Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 8)



Jiva Agung
Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

A.    Husein Al-Habsyi (1921-1994)
Husein Al-Habsyi merupakan seorang pemimpin yang diakui luas dalam perkembangan Syiah di Indonesia. Di masa hidupnya, kepemipinannya diakui oleh semua kalangan Syiah. Sejak kematiannya pada tahun 1994, posisinya tidak dapat diisi/diganti oleh ustaz atau intelektual sekarang. Husein Al-Habsyi, atau al-ustaz al-Habib al-Syaikh Husein bin Abi Bakar al-Habsyi—sebagaimana ditulis oleh muridnya Muhsin Husein di dalam artikelnya yang berjudul Al-Isyraq (sebuah majalah yang dikeluarkan oleh institusi pendidikannya)—menjadi salah satu ulama Syiah Indonesia paling terkenal setelah peristiwa revolusi Iran. 

Lahir di Surabaya 21 April 1921, Husein Al-Habsyi adalah anak kedua adari sebuah keluarga Arab bergelar sayyid. Sangat sedikit diketahui mengenai kehidupan keluarganya. Tetapi dikatakan bahwa ayahnya meninggal ketika Husein masih berumur enam tahun sehingga ia tinggal dengan pamannya, Muhammad bin Salim Baraja, seorang ulama terkemuka, dan kemudian menjadi kepala sekolah Hadramaut Surabaya. Baraja juga menjadi editor di majalah bulanan al-Iqbal di kota yang sama. Selain itu, dia pun memiliki link yang kuat dengan tokoh Syiah Abu Bakr bin Shahab (pernah dideskripsikan di bagian pertama). Pendeknya, Husein Al-Habsyi tumbuh di lingkungan yang agamis. 

Dia memulai studinya di Madrasah Al-Khairiyyah, salah satu sekolah Islam tertua sekaligus terkenal di Surabaya yang didirikan oleh ulama Syiah Muhammad al-Muhdar. Kami diceritakan bahwa di umur yang kesepuluh Husein Al-Habsyi merupakan seorang partisipan aktif di perkumpulan keagamaan yang memberikannya ilmu-ilmu keislaman, termasuk fikih, akidah, dan akhlak. Di umur yang ke dua belas, dikatakan bawa ia telah dapat membaca buku-buku berbahasa Arab seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, salah satu buku klasik terkenal perihal akhlak dan sufisme yang digunakan di Indonesia. 

Tidak ada informasi yang sempurna mengenai siapa gurunya ketika ia berada di Surabaya, tetapi laporan dari anak dan murid-muridnya mengungkapkan bawa selain diajar oleh pamannya, dia juga terpengaruh oleh ulama keturunan Hadramaut, termasuk Muhammad Baabud, Abdulqadir Bilfaqih, dan Abubakar Asseggar dari Gresik. Dia juga belajar dengan ulama Maroko, Muntasir al-Kattani dan seorang guru dari Palestina, Muhammad Raba’a Hasuna dari sekolah Al-Khairiyyah. 

Pengetahuan keislaman Husein Al-Habsyi juga didapat dari institusi luar negeri. Bersama saudara laki-lakinya, Ali Al-Habsyi, dia melanjutkan studi ke Johor, Malaysia. Salah seorang guru yang berpengaruh di sana ialah Habib Alwi bin Tahir al-Haddad, seorang mufti dari kesultanan Johor (1939-1961). Di sana Al-Habsyi juga belajar di Sekolah Al-Attas. Murid-muridnya datang dari berbagai wilayah di Malaysia, beberapa di antara mereka di kemudian hari menjadi ulama terkemuka. 

Dilaporkan juga bahwa dia pun pergi ke Hadramaut untuk mengambil pendidikan Islam sebelum pindah ke Arab Saudi, tempat di mana ia menetap selama sekitar dua tahun. Kemudian di tahun selanjutnya ia pergi ke Najaf, Irak, mengambil studi Islam ke ulama-ulama besar termasuk Sayyid Muhsin al-Hakim (w. 1970).
Dia kembali ke Malaysia dan menikahi anak pamannya, Fatimah binti Abdurrahman Al-Habsyi, yang dengannya ia dianugerahi beberapa anak. Setelah tinggal di Malaysia selama beberapa tahun, Husein Al-Habsyi mengajak keluarganya kembali ke Surabaya, tempat di mana ia terlibat dalam aktivitas islamisasi dan pendidikan. 

Modal kultural Husein Al-Habsyi, membuatnya dapat menjadi seorang cendekiawan sekaligus guru agama di dalam umat muslim. Dengan pengetahuan yang ia peroleh di Indonesia, Malaysia, dan Timur Tengah, membuatnya menjadi seorang ustaz yang memiliki kedudukan penting di sekolah-sekolah Islam. 

Bukan hanya itu, ia pun telah mulai mengajar di umur yang relatif muda, ketika ia masih menjadi seorang murid, yakni di umur 15 tahun. Dia mengajar selama dua tahun (1936-1938) di almamaternya, Sekolah Al-Khairiyyah. Ada juga periode di saat ia aktif terlibat di dalam dunia perpolitikan. Dia pernah bergabung ke Masyumi, partai muslim terbesar di era orde lama masa pemerintahan Soekarno. Ini membuatnya dapat berkenalan bukan hanya dengan pemimpin berpangaruh Masyumi seperti M.Natsir (w. 1993), Kasman Singadimedjo, dan Sjafruddin Prawiranegara (w. 1989) tetapi juga dengan figur politik Indonesia lainnya. Dia pun terpilih menjadi seorang anggota konstituante di konferensi Masyumi ke-8 di Bandung, 22-29 Desember 1956 dan di dalam majelis konstituante dia terpilih menjadi ketua Komisi Hak Asasi Manusia. 

Seperti mayoritas pemimpin Masyumi, dia pun dikenal memiliki sikap yang negatif terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI). Di tahun 1954 dia berpartisipasi di dalam pendirian Front Anti Komunis yang dibentuk untuk perlindungan dari penyebaran pergerakan komunis di orde lama.

Tetapi keterlibatan Husein Al-Habsyi di dalam arena politik tidak lama. Ada beberapa alasannya, dan yang paling terpenting adalah karena Masyumi dilarang aktif di bulan Agustus 1960 sebagai hasil dari sikap oposisinya dengan Soekarno dan demokrasi terpimpin Masyumi pun terlibat dengan gerakan separatis PRRI. 

Kekecewaan dengan perkembangan politik setelah runtuhnya Masyumi, ia menghentikan semua aktivitas politiknya, alih-alih ia mendedikasikan hidupnya ke pendidikan Islam dan dakwah. 

Baginya perkembangan Islam sungguh tidak bisa dilakukan melalui politik praktis; dia percaya bahwa hal tersebut hanya dapat dilakukan melalui jalur pendidikan. Perubahan pandangan ini sangat signifikan di dalam konteks era orde baru, di mulai pada tahun 1966, yang mengimplementasikan sebuah peraturan depolitisasi Islam. 

Kemudian program-program mempromosikan budaya, pendidikan, dakwah Islam, menjadi garda depannya. Tetapi kita perlu ingat bahwa pengalaman politik singkatnya jelas memiliki dampak pada posisi selanjutnya sebagai seorang ustaz Syiah; dia memperoleh modal sosial yang penting dengan memelihara koneksi yang baik dengan pensiunan pemimpin politik semacam Natsir.  

Husein Al-Habsyi kembali ke posisinya sebagai seorang ustaz di sekolah Al-Khairiyya di Surabaya, tempat di mana dia memberi bimbingan kepada siswa dan pengembangan pada sekolah. Kemajuan karirnya tidak hanya karena komitmennya pada pendidikan Islam tetapi juga karena pengetahuan keagamaannya yang komprehensif, kecakapannya dalam manajerial, dan koneksi sosialnya. Dia menjadi ketua cabang Al-Khairiyyah yang berlokasi di Bondowoso dan memimpin sekolah tersebut selama beberapa tahun.

Di periode ini, dikatakan bahwa pandangannya sangat dipengaruhi oleh ideologi Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi yang didirikan oleh Hasan Al-Bana (w. 1949). Pelarangan Masyumi dan depolitisasi Islam di bawah kekuasaan Soeharto menyebabkan banyak para pemipin Masyumi beralih ke ideologi Ikhwanul Muslimin. 

Al-Habsyi menjadi pengikut sebuah gerakan yang disebut “fundamentalis” dan membuat jalinan dengan para pemimpinnya dan ulama-ulama besar Timur Tengah lainnya, seperti Yusuf Qaradawi (lahir 1926) dan Muhammad Ghazali. Dia berkeliling ke Arab Saudi, Mesir, Kuwait, Libia, Irak, dan Iran untuk bertemu dengan ulama-ulama tersebut selain untuk mengumpulkan donasi baik dari individu-individu maupun dari organisasi Islam untuk pengembangan pendidikan di Al-Khariyyah dan komunitas muslim pada umumnya.
Dia mencoba untuk mengimplementasikan ideologi Ikhwanul Muslimin, memelihara sikap negatif terhadap sekulerisme dan Barat di dalam sistem pendidikan Al-Khairiyyah. Tapi, disiplin dan peraturan keras yang dipaksakan kepada para guru dan santri di sekolah tersebut mengakibatkan mayoritas dari mereka menolak pendekatan fundamentalisnya. Akibatnya terjadi konflik antara Al-Habsyi dengan para guru madrasah, juga dengan ulama sayyid di Bondowoso. Dia dipaksa untuk meninggalkan Al-Khairiyyah dan Bondowoso ke Bangil, tetapi banyak santri yang mumpuni, bersimpati dan mengikuti pandangannya. 

Di tahun 1976, Husein Al-Habsyi mendirikan institusi pendidikan Islam bernama Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Bangil. Pesantren ini telah menjadi pusat penting pengajaran Islam bagi umat Syiah di Indonesia. Sebagai seorang terpelajar dengan pengetahuan keislaman yang komprehensif, Al-Habsyi merumuskan program pendidikannya sendiri. Prinsip-prinsip dan pendekatan pendidikan Islamnya mengikuti model Ikhwanul Muslimin yang mengombinasikan disiplin dan peraturan keras dengan sikap anti Barat. Ia menganggap bahwa ini merupakan model yang terbaik. 

Sebagai seorang pemimpin YAPI yang bertanggung bagi pekembangan dan kemajuannya, dia tidak hanya bertugas mengatur institusi tetapi juga memberi bimbingan di dalam beberapa ranah keilmuan Islam, khususnya bahasa Arab, tafsir dan ushul fikih. Selain itu ia juga termasuk seseorang yang proaktif membentuk kader. Dia meyakini bahwa kerangka berpikirnya mengenai pembentukan dan pembangkitan semangat keberagamaan bagi para siswa/santri merupakan suatu hal yang esensial sehingga mereka akan dapat terlibat dalam mempertahankan dan memperjuangkan Islam serta umat muslim. Berjalannya waktu, YAPI dan pemimpinnya telah diakui secara luas tidak hanya oleh ulama Indonesia tetapi juga ulama di Timur Tengah. 

Upaya Husein Al-Habsyi di ranah pendidikan agama cukup sukses. Di bawah kepemimpinannya, pesantrennya menjadi institusi pendidikan Syiah paling terkenal di Indonesia. Dibuktikan dari para alumninya yang dapat melanjutkan studi ke berbagai negara seperti Iran, India, Pakistan, Mesir, Arab Saudi, Suriah, dan Qatar. Ini karena tingginya standar kecapakan dalam bahasa Arab dan pelajaran ilmu-ilmu keislamannya, juga karena jaringan yang dibangun dengan ulama dari berbagai negara. 

Sebagaimana yang telah disampaikan di bagian pertama, dia terpilih sebagai seorang penyeleksi pelajar yang ingin belajar ke Qum dan sampai kematian menjemputnya di tanggal 14 Januari 1994, dia merupakan orang yang paling dipercaya oleh pemimpin dan ulama Iran atas tanggung jawabnya dalam pertumbuh kembangan pendidikan dan dakwah Syiah di Indonesia. Sejumlah besar alumni YAPI, setelah studi di Iran, menjadi ustaz di institusi keislaman dan terlibat di dalam dakwah. Sebagian dari mereka bahkan kembali ke YAPI untuk bekerja di sana. 

Husein Al-Habsyi merupakan seorang dai populer. Dia memberi kuliah agama dan khutbah di masjid-masjid di Bangil, Surabaya, Gresik, Jember, dan kota-kota lain di Jawa secara kontinu. Dia pun adalah seorang orator ulung, dapat memikat pendengarnya dengan suguhan pemahaman keislaman yang luas sampai pada tentang perkembangan mutakhir dunia Islam, dan kemampuannya dalam menggunakan teknik-teknik komunikasi modern di dalam perkuliahannya. 

Komitmennya pun membuatnya memperluas wilayah aktivitas dakwah dan pendidikan Islam sampai ke area-area terpencil, termasuk Irian Barat, Timor Timur, dan Maluku, semua tempat di mana Islam sangat minim pemeluknya. Di wilayah-wilayah tersebut, tujuan aktivitasnnya ialah untuk memberi ceramah di masjid dan berkomunikasi dengan guru-guru (agama) untuk mendiskusikan masalah sosial keagamaan yang dihadapi oleh umat muslim minoritas itu. Di beberapa tempat ia mendirikan pesantren yang pada pendirian pesantren pertamanya itu awalnya merupakan cabang dari YAPI tapi belakangan menjadi institusi independen. Sejumlah alumni YAPI dikirim untuk mengajar di sana. Salah satu institusinya adalah Nurul Tsaqalain yang berlokasi di Hila, Maluku Tengah, didirikan pada tahun 1989. 

Kapan tepatnya Husein Al-Habsyi pindah ke Syiah masih belum jelas. Murid dan anaknya mengungkapkan bahwa itu terjadi pasca revolusi Iran, tetapi ada kemungkinan bahwa dia telah mengenal doktrin-doktrin Syiah sebelum peristiwa tersebut. Salah seorang pendiri Al-Khairiyyah, Muhammad al-Muhdar (w. 1926) merupakan seorang Syiah dan dikenal menjadi seorang penyebar doktrin Syiah di Indonesia, sehingga cukup memungkinkan bahwa beberapa aspek ajaran Syiah tersebar di kalangan guru dan murid di madrasah.
Sekolah Al-Khairiyyah seringkali dikunjungi oleh ulama Timur Tengah untuk mendiskusikan ajaran Islam, termasuk doktrin Syiah, bersama dengan para guru dan muridnya.  Tercatat pula bahwa Husein Al-Habsyi terlibat dalam diskusi-diskusi dengan seorang cendekiawan Syiah dari Irak yang datang berkunjung ke Al-Khairiyyah di awal tahun 1960-an, dan diketahui bahwa dia belajar selama beberapa waktu dengan Grand Ayatullah Sayyid Muhsin al-Hakim, seorang marja al-taqli ddi Najar, Irak. 

Tetapi murid-murid Al-Habsyi mengungkapkan bahwa ketertarikan awalnya ialah dalam pemahaman yang mendasari revolusi Islam Iran. Menurut Muhsin Husein, ini sebenarnya merupakan kemenangan Khomeini atas kekuatan Shah dan bukan karena doktrin Syiah, yang pertama kali membuatnya tertarik. Ketertarikannya pada kemenangan ini menimbulkan rasa penasaran dan hasrat bagi pemahaman yang lebih mendalam mengenai ideologi apa yang ada di balik revolusi tersebut, yang berakar kuat pada doktrin imamah, yang merupakan prinsip fundamental dari para penganut Syiah yang diyakini oleh mayoritas masyarakat Iran. Masih menurut Muhsin Husein, Al-Habsyi memiliki relasi yang besar untuk memperoleh buku-buku Syiah agar dapat mengembangkan pemahaman kesyiahannya. Salah satu upayanya ialah dengan membangun kontak dengan kedutaan Iran di Jakarta dan dengan ulama-ulama di Iran. Kedutaan Iran di Jakarta ini mendistribusikan buku-buku dan majalahnya, Yaumul Quds, secara bebas kepada yayasan-yayasan Islam dan pribadi-pribadi yang tertarik padanya. Melalui bahan-bahan cetak dan komunikasi personal dengan figur-figur di Iran, pengetahuannya mengenai ajaran dan perkembangan Syia di dunia semakin luas. Bahkan ia seringkali diundang menjadi partisipan di pertemuan ulama-ulama Syiah di Iran. 

***

Ia mencoba untuk mempertahankan ajaran-ajaran Syiah dengan penekanan bahwa Syiah memang merupakan sebuah mazhab yang benar dan pemeluknya pun seorang muslim tulen. Tetapi faktanya, sebagaimana Syiah diizinkan untuk melakukan taqiyyah di dalam sebuah lingkungan permusuhan, dia bahkan mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Sunni.

Sejak awal 1980-an, Husein Al-Habsyi memuji secara terbuka atas terjadinya peristiwa revolusi Iran dan membayar penghormatan yang besar kepada Imam Khomeini dengan aktivitas-aktivitas dakwah yang dilakukannya di berbagai masjid yang ada di beberapa kota seperti Surabaya, Malang, dan Bangil, semuanya dengan tujuan mebangkitkan semangat keberagamaan di dalam umat Islam. Pada gilirannya ia memperoleh respek dari mayoritas muslim di wilayah-wilayah tersebut, khususnya dari kalangan pemuda, yang menganggapnya sebagai seorang ulama sekaligus pemimpin ideal. Betapapun, ia pun mendapat reaksi permusuhan dari kelompok anti Syiah ketika ia telah dikenal umum sebagai seorang ustaz Syiah. 

Posisinya sebagai seorang ustaz yang berpengaruh dapat dilihat dari pencapaian intelektualnya yang dimulai dari umur-umur awalnya. Selain mengajar dan memimpin sekolah-sekolah Islam dia pun menulis dan menerjemahkan beberapa buku Islam ke dalam bahasa Indonesia. Pernah ia terlibat dalam polemik dengan salah seorang reformis Sunni terkemuka, Ahmad Hasan (1887-1958) dari organisasi Persatuan Islam (Persis) yang pada bulan April 1956 pernah menerbitkan sebuah buku berjudul Risalah al-Mazhab yang menyatakan bahwa mengikuti suatu mazhab tertentu seperti Syafi’i adalah terlarang. Dia pun menulis buku Halalkah Bermazhab? 

Dalam merespon kedua buku tersebut, Al-Habsyi membuat sebuah tulisan kritis dengan judul Lahirnya Mazhab yang Mengharamkan Mazhab. Polemik ini berlanjut dengan publikasi buku bantahan dari Ahmad Hasan berjudul Pembela Islam di bulan Januari 1957. Lalu di bulan April di tahun yang sama, Al-Habsyi menulis buku kritikan lain berjudul Haramkah Orang Bermazhab II yang di dalamnya ia meyakini bahwa mengikuti sebuah mazhab tertentu sangat ditetapkan oleh Alquran, As-Sunnah, dan ijmak ulama.  

Dalam bentrokan gagasan yang berlangsung lama dan berulang-ulang ini, kedua penulis ini saling menuduh (satu sama lain) tidak memiliki pengetahuan keislaman yang mumpuni dan suka menghilangkan pandangan yang tidak mendukung argumen mereka. Akhirnya keduanya setuju untuk melakukan debat publik untuk menghasilkan keputusan akhir. Sayangnya perdebatan tidak pernah terjadi. 

Para pendukung Ahmad Hasan menuduh kalau Al-Habsyi menghindar dari perdebatan tersebut. Tetapi Al-Habsyi mengklaim bahwa Mohammad Natsir, salah seorang petinggi Persis, telah menasihatinya untuk tidak terlibat di dalam perdebatan tersebut karena hal itu akan menimbulkan konflik dan perpecahan di dalam internal umat muslim. Pernyataan ini didukung oleh salah satu kolega dekatnya O.Hashem.  

Husein Al-Habsyi bukanlah termasuk seseorang yang puas untuk tetap berdiam diri. Di tahun 1979-1980 dia terlibat lagi dalam polemik teologis dengan kelompok reformis yang sama, kali ini mengenai literatur maulid dan konsep Nur Muhammad yang diterbitkan oleh Al-Muslimun, sebuah badan Persis di Bangil. Perlu dicatat bahwa ada kontroversi di kalangan ulama mengenai dasar konsep ini sebab persoalan ini merupakan sebuah peristilahan yang sentral di dalam pemikiran Sufi dan Syiah, melebihi pandangan/status Nabi Muhammad yang hanya sekadar manusia biasa. “Muhammad dengan demikian bermetamorfosis menjadi cahaya transenden, seperti matahari, di mana segala sesuatu yang diciptakan berputar.” 

Suherman Rosjidi menulis sebuah artikel yang mengkritisi konsep tersebut yang baginya bertentangan dengan Islam, baik secara akal sehat maupun secara historis. Rosjidi juga menyampaikan bahwa konsep ini sebenarnya diadopsi dari ajaran Kristen dan Hindu. Mereaksi hal ini, Al-Habsyi menulis sebuah artikel di Al-Muslimun, mempertahankan konsep Nur Muhammad ini dengan memberi basis hadis. 

Polemik ini terus berlanjut. Penulis reformis lain, Imron A. Manan menyangkal pandangan Al-Habsyi, mengklaim bahwa Nur Muhammad tidak ada di dalam Alquran maupun hadis. Sekali lagi, Al-Habsyi meresponnya di dalam majalah yang sama, menyatakan bahwa Nur Muhammad itu diberitakan di dalam Alquran surat Al-Maidah ayat 15 dan banyak hadis, juga telah dikonfirmasi oleh sejumlah ulama. Dia juga meminta Manan untuk membenarkan klaimnya bahwa hadis-hadis tersebut berstatus lemah. 

Manan menulis kritik lain yang diarahkan langsung terhadap artikel Al-Habsyi dan terhadap buku yang ditulis oleh Abdullah Abdun. Al-Muslimun juga menerbitkan sebuah artikel Abu Hasyim yang mengkritik Manan. Akhirnya, di edisi yang sama, dewan redaksi majalah tersebut memutuskan bahwa perdebatan perlu dibawa ke permukaan, menimbulkan kesimpulan dan catatan akhir yang menyokong pandangan Nur Muhammad versi Persis (Manan), menegaskan klaim bahwa konsep itu berdasarkan hadis yang kuat yang bertentangan dengan Alquran itu sendiri. 

Aktivitas intelektual Husein Al-Habsyi juga ditandai dengan publikasi sejumlah buku mengenai ajaran Syiah. Di buku kecil mengenai tafsir Alquran (surat Abasa 1-10) pada halaman 34 menjadi salah satu publikasi paling kontroversial bagi hubungan Sunni-Syiah di Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1991 dengan judul Benarkah Nabi Bermuka Masam? Tafsir Surat Abasa, pandangan utama buku ini adalah bahwa Nabi Muhammad, yang diyakini sebagai makhluk paling sempurna dan terjaga dari dosa kecil maupun besar, tidak mengerutkan dahi dan berpaling dari si buta Abdullah bin Ummi Maktum yang meminta nasihat nabi ketika nabi sedang berbincang-bincang dengan salah seorang petinggi kafir Quraish. 

Al-Habsyi menegaskan bahwa orang yang hadir pada pertemuan yang mengerutkan dahi dan berpaling adalah Al-Walid bin al-Mughirah, seorang kafir yang kejam dari Mekkah. Opini ini sangat berbeda dengan penafsiran Alquran yang dibaca dan didistribusikan secara luas di Indonesia. Ini juga bertentangan dengan pandangan mayoritas ulama Sunni yang percaya bahwa orang yang bermuka masam itu adalah nabi. Untuk alasan-alasan ini, kontroversi yang ada di buku ini memang tidak mengejutkan. 

Buku ini pun mendapat reaksi dari beberapa orang, termasuk tulisan dari Ibu Mursyid di dalam Al-Muslimun pada Januari 1992 dan sebuah buku yang ditulis oleh Ja’far Umar Thalib, ketua Laskar Jihad. Dalam merespon kritik-kritik ini, Al-Habsyi menulis karya ilmiah lain untuk meneguhkan kembali pandangannya terhadap kesempurnaan Nabi Muhammad: bahwa dia terbebas dari melakukan perbuatan buruk yang berarti bahwa dia tidak mungkin mengerutkan dahi dan memalingkan diri dari pengikutnya ketika mereka meminta wejangan. Tulisan tersebut berjudul Nabi SAW Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam terbit pada tahun 1992. 

Agak terkejut dengan keterangan di atas sebab ia mempromosikan ide ukhuwah islamiyyah antara Sunni dan Syiah di dalam sebuah buku yang berjudul Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah Islamiyyah: Menjawab Dua Wajah Slaing Menentang Karya Abul Hasan Ali Nadwi. Buku ini menjadi terkenal. Al-Habsyi mengkritisi tulisan Ali Nadwi karena terlah mendistorsi ajaran-ajaran Syiah meski buku tersebut juga diarahkan kepada siapa pun yang membuat kesalahan yang sama dalam membuat perbedaan-perbedaan antar mazhab. 

Al-Habsyi mendemostrasikan kelemahan-kelemahan pemahaman mengenai Syiah yang ditulis oleh para ulama maupun cendekiawan Sunni yang tulisannya tidak merefleksikan pemahaman yang mendalam dan mumpuni, bahkan mengandung kesalahpahaman yang serius. Kritik-kritik tersebut pun tidak secara tepat berhubungan dengan masalah-masalah yang sebenarnya disetujui oleh mayoritas ulama Syiah. 

Kelemahan kedua dari buku-buku tulisan ulama dan cendekiawan Sunni ialah penggunaan sumber yang mereka digunakan, hanya mengutip bagian-bagian yang mereka setujui saja. Kelemahan ketiga adalah kepercayaan mereka terhadap penafsiran mereka sendiri tanpa mengakui eksistensi interpretasi mujtahid Syiah. Secara provokatif, Al-Habsyi berkesimpulan bahwa penafsiran Suuni terhadap ajaran-ajaran Syiah umumnya berdasarkan pada nafsu dan kebencian. 

Dia menyeru kepada ulama Sunni untuk berhenti mendistorsikan ajaran-ajaran Syiah, berhenti memfitnah dan menjustifikasi Syiah sebagai sebuah kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya. Al-Habsyi menyeru pada ulama dan cendekiawan Sunni untuk menyelenggarakan workshop atau konferensi yang dihadiri oleh kedua belah pihak (Sunni-Syiah) sehingga mereka dapat berkesempatan untuk berbicara mengenai berbagai macam persoalan polemik. 

Tidak diragukan lagi kalau ulama Syiah akan mempersiapkan diri berpartispasi dalam setiap pertemuan untuk menunjukkan bukti kevalidan mazhab mereka yang dapat memuaskan penganut Sunni. Tujuan dasarnya ialah supaya umat muslim dapat bersatu dan hubungan mereka dapat semakin kuat dan dekat. Tentu, kami sangat berharap atas realisasi pendekatan ini dan menuntut persatuan dibanding perpecahan.

Jika kondisi ini terealisasikan, kedua mazhab ini akan dapat hidup dalam  keharmonisan, penuh toleransi, dan saling bekerjasama. Selanjutnya tidak akan ada ketakutan lagi dari kelompok minoritas terhadap mayoritas Sunni karena mereka menjadi pelindung bukan menindas. 

Buku lain Husein Al-Habsyi, Sunni Syiah dalam Dialog berasal dari rekaman dialog yang diselenggarakan bersama mahasiswa UGM dan UII. Di dalam buku ini, Al-Habsyi menjelaskan sejumlah argumentasi seperti tuduhan bahwa Syiah kafir dan pengutuk para sahabat nabi, juga mengenai keabsahan hadis Ghadir Khum atas penunjukkan Ali bin Abi Thalib sebagai imam pertama pengganti rasulullah.

Sebagaimana di tulisannya yang lain, ia mempraktikkan taqiyyah. Tidak hanya ia mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Sunni tetapi dia juga mengutip sumber-sumber Sunni untuk mendukung kevalidan ajaran-ajaran Syiah. Hal ini, ungkapnya, agar supaya “serangan yang diarahkan kepada konsep imamah-nya Syiah dapat diakhiri, karena tidak ada perbedaan dalam masalah-masalah prinsipil di antara kedua mazhab ini.” 

Di dalam tulisannya, dia juga menyeru untuk mengakhiri tindakan saling mengutuk satu sama lain alih-alih malah memberi perhatian yang besar terhadap persoalan sosial, ekonomi, dan budaya, yang dihadapi oleh umat muslim.    

Kegiatan intelektual lainnya dapat terlihat dari upaya penerjemahannya termasuk buku terjemahan berjudul Pendekatan Sunnah Syiah dan Injil Barnabas Kristen yang diterbitkan oleh YAPI di Surabaya. Dia juga memberi kita sebuah kamus Arab-Indonesia berjudul Kamus al-kautsar Lengkap, edisi pertama terbit tahun 1977 oleh YAPI Bangil. Kamus berhalaman 564 ini telah dicetak ulang beberapa kali, termasuk dua kali oleh Thinker’s Library di Selangor, Malaysia. 

Tulisan-tulisan ini mengonfirmasi posisi Al-Habsyi kalau ia memang seorang ustaz Syiah terkemuka. Di dalam dirinya kami menemukan pemikiran keagamaan yang dia arahkan kepada para pengikutnya. Tulisan-tulisannya pun menegaskan peran kepemimpinannya dalam upaya penyebaran ajaran-ajaran Syiah di Indonesia. Dan kontribusi terbesarnya terhadap umat Syiah Indoesia ialah pendirian YAPI, sebuah pesantren yang telah bersinonim dengan namanya. Ia mendedikasikan pengetahuan dan waktunya untuk pesantren tersebut dan pengaruhnya itu menyebar ke luar YAPI. 

Di tahun 1980-an ketka umat Syiah masih berada di fase awal perkembangannya, Al-Habsyi masih berumur enam belas tahun. Dia menggunakan ikat kepala (surban), sebuah simbol lahiriah seseorang pembelajar ilmu agama. 

Dia memiliki akumulasi modal ekonomi, sosial, dan budaya yang bertransformasi ke dalam modal simbolik, yakni, pengakuan posisinya sebagai seorang ustaz terkemuka, pemimpin pesantren dan pemimpin umat Syiah di Indonesia. 

Sumber gambar: www.pustakamuhibbin.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar