The Power of Man Jadda Wajada


Abu Azizy
 Saya yakin adagium man jadda wajada tidaklah asing di telinga anda. Terutama di kalangan para santri, karena ia adalah mahfudzat yang biasa diajarkan dan wajib dihafal di pesantren. Di dalam tulisan ini, pribahasa tersebut akan saya pakai untuk menggambarkan perjalanan ibadah umroh saya yang pertama (#berharap bisa kembali lagi ke tanah suci, āmn). Tulisan ini mudah-mudahan bisa menambah bukti dari dahsyatnya kekuatan jimat “man jadda wajada” tersebut.

Kita tahu man jadda wajada adalah pribahasa bahasa Arab yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan (jalan sekaligus hasil) dari apa yang diinginkan atau dicita-citakannya. Maknanya mirip dengan pribahasa man sāra ‘ala ad-darbi washala. Kalimat man jadda wajada ini saya yakini betul dan terbukti akurat terjadi dalam banyak penggalan hidup saya pribadi, termasuk di dalam episode perjalanan religi saya ke dua kota suci Islam (haramain) beberapa waktu yang lalu.

Man jadda wajada sejatinya mengandung filosofi yang dalam. Ia sesungguhnya merupakan manifestasi dari niat yang kuat (quwwat an-niyyah), baik sangka kepada Allah (husnudzdzan), dan ulet dalam berusaha (ikhtiar). Dengan kekuatan ketiga hal tersebut, man jadda wajada menjelma menjadi energi yang sangat dahsyat. Saya yakin law of attraction (hukum tarikan pikiran) yang dikembangkan di dunia Barat itu sesungguhnya terkandung dalam pribahasa man jadda wajada ini.

Baiklah, saya tidak akan terlalu panjang membahas man jadda wajada tersebut. Saya ingin langsung bercerita tentang kisah nyata perjalanan pribadi saya yang membuktikan dahsyatnya jimat yang satu ini.

Alkisah, ini adalah pengalaman pertama saya melakukan ibadah umrah dan ziarah ke tanah suci (Mekah dan Madinah). Karena itu mungkin berbeda dari orang yang merasakan perjalanan umroh untuk yang kedua-tiga kalinya atau lebih. Perasaan dan kesan saya waktu itu sungguh sangat luar biasa. Perjalanan ini menjadi sangat spesial karena bisa dilakukan bersama dengan orang-orang super spesial dalam hidup saya, yaitu istri tercinta, ibu, dan mertua. Bayangkan, kami dapat melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah), salat di depan Ka’bah tanpa ada hijab atau apa pun yang menghalangi kami dan Baitullah, salat di belakang Maqam Ibrahim, salat di dalam Hijir Ismail, serta sa’i (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah) bersama-sama dengan orang-orang tersayang dalam hidup ini. Alhamdulillaah.

Pengalaman yang bersejarah dalam hidup saya ini berawal dari niat saya untuk memberangkatkan ibu ke tanah suci. Keinginan kuat itu terus bermain dalam pikiran saya dan terus bekerja sesuai dengan teori law of attraction (hukum tarikan pikiran). Pikiran tersebut menarik-narik entitas alam di sekitarnya dan secara positif terus bekerja mendekatkan segala sesuatu demi terwujudnya tujuan yang diinginkan.

Terus terang, bagi saya berangkat ke tanah suci untuk saya sendiri apalagi dengan membawa serta keluarga, untuk saat itu, bukanlah hal yang ringan. Karena itu, maka awalnya saya hanya bermaksud memberangkatkan ibu sendirian. Untuk itu saja sebetulnya saya harus berusaha keras menyisihkan sebagian dari penghasilan bulanan, sampai dapat menutupi biaya yang dibutuhkan. Dengan berbekal man jadda wajada akhirnya, ibu saya bisa berangkat umroh.

Seakan gayung bersambut, man jadda wajada menemukan momentumnya ketika ada pemilik travel umrah yang baik hati dan begitu dermawan yang menawarkan paket umroh dengan harga spesial kepada kami. Selain soal harga, paket umroh itu menjadi lebih menarik lagi karena ia diadakan khusus bagi teman-teman seperjuangan semasa di pondok pesantren (Darussalam Ciamis), yang itu artinya saya bakal ketemu teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa dan pada saat itu pula terbayang di benak saya, perjalanan ibadah umroh akan sangat mengasyikkan.[1] Sejak saat itu saya dan istri berazam untuk berangkat ke baitullah bersama-sama. Dan alhamdulillah semua ada jalannya. Kami (saya, istri, dan ibu, bahkan ibu mertua) akhirnya bisa berangkat untuk menunaikan ibadah umroh bersama-sama.

Kekuatan man jadda wajada tidak cuma terasa di situ saja. Di setiap sesi selama saya menjalani ibadah umroh ia begitu terasa. Di tulisan ini saya ingin menceritakan di antaranya saja yang paling berkesan bagi saya.

Pertama, di masjid Nabawi, ya di mesjid Nabi yang megah itu. Kita tahu ada yang disebut raudhah (taman surga, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ’alihi wa sallam). Semua orang yang sedang berziarah ke Nabawi (dan tentu ke makam baginda Nabi Muhammad Shallallahu ’alihi wa sallam) sangat ingin bisa beribadah, salat, dan memanjatkan doa, di raudhah tersebut.

Umat Islam menyakini bahwa tempat itu adalah tempat mustajab, tempat yang kalau seseorang berdoa di situ maka doanya akan dikabul. Namun faktanya, ternyata tidaklah mudah bisa menembus area seluas 22 x 15 meter persegi itu. Kita harus siap berdesak-desakan dan mengantri cukup lama untuk bisa sampai ke tempat itu. Intinya orang harus berjuang untuk bisa masuk ke area raudhah.

Dan dengan berbekal keinginin kuat (man jadda wajada), seraya terus memanjatkan doa mengharap pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala, akhirnya Allah beri saya jalan, Allah takdirkan saya bisa mendirikan salat dan memanjatkan doa-doa. Sungguh senangnya saya saat itu. Sungguh anugerah yang sangat besar Allah hadiahkan kepada saya ketika itu. Di tempat itu, di antara Makam Nabi dan mimbarnya, saya nikmati dan resapi betul momen nan indah dengan ibadah dan munajat terbaik yang bisa dipanjatkan. Terima kasih Ya Allah, Ya Rabbal ‘Alamiin. Alhamdulillah, tiga kali saya bisa mereguk hidangan spiritual itu. Rasanya ingin sekali saya mengulanginya, tapi waktu jua yang mambatasi.

Yang kedua, di masjidil Haram. Di masjid yang di dalamnya ada bangunan di mana semua umat Islam menghadapkan wajah dalam salatnya. Setiap jamaah haji dan umrah berputar dalam thawaf-nya. Ya, bangunan itu bernama Ka’bah. Ia adalah titik pusat bumi yang bak magnet ajaib, terus menarik umat Muslim untuk mendatanginya.

Lebih menarik lagi, di salah satu sudut bangunan persegi itu, ada yang disebut hajar aswad (batu hitam). Subhanallah, dengan niat mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ’alihi wa sallam, semua orang yang ada di sana berebut ingin menciumnya, tak terkecuali saya. Saya lihat orang yang datang dan berebut ingin mencium hajar aswad itu berasal dari negara yang beragam, ada yang dari negara daratan Afrika, India, Pakistan, bahkan Eropa. Saya mengenali mereka dari postur tubuh dan warna kulitnya. Singkat cerita, saya pun ikut berjuang untuk bisa mencium hajar aswad itu. Berjibaku semampu saya. Di tengah himpitan orang-orang yang tinggi besar nan kekar itu, saya hampir putus asa. Lelah dan remuk sudah tubuh saya terasa. Keringat bercucuran. Akhirnya saya putuskan untuk mencari tempat yang lebih longgar untuk bisa sekedar menghirup udara dan beristrirahat sejenak.

Tepat di depan Ka’bah, saya sandarkan dagu ke hijir Ismail, seraya hati bergumam “mungkinkan tubuh kecilku ini bisa menembus pagar manusia yang gagah perkasa itu, bisakah aku mencium hajar aswad sang primadona yang jadi rebutan itu.” Saya menerawang ke atas langit seraya memohon pertolongan Ilahi Sang Penggenggam jagat raya. Saat itu juga saya teringat pribahasa man jadda wa jada dan berbekal keyakinan itu, saya mulai langkahkan kaki, mencoba lagi untuk memutari Ka’bah dan berusaha mendekat ke arah hajar aswad.

Tidak lama setelah itu, seseorang mendekati saya dan kemudian berbisik “sudah mencium hajar aswad?” Saya jawab “belum.” “Mau?” ia lanjut bertanya. “Ya, mau.” dengan cepat saya menjawab. “Ayo saya bantu!” ujarnya lagi. Tangan saya ditariknya dan dibawanya menembus kerumunan pagar manusia yang sesak itu. “Ayo ke sini,” pintanya. Saya mengikuti arahannya. Setelah seberapa lama ia dan saya berjuang untuk menembus kerumunan, akhirnya jalan terbuka bagi saya untuk mendekatkan muka ke arah hajar aswad dan subhanallah wal hamdulillah, saya akhirnya bisa mencium hajar aswad. Saat itu, semua rasa bercampur aduk di dada saya, tak bisa diungkapkan bagaimana bahagianya saya pada saat itu, terima kasih Ya Allah. Man jadda wa jada.

Itulah sekelumit cerita perjalanan umroh saya. Semoga ini bukan riya (saya berlindung kepada Allah dari syirik kecil ini). Di sini saya hanya ingin menunjukkan kekuatan man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan menemukan atau mendapatkan hasilnya). Man saara ‘ala ad-darbi washala (siapa yang berjalan on the track, maka ia akan sampai ke tempat yang dituju). Kuatkan niat, luruskan, berusaha dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengabulkannya/merealisasikannya. InsyaAllah.

Sumber gambar: www.tripadvisor.com


[1] Paket umroh tersebut memang diberikan oleh Ustadz Afipudin, sang pemilik travel yang juga teman kami di pondok, atas usulan dari Ustadz Fatahuddin Gemilang, dalam rangka reunian bersama teman-teman pondok di haramain. Saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Syeikh Afipudin Abdul Jalil, direktur utama PT. Adeem Toour (Astri Duta Mandiri) yang telah memberi kesempatan dan bantuan sehingga kami dapat menunaikan ibadah umrah bersama keluarga tercinta dan teman-teman seperjuangan. Jazakumullah ahsanal Jazaa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar