Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 9)



Jiva Agung
Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Husein Shahab
Di era kontemporer, Husein Shahab merupakan ustaz Syiah yang paling termasyhur di Indonesia. Dia lahir di Palembang, Sumatera Selatan 27 Desember 1961 dan dia pun seorang sayyid. Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan di kampung halamannya. Ia menamatkan pendidikan aliyyah di Pesantren Ar-Riyadh, sebuah institusi Islam yang dikenal dijalankan oleh orang-orang Arab di Palembang. Pada saat tu, dia memiliki hubungan yang dekat dengan pemimpin pesantren dan guru di sana, Sayyid Ahmad Al-Habsyi, yang juga memiliki link dengan ulama Syiah lain, termasuk Husein Al-Habsyi. 

 Husein melanjutkan studi di hawza ilmiyyah di Qum, Iran. Keputusannya memilih Qum karena ia memiliki relasi yang baik dengan Ahmad Al-Habsyi, yang memelihara hubungan dengan ulama di Iran, dan juga atas informasi dari saudaranya, Umar Shahab, yang telah terlebih dahulu studi di sana. 

Husein Shahab pergi ke Qum pada bulan September 1979 atas dasar pertimbangan pendidikan dibanding atas kepentingan sektarian. Dia melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan yang prestisius, sesuatu yang mungkin hanya menjadi impian bagi pelajar-pelajar Indonesia. Fakta bahwa Qum merupakan pusat pendidikan Syiah baginya hanyalah alasan yang kedua saja. Ketika nyantri di Pesantren Ar-Riyadh dia telah mempelajari buku-buku karangan ulama Syiah seperti kitab Makarim al-Akhlaq tulisan al-Tabrasi, tetapi yang mengubahnya menjadi Syiah adalah ketika ia sekolah di Qum. 

Di sana ia mendaftar ke Darul Tabligh al-Islami, sebuah institusi pendidikan yang terkenal bagi para pelajar non Iran. Sekitar selama dua tahun ia mengikuti sistem modern yang ditawarkan oleh institusi tersebut. Sebagaimana yang diberitahu sebelumnya, Darul Tabligh ditutup oleh negara Iran. Pemimpinnya, Grand Ayatullah Shari’atmadari secara formal diturunkan statusnya dari marja’ al-taqlid pada bulan April 1982. Husein Shahab pun memiliki pengalaman buruk pada saat penggerebekan sekolah Islam yang dilakukan oleh militer Iran. Pendidikannya di Qum terhenti dan di taun 1982 ia kembali ke Palembang. 

Setelah setahun di Palembang, Husein Shahab sekali lagi pergi ke Qum. Kali ini ia menuju Madrasah Hujjatiyyah, institusi lain yang menawarkan program pendidikan bagi pelajar asing tetapi selagi ia terdaftar di dormitori institusi, dia tidak mengikuti pendidikan formalnya. Malah, ia memutuskan untuk berpartisipasi di dalam pembelajaran melingkar, sebuah halaqah yang diadakan oleh seorang Ulama di Qum. Di kota pendidikan dan spiritual ini, beragam materi keagamaan ditawarkan melalui pembelajaran halaqah pada saat fikih menjadi materi yang mendominasi sistem pendidikan hawzah ilmiyyah. 

Husein Shahab memulai menghadiri perkumpulan fikih dan kemudian memindahkan orientasinya ke materi filsafat Islam dan ilmu-ilmu lain. Partisipasinya di halaqah tersebut membuatnya dapat belajar di bawah panduan sejumlah ulama dan cendekiawan terkemuka di Qum. Di antara guru fikihnya adalah Ayatullah Hasan Zawakhiri dan Ayatullah Syaikh Muhammad al-Nuri. Dia belajar tafsir Alquran di bawah bimbingan Ayatulla Javadi Amuli (lahir 1930), doktrin Syiah di bawah panduan Ayatullah Sayyid Adil al-Alaqi dan sejarah Islam di bawah bimbingan Ayatullah Sayyid Ja’far Murtad al-Amili (lahir 1945). Ia menyelesaikan studi di Qum tahun 1986. 

Spesialisasi keilmuannya ada pada ranah pemikiran Islam. Di tahun 1994 dia mengambil studi master (S2) di International Institute for Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Kuala Lumpur, institusi pendidikan tinggi yang didirikan dan dipimpin oleh Nuqaib Al-Attas. Di sini ia mengembangkan ketertarikan akedemiknya dengan melakukan penelitian dan mengikuti perkuliahan yang disampaikan olah para pemikiran muslim kontemporer, termasuk cendekiawan liberal dari Iran, Abdul Karim Soroush. 

Di tempat ini ia tidak menyelesaikan studinya, dipaksa untuk meninggalkan Malaysia setelah tiga tahun di sana. Pemerintah Malaysia melarang keberadaan Syiah di negaranya karena terlihat bertentangan dengan praktik Sunni yang merupakan mayoritas di Malaysia. Saya (Zulkifli) diberitahu bahwa ketika Husein Shahab berada di Malaysia, polisi mengejarnya karena keyakinan Syiah-nya, meskipun ia tidak secara aktif menyebarkan mazhab ini. Banyak Syiah Indonesia yang percaya kalau Husien Shahab sebernarnya lulusan ISTAC. 

Karirnya sebagai seorang ustaz dimulai sekitar lima tahun setelah studi di Iran. Di masa kembalinya ke Indonesia, ia pergi ke Bandung untuk bergabung dengan Yayasan Muthahhari yang didirikan oleh Jalaluddin Rakhmat. Di antara tahun 1991-1994 dia menjadi seorang ustaz besar di yayasan tersebut. Di periode ini Jalaluddin Rakmat dan keluarganya menghabiskan waktu setahun di Qum, meninggalkan Husein Shahab yang mengambil beberapa tugasnya, termasuk memimpin ritual keagamaan, memberi khutbah (ceramah) dan memberi kuliah untuk beragam program dakwah dan pendidikan. Transkip-transkip tulisan dan ceramahnya di periode ini didistribusikan melalui Al-Tanwir, sebuah majalah dakwah dari Yayasan Muthahari. Sejak saat itu, popularitas Husein Shahab sebagai seorang alumni Qum dan ustaz diakui secara luas oleh umat Syiah di Indonesia. 

Sejak taun 1999, dia memilih untuk tinggal di Jakarta, tempat di mana sejumlah umat Syiah tinggal. Dengan modal budaya yang diperoleh melalui pendidikan keagamaannya di Qum dan Kuala Lumpur, Husein Shahab mulai mendirikan karirnya dengan melibatkan diri di sejumlah aktivitas dakwah dan pendidikan. Dia menjadi seorang penceramah populer dan menarik perhatian para pemimpin dari institusi-institusi Islam, ditunjuk menjadi dosen di beberapa institusi Islam, baik Sunni maupun Syiah, termasuk Paramadina, Madina Ilmu College for Islamic Studies, IIMan Centre, Yayasan Taqwa Nanjar dan al-Batul. 

Selain itu ia juga terlibat di dalam program keagamaan di beberapa stasiun tv dan radio nasional. Dia merupakan seorang ustaz terkemuka di Indonesia, yang pernah hadir di aktivitas nasional Syiah. Dia mengajar dan memberi ceramah di lebih dari 20 institusi Islam. Dengan sejumlah program dakwah, ia menjadi salah seorang ustaz yang dapat tinggal dengan nyaman di Jakarta. 

Posisinya sebagai seorang ustaz sekaligus pemimpin di komunitas Syiah, Husein Shahab juga berpartisipasi dalam pendirian institusi Syiah. Dia merupakan salah seorang pendiri slamic Cultural Centre (ICC) Al-Huda. Program dari institusi ini termasuk publikasi, pengajaran, ceramah. Tetapi keterlibatannya di institusi ini hanya berjalan selama setahun. Kemudian ia mendirikan Yayasan Fitrah berkolaborasi dengan Omar Shihab yang menjadi sebuah pusat pelatihan sufisme di Jakarta. 

Husein Shahab juga berpartisipasi dalam pendirian Forum Al-Husaini di tahun 2004. Forum bagi kalangan ustaz dan intelektual yang tinggal di Jakarta ini merupakan sebuah perkumpulan baru, aktif di dalam kegiatan dakwah termasuk sesi dzikir berjamaah ala praktik sufi dan dai, atau program pelatihan bagi kalangan pemimpin dakwah. 

Mengenai pencapaian intelektualnya, Husein Shahab telah memproduksi beberapa karya ilmiah. Hampir semua berhubungan dengan sufisme dan filsafat Islam. Betapapun, buku pertamanya yang diterbitkan tahun 1988, adalah Jilbab mengenai apa yang dikatakan oleh Alquran dan hadis mengenai persoalan ini. Tulisan ini berdasarkan pada dua buah teks (dengan judul yang sama) yang ditulis oleh Abu Al-A’la Maududi dan Murtada Mutahhari. Buku Husein Shahab ini mencoba untuk menawarkan sebuah perspektif baru perihal kontroversi penggunaan jilbab di era orde baru masa kepemimpinan Soeharto. Dia menganalisis bukti tekstual dari Alquran dan hadis, juga menggunakan argumentasi rasional untuk mendukung kewajiban pemakaian jilbab bagi perempuan. Bukunya yang lain adalah sebuah panduan praktik haji yang berjudul Cara Memperoleh Haji Mabrur: Tuntunan Ahli Bayt Nabi yang diterbitkan pada tahun 1995. 

Tulisannya mengenai sufisme termasuk dua buah seri Dialog-Dialog Sufi yang berisi cerita-cerita menarik tentang pertanyaan yang timbul dari murid dan dijawab oleh guru-guru sufi. Buku terakhirnya, diterbitkan tahun 2002, adalah Seni Menata Hati: Terapi Sufistik. Buku ini mencoba untuk memberi sebuah model sufi untuk “mendiagnosa” dan “mengobati” karakter buruk, yang dihubungkan pada “penyakit hati” seperti kekikiran, kesombongan, dan kedengkian, yang merusak sifat dasar manusia dan menumpulkan kepatuhan kepada perintah Tuhan. Dengan mengikuti model ini, umat beriman akan dapat meraih tangga spiritual yang telah didapat oleh para sufi, wali, dan orang-orang suci, dalam pencarian menjadi insan kamil, manusia sempurna. 

Tulisan-tulisannya yang lain juga diterbitkan oleh beberapa majalah seperti Al-Tanwir (Yayasan Mutahhari), Al-Jawad (Yayasan Al-Jawad), dan Al-Huda (ICC Al-Huda). Salah satu teksnya mengenai kehidupan Fatimah, puteri rasulullah, yang dikategorikan sebagai sosok sufi perempuan. Menurut analisisnya, dan sebagaimana yang juga telah dipercayai oleh banyak orang, Fatimah dapat berkomunikasi dengan malaikat. Komunikasi-komunikasi ini dikumpulkan oleh suaminya, Imam Ali, yang dikenal sebagai Mushaf Fatimah. Artikel lainnya dapat ditemukan dalam terbitan antologi seperti Kuliah Tasawuf dan Belajar Mudah Ulumul Al-Quran. 

Karakteristik keintelektualitasannya pun dapat dilihat dari kerja penerjemahannya atas buku-buku berbahasa Arab dan Persia. Dia menerjemahkan buku fatwa-fatwa karangan Abul al-Qasim Khoei dan Pesan Nabi Terakhir tulisan Ali Akbar Sadeqi. Tetapi terjemahan paling populernya ialah Thumma Itadaytu tulisan Muhammad al-Tijani yang diterbitkan tahun 1991 di Malaysia. Seperti versi aslinya yang tersebar luas ke dunia muslim, versi terjemahannya pun yang berjudul Akhirnya Kutemukan Keberanaran dibaca luas oleh masyarakat muslim Indonesia. Menarik untuk dicatat karena buku ini merupakan salah satu buku terlarang yang ditandai oleh negara bagian Johor, Malaysia, yang dikeluarkan pada November 2002. 

Pencapaian intelektualnya tak perlu dipertanyakan. Dia merupakan prototype dari seorang dai yang sukses. Dia mengubah modal budaya dan sosial yang telah diakumulasikan ke modal ekonomi menjadi sesuatu yang esensial untuk memelihara hidupnya sebagai seorang ustaz. Meskipun dia diafiliasikan oleh banyak institusi dakwah dan pendidikan, tidak ada satu pun institusi yang cukup kuat untuk menjadikan dirinya menjadi seorang pemimpin Syiah yang menggantikan sosok Husein Al-Habsyi, yang sangat disokong oleh pesantrennya sendiri.       

Sumber gambar: www.youtube.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar