Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 1)



Jiva Agung

Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National Universiy E-Press, tahun 2013.

Pendahuluan

Kajian ini berfokus pada (kelompok) Syiah Indonesia, posisi mereka sebagai grup muslim minoritas di dalam sebuah populasi mayoritas muslim dan cara-cara yang mereka lakukan untuk memperoleh pengakuan di dalam negaranya. Untuk tujuan kajian ini, Syiah dibatasi pada mazhab Itsa Asyariah (juga dikenal sebagai Ja’fari). Ini adalah sebuah mazhab hukum Islam memuliakan dua belas imam yang menggantikan Nabi Muhammad dan mengadopsi sebuah kumpulan (ajaran praaktis) tertentu sebagai sebuah konsekuensi dalam sistem kepercayaannya.

Syiah adalah denominasi (mazhab) minoritas di Islam dan Syiah, terdiri dari 10% populasi muslim dunia, acapkali distigmakan (cap buruk) oleh Sunni. Di saat sebagian besar dari mereka bertempat tinggal sebagai kelompok minoritas di negeri-negeri muslim, mereka menjadi penduduk mayoritas Iran sekitar 90%, di Irak 60%, dan di Bahrain 60%. 

Syiah Iran mendapat perhatian dunia dengan revolusinya pada tahun 1978-79 dan akhirnya membentuk Republik Islam Iran. Menyusul infasi Amerika terhadap Irak di tahun 2003, di sana Syiah telah memainkan peran politik yang amat penting dan melakoni bentuk Syiah yang moderat, setia pada Ayatullah Ali Sistani, telah membentuk jaringan yang sangat kuat yang diharapkan akan menguatkan masyarakat sipil di bagian selatan negara tersebut.  

Para cendekiawan, tidak hanya di dunia muslim tetapi juga di Barat, pada umumnya telah memfokuskan perhatiannya pada Sunni. Di dunia muslim, Syiah sering dianggap sebagai kelompok yang telah menyimpang dari ajaran Islam murni di dalam teologi dan hukumnya (fikih). 

Cendekiawan-cendekiawan Barat (yang berfokus pada Islam) yang percaya pada interpretasi Sunni terhadap Syiah, juga telah berkontribusi untuk kesalahpahaman ini. Kohlberg menyatakan bahwa kelemahan pemahaman ini dapat mudah ditemukan di tulisan-tulisan cendekiawan islamologi Jerman seperti Goldziher dan yang lainnya. 

Syiah tidak pernah menjadi subjek sentral dalam penelitian sampai peristiwa rovolusi Iran memaksa para cendekiawan untuk memahami pendirian ideologi mereka yang sangat berakar kuat pada ajaran-ajaran Syiah. Hal tersebut telah mengarahkan keterkaitan Syiah pada pergerakan-pergerakan yang radikal dan revolusioner, menciptakan sebuah kesan bahwa Syiah diidentifikasikan dengan masyarakat dan budaya Iran. Tentu, sebagai hasil dari ambisi Syiah untuk mengekspor versi revolusinya ke negara-negara muslim lain, kajian mengenai Syiah di luar Iran mencoba untuk mengukur pengaruh revolusi Iran terhadap kelompok Syiah di Irak, negara-negara teluk, Libanon, Suriah, dan Asia Selatan, juga di Asia Tenggara.

Betapapun, lebih dari seperempat abad berjalan, tidak ada revolusi yang mengikuti model Iran di mana pun, bahkan di negara seperti Irak dan Bahrain di mana Syiah adalah mazhab mayoritas yang diduga kuat mendukung pergerakan Syiah. Yang menarik ialah bahwa pada delapan tahun perang antara Iran dan Irak (1980-1988), Syiah Iran berperang melawan tentara Irak yang juga rekan semazhab Syiah. Mengenai hal ini, Nakash telah menujukkan ciri historis, sejarah, dan politik Syiah Irak yang sangat berbeda dari yang dimiliki oleh Iran.

Hal ini dengan jelas mengindikasikan bawa perspektif monolitik Syiah tidak akan menolong pemahaman kita mengenai realitas keberagaman dari para pemeluknya. Setiap kajian mengenai Syiah membutuhkan pertimbangan aspek-aspek sosial, politik, dan budayanya yang unik hingga pada keunikan masyarakat, wilayah, dan sejarahnya, yang mana pada kenyataannya Syiah telah memakai beragam strategi di setiap waktu dan tempat yang berbeda. 

Pada saat Sunni telah begitu banyak dikaji oleh para cendekiawan dengan berbagai macam pendekatan, sebaliknya, realita Syiah di Indonesia dan hubungannya dengan dimensi historis, sosiologis, politik, dan keagamaannya sulit diketahui oleh kalangan cendekiawan, bahkan di antara kalangan umat muslim sendiri.
Kajian ini mencoba untuk menunjukkan ketidakseimbangan ini dan untuk memahami realita Syiah Indonesia. Kajian ini akan mendeskripsikan aspek penting dari kehidupan sosial-keagamaan mereka, termasuk bentuk dari mazhab Syiah, ujian atau tantangan para pemimpin terkemukanya, praktik kepercayaannya, dakwah, pendidikan, publikasi, dan organisasinya, serta respon dari kalangan Sunni. Oleh karena itu, pemahaman mengenai Syiah adalah suatu hal yang krusial untuk pemahaman kita mengenai agama dan masyarakat Indonesia yang lebih luas. 

Sumber gambar: dokumentasi pribadi saat penulis berkunjung ke sekolah Muttahari, Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar