Perjuangan Syiah di Indonesia (Part.4)



Jiva Agung

Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National Universiy E-Press, tahun 2013.

Alumni Qum
Kontribusi yang sangat penting dalam pembentukkan umat Syiah di Indonesia adalah kemunculan para alumni Qum, yang menimba ilmu pendidikan Islam di hawza ‘ilmiyya di Qum, yang saat ini merupakan pusat studi pendidikan Islam Syiah paling penting di dunia. Mayoritas dari ustaz-ustaz terkemuka Syiah adalah lulusan dari tempat ini. Untuk alasan ini, mereka sering kali diidentifikasikan dengan alumni Qum, meski ada di antaranya yang berpendidikan Mesir atau Arab Saudi. 

Salah dua di antara alumni Qum adalah Umar Shahab dan adiknya Husein Shahab, keduanya merupakan figur Syiah paling populer yang terlibat dalam aktivitas pendidikan dan dakwah di Jakarta. Mereka berdua terkoneksi dengan sejumlah lembaga pengajian atau perkumpulan keagamaan yang ada. Figur termasyur lain, meskipun segan untuk menerima statusnya, adalah Abdurrahman Bima, yang memimpin Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok. Di Pekalongan, Ahmad Baragbah memimpin pondok pesantren terkenal Al-Hadi. 

Para ustaz yang merupakan lulusan kampus Islam di negara-negara Timur Tengah dan bahkan para cendekiawan dari universitas umum seringkali juga pergi ke Qum untuk mengambil program short course supaya dapat terjalin koneksi dengan para pemimpin dan ulama Syiah. Sebagai contoh, Hasan Dalil, yang menyelesaikan sarjana S1 di Riyadh, Arab Saudi, mengambil program pelatihan tiga bulan di Qum. 

Bahkan, intelektual Syiah Indonesia paling terkemuka, Jalaluddin Rakhmat beserta keluarganya tinggal di Qum selama setahun sehingga mereka dapat hadir di perkumpulan dan perkuliahan yang diadakan oleh para ayatullah. Semua ini menjelaskan betapa pentingnya pendidikan Syiah di Qum bagi para penganut Syiah Indonesia. 

Belum jelas kapan para pelajar Indonesia mulai menimba ilmu pendidikan Islam di Qum, tetapi dapatlah dikatakan bahwa hal tersebut telah terjadi sejak beberapa tahun sebelum revolusi Iran. Mereka biasanya adalah orang-orang Arab yang tinggal di berbagai wilayah di Indonesia. Ali Ridho Al-Habsyi, anak dari Muhammad Al-Habsyi dan cucu dari Habib Ali Kwitang Jakarta, belajar di Qum tahun 1974. Kemudian disusul oleh enam orang lulusan pesantren Al-Khairat Palu, Sulawesi Tengah. 

Di bulan September 1976, Umar Shahab dari Palembang (yang saat ini telah menjadi ustaz Syiah terkemuka) pergi ke Qum, belajar bersama tujuh orang Indonesia lainnya. Penelitian lapangan dari Fischer juga mencatat kehadiran para pelajar Indonesia di Qum berdampingan dengan murid-murid lain dari Pakistan, Afghanistan, India, Libanon, Tanzania, Turki, Nigeria, dan Kasmir. Betapapun, pelajar Indonesia hanyalah minoritas di sana. 

Sejak berdirinya Republik Islam Iran 1979, interaksi antara pemerintah Iran dengan ulama Syiah Indonesia mennjadi kuat. Kemenangan dari para ayatullah menginspirasi intelektual dan ulama Indonesia untuk mengkaji fondasi ideologi dari revolusi Iran. Pada waktu yang bersamaan, sebuah “ekspor revolusi” muncul, mereka (para pemimpin dan ulama Iran) ingin menyebarkan Syiah ke Indonesia dan mengajak pelajar Indonesia untuk menimba ilmu ke Iran. 

Tahun 1982 pemerintah Iran mengirim delegasinya Ayatullah Ibrahim Amini, Ayatullah Masduqi, dan Hujjatul Islam Mahmudi ke Indonesia. Salah satu aktivitas mereka ialah kunjungan ke Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Bangil, Jawa Timur, di mana mereka bertemu dengan pemimpinnya, Husein Al-Habsyi. Saat itu dia merupakan salah seorang ulama terkemuka Syiah indonesia yang berperan penting dalam perkembangkan dakwah dan pendidikan Syiah. Setelah pertemuan tersebut, hawza ‘ilmiyyah Qum setuju untuk menerima sepuluh murid Indonesia yang dipilih olehnya. Kemudian sampai kematiannya di tahun 1994, Husein Al-Habsyi memilih/menyeleksi kandidat yang akan belajar di hawza ‘ilmiyyah di Qum dan kota-kota lain di Iran. 

Konsekuensinya, di antara murid Indonesia yang pergi ke Qum di tahun 1982 sebagiannya adalah kalangan dari lulusan YAPI. Dari sepuluh murid itu, hampir semuanya dari ras Arab yang enam di antara mereka adalah alumni YAPI, seperti Muhsin Labib dan Rusdi Al-Aydrus. Dari luar YAPI ada Ahmad Baragbah dan Hasan Abu Ammar telah menjadi ustaz Syiah. 

Pada periode berikutnya, lulusan dari YAPI ataupun orang-orang hasil rekomendasi Husein Al-Hasbyi tetap menjadi murid mayoritas yang dipergikan ke Qum. Antara tahun 1985 dan 1989, Al-Habsyi mengirim sepuluh murid ke Qum dan pada hari ini kebanyakan dari mereka telah mendirikan atau berafiliasi dengan lembaga-lembaga Syiah di Indonesia selain juga dianggap sebagai figur-figur penting Syiah. 

Selanjutnya, lulusan institusi pendidikan Islam lain semacam Yayasan Muthahhari dan Al-Hadi terpilih untuk dapat mengambil pendidikan lanjutan di Qum. Ini berarti menerangkan perkembangan pengaruh para intelektual Syiah—seperti Jalaluddin Rakhmat dan Haidar Bagir—yang diakui oleh Iran. Sebagian besar dari mereka mengambil pendidikan menengah tetapi belakangan ada juga beberapa lulusan perguruan tinggi yang melanjutkan studi mereka di sana, seperti para alumni dari sekolah Tinggi Islam Madina Ilmu di Depok. 

Kami juga menemukan alumni dari universitas umum yang belajar ke Qum, salah satunya adalah Mujtahid Hashem, seorang lulusan fakultas teknik Universitas Indonesia. Ia pergi ke Qum tahun 2001 untuk belajar ilmu agama. Di sana ia pun terpilih menjadi sekretaris umum Himpunan Pelajar Indonesia Iran. 

Setiap tahun jumlah mereka meningkat signifikan. Di tahun 1990, 50 siswa Indonesia dilaporkan telah lulus atau masih belajar di sana. Sepuluh tahun kemudian jumlah alumni Indonesia yang belajar di Qum kurang lebih ada seribu orang. Di tahun 2001, 50 siswa Indonesia terpilih untuk melanjutkan studi ke Qum dan tiga tahun kemudian, saya (Zulkifli) diinformasikan, bahwa ada lebih dari 90 siswa yang terpilih. 

Sementara itu, pemerintah Iran, melalui ICIS, Pusat Internasional Kajian Islam telah meningkatkan upaya untuk menarik pelajar internasional. Sejak tahun 1994 ICIS telah berada di bawah supervisi Grand Ayatullah Ali Khamene’i. Setiap tahun perwakilan ICIS melakukan proses seleksi kepada institusi-institusi Islam semacam ICC di Jakarta dan Yayasan Muthahhari di Bandung. 

Untuk menambah pencapaian akademik, pengetahuan mengenai bahasa Arab merupakan sebuah syarat yang diperlukan, karena ini merupakan bahasa internasional di lembaga-lembaga Islam di beberapa madrasah di Qum. Sesampainya di Iran, mereka pun perlu mengikuti program pelatihan bahasa Persia selama enam bulan, sebuah bahasa yang dijadikan alat komunikasi paling lazim di institusi pendidikan Islam di Qum.  

Ada dua macam sistem pendidikan di hawza ‘ilmiyyah: sistem tradisional dan modern. Kurikulum untuk sistem tradisional seperti fikih, ushul fikih, ulumul Quran, ulumul hadis, nahwu-sharaf, balagah, mantik, hikmah (filsafat), kalam, dan tasawuf. Setiap pelajaran memiliki teks standarnya masing-masing, yang diajarkan di halaqah di bawah supervisi seorang ayatullah. Sistem pendidikan di sana terdiri dari tiga level yakni muqaddamat, sutuh, dan dars al-kharij atau bahth al-kharij. Semua tingkatan itu harus diluluskan oleh setiap mujtahid atau fuqaha. 



Di level muqaddamat (persiapan), yang berakhir pada tiga sampai lima tahun, penekanannya ialah pada pemberian beberapa keterampilan bahasa Arab. Pelajaran utama yang diajarkan seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan mantik. Di level ini ada pula pelajaran opsional seperti sastra, matematika, astronomi, dan pangantar fikih yang diambil dari salah satu risalah ‘amaliyyah yang ditulis oleh marja al-taqlid kontemporer, seseorang yang dijadikan sumber otoritatif dalam urusan hukum Islam. 

Metode pembelajaran di level ini ialah para pelajar mengelilingi gurunya yang akan menyampaikan teks-teks pelajaran kepada mereka. Murid-murid di sana diberi kebebasan untuk memilih guru yang akan menjadi instrukturnya (yang biasanya adalah dari kalangan murid senior atau asisten maraji al-taqlid).

Di tingkat sutuh, yang biasanya berakhir pada tiga sampai enam tahun, para siswa diperkenalkan mengenai substansi fikih deduktif dan ushul fikih. Adapun mata pelajaran opsionalnya seperti tafsir, hadis, kalam, filsafat, irfan, sejarah, dan akhlak. Umumnya, kursus ini berupa seri perkuliahan yang dihadiri oleh para dosen. Pengajar di level ini biasanya adalah para mujtahid yang telah memperoleh otoritas ijtihad dan reputasi. 

Meskipun pelajaran di level akhir, dars al-kharij, adalah fikih dan ushul fikih, tetapi metode yang diajarkan berbeda dengan dua level sebelumnya. Pelajaran di sini disampaikan oleh para mujtahid terkemuka. Para siswa bebas untuk memilih kelas apa yang akan dihadiri dan sudah biasa terjadi dengan kirasan ratusan peserta, termasuk para mujtahid, akan hadir dalam penyampaian perkuliahan dari mereka (para mujtahid terkemuka). 

Metode dialektika biasanya diimplementasikan di kelas ini; para siswa dibebaskan untuk berdiskusi dan didorong untuk membantah atau memberi argumen kepada gurunya. Di level ini hampir semua murid telah memiliki keterampilan argumentasi abstrak dan mereka dilatih untuk mengembangkan kepercayaan dirinya.
Puncak proses pembelajaran ini adalah perolehan ijazah (lisensi) dari salah satu mujtahid yang diakui (terkemuka). Selain itu, murid ini juga diharapkan dapat menulis karya tulis mengenai fikih atau ushul fikih yang kemudian akan dipresentasikan kepada seorang mujtahid—yang akan memberi pertimbangan akan murid tersebut dan karyanya.

Berdasarkan evaluasi ini, mujtahid tersebut akan mengeluarkan ijazah, yang menandai keotoritasan murid itu untuk melakukan ijtihad. Dengan cara ini, para murid membangun karir mereka berdasarkan hubungan mereka dengan guru mujtahid tertentu. 

Ketika mereka menerima ijazah yang membuatnya menjadi seorang mujtahid, gelar kehormatan Ayatullah biasanya dilimpahkan kepada mereka. Seorang ayatullah yang diakui sebagai marja al-taqlid biasanya menerima gelar Ayatullah al-Uzma atau Grand Ayatullah (Ayatullah Akbar). Istilah umum bagi seorang mujtahid bercita-cita tinggi ialah hujjatul Islam. Hirarki ulama Syiah itu bertingkat-tingkat; di level tertinggi ada Grand Ayatullah, dengan jumlah yang sangat sedikit dan mereka telah memainkan peran penting di sepanjang sejarah. 

Berbeda dengan hawza ilmiyyah, sistem madrasah di Qum adalah sebuah transformasi dari sistem klasik, mengadopsi sistem pendidikan modern dalam susunan tingkatan/jenjang, kurikulum, pembelajaran kelas, dan peraturannya. Madrasah non tradisional diselenggarakan untuk memberikan kebutuhan yang tidak disuplai oleh sistem tradisional. Mengenai kurikulum, mereka mengkombinasikan ilmu agama dan ilmu umum yang dihadirkan melalui versi sedikit penyederhanaan dari pelajaran tradisional. 

Tidak seperti sistem tradisional, sistem madrasah tidak dimaksudkan untuk melatih siswa menjadi mujtahid tetapi membentuk mereka menjadi cendekiawan dan dai. Tipe pendidikan yang inovatif ini telah memberikan sebuah jalan alternatif bagi para murid yang, apa pun alasannya, tidak dapat mengikuti sistem pendidikan tradisional di hawza ilmiyyah. Banyak pelajar internasional, termasuk dari Indonesia, yang mengambil program ini. 

Republik Islam Iran telah membuat inovasi pendidikan di hawza ilmiyyah Qum melalui ICIS yang mengkoordinasikan program untuk pelajar asing, menempatkan mereka ke madrasah-madrasah serta memonitor kebutuannya di dalam kerangka menyebarkan ilmu dan pelajaran Islam secara global.
Madrasah Imam Khomeini misalnya, memberikan program berdasarkan pada sistem berjenjang termasuk level sarjana maupun pasca sarjana yang setara dengan pendidikan di sistem pendidikan modern. Inovasi semacam ini membuat hawza ilmiyyah Qum membuatnya menjadi institusi pendidikan terkemuka di dunia Islam.    

Terdapat pelajar Indonesia di kedua sistem pendidikan tersebut. Kelompok pertama dari pelajar Indonesia terdaftar di Dar al-Tabligh al-Islami, institusi modern yang didirikan pada tahun 1965 oleh Ayatullah Muhammad Kazim Shari’atmadari (1904-1987). Institusi ini memang terkenal akan ketersediaannya menerima pelajar asing dan pengaturan visa serta perijinan tempat tinggal mereka. 

Berlangsung selama lima tahun, institusi ini berjalan dengan sistem kredit dan kurikulum yang memasukkan pengetahuan agama dan ilmu-ilmu umum seperti psikologi, filsafat, sosiologi, matematika, dan bahasa Inggris. Di sana komunikasinya menggunakan bahasa Arab. Tetapi institusi ini tidak mengikuti sistem pembelajaran tradisional, meskipun sangat dikelilingi sistem hawzah tradisional. Oleh karena itu mereka mengikuti sistem pendidikan modern formal meski para pelajarnya dibebaskan untuk masuk ke kelas atau perkuliahan yang diberikan oleh sistem hawza ilmiyyah. 

Setelah pembubaran Dar al-Tabligh di tahun 1981, karena adanya oposisi mengenai konsep wilayah al-faqih yang diterapkan oleh Khomeini, Madrasah Hujjatiyya mengambil alih persediaan dari program yang sama bagi pelajar-pelajar asing. Sejak 1982 hampir seluruh pelajar Indonesia yang telah pergi ke Iran masuk ke Madrasah Hujjatiyyah, termasuk seorang ustaz terkemuka Husein Shahab, yang ditransfer ke madrasah tersebut setelah menempuh studi selama dua tahun di Dar al-Tabligh. 

Madrasah ini didirikan pada tahun 1946 oleh Ayatullah Muhammad Hujjat Kuhkamari (1892-1963), seorang ulama besar sekaligus murid dari Abdul Karim Ha’iri (w. 1936), tokoh revormis hawza ilmiyyah Qum. Tidak seperti Dar al-Tabligh, sekolah Hujjatiyyah mengikuti sistem pendidikan tradisional yang lazim digunakan di hawza ilmiyyah. Hampir semua pelajar Indonesia yang menjadi ustaz Syiah di Indonesia hanya menyelesaikan level persiapannya (tingkat pertama). 

 Walaupun sebagian besar dari pelajar Indonesia terdaftar di institusi ini, tetapi ada juga sebagian kecil dari mereka yang belajar di Madrasah Mu’miniyyah, yang juga memberikan pelayanan pendidikan kepada pelajar asing. Madrasah ini didirikan pada tahun 1701 di masa dinasti Savawi, Sultan Husein. 

Institusi ini dibangun kembali oleh Grand Ayatullah Shihab al-din Mar’ashi-Najafi (w. 1991) yang dikenal akan perannya dalam mendirikan sebuah perpustakaan besar di Qum yang menyediakan buku-buku dan manuskrip berkualitas. Madrasah ini merumuskan sistem dan kurikulum khususnya sendiri yang didasarkan pada bahan-bahan mereka sendiri, daripada berdasarkan pada buku-buku teks yang telah terakui. Berbeda dengan Hujjatiyyah, sekolah Mu’miniyyah melarang para pelajarnya untuk menghadiri perkuliahan agama dan halaqah dari sistem hawzah tradisional. 

Yang paling baru, ada pembentukkan kembali pendidikan di Qum dan sejumlah besar pelajar Indonesia telah terdaftar di sana yang bernama Madrasah Imam Khomeini. Sejak tahun 1996, madrasah ini didirikan untuk menjadi pusat pendidikan utama bagi pelajar-pelajar internasional. 

Didirikan setelah kematian pemimpin revolusi Iran, madrasah ini menjalankan sistem pendidikan modern dalam program dan kulikulumnya, meski masih melibatkan banyak karakter tradisionalnya sistem hawzah. Institusi ini menyediakan program sarjana dan pasca sarjana untuk berbagai jurusan spesialisasi dalam lingkup ilmu-ilmu keagamaan. 

Alumni-alumni awal Qum seperti Umar Shahab, Husein Shahab, dan Ahmad Baragbah, telah menjadi figur Syiah terkemuka dan telah berkontribusi dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan budaya, di Indonesia. Dengan demikian dapat terlihat bahwa para alumni Qum merupakan unsur penting dalam pembentukan kelompok Syiah di Indonesia.  

sumber gambar: www.jaser-leonheart.blogspot.co.id, www.parstoday.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar