Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 10)



Jiva Agung
Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Jalaluddin Rakhmat
Intelektual Syiah paling populer di Indonesia adalah Jalaluddin Rakhmat, yang biasa disapa akrab Kang Jalal. Pengikutnya seringkali menulis nama lengkapnya dengan K.H Jalaluddin Rakhmat. Ini berarti mengindikasikan sebuah pengakuan, atau mungkin merupakan sebuah upaya untuk melegitimasi ketermukaan keagamaan Rakhmat, menempatkannya setingkat dengan pemimpin lain yang memikul gelar kiai haji.
Lahir pada 29 Agustus 1949 di Bojongsalam, Rancaekek, Bandung, Rakhmat lahir dari sebuah keluarga yang religius. Ayahnya merupakan seorang terpelajar, ketua desa, sekaligus aktivis Masyumi yang kemudian hari bergabung pada gerakan separatis Darul Islam, yang akhirnya memaksa dia dan keluarganya untuk hijrah ke Sumatera selama beberapa tahun. 

Jalaluddin Rakhmat masuk ke sekolah negeri dan belajar agama dengan seorang ustaz tradisional bernama Ajengan Shidik. Dia belajar nahwu dan saraf yang dikenal dalam dunia pesantren sebagai ilmu alat untuk membaca teks-teks kitab kuning. Rakhmat mengakui bahwa pemahamannya akan bahasa Arab menjadikannya dapat mengakses literatur-literatur Arab secara luas yang membentuk pemikiran keagamaan dan pengetahuannya tentang Syiah. Oleh karena itu posisinya pun berbeda dengan sejumlah intelektual Syiah Indonesia lainnya yang merupakan lulusan kampus umum dan modal kultural ini akhirnya menjadi penyokong atas posisinya yang sekarang dikenal sebagai seorang pemimpin Syiah.  

Jalaluddin Rakmat menerima pendidikan formalnya di sekolah dan universitas umum. Setelah menyelesaikan jenjang sekolah menengah (SMP Muslimin III & SMAN 2 Bandung) ia mendaftar di fakultas komunikasi UNPAD. Pun dia mengambil pelatihan guru untuk pengajar SMP pada program bahasa Inggris dan menggunakan diplomanya untuk mengajar di beberapa sekolah menengah di kota tersebut.

Karir akademiknya di ranah komunikasi dimulai dengan penunjukkannya sebagai seorang dosen di almamaternya. Di tahun 1980, dia meraih beasiswa Fulbright untuk melanjutkan studi komunikasi di Universitas Negeri Iowa, USA dan menyelesaikan masternya di tahun 1982 dengan tesis berjudul A Model for the Study of Mass Media Effects on Political Leaders. 

Beberapa tahun kemudian dia mendaftar program doktoral di UNPAD tapi tidak diselesaikan. Akhirnya, di tahun 1994 ia mengambil studi doktoral Ilmu Politik di Australian National University, tetapi ia pun tidak menyelesaikannya. Seperti Husein Shahab, banyak yang salah mengira kalau dia memperoleh PhD, sebuah kesalahan yang beruntung atas posisinya di dalam komunitas Syiah. 

Jalaluddin Rakhmat telah memberi kuliah komunikasi sejak masa awal-awal karirnya. Mahasiswanya melaporkan kalau mereka sangat antusias mengikuti perkuliahannya dikarenakan retorikanya yang meyakinkan dan keahliannya dalam bidang tersebut. Tetapi di tahun 1992 dia pecat dari UNPAD, setelah ada ketegangan dengan apa yang dideskripsikan Rakhmat sebagai sebuah “kampus birokrat”. 

Di perjalanan karir akademiknya, ia telah menulis sejumlah buku diktat mengenai bidang spesialisasinya yang menjadi pegangan/referensi penting bagi mahasiswa, termasuk Retorika Modern, Metode Penelitian Komunikasi, dan Psikologi Komunikasi. Dengan beredarnya bahan-bahan ini di lingkup mahasiswa dan cendekiawan, Rakhmat diakui luas sebagai seseorang yang memang ahli di bidangnya sehingga tak diragukan lagi pada tahun 2001, setelah absen hampir 10 tahun dia diminta kembali ke UNPAD sebagai dosen dan sesudah itu dilantik sebagai profesor komunikasi.

Sejarah kehidupan Rakhmat diwarnai dengan kegiatan dakwah. Aspek penting inilah yang membedakannya dari kebanyakan intelektual Syiah Indonesia lainnya. Jauh sebelum kepindahannya ke Syiah, dia berafiliasi dengan organisasi reformis Sunni Persis dan Muhammadiyah, dua organisasi yang keras melawan kepercayaan dan praktik Islam tradisionalis di Indonesia. 

Di masa studi menengahnya, dia bergabung dengan pemuda Persis di Bandung. Kemudian di tahun 1970 dia bergabung dengan camp pelatihan Muhammadiyah (Darul Arqam) yang diselenggarakan untuk mempersiapkan kader dai Muhammadiyah. Ia bahkan menjadi kader fanatik Muhammadiyah yang bersama dengan Majelis Tarjih Muhammadiyah secara aktif berdakwah ke berbagai tempat di Jawa Barat.  

Dengan penuh semangat ia mempromosikan ideologi reformis Muhammadiyah, khususnya mengenai prinsip anti Tahayul-Bid’ah-Churafat (TBC). Program reformis ini menimbulkan reaksi negatif yang begitu kuat dari para pengikut tradisionalis Islam di wilayah tersebut. Tetapi Rakhmat selalu mengaku bahwa ia berhasil menjalankan tugasnya sebagai seorang dai Muhammadiyah. Di era 1970-an, berkat prestasinya di organisasi reformis akhirnya ia ditunjuk sebagai seorang anggota eksekutif Dewan Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, Muhammadiyah Bandung dan Dewan Dakwah di tingkat provinsi Jawa Barat. 

Tetapi perlu dicatat di sini bahwa setelah memeluk Syiah dia menggunakan pencapaian dakwahnya untuk mempromosikan pandangan dan praktik tradisionalis tertentu seperti pentingnya berziarah, tasawul, dan tabaruk, sesuatu yang bertentangan dengan pendirian reformisnya.

Dedikasinya terhadap dakwah terlihat dari kenyataan bahwa dia tetap memelihara aktivitas tersebut di saat ia studi di Amerika. Bersama dengan Imaduddin Abdulrahim dan yang lain dia mendirikan perkumpulan pengajian di masjid Darul Arqam di Ames, Iowa, USA. Salah satu tugasnya ialah memberi ceramah di ibadah shalat jumat yang pada kemudian hari ceramah-ceramahnya tersebut dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul Khutbah-Khutbah di Amerika. 

Rakhmat menjalin hubungan yang akrab dengan Imaduddin Albulrahim, salah seorang pendiri masjid Salman ITB, seseorang yang mendorongnya untuk menjadi seorang khatib tetap di masjid tersebut sekembalinya dari Amerika. Sejumlah orang menghadiri kuliah keagamaannya. Di satu kesempatan Abdulrahim mendapat informasi kalau pengaruhnya terhadap para aktivis Salman begitu besar sehingga menyebabkan terbaginya dua buah faksi: pengikut Jalaluddin Rakhmat dan pengikut Nurcholish Madjid? Keahliannya di komunikasi seringkali disebut-sebut sebagai alasan mengapa dakwahnya bisa menghasilkan kesuksesan. Tentu, Rakhmat merupakan seorang dai yang populer, dengan perkuliahan keagamaan yang menarik hati sejumlah jamaah. Ketenarannya sebagai seorang dai sekaligus intelektual tersebar luas, tidak hanya di Jawa Barat melainkan juga di seluruh negeri. 

Ketika di wawancara, Jalaluddin Rakhmat menceritakan kepada kami bahwa pemberian kuliahnya di masjid Salman seringkali beralih menjadi diskusi interaktif dengan para pendengarnya. Setelah pelarangan aktivitasnya di masjid Salman, kuliah keagamaannya pertama kali beralih ke rumahnya sendiri dan kemudian segera pindah di area sekitar masjid Al-Munawwarah, Bandung. Di masjid itu pun ia menjadi khatib tetap. Dia menulis:

Dikatakan kalau pengajian ini menyebabkan kegaduhan. Saya dinyatakan sebagai seseorang yang tidak menyukai masjid Salman. Atas dasar permintaan jamaah, saya pindah (memberi kuliah) di minggu pagi di rumah kecil saya sendiri. Partisipan sangat penuh di dalam ruangan yang sempit. Bahkan beberapa sampai meluber ke luar. Segera setelah masjid Al-Munawwarah berdiri, mereka pindah ke masjid tersebut sehingga tempatnya menjadi lebih besar. Anggota jamaah pun meningkat yang kebanyakan adalah dari kalangan mahasiwa.

Dengan latar belakangnya di bidang komunikasi dan pengalamannya sebagai seorang dai, Jalaluddin Rakhmat mencoba bukan hanya untuk mengimplementasikan konsep saintifik di dalam aktivitas dakwahnya tetapi juga untuk memformulakan aktivitas-aktivitasnya melalui perspektif komunikasi. Pandangan-pandangannya ditemukan dalam sejumlah esai tulisannya termasuk dua seri Islam Alternatif dan Catatan Kang Jalal. 

Rakhmat mendefinisikan dakwah sebagai “sebuah aktivitas komunikasi yang bertujuan untuk merealisasikan ajaran-ajaran Islam di kehidupan individu maupun sosial.” Dia percaya semua komponen komunikasi dapat ditemukan di dakwah: dai, pesan, media, objek, dan akibat/pengaruh. Dai (agen dakwah) bisa dari individu muslim maupun kelompok sedangkan objek dakwah adalah umat muslim juga non muslim. Tetapi pesan dari sebuah dakwah berbeda dengan komunikasi. Dakwah harus melibatka tiga unsur: amar makruf, nahi munkar, memberi pencerdasan kepada manusia untuk melawan tirani dan ketidakadilan. Dia juga menekankan bahwa dakwah harus memiliki pengaruh terhadap struktur individu dan sosial dalam bentuk perubahan progresif di dalam domain pengetahuan, sikap (etika), dan kebiasaan. 

Kita mungkin penasaran bagaimana Jalaluddin Rakhmat dapat berkonversi ke Syiah. Benar bahwa dia merupakan salah seorang intelektual muslim yang terkesan dengan kemenangan revolusi Iran dan ideologinya. 

Dia, Amin Rais, Dawam Rahardjo dan yang lainnya tertarik terhadap tulisan-tulisan ideologi revolusi seperti karangan Ali Shariati. Tulisan ini dianggap telah menawarkan cara pandang ideologi alternatif. Tetapi Rakhmat juga mengakui bahwa dia mulai terlibat secara intensif mengkaji Syiah di tahun 1984, era di mana menjadi titik balik pencarian keagamaan, intelektual, dan spiritualnya. Meskipun kita tidak dapat memastikan kapan tepatnya dia memeluk Syiah, dugaan amannya yakni ketika ia berada di periode melakukan pengkajian, dikusi, dan refleksi yang intensif terhadap literatur Syiah. 

Sebuah catatan singkat mengenai kebangkitan ketertarikannya pada Syiah berjalan seperti ini: di tahun 1984, Rakhmat bersama Haidar Bagir dan Endang Saefuddin Anshary menghadiri konferensi Islam di Colombo waktu di mana mereka akhirnya berkenalan dengan beberapa ulama Syiah. Rakhmat sendiri mengakui bahwa performance intelektual dan keagamaan ulama-ulama di sana telah memberi kesan yang begitu kuat kepadanya. Bahkan mereka memberinya sejumlah buku karangan ulama Syiah. Yang menarik dicatat ialah sebelum mereka meninggalkan Indonesia ke Colombo, Mohammad Natsir memperingatkan Rakhmat dan koleganya untuk tidak menerima buku pemberian ulama Syiah. 

Sebelum pergi ke Konferensi Colombo, Jalaluddin Rakhmat belum secara terbuka mempelajari Syiah, meskipun secara reguler mengakses buku-buku Syiah. Tetapi sekembalinya dari Sri Lanka dia mulai membaca secara intensif. Dia mengatakan bahwa buku Syiah-lah yang benar-benar menggerakkan keraguannya atas kevaliditasan Abu Hurairah sebagai perawi hadis, ini karena selama ini ia banyak mempraktikkan hadis-hadis yang dibawakan oleh Abu Hurairah. Sejak saat itu Rakhmat lanjut mengkaji ajaran-ajaran Syiah, khususnya melalui buku-buku berbahasa Arab, dan menemukan kebenaran keagamanya di mazhab ini. 

Betapapun, sangat mungkin bahwa ia telah mengonsumsi karya-karya Ali Shariati dan Dialog Sunnah Syiah-nya al-Musawi sebelum 1984 sejak kedua buku tersebut tersedia di Indonesia pada tahun 1983. Bahkan Haidar Bagir mengungkapkan bahwa Jalaluddin Rakhmat mulai mengkaji tulisan-tulisan Syiah sejak ia berada di Amerika. Kapan pun waktunya, Rakhmat mengakui bahwa setelah tahun 1984 dia telah berhubungan dengan banyak orang yang ingin menjadi Syiah, sebuah faktor yang menjadi kontribusi atas kemunculannya sebagai seorang figur papan atas Syiah Indonesia. 

Jalaluddin Rakhmat juga terlibat diskusi dengan ulama Syiah Indonesia seperti Husein Al-Habsyi. Bahkan ia menyebut Husein sebagai gurunya. Dia pun membangun relasi dengan ulama-ulama Syiah di Iran dan ulama-ulama Syiah di berbagai belahan dunia. 

Untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas mengenai Syiah, dia menghabiskan satu tahun di Qum (1992-1993). Pada awalnya ia ke sana untuk mengambil program PhD di bidang teologi Universitas Tehran, tetapi karena proses pendaftaran yang begitu kompleks, akhirnya ia mengubah rencananya tersebut. Di Qum, dia membangun hubungan dengan para ayatullah terkenal dan menghadiri kuliah keagamaan dan halaqah di hawzah ilmiyyah. 

Di periode ini dia pun memberi anaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman pendidikan dan keagamaan di kota suci Qum. Beberapa dari mereka mendaftar di madrasah di Qum; anaknya pertamanya, Miftah Fauzi Rakhmat sekarang menjadi seorang ustaz Syiah di Yayasan Mutahhari. Walaupun Rakhmat bukanlah termasuk di dalam list alumni Qum, relasi yang dia buat dengan para ayatullah Qum dan pengetahuan yang diperolehnya melalui penyelenggaraan kuliah keagamaan dan melalui perkumpulan pengajian, tak diragukan lagi telah mempertinggi otoritas keagamaannya di kalangan umat Syiah Indonesia.
Selain pengalaman pendidikan dan dakwah, karya ilmiah di bidang ilmu-ilmu agama juga terlihat sebagai aspek krusial kepemimpinan keagamaannya. Mengenai hal ini, Rakhmat memberi kita sejumlah tulisan dalam bentuk buku, esai, penerjemahan, dan pemberian kata pengantar. 

Kumpulan tulisan-tulisan esainya di era 1980-an diterbitkan ke dalam dua buah bukunya yang paling terkenal: Islam Alternatif: Ceramah-Ceramah di Kampus dan Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim yang pernah disampaikan di seminar dan kuliah di kampus-kampus. Termasuk pandangan mengenai Islam sebagai rahmat bagi seluruh makhluk, Islam dan pembebasan mustad’afin, Islam dan hak pembentukkan masyarakat, serta Islam dan sains. Bukunya berkesimpulan dengan sebuah seruan bagi para pembaca untuk mengikuti ajaran Syiah sebagai sebuah mazhab alternatif. 

Buku Islam Aktual berisi esai-esai yang lebih pendek lagi yang mulanya diterbitkan di koran-koran nasional seperti Tempo, Panji Masyarakat, Kompas, Pikiran Rakyat, dan Jawa Pos. Esai-esai ini merefleksikan beragam topik keislaman seperti persaudaraan Islam, komunikasi, media massa, politik, reformasi intelektual, keluarga, kepemimpinan, masalah kemiskinan dan sosial, serta kesyahidan. Betapapun, Rakhmat sendiri mengakui bahwa pada umumnya esai-esai ini tidak berdasarkan pada pemikiran mendalam, sesuatu yang dilihatnya sebagai penyesuaian terhadap karakter media massa.

Dia pun menulis buku-buku yang lebih spesifik membincangkan bidang keislaman tertentu. Ada dua buku tentang penafsiran Alquran yakni Tafsir Bil Ma’tsur dan Tafsir Sufi Al-Fatihah. “Di wilayah ini” tulisa Feener “Rakhmat mengadopsi metode penafsiran ayat semata dengan merelasikan satu ayat dengan ayat lainnya (dari alquran itu sendiri) dengan bahan tambahan dari as-sunnah sebagai penjelas.” Ini lebih tepatnya disebut tafsir bil mansur atau tafsir alquran bil quran, yang secara harfiah berarti menginterpretasi ayat alquran menggunakan ayat alquran lainnya, dan mengacu pada sebuah metode yang dikembangkan oleh cendekiawan Syiah terkemuka Allamah Muhammad Husein Thabathabai (1903-1981). Di buku kedua tafsir Quran tersebut, Rakhmat mengklaim: “untuk pertama kalinya di Indonesia, saya akan memasukkan banyak hadis yang diriwayatkan dari ahlul bait.”

Buku-buku lainnya berhubungan dengan sufisme. Selain buku tafsir yang telah disebut di atas, ada juga buku berjudul Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-Renungan Sufistik, Reformasi Sufistik, dan Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik. Tulisan ini berasal dari kumpulan ceramah-ceramahnya, khususnya yang disampaikan dari perkumpulan minggu pagi di masjid Al-Munawwarah dan dari esai-esai yang diterbitkan oleh media. 

Rakhmat sendiri mengakui kelemahan-kelemahan yang ada di tulisannya. Milsanya dalam buku Membuka Tirai Kegaiban dia tidak memberikan analisis yang mendalam terkait ajaran-ajaran sufi sebagaimana yang ditemukan di dalam kitab-kitab klasik karangan Suhrawardi dan al-Ghazali. Meskipun demikian, dia telah memberikan interpretasi yang inovatif terhadap ajaran-ajaran sufistis sebab telah ia komparasikannya dengan ilmu psikologi. Di artikel lain, dia beranggapan bahwa ajaran sufisme dapat mengarahkan seseorang pada kecerdasan emosional dan spiritual, khususnya pada ajaran mengenai kesabaran. 

Di bidang sejarah Islam, Jalaluddin Rakhmat menulis Al-Mustafa: Pengantar Studi Kritis Tarik Nabi SAW yang disadur dari transkrip perkuliahannya di Yayasan Mutahhari. Dalam hal ini, “studi kritis” bermakna kritik yang diarahkan pada sumber-sumber Sunni, khususnya terhadap hadis yang menarasikan peristiwa yang kontradiktif dengan pemahaman Syiah mengenai karakter mulia Nabi Muhammad. Spirit dari tulisannya mirip dengan penafsiran Al-Habsyi. Tetapi Rakhmat tidak memberikan pembaca sebuah deskripsi historis mengenai kehidupan nabi, hanya menyampaikan contoh-contoh peristiwa yang dia percaya perlu untuk dikritisi. 

Jalaluddin Rakhmat juga menulis tentang validitas praktik keberagamaan tertentu yang berkontradiksi dengan pandangan reformis. Di buku Rindu Rasul: Meraih Cinta Ilahi Melalui Syafa’at Nabi SAW, Rakhmat menyampaikan kepada kita beragam cara pengaktualan cinta dan ketaatan kepada nabi dan menjadikannya sebagai kendaraan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti membaca salawat, mengharapkan syafaat, tawasul, dan tabarruk, sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan sikapnya yang kuat menolak segala praktik keagamaan Islam tradisionalis di Indonesia sebelum dia memeluk Syiah. “kesalahan atas kesombongan intelektual memisahkan saya dari mencintai nabi. Ideologi modernis yang menembus pikiran saya telah mengeringkan jiwa saya.” Melalui buku Rindu Rasul, ia mencoba untuk meruntuhkan “kesombongan” intelektual yang ada di kelompok modernis yang menolak praktik-praktik ini dan dia menyeru cara pandang keagamaan yang lebih reflektif. Di konteks yang lebih luas dari Islam Indonesia, dia bisa dikatakan telah berkontribusi untuk memelihara praktik keagamaan yang dilakukan oleh para muslim tradisionalis.

Jalaluddin Rakhmat juga menulis tentang etika dengan sebuah judul yang provokatif, Dahulukan Aklak di atas Fikih. Buku ini dibuat untuk menyelesaikan persoalan yang telah berlarut-larut terjadi tubuh umat muslim, yakni dari kelompok yang muncul sejak kematian nabi, dengan mengimplementasikan pesan ilahi terhadap kebutuhan universal dari akhlak mulia. Rakhmat menunjukkan perbedaan antara pendapat hukum (fikih) di kalangan mazhab Islam dalam sejarah dan menganalisis faksi-faksi dan sikap fanatik dari para pengikut mazhab tersebut yang telah menciptakan konflik di dalam umat muslim. 

Dia beranggapan bahwa umat mukmin perlu meninggalkan kekakuan seseorang terhadap mazhab yang dianutnya demi terciptanya ikatan persaudaraan keislaman yang lebih baik. Tulisan ilmiah ini mendapat pujian juga kritikan dari Sunni maupun Syiah di Indonesia.

Meksipun menyeru untuk meninggalkan kesetiaan pada mazhab fikih tertetu demi persaudaraan  Islam, Rakhmat menulis beberapa esai tentang fikih. Berdasarkan esai-esai ini, Feener mengidentifikasikannya sebagai salah seorang intelektual muslim yang berkontribusi mengembangkan ilmu hukum Islam di abad ke-20 di Indonesia. Seperti Munawir Syadzali (seorang intelektual muslim moderat dan menteri agama di tahun 1983 hingga 1993) dan Nurcholish Madjid (seorang intelektual muslim moderat dan pendiri Yayasan Paramadina), Jalaluddin Rakhmat memelihara keperluan untuk kontinuitas praktik ijtihad sehingga umat muslim dapat menyesuaikan dirinya dengan perubaan sosial dan budaya di tempatnya. 

Dia menulis: “ijtihad itu sulit tetapi perlu.” Tetapi berpagi-pagi ia mengungkapkan bahwa tidak semua orang dapat mengemban tugas ini. Sebagai seorang pemeluk Syiah, dia meyakini pandangan bahwa hukum Islam dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, seperti mujtahid dan muqallid. Di mazhab Syiah, kelompok awam harus mengikuti seorang mujtahid tertentu yang dikenal sebagai marja al-taqlid seseorang yang berkedudukan sebagai fuqaha (pemahaman keislaman yang komprehensif) dan adalah (berakhlak mulia, iman yang kuat, dan kesungguhan hati). 

Karena Rakmat bukanlah seorang mujtahid, responnya atas pelbagai persoalan ialah dengan memperkenalkan pandangan para ulama sembari menekankan keperluan pilihan pribadi dan mementingkan persaudaraan Islam. Sikap ini dapat dilihat dari bukunya yang berjudul Jalaluddin Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer yang berasal dari respon spontannya atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pendengarnya ketika berceramah (memberi kuliah agama) di masjd Salman dan Al-Munawwarah pada tahun 1980 hingga 1998. 

Dengan tidak menawarkan opini hukumnya sendiri, Jalaluddin Rakmat dengan jelas memosisikan dirinya sebagai seorang muqallid di ranah hukum Islam dan jawaban-jawabannya pada umumnya merefleksikan ketaatannya pada mazhab hukum Ja’fari. 

Selain pertanyaan-pertanyaan mengenai hukum Islam, buku Jalaluddin Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer juga memuat aspek-aspek doktrin, tafsir Quran, etika, sejarah, dan psikologi. Mengarahakn probelem itu pada pentingnya konsep imamah sebagai doktrin fundamental Syiah, rencana keluarga, dan cinta. Di catatan editorial, Hernowo menggambarkan Jalaluddin Rakmat sebagai seorang intelektual Syiah yang dapat diperlawankan dengan kelompok tertentu. Tetapi Rakhmat sangat cakap dalam menanggapi beragam respon yang diarahkan padanya. Hernowo menduga kalau kesuksesannya dalam bidang sufisme, tafsir Alquran, hukum Islam, dan filsafat, dikarenakan kekuatan intelektual logikanya. 

Kontribusi tulisannya sangat besar terhadap umat muslim dan bentuk modal kultural ini merupakan suatu faktor penting kepemimpinan Islam di komunitas Syiah Indonesia. Nurcholis Madjid pernah mendeskripsikan Rakhmat sebagai “seorang intelektual sempurna.” Ini benar. Dia tidak hanya menulis di bidang spesialisasinya dan tentang keislaman, tetapi juga menulis tentang psikologi, pendidikan, dan lain sebagainya. 

Tulisan lainnya yang berjudul Rekayasa Sosial: Reformasi atau Revolusi? Dimulai dengan penjelasan mengenai apa yang disebut Rakhmat dengan “intelektual cul-de-sac”, yakni kesalahan intelektual yang harus diatasi sebelum rekayasa sosial dapat dimulai. “mustahil akan ada perubahan ke arah yang baik (benar) jika kesalahan berpikir masih menjebak pikiran kita.” Dengan pengantar dari Dimitri Mahayana, buku ini menawarkan revolusi politik sebagai sebuah alternatif bagi reformasi yang terjadi sejak di akhir rezim orde baru di tahun 1998. Mengenai revolusi, Rakhmat menulis:

Ketika negara mengalami krisis, semua orang meminta perubahan. Semakin tak tertahankan, semakin menginginkan perubahan itu terjadi. Revolusi muncul sebagai strategi terbaik. Revolusi dianggap begitu lambat ketika perut tak bisa menunggu lagi. Ketika korupsi telah merajalela di seluruh lapisan negara, kami butuh operasi bedah total, itulah rovolusi.

Lebih lanjut ia menjelaskan empat teori revolusi berdasarkan mazhab perilaku, psikologis, serta struktural dan politik. Dengan mengambil beberapa definisi revolusi, dia menyampaikan tiga dimensinya: pertama, perubahan multi dimensi, komprehensif, dan fundamental; kedua, pelibatan massa yang dimobilisasi dan dibangkitkan di dalam pergerakan revolusi; dan ketiga, penggunaan kekuatan dan paksaan (kekerasan). Tetapi, secara personal dia menolak dimensi yang ketiga. Rakhmat juga mengusulkan kondisi-kondisi yang mendorong taktik-taktik tertentu untuk menuju revolusi, berdasarkan pada teori tertentu.

Sebagai contoh, menurut teori kebiasaan, kondisi revolusioner melibatkan: menghalangi pemenuhan kebutuhan mayoritas masyarakat dan menghasut ketidakpuasan-kemarahan mereka saat mereka membandingkan kondisi mereka dengan apa yang dimiliki oleh rezim. Tetapi Rakhmat mencatat bahwa revolusi hanya dapat dijelaskan, tidak pernah dapat diprediksikan. Pandangannya mengenai revolusi politik terlihat berhubungan dengan ketertarikannya pada kesyahidan, sesuatu yang dianggapnya merupakan sebuah pincak kebijaksaan Islam. 

Syahid secara bahasa berarti “seseorang yang menyaksikan”, “seseorang yang memberi bukti”. Kamu percaya kepada kebenaran Islam dan kamu membuktikan kepercayaan itu dengan keinginanmu untuk mati demi membela Islam. Kamu mengetahui bahwa semua bentuk penindasan merupakan sebuah tindakan destruktif atas nama Tuhan; oleh karena itu, kamu membuktikan pengetahuanmu dengan keiginan untuk mengorbankan dirimu sendiri melawan penindasan. Mati dalam keadaan menyaksikan (imanmu) adalah sebuah kesyahidan.

Jalaluddin Rakhmat mendirikan Yayasan Mutahhari di Bandung tahun 1998. Beberapa pendiri lainnya termasuk Haidar Bagir, Ahmad Tafsir, Agus Effendi, dan Ahmad Muhajir. Yayasan ini memiliki slogan “mencerahkan pemikiran Islam” yang dilibatkan dalam bentuk dakwah, pendidikan, dan penerbitan. Sejak 1992, yayasan ini mengorganisir program SMA Plus yang telah menarik pelajar dari berbagai tempat. 

Di samping berpartisipasi di dalam perkumpulan keagamaan, Rakhmat sering memberi kuliah agama di pegajian minggu pagi di masjid Al-Munawwarah. Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, sejumlah pelajar yang kemudian memeluk Syiah pernah belajar di perkuliahan dan pengajiannya. Rekaman khutbah dari pengajian-pengajian menjadi konten utama majalah Al-Tanwir yang didirikan oleh divisi dakwah Yayasan Mutahhari. Yayasan ini memiliki bidang penerbitan yang telah menerbitkan sejumlah buku. Semua aktivitas ini telah membuat institusi dan pemimpinnya terkenal di seluruh Indonesia. 

Di tahun 1997 dengan sokongan finansial dari Sudharmono, wakil presiden Indonesia di era orde baru yang sekaligus keluarganya, Rakhmat mendirikan Tazkiya Sejati, sebuat pusat studi dan pelatihan sufisme di Jakarta. Dia menjadi direkturnya sampai dia meninggalkan institusi tersebut di tahun 2003, setelah berkonflik dengan anaknya Sudharmono, Yanti dan Tantyo Sudharmono. Sejak tahun 1997 hingga 2003, Tazkiya Sejati mendirikan lebih dari 20 kursus sufisme, menarik sejumlah partisipan dari kalangan masyarakat Jakarta menengah atas, termasuk pengusaha dan pejabat eksekutif.

Statusnya sebagai seorang pemimpin didukung pada fakta bahwa dirinya menjadi salah satu pionir pendiri organisasi Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) pada tahun 2000. Sejak saat itu ia menjadi ketua dewan penasihat dan mejadi figur paling penting di dalam pertumbuhan organisasi ini. Pada awalnya Rakhmat dan intelektual lain beroperasi dengan ustaz-ustaz Syiah di dalam mendirikan organisasi ini, tetapi pada prosesnya kelompok ini memisah. Intelektual Syiah di bawah kepemimpinan Rakhmat bergabung dengan IJABI, sedangkan para ustaz Syiah menolaknya sebagai organisasi sosial keagamaan. Betapapun, IJABI menikmati posisi stabil karena secara hukum diakui oleh pemerintah Indoesia melalui kementerian dalam negeri.  

Atas dasar keterangan di atas Jalaluddin Rakmat sungguh telah mengamulasikan modal kultural di dalam komunitas Syiah Indonesi tetapi dia memiliki kelemahan modal sosial. Meskipun dia memiliki kedudukan nasional yang tak dapat diagukan lagi, dia tetap memiliki kelemahan dukungan dari mayoritas ustaz Syiah dari komunitas Arab dan alumni Qum yang berarti dirinya belumlah cukup kuat untuk memosisikan dirinya sebagai pemimpin utama yang diakui oleh seluruh umat Syiah. 

Sumber gambar: www.hidayatullah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar