Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 7)



Jiva Agung
Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Para Pemimpin
Sekarang, tidak ada sosok tunggal yang dianggap sebagai pemimpin oleh seluruh kalangan Syiah Indonesia. Kelemahan figur sentral ini bermula pada, sebagiannya, pemisahan bentuk dan perkembangan dari kelompok ini sebagaimana yang telah dideskripsikan di bagian pertama. Tetapi para pemimpin ini dapat diklasifikasikan ke dalam dua tipe: para ustaz dan intelektual, sama halnya dengan pembagian antara (istilah) ulama dengan intelektual di kalangan umat muslim pada umumnya. 

Ulama, yang juga dikenal dengan berbagai peristilahan seperti kiai di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ajengan di Jawa Barat, tengku di Aceh, dan tuan guru di sebagian Sumatera, Kalimantan, dan Lombok, merupakan produk dari institusi pendidikan Islam. Sedangkan kaum intelektual berasal dari universitas-universitas umum.
Posisi dari kedua kalangan ini telah didiskusikan oleh banyak cendekiawan termasuk Steenbrink. Pembagian antara keduanya yang merupakan sebuah upaya untuk menjembatani gap antara mereka di dalam istilah pengetahuan dan kepemimpinan, telah menjadi fokus besar para intelektual muslim Indonesia. 

Pada bagian ini saya akan menguji karakteristik umum dari dua tipe pemimpin ini. Kemudian saya akan menganggap Husein Al-Habsyi dan Husein Shahab sebagai ustaz sedangkan Jalaluddin Rakhmat sebagai tokoh intelektual Syiah terkemuka. Potret yang akan dipaparkan di sini berfokus pada unsur-unsur penting kepemimpinan: latar belakang pendidikan, profesi, pengalaman kepemimpinan dan pengetahuan keislaman.

A.    Ustaz dan Intelektual
Secara tradisional, istilah ustaz berarti guru agama. Umumnya menunjukkan pada seseorang yang mengajar di institusi tradisional pengajaran Islam (pesantren), di sekolah Islam formal (madrasah), dan di perkumpulan keagamaan (pengajian). Di dalam struktur kepemimpinan pesantren, istilah ustaz biasanya diarahkan pada pengajar yang belum mendapat posisi tinggi keulamaan atau kiai (pemimpin pesatren). Posisi mereka di bawah kiai di dalam hirarki ini. Tetapi di kalangan Syiah Indonesia, pengertian ustaz bermakna seorang pemimpin institusi Syiah dan guru agama. Faktanya, istilah ini telah digunakan untuk diarahkan pada ulama dan pemimpin dari kelompok masyarakat muslim tertentu di Indonesia. Di dalam kasus Husein Al-Habsyi, ia merupakan seorang ustaz yang juga telah mendapat status ulama.  

Mungkin tendensi perkembangan penggunan istilah Arabnya ustaz di Indonesia karena adanya pengaruh kelompok keturunan Arab di dalam aspek keagamaan, pendidikan, dan budaya kelompok Syiah. Tendensi ini juga dapat dilihat di dalam sesuatu yang disebut golongan “skriptualis” dari umat muslim Indonesia secara luas yang juga mengalami peningkatan “arabisasi”; sebagai contoh, di dalam komunikasi-komunikasinya, para skriptualis lebih memilih menggunakan istilah ustaz yang berarti ulama dibanding menggunakan istilah lokal kiai karena penyebutan ini dapat menjadi kerugian dari perspektif tradisi intelektual Syiah internasional sebab terminologi itu mengindikasikan bahwa pendidikan para pemimpin dan cendekiawan Syiah Indonesia tidak sama dengan standar cendekiawan berkualitas lain (di luar negeri). 

Istilah ustaz memberi kesan bahwa seorang pengajar itu belum menerima posisi mujtahid atau marja’ al-taqlid. Di ranah fikih, para ustaz di Indonesia hanya menjadi muqallid (pengikut) dari seorang marja al-taqlid tertentu di Iran atau Irak. Namun demikian, mereka menikmati posisi prestisius di kalangan komunitas Syiah Indonesia.

Para ustaz Syiah memiliki dua karakteristik umum. Pertama, biasanya mereka belajar di institusi di mana beragam ilmu keislaman diperkenalkan. Beberapa di antara mereka belajar ke pesantren yang kemudian melanjutkannya ke hawza ilmiyyah di Qum.

Ada sedikit di antara mereka yang mengambil studi di perguruan tinggi di Indonesia atau di luar negeri. Secara keseluruhan, ini terjadi karena pendidikan mereka di Qum hanya sampai di level muqaddamat (persiapan). Ada juga di antara mereka yang kuliah di IAIN Jakarta, seperti Umar Shahab, Abdurrahman Bima, Muhsin Labib, dan Khalid Al-Walid, yang mengambil studi doktoral di tempat ini.
Yang patut ditekankan di sini ialah pada umumnya para ustaz Syiah merupakan seorang spesialis kajian keislaman dalam pengertian yang klasik. Pendidikan lanjutan di ranah kajian keagamaan berkontribusi meningkatkan keprestisiusan mereka. Betapapun, perlu diperhatikan bahwa ilmu spesialisasi yang mereka geluti berbeda dengan yang diambil oleh para intelektual Syiah Indonesia. 

Kedua, mereka mendedikasikan hidupnya di ranah aktivitas dakwah dan pendidikan di institusi kajian keislaman. Banyak dari mereka yang mendirikan dan menjadi pemimpinnya. Yang lain bergabung ke institusi keislaman sebagai guru agama atau pemandu spiritual bagi para jamaah di institusi tersebut. Hanya ketuanya saja yang memperoleh bayaran tetap, sedangkan para ustaz akan diberi bayara ketika mereka melakukan aktivitas dakwah. Betapapun, mereka begitu dihormati dan menikmati hubungan dekat dengan para jamaahnya.  

Seperti halnya ustaz, kalangan intelektual juga mendapat posisi yang dihormati di dalam komunitas Syiah. Di dalam kehidupan sehari-hari mereka juga diberi gelar “ustaz” sebagai tanda penghormatan.
Intelektual Syiah dapat dibedakan dengan para ustaz dalam beberapa hal: pertama, latar belakang pendidikan mereka berbeda. Secara keseluruhan, para intelektual adalah lulusan dari universitas umum dilatih di berbagai macam ranah ilmu-ilmu umum.

Beberapa intelektual Syiah terkemuka merupakan lulusan universitas ternama, Indonesia maupun luar negeri. Jalaluddin Rakhmat menyelesaikan pendidikan tingginya di jurusan komunikasi Universitas Padjajaran dan mengambil program S2 ilmu komunikasi di Universitas Negeri Iowa, Amerika Serikat. Kemudian dia mendaftar di Australian National University (ANU) untuk mengambil studi ilmu politik, tetapi tidak diselesaikan. 

Haidar Bagir menyelesaikan studi sarjananya di Teknik Industri ITB dan S2 di Filsafat Universitas Harvard. Sekarang dia sedang menulis disertasi doktoralnya di Filsafat UI. Hadi Swastio menyelesaikan studi doktoralnya di United Kingdom. Dimitri Mahayana menyelesaikan studi S1 di ITB, S2 di Universitas Waseda (Jepang), dan S3 Teknik Mesin di ITB. Mereka yang disebut namanya ini tidak pernah mendapat pendidikan agama atau belajar tentang Syiah di institusi pendidikan Islam secara formal, baik di Indonesia maupun luar negeri. 

Secara keseluruhan, mereka mengkaji dan memeluk Syiah ketika masih menjadi mahasiswa atau pasca lulus di universitas tempat di mana mereka aktif di dalam lingkungan keagamaan dan menghadiri perkuliahan di masjid-masjid kampus atau di institusi keislaman yang lainnya. Pengetahuan keagamaan mereka diperoleh melalui pendidikan non formal dan pelatihan-pelatihan di masjid atau di institusi dakwah atau dengan membaca buku juga majalah. Mereka dianggap kurang mumpuni dibanding ustaz di dalam hal pengetahuan Islam tradisional. 

Kedua, umumnya kalangan intelektual hidup di lingkungan yang terlepas dari komunitas Syiah; mereka memberi kuliah di universitas dan institusi pendidkan dan atau terlibat dalam institusi sosial, budaya, dan bisnis. Sebagai contoh, Jalaluddin Rakhmat adalah seorang profesor komunikasi UNPAD sekaligus kepala sekolah Yayasan Mutahhari; Haidar Bagir adalah direktur penerbit Mizan dan bergabung dengan beberapa institusi sosial dan pendidikan; Dimitri Mahayana adalah seorang dosen di ITB. Begitu pun dengan Hadi Swastio yang juga berprofesi sebagai dosen di Sekolah Tinggi lmu Komunikasi, Bandung.

Semua institusi itu berlokasi di Bandung. Sebagai dosen atau pengusaha, kalangan intelektual, dengan pengecualian tertentu, tidak pernah berperan sebagai pengajar agama, pendakwah, atau pemandu di komunitas Syiah. Mereka juga tidak memimpin seremoni di ritual-ritual Syiah. Atas alasan-alasan ini, hubungan mereka dengan jamaah Syiah tidak sedekat antara ustaz Syiah dengan jamaahnya. Sebagai gantinya, mereka membangun posisinya di komunitas tersebut melalui komitmen yang kuat dan memberi kontribusi dalam bentuk bantuan materi, pandangan strategis dan pemikiran kritis. 


Tetapi kami menemukan sejumlah kecil dari mereka yang juga mengambil bagian di dalam memberi panduan dan instruksi keagamaan. Dalam kasus ini ialah Jalaluddin Rakhmat. Walaupun secara umum ia dikenal sebagai figur intelektual penting Syiah Indonesia, aktivitasnya yang sebagai tokoh akademisi sekaligus figur keagamaan bermakna bahwa ia adalah tokoh gabungan intelektual dan ustaz. 


Sumber gambar: www.nasional.tempo.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar