerbitkan list 79 yayasan Syiah. Dengan sedikit pengecualian, semua organisasi dalam list tersebut terdaftar sebagai yayasan. (Di tahun 2004, ketika saya mengakhiri penelitian saya, jumlahnya pasti lebih besar karena saya menemukan sejumlah yayasan lain yang tidak termasuk dalam list ICC). 

Sejumlah kecil yayasan tersebut berkembang ke dalam lembaga multifungsional, melakukan beragam peran di dalam komunitas Syiah (keagamaan, pendidikan, dan kebudayaan) tetapi kebanyakan yang bentuknya masih kecil hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Perkembangan lembaga-lembaga ini bisa jadi naik-turun, dengan beberapanya bahkan berhenti beroperasional. Atas alasan inilah sulit bagi kita untuk menetapkan figur yang akurat dari sejumlah yayasan Syiah di Indonesia ini. 

Mengingat jumlah penganut Syiah yang relatif sedikit di Indonesia, tetapi jumlah lembaga-lembaga mereka cukup besar. Distribusi geografis dari lembaga-lembaga ini mencerminkan pendistribusian yang tersebar dari kalangan Syiah di seluruh negeri. Juga mengilustrasikan dinamika aktivitas sosial, budaya, pendidikan, dan keagamaan mereka. Selain itu, sejak pendirian yayasan menjadi bagian satu kesatuan dengan proses dakwah, membuatnya dapat dilihat sebagai cerminan semangat misi di kalangan Syiah. Ini juga dapat menjadi bukti sebuah transformasi dari individu menuju institusional di dalam aktivitas dakwah. Dari perspektif sejarah, pendirian sejumlah besar lembaga menandai kemajuan perkembangan umat Syiah di Indonesia. 

Ada beberapa poin yang dapat dicatat dalam proses ini. Pertama, ada tendensi di kalangan ustaz dan intelektual Syiah (dengan sejumlah kecil pengecualian) untuk mendirikan yayasan sebagai cara untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Hampir semua dari mereka telah terkoneksi dengan satu atau lebih yayasan. Motivasi untuk mendirikan yayasan ini dikuatkan pada kenyataan bahwa peraturan pendiriannya yang relatif mudah. Cukup dengan adanya tiga buah orang, anggaran dasar, dan sejumlah modal yang secara resmi diakui oleh seorang notaris. Ketika tempat-tempat ini tidak dibutuhkan, sangat umum bagi tempat kediaman dijadikan sebagai pusat operasional. 

Setidaknya ada dua motivasi yang saling berhubungan di kalangan para pendiri. Pertama, kebanyakan ustaz dan intelektual Syiah bertempat tinggal di sektor privat dan mereka membutuhkan sebuah platform institusi untuk aspirasi keberagamaannya. Karena mazhab mereka bukanlah menjadi mazhab mayoritas di Indonesia, hanya ada kemungkinan kecil bagi mereka untuk bergabung hadir di institusi-institusi keagamaan. Secara teori, keterlibatan mereka di dalam suatu yayasan merupakan sebuah cara untuk menghimpun ekonomi dan simbol modal yang mana keduanya saling berhubungan. 

Kemudian, motivasi kedua ialah sebagai cara untuk mengumpulkan modal sosial dalam mengembangkan relasi dan jaringan sosial. Dengan menggunakan yayasan, para ustaz dan intelektual Syiah dengan menciptakan komunikasi yang lebih formal dengan institusi atau organisasi internasional Syiah; mereka juga lebih mudah untuk memperoleh karya-karya ilmiah Syiah secara gratis (buku dan majalah) yang dicetak oleh institusi atau asosiasi di Iran, Irak, Kuwait, dan negara-negara lain. Karya-karya ini berkontribusi besar dalam perkembangan Syiah di Indonesia. 

Poin kedua, dengan sedikit pengecualian, ialah yayasan-yayasan Syiah berlokasi di area-area perkotaan di seluruh negeri, dari mulai Sumatra hingga Irian Barat. Kenyataan ini menegaskan perkembangan komunitas Syiah di Indonesia sebagai sebuah fenomena urban. Ini selaras dengan kenyataan bahwa kebanyakan lulusan alumni Qum yang menjadi intelektual, aktivis, atau ustaz Syiah yang tinggal di tempat-tempat tersebut. 

Pada umumnya, mereka mendirikan pusat yayasan berdekatan dengan, atau bahkan berada di dalam, rumah pendirinya dalam rangka memenuhi permintaan umat Syiah agar bisa mendapatkan bimbingan keagamaan dan sebagai pusat penyebaran pandangan-pandangan mereka terhadap umat muslim secara umumnya. (notabenenya aktivitas dakwah Syiah memiliki orientasi internal dan eksternal). Ada korelasi yang nyata bahwa di mana ada sejumlah besar penganut Syiah di suatu tempat maka di situlah akan ada sejumlah besar pula yayasan yang didirikan. 

Dengan demikian yayasan Syiah terbanyak berlokasi di Jakarta. Di tahun 1995 Jurnal Ulumul Qur’an menyebut ada 25 lembaga Syiah di Jakarta. Tetapi di sini tidak dimasukkan berapa banyak jumlah institusi Syiah di daerah-daerah pedalaman; sebagai contoh, Yayasan Al-Hakim, sebuah institusi Syiah terkenal yang didirikan oleh Zainal Abidin al-Muhdar (w. 2003) yang telah menarik sejumlah massa dari pedalaman dan pedesaan yang dekat dengan pusat lembaga tersebut di Pringsewu, Lampung. Betapapun, ringkasnya, pendirian institusi Syiah masih merupakan sebuah fenomena perkotaan. 

Poin penting ketiga mengenai pendirian institusi Syiah dalam rangka dakwah ialah perkembangan sejumlah yayasan di Indonesia juga sesuai dengan peningkatan sejumlah alumni Qum yang kembali ke Indonesia. Untuk sekadar menyebut nama, Fathoni Hadi mendirikan Yayasan Al-Hujjah di Jember tahun 1987, Ahmad Baragbah mendirikan Al-Hadi tahun 1984, Abdullah Assegaf mendirikan Yayasan Al-Wahdah di Solo tahun 1994, dan Rusdi al-Aydrus mendirikan yayasan Ath-Thohir di Surabaya tahun 2000. 

Kemudian, banyak dari alumni Qum yang menjadi pemimpin atau ustaz di yayasan-yayasan Syiah, di antaranya Zahir Yahya di Yayasan Al-Kautsar (Malang), Husein Al-Kaff di Yayasan Al-Jawad (Bandung), Abdullah Assegaf di IPABI (Bogor), Muhammad Syuaib di Yayasan Mujtaba (Purwakarta), Herman Al-Munthahar di Yayasan Amirul Mukminin (Pontianak). Terbukti bahwa semangat penyebaran ajaran Syiah ini telah memotivasi para alumni Qum untuk bertindak sehingga kegiatan dakwah dapat dilembagakan dan terorganisir dengan baik. 

Poin keempat yang menarik ialah yayasan Syiah semuanya didirikan oleh, atau dimiliki oleh sekelompok orang yang memiliki ikatan persahabatan atau kekeluargaan. Mengenai hal ini, institusi jarang dimliki oleh satu orang. Yayasan Al-Jawad misalnya, didirikan oleh sekelompok aktivis lulusan universitas di Bandung, termasuk Ahmad Jubaili, Wawan Tribudi Hermawan, Rivaldi, dan Yusuf Bachtiar. Sama halnya dengan pendirian Yayasan Muthahhari tiga tahun sebelumnya. 

Berbeda dengan para pendiri Yayasan Fatimah yang semuanya adalah anggota keluarga al-Muhdar yang tinggal di Jakarta. Marga al-Muhdar dikenal sebagai penganut Syiah di Indonsia jauh sebelum revolusi Iran 1978-1979. Anggota dari badan eksekutifnya di antaranya Muhammad Andy Assegaf, Akma Syarif, dan Imah Az-Zahra, yang kesemuanya adalah anak dari Abu Bakar Assegar dan istrinya Fatimah Syundus al-Muhdar. Ahmad Muhajir al-Muhdar dan Alwi Husein al-Muhdar berperan sebagai pengajar agama dan penasihat di sana. 

Tazkiya Sejati, yang juga termasuk yayasan Syiah, didirikan tahun 1997 oleh keluarga mantan presiden Indonesia Sudharmono yang bekerjasama dengan Jalaluddin Rakhmat. Karena mengadopsi beragam praktik sufisme, lembaga ini telah menarik sejumlah masyarakat perkotaan kelas menengah atas ke Syiah. 

Dibandingkan dengan pendirian lembaga-lembaga yang disebut di atas, pendirian ICC Al-Huda memiliki corak yang unik dalam pengertian bahwa lembaga ini melibatkan kolaborasi beberapa figur terkenal Indonesia dan Iran. Dewan pengurusnya termasuk Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dan Umar Shahab sebagai dewan pendiri, dan seorang asal Iran Muhsen Hakimollah sebagai direkturnya. 

ICC adalah yayasan Syiah terbesar di Indonesa yang memperkerjakan 30 pegawai, sebagiannya merupakan alumni Qum, untuk menjalankan aktivitasnya. Yayasan ini sangat bergantung pada direktur Irannya, tidak hanya dalam hal wewenang dan tanggung jawab melainkan juga untuk sumber keuangannya. Sejak didirikan, islamic centre ini berfungsi sebagai sebuah badan koordinasi dalam mengorganisir perayaan festival-festival keislaman. ICC juga berperan sebagai mediator dari lembaga-lembaga Syiah di Indonesia dan relasinya antara Iran dan komunitas Syiah di Indonesia, sebuah peran yang pernah dilakukan oleh Kedutaan Iran di Jakarta. 

Deskripsi ini mengarahkan kita kepada lima poin mengenai lembaga Syiah: di samping dari fungsi koordinasinya ICC Al-Huda, beberapa lembaga memiliki koneksi yang dekat dan saling bekerjasama satu dengan yang lainnya dalam ranah dakwah meski ada pula di antaranya yang saling bersitegang. Kedua situasi ini dikarenakan adanya pengaruh hubungan antara tokoh ustaz dan intelektual tertentu. Contohnya ialah kerjasama antara beberapa ustaz Syiah dengan lembaga-lembaga di Jawa Barat yang berkontribusi membangun asosiasi regional yang disebut KIBLAT (Komunitas Ahlul Bait Jawa Barat). Organisasi pemayung ini merangkul beberapa yayasan, termasuk Al-Jawad (Bandung), IPABI (Bogor), Al-Kazim (Cirebon), Al-Mujtaba (Purwakarta), dan As-Syifa (Garut). 

Tetapi mereka tidak memayungi Yayasan Muthahhari yang dikenal bersitegang dengan Yayasan Al-Jawad dan asosiasi tersebut. Kerjasama, perlombaan (kompetisi), dan ketegangan termasuk ke dalam hubungan antara para ustaz-intelektual dan lembaga-lembaga Syiah di Indonesia. 

Akhirnya, kehadiran lembaga-lembaga Syiah merupakan suatu yang sangat penting bagi komunitas Syiah secara keseluruhan, khususnya perihal kefungsionalannya. Pertama, ketika keberadaan masjid Sunni tidak bisa digunakan untuk melaksanakan ritual dan seremoni Syiah, yayasan yang ada dapat menjadi alternatif untuk pengekspresian keagamaan mereka.

Kedua, di samping fungsi keagamaannya, lembaga Syiah juga berguna sebagai tempat berkumpul untuk mendiskusikan berbagai macam persoalan Syiah maupun umat muslim pada umumnya. Pembinaan keagamaan juga program-program pendidikan dapat diberikan di atau melalui lembaga-lembaga tersebut. 

Ketiga, lembaga-lembaga ini merupakan suatu platform penyebaran ajaran Syiah untuk komunitas muslim secara luas. Pelbagai macam program dakwah dilakukan di atau melalui lembaga tersebut. Di tambah lagi, melalui publikasi majalah dan buku, lembaga Syiah memperluas perannya ke dalam ruang kebudayaan. Kemudian, kemultifungsionalan yayasan Syiah telah menjadi agen institusional dalam mereproduksi dan menyebarkan tradisi Syiah di Indonesia. Dengan demikian, kehidupan keagamaan komunitas Syiah sangat tergantung pada kontinuitas kehadiran dan kefungsionalan lembaga-lembaga tersebut.

sumber gambar: www.ahlulbaitindonesia.or.id