Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 6)

Jiva Agung

Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Konversi ke Syiah

Keberadaan dan perkembangan kelompok Syiah “tradisional”, alumni Qum, dan grup akademisi tidak semuanya terpisah-pisah. Mereka mencoba untuk membangun komunikasi satu sama lain atas dasar berbagai macam alasan, tak kalah penting bahwa sangat wajar sekali jika seseorang mencari keterhubungan dengan kelompok keagamaan yang sepaham.

Dalam proses berpindah ke Syiah, kalangan intelektual dan mahasiswa juga mencoba untuk menyambung kontak atau belajar dengan figur-figur Syiah yang mereka kenal di komunitas Arab di Indonesia. Sebenarnya pola ini bertepatan dengan misi penyebaran dari tokoh-tokoh Syiah untuk menarik pengikut baru dan itulah mengapa terjadi hubungan yang akrab antara Husein Al-Habsyi dengan Jalaluddin Rakhmat. Nama yang terakhir disebut ini menganggap Al-Habsyi sebagai pembimbing agamanya.

Hari ini, kebanyakan ustaz Syiah, baik dari alumni Qum dan non alumni Qum, dan dari kalangan akademisi di Indonesia memiliki keterhubungan dengan muridnya Al-Habsyi atau dirinya sendiri.

Tetapi hubungan antara intelektual Syiah, kelompok akademisi kampus (mahasiswa/dosen), dan ustaz dapat dikatakan kompleks. Ketika ketiga kelompok ini memperbincangkan objek yang sama (penyebaran Syiah) dan hendak menjalin kerjasama satu dengan yang lainnya, kadang perselisihan mewarnai hubungan mereka.

Meski Syiah “tradisional” adalah dari keturunan Arab, alumni Qum, dan grup akademisi kampus, dapat dikategorikan sebagai bentuk utama dari komunitas Syiah Indonesia, tetapi di dalam kelompok itu sendiri terdapat keberagaman dalam status sosio-ekonomi dan etnis asalnya. Dalam persoalan konversi ke Syiah, variabel-variabel ini tidak muncul sebagai faktor penentu, sebab di sana akan ditemukan penganut Syiah dari masyarakat ekonomi bawah hingga kelas atas, juga dari berbagai macam etnis. Hanya saja kami menemukan fakta bahwa sangat sedikit yang berkonversi ke Syiah berasal dari latar belakang non-muslim. Juga, perpindahan ini bisa terdapat dari kalangan berlatar belakang aliran keagamaan tradisionalis maupun reformis, komunitas mainstream maupun sekte muslim minoritas.

Unsur penting di dalam umat Syiah adalah kehadiran “mualaf” syiah dari kelompok keagamaan yang diperselisihkan yang dianggap oleh mayoritas Sunni sebagai kelompok sesat seperti Islam Jama’ah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Kelompok Islam Isa Bugis, Jamaah Tabligh, dan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII). Meski semua grup ini pada faktanya tergolong Sunni, tetapi mereka dianggap sesat dan memiliki status yang sama dengan Syiah.

Umat Syiah yang berlatar belakang Islam Jama’ah dapat ditemukan di Jakarta, Palembang, Malang, Makassar, dan kota lain. Sebagian kecil dari mereka dulunya telah menjadi ketua nasional atau regional dari sekte tersebut, dan mereka menggunakan atau memanfaatkan posisi itu untuk mengkonversi beberapa pengikut mereka ke Syiah. Secara umum, mereka menjalani posisi penting di dalam kelompok barunya (Syiah), meski mendapat pertentangan dari kelompok asalnya.

Unsur penting lain di umat Syiah Indonesia datang dari pergerakan DI/NII. Sejumlah besar Syiah dari wilayah Jawa Barat hari ini adalah (dulunya) dari anggota resmi pergerakan ini, khususnya dari area-area kekuasaan IX yang dipimpin oleh Abu Toto. Mereka tersebar di beberapa tempat termasuk Bandung, Cianjur, Sukabumi, Garut, Serang, dan Tangerang.

Hanya sedikit dari mereka yang berasal dari anggota resmi Jama’ah Tabligh, yang dapat ditemukan di Jakarta, Makassar, dan tempat-tempat lain di Jawa. Sedangkan “mualaf” Syiah dari mantan grup Isa Bugis, sebagaimana yang diobservasi oleh Syamsuri Ali, ditemukan di Jakarta.

Konversi terjadi ketika seseorang atau sekelompok orang menemukan alasan lebih, serta memperoleh kumpulan ajaran keagamaan yang benar. Istilah “konversi agama” merupakan sebuah fenomena kompleks yang melibatkan dimensi intelektual dan emosional.

Berdasarkan klasifikasi Rambo, konversi dari Sunni ke Syiah dapat, dalam sebuah level tertentu, diklasifikasikan sebagai “transisi institusi”, melibatkan perubahan seseorang atau sekelompok orang dari satu komunitas ke komunitas lain tapi masih di dalam sebuah tradisi besar yang sama. Transformasi inter-denominasi ini dapat juga diistilahkan sebagai “konversi internal”.

Perlu dicatat bahwa tidak ada tata cara eksternal (dari luar/asing) dari Sunni ke Syiah, tidak seperti sebuah konversi dari non-muslim ke Islam, di mana “mualaf” perlu memproklamirkan pengakuan iman, “Tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Deskripsi di atas (di dalam komunitas Syiah) menunjukkan tiga cara interkoneksi dari sebuah konversi: pertama melalui pendidikan dalam pengertian yang paling luas, yakni sebuah transfer pengetahuan dan nilai. Kedua, konversi ke Syiah dapat terjadi melalui ikatan kekeluargaan dan persahabatan. Cara ketiga ialah melalui pembacaan literatur keislaman.

Konversi ke Syiah yang dilakukan oleh orang Indonesia keturunan Arab sebelum terjadinya revolusi Iran dapat masukkan ke kategori yang pertama dan kedua, tetapi cara-cara ini mengarakteristikkan proses konversi di kalangan grup lain juga. Pendidikan telah menjadi cara yang paling penting dalam mengonversikan seseorang ke Syiah.

Setelah revolusi Iran, sejumlah ustaz Syiah dari komunitas sayyid melanjutkan penyebaran Syiah ke kalangan umat muslim dengan skala yang lebih besar melalui institusi pendidikan Islam tradisional.

Di saat mayoritas pesantren memainkan peran penting dalam menjaga ideologi Sunni tradisional (Dhofier 1999), ada pula sedikit kehadiran kelompok yang menyebarkan ajaran-ajaran Syiah. Karena para pendiri dan pemimpin pesantren relatif memiliki otonomi dalam mengorganisir konten kurikulum dan bahan ajar, hal tersebut akhirnya bisa memberikan kesempatan kepada guru agama Syiah mengatur institusinya dan menanamkan ideologi keagamaan mereka sendiri.

Contoh yang patut dicatat di sini ialah Husein Al-Habsyi, yang menarik beberapa pengikutnya melalui institusinya, YAPI. Dia dapat mengoneksikan grup Syiah “tradisional” dengan orang yang berkonversi ke Syiah setelah peristiwa revolusi Iran. Sejumlah keluarga dan keturunan  dari Syiah “tradisional” belajar dengan Husein Al-Habsyi di YAPI, yang memberi mereka panduan buku-buku dan bahan ajar Syiah. Banyak dari mereka yang berkonversi ke Syiah di masa belajar, dan setelah masa belajar selesai, sejumlah besar alumni YAPI telah menjadi ustaz Syiah, menyebarkan ajaran Syiah ke seluruh Indonesia.

Sebagaimana yang telah dideskripsikan di atas, beberapa kalangan telah mengambil pengajaran keislaman di Qum dan kembali (ke Indonesia) menjadi seorang ustaz terkemuka. Ini adalah cara konversi ke Syiah melalui pesantren. Konversi selama studi di Qum yang dialami oleh pelajar juga termasuk ke dalam cara ini.

Ketika konversi ke Syiah dari kalangan grup kampus universitas lebih lazim terjadi melalui pendidikan Islam non formal dan belajar otodidak, cara konversi di lingkup pesantren sangat tergantung pada pemimpin pesantrennya, yang memperkenalkan ajaran-ajaran Syiah, memberi arahan dan bahan bacaan kepada para santrinya. Tidak seperti mahasiswa yang menghabiskan kebanyakan waktunya pada ilmu-ilmu umum, para santri mendedikasikan hidupnya untuk belajar pengetahuan keislaman, dan pada umumnya memiliki pengetahuan yang lebih komprehensif akan Islam dan Syiah.

Di lingkungan pesantren mereka tidak hanya belajar tentang Syiah tetapi juga mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun mereka menerima stimulus itu, sebagaimana yang terjadi di kalangan mahasiswa, proses konversi juga membutuhkan bacaan literatur-literatur Syiah.

Konversi ke Syiah juga sering terjadi melalui kekeluargaan, yakni atas dasar garis darah, pernikahan, dan melalui ikatan persaudaraan/persahabatan. Sudah lazim bagi mereka untuk menyebarkan ajaran Syiah ke anak-anak mereka, dan jika memungkinkan, juga ke saudara dan rekan-rekan mereka. Sebelumnya telah kami deskripsikan bagaimana figur keturunan Indonesia Arab menjaga kontinuitas kesetiaan mereka kepada Syiah.

Beberapa sanak famili Husein Al-Habsyi juga telah menjadi ustaz Syiah terkemuka. Pun melalui cara pernikahan, sering direkomendasikan bagi pemuda (Syiah) untuk menikahi perempuan Sunni dan mengubah mereka—ke Syiah—supaya dapat meningkatkan jumlah pemeluk Syiah. Cara-cara konversi seperti ini saling berhubungan satu sama lain sebagaimana yang telah dipaparkan di atas. 

Woodberry mengidentifikasi dua cara lain konversi ke Syiah: konversi individual dan konversi kolektif. Konversi di kalangan intelektual, akademisi kampus (mahasiswa dan dosen), dan santri dilakukan secara personal sedangkan konversi di kalangan grup “heretik”  dilakukan secara berjamaah. Mengenai konversi individual, biasanya dilakukan melalui pembacaan buku-buku Syiah dan partisipasi dalam diskusi di institusi pendidikan mereka.

Sedangkan konversi di dalam grup “heretik” seringnya merupakan sebuah hasil dari perdebatan antara figur-figur Syiah dengan mentor grup mereka mengenai doktrin fundamental di dalam Islam, seperti perihal imamah. Ali menulis: “tetapi secara konseptual, kepercayaan mereka dikalahkan oleh argumen-argumen konsep imamah Syiah, sehingga kekalahan mereka di persoalan konsep telah membuat mereka mengubah—dengan senang hati—mazhab awalnya ke mazhab Syiah.”
Telah lazim disetujui bahwa aspek intelektual dan filsafat Syiah menjadi daya tarik pertama bagi “mualaf” Syiah di Indonesia. Bahkan sudah sangat umum bagi beberapa mahasiswa dan dosen yang tertarik pada aspek-aspek intelektual dan doktriner Syiah. Mengenai hal ini Rakhmat menulis:

“mayoritas simpatisan Syiah berasal dari kalangan kampus. Kebanyakan dari mereka juga tertarik pada Syiah sebagai alternatif kehadiran pemikiran keislaman. Pada saat mereka tertarik pada, misalnya, teori kritik di grup neo-marxis, mereka menemukan kesamaannya pada pemikiran Syiah, seperti yang dimiliki oleh Ali Shariati. Konsep-konsep ‘kiri’ seperti nasib kaum tertindas, pedagogi para tertindas, atau struktur korup, memiliki kesamaan di dalam Islam, dengan istilah mustad’afin dan misi Nabi Muhammad melawan tirani.” 

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dan berhubungan dekat dengan kutipan di atas, konsep imamah Syiah merupakan sebuah doktrin yang paling bertanggung jawab menarik para mahasiswa, kalangan cerdik cendikia, dan anggota grup “heretik” untuk memeluk Syiah. Imamah menjadi topik penting di dalam diskusi dan pelatihan yang diselenggarakan di usrah (kajian melingkar), HMI, dan grup “heretik”. Imamah di dalam Sunni tidak sekrusial pandangan Syiah, sehingga mahasiswa dan para intelektual harus beralih ke buku-buku Syiah untuk menemukan pemahaman yang komprehensif.

Konsep imamah ini pun dijunjung tinggi oleh beberapa grup “heretik” khususnya Islam Jama’ah dan NII. Para“mualaf” dari grup ini mengakui bahwa alasan mereka pindah ke Syiah karena mereka merasa konsep imamah versi Syiah ini lebih benar dibanding versi pemahaman grup mereka.

Sebagai contoh, Muhammad Nuh (umur 65 tahun), bercerita kepada saya (Zulkifli) bahwa dia dulu sering menjadi pemimpin wilayah Islam Jama’ah di Sumatera Selatan, Lampung, dan Bengkulu dan aktif menebarkan ajaran-ajarannya di tempat itu. Kepindahannya ke Syiah terjadi setelah berpartisipasi dalam sebuah diskusi mengenai imamah dengan ustaz-ustaz Syiah di Palembang, termasuk alumni Qum terkemuka, Umar Shahab.

Muhammad Nuh menjelaskan bahwa ia menerima pandangan imamah-nya Syiah karena termaktub di dalam kitab al-shahih karya Bukhari, kitab hadis Sunni paling otoritatif dan merupakan sumber utama doktrin imamah versi Islam Jama’ah. Pada waktu yang bersamaan, Nuh menyadari ajaran imamah versi Islam Jama’ah telah dimanipulasi oleh pendirinya untuk alasan-alasan personal. Seorang Syiah mantan pemimpin Islam Jama’ah dari wilayah lain juga memberikan pandangan yang sama. Senada dengan seorang Syiah, mantan anggota NII yang juga meyakini doktrin imamah dan hal ini cocok dengan konsep yang dipercayai Darul Islam sebagai imam.

Seseorang yang tertarik pada aspek doktrin dan intelektual Syiah tetapi tetap mengikuti fikih Sunni tidak dapat dikategorikan sebagai perpindahan yang sesungguhnya. Akan bisa dianggap Syiah, mereka perlu menerima perbuatan-perbuatan yang digarisbawahi di hukum (fikih) Ja’fari. Menurut Jalaluddin Rakhmat, ketika “mualaf” Syiah membuat perpindahan orientasi dari aspek doktrinal dan intelektual menuju aspek fikih, ini dibutuhkan untuk alasan politis sebagai bentuk reaksi atas umpatan dan serangan dari Sunni, khususnya di dalam publikasi-publikasi Arab Saudi. Dalam pandangan Rakhmat, motivasi utama dari grup Syiah untuk mengkaji fikih (Ja’fari) adalah supaya dapat membuktikan ketidakvalidan pandangan anti Syiah.

Saya juga diceritakan bahwa bagi seseorang yang awalnya tidak berpikir kalau dirinya adalah Syiah diberi motivasi untuk belajar setiap aspek Syiah setelah dilabeli Syiah oleh kelompok anti Syiah. Atas beberapa hal yang tak dapat dihindarkan, orang-orang ini berlanjut menjadi pemeluk Syiah yang sesungguhnya, menjalankan semua aspek fikih Syiah. Perlu dicatat ada juga yang mencoba memahami hukum (fikih) Syiah atas alasan keagamaan, untuk alasan mempraktikkan ritual-ritual Syiah di kehidupan menurut fikih Ja’fari. Mengenai hal ini para alumni Qum, sekembalinya ke Indonesia, bisa memberikan tuntunan mengenai persoalan-persoalan tertentu. Mereka pun mendirikan relasi dengan grup-grup Syiah di universitas-universitas.
Bagi “mualaf” Syiah, mazhab ini lebih rasional dan benar dibanding mazhab Sunni yang sebelumnya mereka anut. Mereka merasa Syiah terdiri dari sebuah doktrin keagamaan dan realitas sejarah yang bersatu dalam sistem keagamaan yang terintegrasi.

Zainuddin beserta beberapa koleganya memberikan penjelasan mengapa mereka berkonversi ke Syiah. Pertama, doktrin Syiah adalah keadilan yang berhubungan dengan doktrin imamah, mereka menemukan kecocokan dengan perjuangannya melawan sikap otoriter dari rezim orde baru serta perjuangannya mendirikan pemerintahan yang adil.

Kedua, mereka percaya pada posisi akal (rasio) lebih dihormati di kalangan Syiah dibanding Sunni. Tradisi-tradisi Syiah dianggap memberikan kesempatan dan motivasi lebih untuk melatih akal dalam mengembangkan berbagai ranah pengetahuan.

Ketiga, menunjukkan evolusi keberlanjutan ilmu pengetahuan, pemikiran, dan filsafat, secarak awal kemunculan Syiah yang ditandai oleh munculnya para imam dan ulama yang melawan rezim-rezim penindas; pandangan keagamaan mengenai kebutuhan berijtihad; dan posisi dominan dari tradisi kefilsafatan.

Keempat, mereka menggarisbawahi realita masyarakat modern Indonesia dan kemunculan ulama dan ustaz Sunni yang tak berkualitas, kontras dengan ulama Syiah, khususnya di Iran, dan mereka yang menempati posisi marja’ al-taqlid yang terpilih atas dasar akhlak dan kecerdasan intelektual.

Kelima, mereka percaya kalau pandangan anti Syiah dan penghakiman terhadap Syiah seringkali berupa fitnah dan spekulatif, mengabaikan ajaran Syiah sejati dan fakta-fakta historis.

Melihat dari perspektif-persektif ini, juga dari memperhitungkan karakteristik sosio-psikologis dari “mualaf” Syiah di dalam konteks sosio-politik masyarakat Indonesia, perpindahan ke Syiah dapat dilihat sebagai sebuah protes ganda melawan rezim politik dan kekuasaan keagamaan Sunni.

Para “mualaf” ini menerima Syiah karena mereka menemukan “aspek Syiah mengenai anti pemerintah dan perjuangannya melawan tirani.” Syiah dapat dilihat sebagai agama protes di saat Sunni memilih untuk melegitimasi rezim politik saat itu. Dengan lemahnya penekanan akal dan munculnya otoritas keagamaan yang tak mumpuni, Sunni tidak lagi dilihat sebagai mazhab yang ideal, yang dapat memberikan solusi atas persoalan sosial dan politik atau memberikan tuntunan di dalam pencarian spiritual dan intelektual.

Perpindahan ke Syiah masih berlanjut, sekali pun dengan kecepatan yang lemah. Oleh karenanya, institusi-institusi Syiah didirikan dan berbagai macam metode digunakan agar dapat mempromosikan mazhab ini di Indonesia. 

Sumber gambar: www.selasar.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar