Puasa Berpuisi



Gelar Riksa Abdillah

Langsung saja, saya sebetulnya sudah mendengar pembacaan puisi Bu Sukmawati beberapa waktu lalu. Awalnya saya tidak merasa ada yang aneh, tapi saya sadar memang ada kata-kata yang sifatnya provokatif. Hanya saja, sebagai sebuah puisi, saya memandang hal itu sebagai sesuatu yang sangat wajar. 
 
Tapi setelah beberapa hari, ada kawan yang bertanya kepada saya, dan juga ada kawan yang meminta saya menanggapi hal itu. Saya tidak merasa perlu menanggapi karena saya merasa itu bukan hal yang terlalu penting. Tapi setelah mereka bilang apakah hal semacam ini termasuk menista agama? saya jadi agak kepikiran juga. 

Setelah saya baca lagi puisinya, saya kok merasa ini punya potensi memicu demo berjilid-jilid seperti dahulu kala. Di tengah masyarakat yang super-sensitif dan ngacengan, hal-hal semacam ini rawan menyulut api di dunia persilatan. Tapi setelah saya pikir lagi, Bu Sukmawati kan tidak akan ikut Pilkada, jadi saya rasa hal semacam itu kecil kemungkinan akan terjadi.  

Kalau saya mau melihat puisi itu sebagai puisi saja, saya merasa tidak ada masalah. Soalnya, puisi memang lahir dari kegelisahan, dan buahnya bisa berupa kata-kata apa saja tanpa memerhatikan konteksnya. Tetapi kalau mau ditanggapi sebagai kritik sosial, tentu ini bisa diperdebatkan. Setidaknya, secara implisit Bu Sukmawati ingin mengatakan bahwa konde lebih baik dari cadar, dan kidung-kidung nusantara lebih indah dari azan, atau berbagai hal lainnya yang ia tampakkan dalam bait-bait puisinya. 

Persoalannya, merendahkan satu kelompok dan membandingkannya dengan kelompok yang lain sama sekali tidak akan memupuk rasa persatuan. Orang malah jadi antipati dan merasa hal ini akan menumbuhkan keributan yang lain. Kita bisa melihat bahwa Bu Sukmawati ingin mengatakan bahwa jangan menjadi Arab, jadilah orang Indonesia, jadilah Indonesia secara kaffah. Tapi ya, tidak sesederhana itu, orang kan lahir beda-beda dan dibesarkan dengan cara yang beda-beda juga. Kalau orang Indonesia tumbuh dengan memeluk Islam, dan semua yang disekitarnya adalah pendidikan yang berbau Islam, ya mau bagaimana lagi. 

Sebelum saya berlanjut, saya ingin sedikit menukil beberapa kicauan para selebtwit di twitter menanggapi puisi ini. Saya senang, karena twitter bisa menyuguhkan berbagai pendapat dari sudut pandang berbeda sekaligus, membuat kita merasa kaya sekaligus pusing.

Akhmad Sahal: “Bu Sukmawati baiknya minta maaf terbuka aja. Kalo ga tau ttg syariah, ya belajar, bukannya bikin penilaian ke publik thd yg ia tak tau. Sah2 aja lebih suka kidung Indonesia drpd adzan. Tp bandingin kidung dgn adzan ya ngawur. Kalo mau, bandingkan dgn qasidah, yg sama2 kidung.

Savic Ali: “Ditanya wartawan gmn dg puisi Bu Sukma. | Biasa aja. Sptnya Bu Sukma punya kekecewaan dan kritikan yg ingin disampaikan. Kita boleh setuju ato protes, tp buat saya tak ada yg berlebihan. | Gmn dg pemidanaan? | Itu jelas berlebihan.”

Prof. Ariel Heryanto: “Sebuah puisi untuk polisi: Ngapain repot2 nyari penculik Thukul, komplotan pembunuh Munir, penyerang Novel Baswedan, atau mikirin nasib petani dan buruh? Mending mikirin sebuah puisi.”

Belakangan diketahui, ada yang mau memidanakan Bu Sukmawati, saya sih agak kurang sreg dengan itu. Jadi, puisi Bu Sukmawati itu mungkin saja memang melukai beberapa orang, khususnya umat Islam. Tapi memidanakan itu berlebihan, lebih baik kita menjalankan saja fungsi sosial kita. Kalau Bu Sukmawati mau menyuarakan pendapatnya dengan cara seperti itu ya silakan, tetapi ia juga perlu tahu bahwa ada orang-orang yang keberatan dengan hal itu. Sehingga, setidaknya kita bisa saling menjalankan simpati terhadap sesama anak kandung Indonesia.

Berikutnya, saya sebetulnya tidak begitu suka menanggapi isu-isu seperti ini. Karena hanya akan membuat gaduh media sosial dan membuat kita melupakan hal-hal yang lebih penting. Jangan sampai persoalan seperti ini dimanfaatkan beberapa pihak untuk mengalihkan isu dan membuat kita abai terhadap urusan yang sudah sangat gawat. Seperti, Indonesia mau bubar misalnya.

Sumber gambar: www.bogor.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar