Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 11)

Jiva Agung


Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Mazhab
Sebagai sebuah mazhab yang berbeda di dalam tubuh Islam, Syiah memiliki kumpulan keyakinan dan praktik yang rumit yang terpisah dari Sunni. Bab ini akan berhubungan dengan ajaran-ajaran Syiah yang diyakini dan dipraktikkan oleh Syiah Indonesia dan yang menjadi aspek keagamaan dari identitas mereka.
Bab ini dibuka dengan penjelasan konsep kunci (utama) seperti ahlul bait dan Syiah yang dilanjutkan dengan deskripsi seputar konsep prinsip kepercayaan pada imamah dan al-mahdi. Setelah itu bagian selanjutnya membahas hukum Islam Ja’fari dan beberapa aspek tertentu yang dijunjung tinggi oleh Syiah Indonesia. Kemudian diikuti oleh beberapa aspek eksternal keagamaan Syiah. Akhirnya, saya menguji interpretasi mereka atas konsep taqiyyah dan keadaan pengimplementasiannya.

Mazhab Ahlul Bait
Sebagai sebuah kelompok minoritas yang dicap buruk, Syiah Indonesia telah menanamkan dan mempopulerkan istilah dan konsep Islam yang common kepada seluruh umat muslim, meskipun penafsiran mereka sangat berbeda dengan pemahaman Sunni. Sebagai pengganti istilah Syiah, ahlul bait atau yang lebih tepatnya mazhab ahlul bait, lebih umum digunakan oleh kelompok Syiah Indonesia ketika mendeskripsikan diri mereka dan Syiah menggambarkan diri mereka sebagai “pengikut” dan terkadang “pencinta ahlul bait”. 

Istilah ahlul bait juga digunakan untuk membedakan Syi’ah dan Syi’isme dari Sunni dan mazhab Sunni, yang biasa dikenal sebagai ahlus sunnah wal jamaah. Promosi istilah ini penting sejak terminologi Syiah memiliki konotasi yang negatif di kalangan muslim yang menganggap hal tersebut sebagai sebuah sekte yang terpisah dari ajaran Islam ortodoks (pada umumnya). “Syi’isme akan baik jika istilah itu diganti dengan “ahlul bait”, ucap Jalaluddin Rakhmat. Peningkatan penggunaan istilah ini diharapkan bahwa kepercayaan dan praktik Syiah memperoleh pengakuan, dan Syi’isme menjadi mazhab Islam yang diterima, berdampingan dengan mazhab mayoritas Sunni Indonesia lainnya. 

Secara harfiah, kata “ahlul bait” berarti “orang rumah”, rumah tangga rasulullah. Seperti Syiah di luar negeri, Syiah Indonesia memiliki penafsiran yang berbeda (mengenai istilah ahlul bait) dengan Sunni yang memasukkan istri-istri nabi ke dalam kelompok ahlul bait. Bagi Syiah, konsep ahlul bait hanyalah kepada seseorang yang memiliki hubungan darah, yakni terdiri dari nabi Muhammad, anaknya (Fatimah), sepupunya (Ali bin Abi Thalib), dan dua cucunya (Hasan-Husein) sebagaimana yang diberitahu di dalam Hadis al-Kisa ketika nabi menunjukkan ahlul baitnya di tempat umum dengan membentangkan jubahnya kepada mereka, yang disebut dengan ahlul kisa. Di beberapa tulisan Syiah Indonesia, kami menemukan ayat-ayat Alquran dan hadis yang digunakan untuk mempertahankan penafsiran ini. Ayat yang paling sering dikutip ialah: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu hai ahlul bait dan memberihkan kamu sebersih-bersihnya.” Ini dikenal sebagai ayat tathir (pemurnian). 

Dikatakan bahwa sebelum ayat ini diwahyukan, Muhammad menempatkan Hasan, Husein, Ali, dan Fatimah, ke sebilah jubah dan mengatakan: “inilah ahlul baitku.” Ceritanya berlanjut dikatakan bahwa Ummu Salamah, salah seorang istri rasul, meminta jika ia dimasukkan di dalam ahlul bait. Dia (rasulullah) membalas bahwa itu tidak bisa. Jadi, jelas bahwa tidak seperti penafsiran Sunni, bagi Syiah, istri-istri nabi Muhammad tidaklah dianggap sebagai anggota ahlul baitnya. 

Makna kedua dari ahlul bait adalah sama dengan istilah ‘itra, sebuah konsep yang mencakup semua dua belas imam dari Imam Ali sampai Imam Mahdi. Mereka mendasarkan penafsiran ini dari hadis yang di dalamnya nabi mengungkapkan bahwa Tuhan memberi dua buah penjaga dunia, al-thaqalain dan ahlul bait. Meyakini ini akan melindungi muslim dari kesesatan. Di dalam hadis, dua jenis penjaga ini tidak terpisahkan. Nukilan ini bertentangan dengan hadisnya Sunni yang mengutip bahwa Alquran dan as-sunnah sebagai penjaga. Otoritas Syiah Indonesia memaparkan banyak versi hadis tsaqalain, termasuk:

Sungguh, saya meninggalkanmu sesuatu yang jika kamu menjaganya, kamu tidak akan pernah tersesat setelah sepeninggalanku, yang mana satu di antaranya lebih besar dibanding yang lainnya: kitabullah itu seperti sebuah tali yang menggantung dari surga ke bumi dan yang lainnya adalah itrah-ku, ahlul baitku. Keduanya tidak akan pernah terpisah satu sama lain sampai mereka bertemu dengan saya di al-haud. Oleh karenanya, perhatikan bagaimana kalian bersikap terhadap kedua warisan saya ini.
Hadis ini dianggap menjadi salah satu hadis yang paling kuat karena diriwayatkan melalui berbagai isnad. Ali Umar Al-Habsyi, seorang ustaz Syiah yang mengajar di YAPI Bangil, memberikan sejumlah isnad dan versi hadis tsaqalain, menguatkan validitas dan keotentikannya. Mengenai bukti rasional kewajiban meyakini Alquran dan ahlul bait, Al-Habsyi menulis:

Alquran dan ‘itra disebut al-tsaqalain, dua penjaga, karena keduanya merupakan pusaka yang sangat berharga yang ditinggalkan rasulullah kepada umatnya. Keduanya menyimpan pengetahuan, rahasia-rahasia ketuhanan dan sumber informasi syariat Islam. Oleh karena itu, nabi seringkali meminta umatnya untuk mengambil ilmu dari keduanya, meyakini panduan yang dianugerahkannya dan menjadikannya sebagai cerminan di dalam kehidupan mereka.

Selain hadis tsaqalain, ada bukti tekstual lain yang dianggap terdapat kewajiban untuk mengikuti dan mencintai ahlul bait. Hadis safina (bahtera): “ahlul baitku di antara kalian adalah seperti bahtera Nuh. Siapa saja yang naik ke dalamnya maka ia akan selamat dan siapa saja yang di luar (bahtera) itu akan tenggelam.”
Ahlul bait memberikan interpretasi otoritatif dari Alquran setelah kematian nabi. Bagi Syiah, hanya yang mengikuti contoh mereka sajalah yang benar-benar menganut Islam sejati dan yang akan memperoleh keselamatan. Tokoh Syiah Indonesia menggunakan istilah “mencintai ketaatan pada ahlul bait” sebagai sebuah strategi untuk mendorong Sunni supaya segera mengakui kehadiran Syiah tetapi sebenarnya pemaknaan mereka terhadap istilah tersebut tetaplah tidak berubah: bahwa seseorang harus memeluk ajaran ahlul bait. 

Seperti pemeluk Syiah luar negeri, Syiah Indonesia menggunakan istilah Syiah dalam sebuah pengertian yang positif. Mereka meyakini sebuah pandangan bahwa kelompok Syiah (pengikut Ali) telah ada sejak masa rasulullah, dihubungkan dengan sebuah hadis yang mengatakan: “Wahai Ali, kamu dan Syiahmu (pengikutmu) akan memperoleh kemenangan.”

Dalam peristiwa turunnya Alquran yang berbunyi: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itu adalah sebaik-baiknya makhluk.” Nabi Muhammad dikatakan telah mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan sebaik-baiknya makhluk di dalam ayat ini adalah Ali dan pengikutnya yang akan memperoleh kemenangan di hari pembalasan. Di masa awal kehadiran Islam, beberapa sahabat terkemuka nabi seperti Salman, Abu Dzar, Miqdad, dan Ammar, dikenal sebagai Syiah-nya Ali. Empat orang ini pun disebut dengan al-Arkan al-Arba’a (empat pilar). Pasca wafatnya rasul, kelompok ini muncul dalam merespon peristiwa bersejarah di Saqifah Bani Sa’idah di Madinah. Abu Bakar terpilih menjadi khalifah pertama dan pengganti nabi, tanpa melibatkan anggota ahlul bait yang pada waktu itu sedang mengubur jenazah nabi. 

Setelah mendengar keterpilihan Abu Bakar, Ali dan pengikutnya memprotes, karena mereka menganggap wasiat nabi itu ialah Ali sebagai penggatinya untuk memimpin umat. Peristiwa Saqifah diyakini sebagai sumber awal perpecahan umat muslim (antara Sunni dan Syiah). Jalaluddin Rakmat mengutip beberapa sumber historis mengenai respon Umar terhadap perlawanan Abdullah bin Abbas: “Demi Allah, saya mengetahui bahwa Ali adalah yang paling tepat untuk menjadi khalifah, tetapi karena ada tiga alasan kami mengenyampingkannya. Pertama, dia masih terlalu muda; kedua, dia terikat dengan keturunan Abul Muthallib dan ketiga, masyarakat tidak suka kenabian dan khalifah bersatu di dalam satu keluarga saja.”
Di dalam sejarah Islam, pengikut Ali (Syiah) menganggap keterpilihan Abu Bakar sebagai sebuah perampasan atas hak Ali dan ini bertentangan dengan ajaran Islam. Latar belakang keagamaan dan politik inilah yang menjadikan Syiah sebagai sebuah mazhab yang terpisah. 

Dengan menegaskan kesetiaan mereka pada ahlul bait dan para imam suci penerus nabi, Syiah Indonesia menolak tuduhan Sunni yang menganggap bahwa asal terbentuknya mazhab ini didirikan oleh Abdullah bin Saba, seseorang yang dianggap sebagai karakter fiktif. Mereka menunjukkan sumber yang menyatakan bahwa kehadiran tokoh tersebut tidaklah valid. Mereka menolak pandangan yang menyatakan bahwa Abdullah bin Saba adalah pendiri mazhab ini, bahkan mereka mengutuknya.

Penggunaan logika pun tak akan dapat dipahami bagaimana mungkin pengutukan pada figur tersebut (yang dilakukan oleh Syiah) adalah dari pengikutnya. Seorang intelektual Syiah, M.Hashem menulis: “Tuduhan bahwa Syiah adalah pengikut Abdullah bin Saba tidalah didukung oleh bukti sejarah pun tidak dapat diterima oleh akal sehat.”

Syiah Indonesia beranggapan bahwa mereka senantiasa memelihara ajaran Islam sejati sebagaimana yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Nabi Muhammad dan ahlul baitnya. Di dalam publikasi Syiah, aktivitas dakwah dan perkumpulannya, mereka menekankan peran dalam menjaga kontinuitas, pemurnian, dan keabadian ajarannya. Sebagai contoh, dalam perayaan Ashura di beberapa kota di Indonesia, pupujian mereka menyemboyankan perjuangan Imam Husein melawan kecurangan ajaran Islam yang dilakukan oleh Yazid (khalifah kedua pada dinasti Umayyah), oleh rezim Umayyah secara keseluruhan, dan bahkan oleh beberapa sahabat nabi. Diyakini bahwa ketika nabi sedang rebahan (di saat-saat kritisnya) dia meminta alat tulis dibawakan kepadanya, untuk menulis konfirmasi Ali sebagai penggantinya. Tetapi beberapa sahabat, termasuk Umar, menolak tuntunannya. Dikatakan bahwa Umar menyatakan bawa nabi sedang mengigau dan Alquran sudah cukup bagi mereka. Jadi, Syiah percaya ajaran Sunni telah diubah oleh hampir semua sahabat nabi sejak masa wafatnya.  

Selain itu, beberapa figur Syiah termasuk Jalaluddin Rakhmat mengidentifikasikan Syiah sebagai “mazhab cinta” berdasarkan pada paradigma cinta, dengan Imam Ali sebagai pendirinya. Rakhmat juga menyebut Syiah sebagai “mazhab alawi”, sebuah mazhab yang dihubungkan pada Imam Ali yang pada sisi lainnya ia menyebut Sunni sebagai “mazhab umari” yang dihubungkan pada khalifah Umar. 

Pengikut mazhab alawi percaya bahwa semua tradisi nabi Muhammad, mengenai doktrin, peribadahan, dan interaksi sosial, harus diikuti tanpa pengecualian. Menurut mazhab ini, semua tradisi nabi merupakan bukti-bukti tekstual, karena nabi merupakan seseorang yang terlindungi dari dosa dan kesalahan kecil maupun besar. Secara keseluruhan kehidupannya adalah berdasarkan atas kehendak Tuhan. Setiap cerita dan penafsiran yang berlawanan dengan prinsip ini tertolak di dalam Syiah. Ayat Alquran pun kadang dikutip untuk menyokong pandangan ini: “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.” 

Menurut Jalaluddin Rakhmat, bertentangan dengan mazhab umari yang hanya mengikuti Nabi Muhammad dalam masalah doktrin dan peribadatan dan tidak dengan urusan duniawi. Mazhab umar beranggapan bahwa dalam beberapa kejadian nabi melakukan kesalahan yang dikoreksi oleh sahabatnya dan kemudian Allah mengirim perintah yang membenarkan (pandangan) sahabatnya. 

Berdasarkan pada perbedaan fundamental ini, Rakhmat memaparkan tiga karakteristik mazhab alawi: pertama, karena menerima semua tradisi nabi, mazhab ini tidak mengakui pemisahan antara agama dengan urusan duniawi. Kedua, sebagaimana ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Imam Ali, mazhab ini menekankan pada persatuan umat muslim. Ketiga, ini merupakan mazhab cinta yang cirinya dapat ditemukan dalam ucapan, etika, dan perbuatan para imam yang menekankan pentingnya konsep sufi mahabbah (cinta). Cinta juga termasuk di dalam permohonan Syiah. Pengharapan di mazhab alawi dipenuhi dengan cinta pada Allah. Hanya di mazhab inilah cinta pada Tuhan mencapai titik tertingginya. Berhubungan dengan prinsip ini, Syiah Indonesia juga mengaku golongannya sebagai mazhab ukhuwah islamiyyah karena perhatiannya yang begitu besar terhadap persatuan Islam. Imam Ali dipercaya selalu mempromosikan persatuan. Riwayat hidupnya memberi gambaran atas realisasi persatuan Islam secara khusus, dan paradigma cinta secara umumnya. 

Syiah juga pada umumnya menganggap golongannya sebagai “yang terpilih”, berlawanan dengan mayoritas Sunni. Menurut Enayat, etika menolak untuk mengakui pandangan mayoritas merupakan salah satu pembeda terpenting ciri khas Syiah, di samping perbedaannya di dalam doktrin dan hukum. Pernyataan orang Indonesia, “Alhamdulillah kita sudah Syiah” merupakan sebuah ekspresi atas tingginya status keberagamaan mereka. Walaupun mereka mengakui Sunni itu muslim, tetapi Syiah menganggap diri mereka sebagai umat mukmin sejati. Pandangan ini berasal dari pernyataan perintah Muhammad kepada umat mukmin (sebagaimana yang telah dipaparkan di atas) untuk mengikuti ahlul baitnya, dan juga pernyataan bahwa Ali dan pengikutnya akan memperoleh kemenangan di hari pembalasan sehingga akan masuk surga.
Argumen lain yang sering digunakan kelompok Syiah bahwa jumlah orang yang menggenggam kebenaran selalu sedikit sementara mayoritas akan mengikut ajaran-ajaran populer yang disebarkan dengan cara-cara pemaksaan politik. 

Kesimpulannya, di antara umat Syiah Indonesia, istilah mazhab ahlul bait dan mahab alawi digunakan untuk menunjukkan kelompok mereka di dalam pengertian yang seluruhnya positif. Syiah dibangun atas ajaran fundamental (ushuluddin) dan ajaran cabang agama (furu al-din) yang mengandung unsur-unsur yang berbeda dengan ajaran Sunni.

Sumber gambar: www.antimajos.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar