Pendidikan Itu Membentuk Karakter



Jiva Agung


Sebagai seorang guru baru di sebuah sekolah swasta daerah Pasir Impun, Bandung, kami mendapatkan sebuah bekal pelatihan yang amat berarti dari salah seorang profesor perempuan tentang upaya pembentukan karakter siswa, sesuatu yang diidam-idamkan oleh setiap pendidik karena telah menyadari bahwa yang miskin/langka di negeri ini bukanlah orang cerdas melainkan yang bermoral. 

Sekolah kami meyakini kalau kecerdasan hanyalah menjadi indikator minor yang dapat mengantarkan seseorang ke dalam pintu gerbang kesuksesan (lahir dan batin) alih-alih di sini kami sangat menjunjung tinggi kecerdasan emosional dan spiritual (EQ dan SQ). Dan cara menumbuhkan kedua kecerdasan tersebut salah satunya melalui pembentukkan karakter, yang bukan hanya ingin mencetak generasi mengetahui (knowing) atau merasakan (feeling) tetapi lebih jauh telah dapat menjadi pribadi yang melakukan (doing). 

Realitas seorang dokter yang meminum minuman keras, pejabat yang korupsi, muda-mudi yang melakukan free sex, pelajar yang mencontek, pengusaha yang rakus, pengendara yang melanggar lalu lintas, polisi dan hakim yang menerima suap, dan lain sebagainya, mengindikasikan bahwa pendidikan kita baru berhenti di tataran knowing. Makanya, meski mereka mengetahui bahwa tindakan yang dilakukan itu salah, bukan berarti mereka lantas menghindarinya. Menyadari kenyataan ini, maka sekolah kami benar-benar mengerahkan segenap upaya untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkarakter, sesuatu yang diartikan sebagai sebuah tindakan yang dilakukan secara spontan yang telah dilandasi oleh nilai-nilai etika universal. 

Profesor UIN Bandung yang meraih gelar master dan doktor di Australia tersebut mengungkapkan bahwa ada beberapa cara yang perlu kami lakukan agar dapat membimbing siswa menjadi pribadi yang berkarakter. Pertama ialah melalui pengajaran yang ditujukan kepada sisi kognitif mereka. Meski ini penting, tetapi baginya sehebat apa pun penjelasan yang dipaparkan oleh guru, pengajaran hanya memiliki andil maksimal 20% saja dari pembentukkan karakter siswa. 

Cara kedua dan ini yang penting, ialah melalui peneladanan sehingga guru mutlak memiliki beban untuk memberi keteladanan kepada siswanya. Akan sangat ironi jika guru menginginkan murid melakukan sesuatu yang positif, misalnya, tetapi dia sendiri tidak melakukan. Begitu pun sebaliknya, alangkah lucunya jika guru menuntut siswanya untuk tidak melakukan suatu tindakan buruk tertentu tetapi mereka sendiri melakukannya.
Jangan sampai guru menyuruh siswa datang tepat waktu tetapi mereka sendiri masih suka datang telat. Jangan sampai guru menyuruh siswa shalat berjamaah tetapi mereka sendiri sering shalat di ruangannya masing-masing. Jangan sampai guru menyuruh siswanya untuk mengantre tetapi mereka sendiri masih suka menyerobot, misalnya ketika memesan makanan di kantin. Dan bias-bias lainnya. 

Intinya seorang guru harus dapat menempatkan dirinya sebagai seorang role model. Kalau saja semua guru sudah memiliki komitmen yang sama pun benar-benar diejawantahkan sehingga tercipta iklim/budaya positif di sekolah, maka ini tentu akan menjadi salah satu faktor kuat yang dapat membentuk karakter siswa.
Tetapi masalahnya meski, misalnya, telah terbentuk budaya yang positif di lingkungan sekolah, masih saja ada kendala yang dapat menggagalkan cita-cita adiluhung ini, yakni faktor keluarga dan lingkungan. Bisa dibayangkan bagaimana biasnya jika sekolah sudah “mati-matian” membentuk budaya positif tetapi hal tersebut malah dihancurkan dengan mudahnya oleh pihak keluarga (orang tua) si murid itu sendiri.
Contoh sederhana misalnya ketika sekolah sudah sangat bersungguh-sungguh memberi penyadaran dan budaya berpakaian islami (menutup aurat) tetapi ternyata orang tua siswanya sendiri malah terbiasa mengenakan pakaian minim. Ketika sekolah telah mendidik siswa untuk menjadi pribadi yang saleh tetapi ternyata orang tuanya malah terbiasa mengabaikan tuntunan agama. 

Kemungkinan-kemungkinan inilah yang sebenarnya saya takutkan yang ketika saya tanyakan kepada profesor spesialis karakter siswa tersebut, ia pun mengakui kegalauan kondisi ini sampai-sampai ia mengatakan bahwa guru itu ibarat seseorang yang sedang membangun istana pasir. Istana belum jadi tetapi ombak sudah meratakannya, begitu saja sampai sapi masuk ke dalam lubang jarum. Tetapi ada satu statement-nya yang membuat kami tetap memiliki harapan, walaupun hanya secercah, katanya tugas kami (guru) hanyalah berusaha dan berdoa, sedangkan soal hasil serahkan saja pada Tuhan. 

Berlanjut ke cara pembentukkan selajutnya ialah melalui pemotivasian, sesuatu yang jarang dilakukan oleh para guru. Kesalahan yang lazim dilakukan oleh guru ialah mereka hanya memberi pujian kepada siswa-siswa yang pintar saja, sedangkan murid lain sering diabaikan padahal pujian merupakan faktor penting dalam membentuk kepercayaan diri siswa. 
 
Sebagai contoh, ketika siswa membuat suatu karya—yang menurut pandangan kita tidak estetis (jelek)—perlu bagi kita untuk tetap mengapresinya, memberi pujian dengan kata-kata, senyuman, juga dengan gestur tubuh. 

Awalnya mereka mungkin tidak percaya kalau karyanya bagus. Tetapi jika terus-menerus kita berkata bahwa karya yang mereka buat itu bagus, maka mereka pun akan mempercayai hal itu dan kita tinggal akan menunggu hasilnya yang bisa jadi mereka akan menjadi seniman kelak di masa depan. Yang perlu dicatat di sini ialah guru perlu menumbuhkan sugesti-sugesti positif kepada para siswanya sehingga lama-kelamaan dengan sendirinya akan teraktualisasi pada diri mereka. 

Cara terakhir yang dapat dilakukan ialah dengan melakukan penegakkan aturan. Sekolah perlu menegakkan aturan secara adil yang mana aturan tersebut dibuat dalam rangka mencapai tujuan yang dikehendaki (pembentukkan karakter). Di mana ada aturan maka ada konsekuensi logis yang diterima, dan konsekuensi logis inilah yang akan dapat menumbuhkan nilai tanggungjawab pada diri siswa.
Demikian lima buah pendekatan yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah jika ingin menciptakan out put siswa yang unggul dalam karakter, sesuatu yang jauh lebih sulit direalisasikan dibanding membentuk siswa cerdas, tetapi sesungguhnya inilah inti dari pendidikan, pembentukkan karakter. 

Sumber gambar: www.hipwee.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar