Puisi Pengganggu PES



Panji Futuh Rahman


Belakangan ini jagat maya sedang ramai oleh pembahasan puisi yang ditulis dan dibacakan oleh putri bung Karno. Puisi ini menjadi bahan pembicaraan karena yang bersangkutan menyinggung cadar, pakaian muslim, dan lantunan azan. Sampai tulisan ini saya kirim ke redaksi, sudah dua orang yang melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Salah satu yang paling vokal menyoalkannya adalah Kapitra Ampera, ia adalah kuasa hukum Habib Rizieq yang juga pengurus Persaudaraan Alumni 212. 

Tidak hanya Kaptra, ustaz kondang sekaliber Felix Siauw pun ikut dibuat repot untuk mengomentari hal tersebut. Saya juga sudah tonton sebetulnya beberapa hari lalu, hanya saja langsung saya skip karena saat itu saya tidak tertarik memikirkannya terlampau serius.

Saya yang merasa diri cukup sibuk bermain Pro Evolution Soccer (PES) ini sejatinya enggan mengomentari hal ini, hanya saja rekan sejawat yang kini menjadi pimpinan di redaksi salah satu portal gagasan dalam jaringan meminta saya bersuara. Alhasil saya pause sebentar game match antara Borrusia Dortmund melawan Bayern Munchen, saya pakai Dortmund karena saya punya skill yang mempuni untuk mengalahkan tim sehebat Bayern, ini hanya masalah kemampuan. Not the team, but the man behind the console, itu slogan saya kalau main PES.

Maaf jadi melebar, kita kembali ke urusan puisi.  Puisi adalah untaian kata, disusun sedemikian rupa berdasarkan pengalaman dan pemahaman si empunya puisi. Pemilihan diksinya dibuat indah dan berima. Begitu pemahaman saya tentang puisi setelah saya coba ingat pelajaran tentang puisi saat SMA dulu. Puisi dibuat lalu ditafsir oleh pembaca, setelah puisi disebarluaskan, konon penyair akan mati, mati dalam arti tak berhak memonopoli makna dari puisi tersebut lagi, karena penyair mencita puisi, bukan wewenangnya untuk menafsirkan. Bayangkan, si empunya puisi saja tak berhak memonopoli makna dari puisi yang ia buat, apalagi orang lain yang sebatas pembaca. 

Keindahan puisi berada pada keluasan pemaknaannya. Semua orang baca puisi yang sama bisa jadi mendapatkan makna yang satu sama lain berbeda, bahkan bertolak belakang, itu biasa. Sama halnya semua orang bisa berenang dan menyelam ke lautan, semuanya mencari mutiara tapi jelas, satu sama lain akan mendapat mutiara yang berbeda satu sama lain, ada pula yang bahkan pulang dengan tangan kosong karena tak dapat sebutir pun mutiara. 

Puisi yang dibacakan kakak dari Megawati sendiri saya tak temukan jejak tulisannya. Yang disebar adalah videonya, adapun beberapa akun menuliskan kata-katanya saya yakin berdasar apa yang mereka dengar. Bukan benar-benar tulisan dari pemilik puisi tersebut.
Kenapa kemudian saya angkat masalah tulisan orisinal dari puisi? Karena tanda baca, paragraf hingga penggunaan hurup kapital dalam puisi adalah hal yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Ia bermakna dan kadang justru menjadi kunci dari maksud dari kalimat tersebut. 

Katakan saja saat Sukmawati membaca, “lebih merdu dari alunan azanmu”. Teks ini penulis ambil dari akun instagram jitunews. Coba kalau ditulis, “ lebih merdu dari alunan azan-Mu” dengan huruf m kapital. Maka mu di sana merujuk pada Tuhan. Sedangkan jika m kecil umum ditafsir sebagai kata ganti untuk orang kedua yang sedang diajak bicara. Siapa yang diajak bicara? Jangan-jangan bukan untuk saya. 

Disamping itu, puisi kadang menjadi wahana satire. Menyindir dengan cara seolah kita di posisi kontra padahal kita pro. Seolah kita benci padahal sedang mencinta, seolah kita cinta padahal sedang membenci. Ia berpuisi dengan awalan, “Aku tak mengerti syariat islam”, maka tak aneh kalau ia anggap kalau lantunan panggilan Tuhan kepada umatnya untuk ibadah itu kurang merdu. 

Belum lagi kalimatnya yang beranak pinak itu sungguh menjebak penafsiran. Ibu Indonesianya sendiri saja bisa bermakna persona bisa bermakna benda bahkan bisa juga bermakna wujud yang abstrak. Aduh rumit kalau hal ini harus dipaksakan pada satu makna. Biarlah si penulis juga bingung sendiri, tak perlu kita tertular bingung orang yang mengaku belum kenal syariat Islam dan mencoba membanding-bandingkan beberapa syariat dan adat islam dengan hal yang belum jelas. 

Sari konde ibu Indonesia saja sampai tulisan ini rampung belum ada gambaran atau pemaknaan yang meyakinkan yang saya dapat dari gudang akal-pikiran saya. Karena saya menolak kalau konde yang dimaksud adalah benda untuk menyanggul rambut wanita, sungguh tidak puitis.

Maka jelas bagi saya untuk tidak perlu repot menanggapi hal ini, karena toh puisi itu belum tentu untuk saya, dan penafsirannya pun sangat luas. Terlebih ia bukan wahyu dari langit yang harus saya telisik lebih lanjut untuk saya jadikan pedoman kehidupan saya mengarungi bumi yang fana dan seisinya dalah senda gurau ini. Mungkin ia menyinggung bagian dari agama saya, tapi ia tak membuat saya terhalang untuk menunaikan ibadah pada Tuhan. Tak apa, biar saya balas, saya akan caci maki dia dengan sekeji-kejinya kata, tapi dalam hati saja.

Memang kurang bijak apa yang dilakukan Sukmawati, mengingat di negeri ini menista satu ayat bisa di demo jutaan orang. Apalagi menyinggung 3 perkara sekaligus dalam satu puisi, saya tentu menanti apa yang akan dilakukan kelompok alumni 212, apakah akan ada reuni besar-besaran sembari family gathering untuk menjebloskan yang bersangkutan ke penjara? Patut ditunggu.

Jadi begitulah sikap saya, kalau ditanya kesal atau tidak ya jawaban saya kesal. Karena teman saya jadi meminta pendapat saya ditengah saya yang sibuk main PES, padahal lagi seru jadi harus berhenti.

Penulis adala guru PAI di SMAN 1 Cikarang Utara

Sumber gambar: www.salam-online.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar