Perjuangan Syiah di Indonesia (Part.5)



Jiva Agung
Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National Universiy E-Press, tahun 2013.

Grup Kampus
Grup penting lain di dalam komunitas Syiah Indonesia datang dari kampus-kampus universitas. Meskipun kemunculan kelompok ini pada umumnya terlihat sebagai respon dari suksesnya revolusi Iran, tetapi ada sebagian kecil figur yang berkonversi ke Syiah jauh sebelum peristiwa tersebut. Yang pertama ialah Ridwad Suhud, seorang dosen ITB sekaligus member dari IJABI, organisasi Syiah skala nasional. 

Figur penting lain adalah K.H abdullah bin Nuh (1905-1987) yang memiliki koneksi dengan Ali Ahmad Shahab. Dia juga teman dekatnya Muhammad Dhiya dan Muhammad Asad Shahab. Di awal masa karirnya, dia bekerja dengan anggota komunitas Hadramain di Hindia Belanda. Sebelum mengambil studi ke Mesir (1926-1928), dia dan saudaranya, Abdurrahman telah belajar di Sekolah Hadramaut di Surabaya. Selanjutnya, ia menjadi dosen di UII Yogyakarta (1945-1950) dan di UI Jakarta (1960-1967). 

Di samping menjadi pengajar, K.H Abdullah bin Nuh juga merupakan seorang jurnalis dan penulis, bekerja untuk APB dan majalah, National Digest Press dan Pembina. Dia mengetuai lembaga penelitian Islam dan majalah itu (Pembina) selama sepuluh tahun (1962-1972). Di majalah mingguan ini dia memberikan komentar reguler mengenai agama, mendiskusikan aspek-aspek ajaran Islam, seperti fikih, akhlak, dan sufisme. Dia pun menulis sejumlah buku, beberapa tak diterbitkan, dan juga menerjemahkan beberapa tulisan seorang filsuf dan sufi terkemuka Persia, al-Ghazali (1058-1111).

Pasca tahun 1972, dia mendedikasikan hidupnya untuk mengajar di yayasan Islam miliknya di Bogor: Majlis Al-Ghazaly, Majlis Al-Ihya, Majlis Al-Husna, dan Majlis Nahjus Salam, yang terbukti memberikan pengaruh terhadap umat muslim di Indonesia. 

Ada beberapa kontroversi mengenai status mazhab yang dianut oleh Abdullah bin Nuh. Sunni Indonesia mengklaim bahwa dia merupakan seorang muslim Sunni, sebaliknya beberapa Syiah yang pernah menemuinya menyatakan bahwa Abdullah bin Nuh adalah seorang Syiah. Walaupun dia mendeklarasikan dirinya sebagai pengikut fikih Syafi’i, tetapi dia sering menghadiri ritual dan perayaan Syiah yang diselenggarakan oleh kedutaan besar Iran. Dia juga berpartisipasi dalam kegiatan Kongres Dunia Imam Jumat pertama di Tehran pada tahun 1983. 

Bukti lain yang membuktikan kesyiahannya juga dapat ditemukan di dalam tulisan, Risalah Asyura: 10 Muharram, yang di dalamnya ia menyertakan sejarah singkat Husein bin Ali, imam ketiga Syiah, juga mendiskusikan hadis masyur thaqalayn, yang memerintahkan umat mukmin untuk senantiasa berpanduan pada Alquran dan ahlul bait. Setelah mendeskripsikan beberapa versi hadis dari koleksi sumber Sunni, dia meyakini bahwa pandangannya ini benar. Lebih lanjut ia menyatakan kalau hadis thaqalain jelas menunjukkan bahwa umat beriman harus mengakui kepemimpinan Nabi Muhammad. 

Dia juga mengutip hadis terkenal Ghadir Khum, yang isinya Nabi Muhammad menunjuk Ali sebagai penggantinya. Abdullah bin Nuh berpandangan bahwa salah satu sifat filosofis dari hadits tsaqalain ini adalah jaminan keselamatannya terhadap umat muslim karena anggota ahlul bait adalah yang paling paham mengenai ajaran dan praktik agama Islam. 

Dia menulis: “nasihatnya (Muhammad) tidaklah merupakan persoalan yang dibuat-buat melainkan suatu kebutuhan yang memang diperlukan, khususnya di era pertumbuhan dan perkembangan Islam.” Mengenai identifikasi ahlul bait di dalam Alquran, Abdullah bin Nuh menolak pandangan umum Sunni yang memasukkan para istri nabi ke dalamnya. Alih-alih dia membeberkan pandangan ulama Syiah yang membatasi identifikasi ahlul bait hanya pada Ali bin Abi Thalib, Fatimah (istrinya), dan kedua anak mereka, Hasan-Husein. Penafsiran ini sungguh merupakan pemahaman versi Syiah sebagaimana nanti akan kami tunjukkan di bagian ketiga. 

Kemunculan sejumlah “mualaf” Syiah di universitas-universitas di Indonesia pada era 1980-an dapat dikatakan sebagai salah satu bagian respon dari revolusi Iran. Tetapi bukan berarti kemenangan Khomeini ini secara otomatis menghasilkan perpindahan besar-besaran umat muslim Sunni ke Syiah. Faktanya, banyak cendekiawan muslim Indonesia yang mengikuti kegiatan-kegiatan bersejarah di Iran pada tahun 1978-1979, khususnya melalui media massa, tetap menjadi Sunni, termasuk Buya Hamka (1908-1981), seorang ulama modernis terkemuka yang kemudian hari menjadi ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan M. Amien Rais. 

Beberapa kalangan yang pindah ke Syiah adalah dari dosen, sebagian dari mereka telah menjadi intelektual besar, juga memainkan peran penting dalam pengembangan Syiah di Indonesia. Salah satunya adalah Jalaluddin Rakhmat, dosen Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, yang mendirikan lembaga Syiah Yayasan Muthahhari di tahun 1988. Yayasan ini telah memainkan peran penting dalam pengembangan Syiah di Indonesia. 

Figur penting lainnya adalah Muchtar Adam ( lahir 1939) yang juga seorang dosen UNPAD sekaligus pendiri Pesantren Babus salam di Ciburial, Bandung Utara. Selain menjadi pengajar, dia pun menulis beberapa karya ilmiah. 

(Muchtar Adam)
Tokoh penting lain yang berasal dari kampus adalah Muhammad al-Baqir Al-Habsyi, yang menjadi familiar dengan ajaran-ajaran Syiah melalui tulisan-tulisan yang didapatnya dari Timur Tengah, jauh sebelum peristiwa revolusi Iran. Lahir di Solo 20 Desember 1930, Muhammad al-Baqir hanya memeluk beberapa doktrin Syiah. Dia mempraktikkan fikih dari Syiah dan Sunni. Pada awal era 1980-an dia memperkenalkan beberapa tulisan Syiah kepada para intelektual semacam Jalaluddin Rakhmat, yang menjadikannya yakin dengan prinsip-prinsip doktrin Syiah. 

Betapapun, kontribusi terbesar Muhammad al-Baqir adalah terjemahannya atas buku-buku Syiah ke bahasa Indonesia, yang sebagian besarnya diterbitkan oleh penerbit Mizan yang dipimpin langsung oleh anaknya, Haidar Bagir. Salah satu terjemahannya yang paling terkenal adala buku Dialog sunnah Syi’ah. Sebelum ketiga figur ini dilarang menyebarkan Syiah di era orde baru Soeharto, mereka telah terlibat memberikan kuliah agama di Masjid Salman ITB. 

Di era 1980-an, kampus-kampus di Indonesia mengalami masa “kebangkitan Islam” yang begitu deras yang awalnya diprakarsai Masjid Salman. “Di Jawa, aktivitas keagamaan yang diinspirasikan oleh Masjid Salman telah menjadi sebuah ciri nyata kehidupan di kampus-kampus besar.”

“Gerakan Salman” merupakan sebuah gerakan puritan yang mengajarkan cara pandang Islam totalitas, merangkul seluruh aspek kehidupan umat manusia. Pemahaman ini dikembangkan oleh Imaduddin Abdulrahim, seseorang yang sangat terpengaruh oleh ide-ide Hasan Al-Bana (w. 1949) dan Abul A’la Maududi (w. 1979). Di Indonesia, beberapa orang baik dari dosen maupun mahasiswa, yang terkagum pada pandangan revolusi Islam, menggunakan beberapa publikasi untuk memfokuskan diskursus pada kasus Iran. (sebagaimana yang akan saya tunjukkan nanti, ada perkembangan tulisan-tulisan Syiah Indonesia yang dipengaruhi oleh ulama dan intelektual Syiah seperti Ali Shari’ati dan Murtada Mutahhari). 

Beberapa tokoh Indonesia ini belajar tentang Syiah secara intensif dan tulisan-tulisan tersebut berkontribusi pada kepindahan mereka ke Syiah. Mengenai hal ini, pengaruh figur semacam Jalaluddin Rakhmat, Muchtar Adam, dan Muhammad al-Baqir dalam penyebaran Syiah kepada para pelajar juga sangat tidak diragukan lagi. 

Sejak tahun 1980-an, Syiah menjadi jenis baru dalam Islam, menarik pelajar dari universitas-universitas terkemuka di Indonesia. Kampus-kampus di Bandung, Jakarta, dan Makasar telah menjadi pusat kegiatan Syiah. Di Bandung, mahasiswa (khususnya dari kalangan aktivis Salman) dari kampus-kampus seperti ITB dan UNPAD pindah memeluk Syiah. Yang paling terkenal di antara mereka adalah Haidar Bagir, anak dari Muhammad al-Baqir al-Habsyi, yang lahir di Solo 20 Februari 1950 dari kalagan keluarga sayyid imigran Hadramain. 

Dia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Sekolah Islam Diponogoro, sekolah yang salah satu pendirinya adalah ayahnya sendiri. Di tahun 1975, dia masuk ke jurusan Teknik Industri ITB dan menyelesaikannya pada tahun 1982. Waktu kuliah di ITB dia menjadi seorang aktivis Masjid Salman dan menyajikan kolom editorial Pustaka, jurnal mahasiswa Islam yang dirintis oleh amar Haryanto, seorang pustakawan ITB. 

Terkagum pada popularitas Ayatullah Khomeini, ia belajar dan pindah ke Syiah. Di tahun 1983, dia mendirikan Mizan, penerbitan Islam terbesar di Indonesia yang juga menerbitkan sejumlah buku Syiah. Sekarang, Haidar Bagir memainkan peran penting dalam penyebaran dan pengembangan Syiah di Indonesia.
Generasi mahasiswa selanjutnya di Bandung yang pindah ke Syiah adalah dari kalangan aktivis masjid yang memiliki hubungan dekat dengan Jalaluddin Rakhmat, Muchtar Adam, Muhammad al-Baqir, dan Haidar Bagir. Sebagian dari mereka sekarang menjadi tokoh intelektual dan aktivis terkemuka Syiah, seperti Dimitri Mahayana (dosen ITB dan ketua umum IJABI), Hadi Swastio (sekretaris umum IJABI) dan Yusuf Bakhtiar.
Tokoh-tokoh ini telah memainkan, dan masih berlangsung, peran yang sangat penting dalam mempromosikan Syiah, tidak hanya di Bandung tetapi juga di seluruh kota di Indonesia. Tak diragukan lagi bahwa Bandung telah mejadi pusat penting dalam penyebaran Syiah di Indonesia. 

“Mualaf” Syiah dari universitas-universitas di Jakarta mengikuti pola yang mirip dalam artian bahwa mereka sering terlibat dalam perkumpulan keagamaan, kuliah dan diskusi mengenai pemikiran dan doktrin Syiah, atau dari aktivitas-aktivitas kampus. Di antara mereka adalah dari UI, IKIP (sekarang UNJ), UNAS, UKI, dan Universitas Jayabaya. Salah seorang mahasiswa Universitas Jayabaya, Mulhandy, mengakui pindah ke Syiah di tahun 1983 setelah dia dan teman-temannya mengkaji hal tersebut secara intensif. 

Di UI, Agus Abubakar Arsal Al-Habsyi, lahir di Makassar 6 Agustus 1960, dari keluarga imigran Hadramain, seorang mahasiswa penganut Syiah yang dikenal di awal tahun 1980-an, adalah seorang aktivis Masjid Arif Rahman Hakim UI. Masuk ke UI jurusan Fisika pada tahun 1979, dia menyebut melakukan pengkajian ajaran Syiah secara intensif di kampus, ditambah adanya keakraban dengan kalangan Syiah sebelum revolusi Iran, juga dikarenakan adanya kehadiran beberapa penganut Syiah di sebuah desa di Sulawesi Selatan, sebagai faktor-faktor yang menyebabkan kepindahannya. 

Dia memperoleh reputasi menjadi jurubicara Syiah dalam perdebatan melawan Prof. Rasjidi (w. 2001), yang saat itu merupakan seorang imam Sunni di Masjid Arif Rahman Hakim. Konsekuensinya, Agus terlarang melaksanakan perkumpulan keagamaan di masjid itu dan kehilangan posisi kepemimpinannya di organisasi kemahasiswaan. 

Walaupun demikian, hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk terus menyebarkan ajaran Syiah. Dengan menggunakan berbagai macam pendekatan, Agus terus mempromosikan ajaran Syiah dan akhirnya berhasil memindahkan sejumlah mahasiswa. Dia terpilih menjadi ketua Yayasan Baitul Hikmah Depok dan juga terlibat dalam aktivitas politik, membantu mendirikan Partai Demokrasi yang didirikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, presiden Indonesia sekarang. Agus tak diragukan lagi merupakan figur penting dalam penyebaran Syiah di Jakarta. 

Dengan adanya peningkatan “mualaf” Syiah baru di Jakarta, grup diskusi mulai muncul. Di tahun 1989, mahasiswa Syiah UI mendirikan sebuah grup kajian yang bernama Abu Dzar yang dikoordinir oleh Haryanto dari Fakultas Matematika dan IPA, dan Yussa Agustian dari Fakultas Teknik. Agus Abubakar adalah salah satu pemandunya. Grup ini bertujuan untuk membangkitkan kembali pemikiran keislaman dan memperkenalkan pemahaman mengenai Syiah kepada para mahasiswa. Untuk mencapai tujuan tersebut, grup ini melakukan diskusi, pelatihan, dan aktivitas lainnya. 

Di kemudian hari, mereka juga mencoba untuk menjadikan Himpunan Muslim Indonesia (HMI) sebagai kendaraan menyebarkan pemikiran Syiah. Rudi Suharto dari Fakultas Matematika dan IPA (sekarang menjadi editor in chief Syiar, majalah ICC Jakarta) bersama aktivis mahasiswa lain termasuk Didi Hardian dari Fakultas Teknik, Kukuh Sulastyoko dari Fakultas Matematika dan IPA, dan Syaiful Bahri dari Universitas Guna Darma, sembari dipandu oleh para senior, Furqon Bukhori dan Zulfan Lindan, berhasil mendirikan HMI cabang kampus Depok. 

Melalui organisasi ini, mahasiswa UI pemeluk Syiah menjalankan aktivitas-aktivitas intelektual dan keagamaan sampai tahun 1995 ketika HMI terbelah menjadi dua kubu (pro Syiah dan anti Syiah) yang belakangan disahkan oleh pimpinan nasional HMI. Dalam perkembangan Syiah selanjutnya di Jakarta, Forum Alumni HMI (FAHMI) didirikan. Asosiasi alumni UI Syiah ini didirikan di tahun 1997 oleh para aktivis termasuk Rudi Suharto. 

Dari Jakarta kita beralih ke perkembangan Syiah di Makassar tempat di mana sejumlah penganut Syiah ditemukan dari kalangan pelajarnya. Penelitian saya memberi kesan bahwa Syiah eksis hampir di seluruh kampus di Makassar, dan mayoritas di antara mereka adalah para alumni universitas. Fenomena ini telah berkembang sejak awal 1990 ketika sejumlah aktivis Syiah di Makassar mengintensifkan propaganda mereka di kampus-kampus universitas. Salah satu figur utamanya adalah Surachman, ketua Yayasan Islah yang memberikan kajian dan pelatihan mengenai Syiah. 

Seperti di Bandung dan Jakarta, penyebaran Syiah di Makassar memperoleh sejumlah simpati tertentu dari organisasi mahasiswa, khususnya HMI. Perkembangkan Syiah yang cukup deras di Makassar dapat dilihat dari program-program yang dijalakan secara kontinu, intensif, dan sistematis, termasuk mengundang para guru dan tokoh intektual Syiah dari Jakarta dan Bandung, termasuk Jalaluddin Rakhmat yang memberi kuliah mengenai pemikiran, filsafat, dan sufisme Syiah. 

Juga, beberapa pengajar (dari alumni Qum dan lainnya) memberi pengajaran tentang fikih Syiah. Bersamaan dengan bertambahnya sejumlah “mualaf” Syiah, beberapa yayasan berdiri dengan tujuan untuk menyebarkan ajaran-ajaran Syiah. Sebagaimana yang terjadi di kota-kota lain, para pionir penyebar Syiah di tempat ini adalah para aktivis kampus yang bisa mengkaji dan mendiskusikan Islam, juga yang sering berpartisipasi dalam sesi pelatihan di masjid kampus. Ini berarti ajaran Syiah mudah tersebar melalui kehadiran jaringan-jaringan.  

Penganut Syiah dari kalangan mahasiswa di kota-kota lain sepeti Palembang, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang, mengikuti pola yang mirip, yakni mereka berasal dari aktivis masjid kampus atau organisasi kampus. Adanya kemenangan revolusi Iran yang diikuti oleh gema revivalisme Islam membuat para aktivis muda ini mendapat pola paralelnya dengan ide-ide revolusioner mereka. Semangat mereka juga berelasi pada faktanya sebagian besar dari mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan Islam sehingga mereka tidak memiliki pemahaman yang matang mengenai ajaran Sunni, membuat mereka lebih terbuka pada ajaran-ajaran revolusioner Syiah secara ideologi. 

Sebaliknya, Syiah tidak mendapat perhatian yang sama di kalangan mahasiswa dari universitas keislaman seperti UIN, IAIN, atau STAIN. Di tahun 1990-an terlihat kemunculan yang disebut “naungan flamboyan” sebuah organisasi yang menjalankan kajian intensif mengenai pemikiran Syiah, didirikan oleh mahasiswa IAIN Jakarta dan dibiayai oleh Haidar Bagir. Betapapun, faktanya hanya sedikit mahasiswa dari perguruan tinggi Islam yang berpindah ke Syiah. 

Kontras dengan mahasiswa dari universitas umum, kebanyakan dari mereka datang (ke kampus) dengan telah memperoleh fondasi pengetahuan Islam yang kuat dari madrasah atau pesantren. Ketika buku-buku Syiah dibaca, latar belakang pendidikan keislaman mereka membuatnya tak mudah terpengaruh oleh brand  revivalisme Islam. Juga, di sana mereka mereka terus-menerus memperoleh pemahaman keagamaan yang komprehensif tanpa melihat jurusan apa yang mereka pilih. Kurikulum pendidikan di sana utamanya adalah Sunni.

Dikatakan bahwa ide pembaharuan Islam dipromosikan belakangan oleh Harun Nasution (1919-1998), Nurcholish Madjid (1939-2005) dan lainnya yang telah memiliki beberapa pengaruh. Kebanyakan para pelajar di sana hanya mengambil beberapa aspek dari ajaran Syiah saja dari buku-buku para cendekiawaan seperti Ali Shariati, Murtada Mutahhari, dan Hossein Nasr. Pada umumnya, hanya ada sangat sedikit penganut Syiah dari kalangan mereka.  

Ketertarikan kepada Syiah di kalangan mahasiswa juga berhubungan dengan penolakan mereka terhadap depolitisasi Islam yang dibawa oleh rezim era orde baru. Dari sini ajaran Syiah mengenai konsep imamah menawarkan solusi alternatif , kebanyakan “mualaf” Syiah melawan implementasi asas tunggal pancasila.
Organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) yang dibubarkan oleh rezim tahun 1987 dan Himpunan Mahasiswa Islam Majlis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) adalah dua badan organisasi yang paling keras menolak pembebanan pancasila sebagai landasan tunggal dalam semua organisasi di Indonesia. HMI MPO tetap menjadikan Islam sebagai fondasi ideologi pendiriannya. 

Pada faktanya, sejumlah anggota dan pemimpin HMI MPO pindah ke Syiah dan sekarang menjadi figur-figur penting di Indonesia, di antaranya seperti Zulvan Lindan dan Furqon Bukhori (ketua IJABI 2004-2008). Dua tokoh ini telah memainkan peran penting dalam penyebaran ajaran Syiah di kalangan anggota HMI. 

Ada dua orang lagi: Yusuf Bakhtiar, ketua HMI MPO di Bandung, dan Saifuddin Al-Mandari, ketua umum HMI MPO, seorang Syiah yang pindah dari Makassar ke Jakarta tempat di mana ia dia bergabung dengan Yayasan Fitra. Pemimpin lain dari HMI MPO telah mencoba untuk memasukkan topik prinsip Syiah (tentang imamah) di dalam aktivitas pelatihan organisasi, menekankan pentingnya kepemimpinan Islam, yang telah menggiring para anggotanya untuk mengkaji ajaran Syiah dan, pada tahap selanjutnya, memeluk Syiah.

sumber gambar: www.syiahmenjawab.com, www.liputanislam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar