Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 12)



Jiva Agung
Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Imamah
Seperti penganut Syiah di Iran dan tempat lain, Syiah Indonesia percaya pada lima hal fundamental dalam agama (ushul al-din). Mereka tidak mengakui konsep rukun iman versi Sunni. Adapun lima prinsip dasar itu di antaranya: tauhid (keesaan Allah), ‘adl (keadilan Allah), nubuwwah (kenabian), imamah, dan ma’ad (kebangkitan).

Di sini dapat diketahui bahwa tiga di antaranya sama dengan prisip Sunni, yakni percaya pada keesaan Allah, percaya pada nabi Allah, dan kebangkitan setelah kematian. Syiah memiliki kesamaan dengan kelompok Muktazilah perihal konsep keadilan Tuhan, sebuah aliran teologi rasionalis di dalam sejarah Islam awal. Dari perspektif Syiah, tiga hal yang pertama disebut prinsip agama sedangkan imamah dan keadilan merupakan prinsip mazhab. Untuk menjadi seorang muslim, seseorang harus percaya pada prisip-prinsip agama, sedangkan untuk menjadi Syiah, seseorang harus melengkapinya dengan percaya pada imamah dan keadilan.
Seperti Sunni, Syiah percaya pada Tuhan yang esa dan sifat-sifatnya yang sempurna. Tauhid merupakan ajaran inti Islam dan bagi Syiah tauhid menjadi dasar dari cara pandangnya. Mereka juga meyakini bahwa para nabi dipilih oleh Allah pun Muhammad adalah nabi penutup dan pemimpin para nabi yang sempurna. Sama juga dengan Sunni, mereka percaya pada hari pembalasan, di mana seseorang akan mendapat balasan atau hukuman. 

Tetapi berbeda dengan Sunni, mereka sangat menekankan peran sifat adilnya Tuhan (‘adl). Tuhan mustahil berlaku tak adil karena sifat alamiahnya memang adil. Prinsip ini dengan demikian juga menegakkan konsistensi akal karena akal dapat menilai keadilan atau keadilan dalam suatu perbuatan; Jadi, prinsip ini mendapat penekanan yang besar di dalam Syiah. 

Syiah Indonesia juga percaya kalau Alquran yang dimiliki oleh umat muslim hari ini semuanya adalah benar-benar perkataan Tuhan (kalamullah), sebagai wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan merupakan sebuah keajaiban yang Tuhan beri kepadanya. Mereka pun percaya Tuhan menjaga orisinalitas Alquran sehingga tidak mungkin ada penambahan atau pengurangan di dalamnya. Di sisi lain mereka juga percaya kepada hadis sebagai sumber utama ajaran Islam, di urutan kedua setelah Alquran. Yang dimaksud dengan hadis di sini termasuk ucapan dari para Imam. Dengan demikian, hadis diartikan sebagai semua perbuatan dan ucapan empat belas manusia sempurna (Nabi Muhammad, Fatimah, dan dua belas imam) meskipun perbuatan para imam tidak bisa diindependensikan dengan ucapan, perbuatan, dan persetujuan nabi. Inilah konsekuensi dari prinsip kepercayaan Syiah terhadap imamah. 

Bagi mereka, imamah merupakan esensi dari agama yang tanpanya akan menjadi tak sempurna. Inilah prinsip yang membedakan mereka dengan Sunni dan sebenarnya prinsip inilah yang membuat umat Islam terbelah ke dalam mazhab Sunni dan Syiah. Tidak seperti Sunni, Syiah menganggap imamah sebagai suatu urusan agama yang wajib untuk didirikan. 

Di tambah lagi, mereka percaya Nabi Muhammad menunjuk para Imam sebagai penggatinya. Imam adalah sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang yang mengambil alih kepemipinan di dalam suatu komunitas di dalam suatu pergerakan sosial atau ideologi politik atau keilmuan atau bentuk pemikiran keagamaan tertentu. 

Gelar imam menandai kepemipinan keagamaan, spiritual, dan politik, seseorang yang melakukan kewajiban yang sama halnya dengan nabi. Tetapi, berbeda dengan nabi, para imam tidak menerima wahyu Ilahi, meskipun seperti konsep kenabian, imamah berdasarkan atas penunjukkan Tuhan. Sebagaimana nabi ditunjuk oleh Tuhan, para Imam harus dipilih oleh Tuhan melalui rasulnya. “Dengan demikian, nabi adalah utusan Tuhan dan para imam adalah utusannya para nabi.”

Bagi Syiah, kehadiran imam dibutuhkan bagi eksistensi manusia sebab mereka membutuhkan panduan yang terus-menerus. Kehadiran seorang pemimpin atau penguasa sangat berpengaruh dalam kontinuitas sebuah masyarakat. Tanpanya, hak dan kewajiban individu tidak dapat direalisasikan dan ketentraman akan menghilang dari masyarakat. Dengan demikian, setiap orang butuh pemimpin atau imam. 

Sedangkan dari perspektif teologi, filosofi penciptaan manusia oleh Tuhan berdasarkan pada tujuan kesempurnaan. Untuk memperoleh tujuan ini, manusia membutuhkan panduan Tuhan melalui nabinya, tetapi kenabian berakhir dengan kematian Muhammad. Atas alasan ini, umat muslim butuh imam untuk menjadi pemandu dalam persoalan keagamaan juga untuk memberi komentar dan interpretasi Alquran.

Bagi mereka umat muslim bukan hanya membutuhkan para imam, tetapi lebih jauh, mereka juga berkewajiban untuk mengakuinya. Para ustaz dan intelektual Syiah Indonesia juga menyampaikan teks yang menandai kewajiban ini. 

Hadis yang paling populer ialah: “barangsiapa yang meninggal tanpa mengenal imamnya, ia mati layaknya seorang jahiliyah.” Setelah menginterpretasikan Alquran dan hadis, mereka mengklaim bahwa semua bentuk ibadah dan ketundukan kepada Tuhan akan sia-sia tanpa pengakuan kepada para imam meskipun seseorang percaya pada keesaan Allah, nabi-Nya, hari pembalasan, keadilan Tuhan, dan menjalankan segala ajaran Islam, “dia tetap dalam keadaan jahiliyah selama tidak mengakui imam.”  

Syiah Indonesia percaya kalau para imam adalah manusia-manusia terbaik; tentu, imam adalah manusia yang sempurna. Setidaknya ada dua kualitas untuk menjadi seorang imam: pertama, menjadi seorang yang sangat saleh, seluruh hidupnya hanya didedikasikan pada kehendak Allah. Kedua, imam haruslah merupakan seseorang yang berpengetahuan. Hanya dengan kualitas ini para imam dapat membantu manusia lain supaya dapat mencapai kesempurnaan. 

Di dalam keyakinan Syiah, seperti nabi, para imam harus terbebas dari dosa atau kesalahan. Ismah merupakan sebuah daya yang dapat melindungi seseorang dari melakukan dosa atau kesalahan. Husein Al-Habsyi menjelaskan tiga aspek ismah: pertama, ismah merupakan puncak kesalehan karena hamba yang saleh yang selalu bertingkah laku sesuai dengan kehendak Allah akan dapat melindungi dirinya dari dosa dan kesalahan. Kekuatan ismah dapat melindungi dirinya bahkan dari hasrat berbuat dosa dan kesalahan. Kedua, ismah adalah suatu produk pengetahuan. Pengetahuan, secara alami, memiliki kekuatan untuk melindungi manusia terjatuh dalam dosa dan pelanggaran. Ketiga, pengetahuan langsung dari Tuhan sebagai sumber kesempurnaan, memperkenankan seseorang untuk terbuka pada kekuatan kebenaran dan cinta. Al-Habsyi percaya kesalehan dapat menghasilkan pengetahuan mistis yang dapat membuka aspek-aspek supernatural manusia. 

Nabi dan para imam memiliki sifat kemaksuman yang menjamin kevaliditasan, kebenaran, dan kesempurnaan ajaran Islam. Syiah membantah bahwa jika nabi dan para imam tidak suci, manusia akan meragukan misi dan bimbingan mereka. Ini berarti para imam harus diikuti dan dipatuhi: ketaatan ini adalah suatu kewajiban mutlak. 

Selain alasan logis, banyak ayat Alquran dan hadis yang dikutip untuk mendukung pandangan Syiah mengenai kemaksuman para imam. Ayat yang pernah dikutip di atas mengenai kemurnian ahlul bait juga dipahami sebagai penanda kemaksuman para imam yang juga disebutkan dalam hadis tsaqalain.
Syiah menyatakan bahwa Alquran terlindungi dari distorsi dan kesalahan juga tidak ada keraguan akan para nabi yang telah memperoleh dan menyebarkan kitab suci. Jika Alquran terlindungi, ahlul bait dan para imam pun demikian. Sebagaimana dinyatakan oleh hadis, keduanya tak akan bisa dipisahkan sampai hari pembalasan. 

Bagi Syiah sulit dibayangkan bagi manusia untuk memilih imam, alasannya cukup sederhana, karena mereka tidak punya kapasitas untuk melakukan hal tersebut, sebab hanya Tuhanlah yang punya otoritas untuk memilih mereka melalui para nabi-Nya karena hanya Dia yang paling mengetahui siapa hamba yang paling saleh dan berpengetahuan. Di dalam keadilan-Nya, Tuhan menyatakan kepada manusia mengenai imam yang dipilih-Nya. 

Tokoh ustaz dan intelektual Syiah Indonesia memberi bukti tekstual atas penunjukkan para imam yang dilakukan oleh Tuhan; sebagai contoh, salah satu ayat menceritakan bagaimana Ibrahim dipilih menjadi seorang imam dan bagaimana ia meminta Tuhan untuk memilih imam yang akan datang untuk keturunannya. Di tambah lagi, mereka menganggap ada banyak ayat di dalam kitab suci, selain menyeru kepatuhan kepada Allah dan rasul-Nya, menyuruh umat muslim untuk menaati para imam, seperti: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.” Penafsiran Syiah, istilah ulil amri itu maksudnya adalah para imam. 

Para tokoh itu pun meyakini “Ali sebagai imam pengganti Nabi Muhammad yang bagi mereka hal tersebut terucapkan di dalam Alquran dan hadis.” Salah satu ayat berbunyi: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” Menurut penafsiran mereka, ayat ini berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib.
Salah satu sumber mengatakan kalau Abu Dzar yang menceritakan bahwa ketika dia sedang menjalankan salat dzuhur bersama nabi, ada seseorang yang membutuhkan mamasuki masjid meminta pertolongan, tetapi tidak ada satu pun yang memberikannya sesuatu. Ali, yang sedang berada di posisi rukuk, mengarahkan jarinya ke orang tersebut yang kemudian mengambil cincin darinya lalu pergi. Allah memuji perbuatan Ali dan menurunkan ayat yang dikenal luas sebagai ayat wilayah (pelantikan spiritual). Istilah wali identik dengan istilah imam, sebagai pemegang kekuasaan dan kepemimpinan. Sumber dari Sunni maupun Syiah dikutip untuk menegaskan penafsiran ini. Ali Umar Al-Habsyi bahkan mengklaim: “buku-buku tafsir dan hadis Sunni cukup membuktikan kebenaran kejadian ini.”

Lebih lanjut, nabi menunjuk Ali sebagai penggantinya di banyak kesempatan, sejak masa awal kenabian hingga wafatnya. Ini selaras dengan pemahaman Syiah yang mengakui bahwa nabi memiliki perhatian yang besar mengenai kepemimpinan. Dalam setiap ekspedisi militernya, dia menunjuk seorang pemimpin dan setiap ia meninggalkan kota (Madinah) ia menujuk perwakilan. Jadi, bagi Syiah, mustahil bagi Syiah jika nabi wafat tanpa terlebih dahulu menunjuk penggantinya. 

Penggantinya haruslah orang yang paling mumpuni dengan kecakapan memimpin dan membimbing umat muslim, yang tiada lain adalah Ali bin Abi Thalib. Banyak hadis yang menguatkan penunjukkan Ali ini, salah satunya ialah saat perang Tabuk. Nabi berkata kepada Ali: “apakah kamu tidak senang jika posisimu di sisiku sama halnya posisi Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.” Tetapi teks yang paling terkenal ialah hadis Ghadir Khum yang dibawa oleh sejumlah isnad dalam berbagai versi. Salah satunya diriwayatkan oleh Ahmad dari Bara’ bin Azib:

Kami sedang bersama rombongan rasulullah dalam sebuah perjalanan, kemudian kami berhenti di Ghadir Khum. Lalu diminta untuk berkumpul dan duduk di bawah dua pohon besar. Kemudian dia melaksanakan salat dzuhur setelah itu ia mengangkat tangan Ali sembari berkata: “tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih utama dari setiap umat mukmin dibanding diri mereka sendiri?” mereka menjawab: “ya” Ia lanjut berkata: “tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih utama dari setiap umat mukmin dibanding diri mereka sendiri?” mereka menjawab: “ya.” Kemudian dia berkata: “barangsiapa yang menjadikan saya mawla-nya, Ali akan menjadi mawla-nya. Ya Allah, cintailah siapa saja yang menjadikannya mawla dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Bara’ berkata: “setelah itu Umar mendekati dia (Ali) dan berkata, ‘selamat wahai anak Abi Thalib, kamu menjadi pemimpin seluruh umat beriman.’”

Nabi tidak hanya dipercaya telah menunjuk Ali sebagai penggantinya tetapi juga telah menyebutkan nama-nama para Imam setelah sepeninggalannya. Jumlahnya ada dua belas, berasal dari suku Quraish dan dari golongan ahlul bait. Pernyataan ini ada di dalam sumber Sunni maupun Syiah, termasuk dari hadis paling otoritatif Sunni, al-shahih Bukhari dan al-shahih Muslim. 

Para ustaz dan intelektual Syiah Indonesia suka menggunakan sumber-sumber Syiah dan Sunni untuk mengutip sejumlah imam pengganti nabi. Mereka mengutip sebuah hadis al-shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah yang mengatakan bahwa dia mendengar nabi berkata bahwa akan ada dua belas amir (pemimpin), semuanya dari suku Quraish. Ada juga hadis dari al-shahih Muslim yang menyatakan bahwa urusan umat mukmin akan berjalan dengan baik selama dipimpin oleh dua belas orang imam. Jadi, kelompok yang percaya pada dua belas imam biasa disebut Syiah Isna Asyariah (dua belas).
Bagi umat Syiah Indonesia, ada hadis yang mengungkapkan pemberitahuan nama-nama para imam yang diucapakan oleh nabi secara publik dan mendeklarasikan mereka sebagai penggantinya. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib, diikuti oleh kedua anaknya (Hasan dan Husein), diikuti oleh keturunan Husein sampai pada imam yang kedua belas (Muhammad al-Mahdi), seseorang yang ditunggu yang gaib dan tetap tersembunyi.

Dua belas nama itu di antaranya: Ali bin Abi Thalib al-Murtada (w. 40/661), Hasan bin Ali al-Zaki (w.49/669), Husein bin Ali al-Shuhada (w. 61/680), Ali bin Husein Zainal Abidin (w. 95/715), Muhammad bin Ali al-Baqir (w. 115/734), Ja’far bin Muhammad al-Sadiq (w. 148/766), Musa bin Ja’far al-Kazim (w. 183/800), Ali bin Musa al-Rida (w. 2013/819), Muhammad bin Ali al-Jawad (w. 220/836), Ali bin Muammad al-Hadi (w. 254/869), Hasan bin Ali al-Askari (w. 260/875), dan Muhammad bin Hasan al-Mahdi. Hari ini, Syiah mengakui Muhammad al-Mahdi sebagai imam terakhir mereka. Dialah yang ditunggu yang mana kehadirannya diharapakan akan dapat menegakkan keadilan Tuhan di dunia.
Jadi, kepercayaan pada konsep imamah merupakan suatu ciri khas pembeda Syiah—dari Sunni. Tetapi di samping hal tersebut akan menentukan interpretasi mereka terhadap hadis, imamah juga berkontribusi bagi penafsiran Syiah atas ranah hukum (fikih). Sekarang, kekompleksitasan mazhab Syiah yang muncul di dalam pemahaman mengenai Imam Mahdi akan dijelaskan. 

Sumber gambar: www.opinionnigeria.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar