Perjuangan Syiah di Indonesia (Part 3)


Jiva Agung


Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National Universiy E-Press, tahun 2013. 

Bentuk Komunitas Syiah
Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah pengikut Syiah di Indonesia. Banyak tokoh terkemukanya yang mencoba untuk mengestimasikan jumlah mereka, meski tidak ada sumber reliabel yang dapat menyebutkannya. Beberapa tahun lalu cendekiawan Libanon, Muhammad Jawad Mughniyyah (w. 1979) mengatakan pengikut Syiah adalah sebanyak satu juta orang. Jumlah yang sama dikutip oleh Andi Muhammad Assegaf, ketua Fatimah Foundation Jakarta. 

Pada tahun 1995 Ahmad Baragbah, ketua Pondok Pesantren Al-Hadi di Pekalongan, Jawa Tengah, memperkirakan jumlah Syiah di Indonesia sekitar 20.000 orang sedangkan Dimitri Mahayana, ketua organisasi Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), ada sekitar tiga juta pengikut Syiah di tahun 2000. Semua estimasi tersebut tanpa berdasarkan data dan oleh karena itu tidak dapat disandarkan. Hampir mustahil bagi para peneliti untuk memberi data kuantitatif guna memperoleh statistik yang dapat dipercaya.

Di tahun 2000, Islamic Cultural Centre (ICC) Jakarta, sebuah institusi yang disponsori oleh Iran, mencoba untuk memberikan sebuah database perihal ustaz dan para pengikut Syiah di Indonesia. Proyek tersebut gagal, karena banyak Syiah yang tidak berkontribusi menanggapi kuisioner mereka. Meski ada kelemahan data kuantitatif, yang pasti Syiah merupakan populasi yang sangat kecil di Indonesia. Dan walaupun Syiah telah terbukti keberadaannya di masa lalu Indonesia, mayoritas dari mereka adalah pindahan dari Sunni mengikuti kemenangan revolusi Iran tahun 1979.  

Komunitas Arab
Orang-orang Arab telah menjadi unsur penting di dalam komunitas Syiah Indonesia, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Secara jumlah, kelompok Syiah banyak terdiri dari orang-orang Arab ini. Sedangkan secara kualitatif, ustaz-ustaz yang paling terkemuka Syiah di Indonesia adalah orang Arab asli, khususnya mereka yang memiliki garis sayyid yang diklaim merupakan keturunan Nabi Muhammad. Orang-orang Arab dianggap menjadi anggota asli dari komunitas Syiah di Indonesia meskipun waktu kedatangan mereka masihlah belum jelas.  

Syiah telah eksis secara kuat dari kalangan Arab di suatu Indonesia sejak setidaknya akhir abad ke-19. Sejak saat itu telah ada hubungan yang intim antara Hadramaut, wilayah Yaman di semenanjung Arab Selatan dengan wilayah Indo-Melayu. Riddel beranggapan bahwa pengunjung dari Eropa di Hadramaut pada awal dekade abad ke-20 menyaksikan adanya kontak yang luas dengan dunia Melayu. 

Dia menganggap periode ini—salah satu peningkatan intensif di Arab yang berpindah karena adanya tekanan ekonomi dan tensi politik—sebagai sebuah turning point masyarakat Hadramaut ke tempat asal mereka maupun ke Asia Tenggara. Mereka meninggalkan Hadramaut untuk menjadi imam atau guru (pengajar agama), juga ada di kalangan imigran Hadramaut dan orang Arab yang lahir di Indonesia, khususnya para sayyid, yang dapat kita identifikasikan sebagai pengikut Syiah di dalam wilayah ini. 

Muhammad Asad Shahab (1910-2001), seorang sayyid yang juga penulis sekaligus jurnalis terkenal Syiah memberitahu bahwa beberapa pemimpin terkemuka sayyid dan para cendekiawan adalah berasal dari keluarga al-Muhdar, Yahya, Shahab, al-Jufri, al-Haddad, dan al-Saqqaf. Ada juga penganut Syiah dari klan Arab lainnya di Hindia Belanda.

Betapapun, kita tidak dapat menggeneralisir semua klan sayyid tersebut sebagai pengikut Syiah, sebagaimana yang akan kita lihat di bawah, beberapa anggota dari klan tersebut pada kenyataannya malah bergabung dengan grup anti-Syiah. 

Faktanya beberapa keluarga sayyid yang berafiliasi dengan Syiah tidak diakui luas oleh kalangan mayoritas Sunni. Sebagian mereka bahkan diasumsikan sebagai seorang cendekiawan dan pemimpin Sunni, sejak mereka dianggap mengetahui ajaran Sunni dan terlibat dalam kehidupan berkomunitas di lingkup masyarakat luas. 

[Bagi saya] ini bisa jadi karena mereka sedang mempraktikkan taqiyyah, kebolehan menyembunyikan keyakinan sejatinya karena sebab-sebab tertentu. Secara publik, mereka mempraktikkan ritual fikih menurut mazhab Sunni Syafi’i tetapi di belakang mereka memegang penuh keyakinan fundamental Syiah. Hanya sedikit saja yang secara terbuka memperlihatkan aspek-aspek ibadah menurut mazhab fikih Syiah Ja’fari.
Dari kalangan minoritas di kelompok Arab tersebut, ada beberapa ulama dan pemimpin terkemuka yang memainkan peran penting di ranah sosial, agama, dan perpolitikan. Sebelum awal pertengahan awal abad ke-20, kami menemukan tiga pemimpin ulung Syiah di Hindia Belanda yang merepresentasikan klan Sayyid yang berbeda-beda. 

Yang pertama dan paling utama ialah Sayyid Muhammad bin Ahmad al-Muhdar (1861-1926) yang berasal dari klan al-Muhdar. Sangat sulit bagi kita mengetahui kehidupan masa kecilnya tetapi kami diinformasikan bahwa ia terlahir di Qereh, Hadramaut, Yaman, sekitar tahun 1861 dan mendapat pendidikan agama di sana. Dia datang ke Hindia Belanda pada umur 24 dan pertama-tama tinggal di Bogor, Jawa Barat, dan kemudian ke Bondowoso dan Surabaya, Jawa Timur. Ia terlibat dalam pengajaran dan penyebaran ajaran Islam di berbagai perkumpulan keagamaan di Surabaya, Bondowoso, dan kota-kota lain di Jawa Timur, juga di Pekalongan (Jawa Tengah), Bogor, dan Batavia (Jakarta). 

Di tahun 1908 dia terlibat dalam pendirian Jam’iyyah al-Khairiyyah al-Arabiyyah, adik dari organisasi Jami’at Khair Jakarta yang mendirikan sekolah Islam, madrasah al-Khairiyyah di Surabaya dan Bondowoso. Betapapun, secara karakteristik sekolah-sekolah tersebut bukanlah bermazhab Syiah. Muhammad al-Muhdar wafat pada 4 Mei 1926 di Surabaya, tempat di mana ia dikuburkan. 

Di masa hidupnya Muhammad al-Muhdar dikatakan mengekspresikan pengabdiannya pada Syiah melalui pengajaran dan ceramahnya. Sebagai contoh, ia pernah mengkritik kitab hadis al-shahih dari Al-Bukhari, buku kumpulan hadis Sunni yang paling otoritatif. Kritik semacam ini umum dilakukan oleh para penganut Syiah tetapi jarang ditemui di kalangan Sunni. 

Di dalam kalangan Syiah, baik pada masa lalu maupun sekarang, Muhammad al-Muhdar dianggap sebagai seorang cendekiawan terkemuka yang telah berkontribusi menyebarkan dan mengabadikan dirinya pada iman. Selain mengajar dan berdakwah, ia juga membuat sejumlah tulisan yang berisi tentang prinsip doktrin-doktrin Syiah seperti doktrin penunjukkan Ali bin Abi Thalib sebagai imam pertama yang seharusnya menjadi pengganti Nabi Muhammad. Hanya saja, tulisan ini tidak pernah diterbitkan. 

Figur terkemuka kedua yakni Sayyid Ali bin Ahmad Shahab (1865-1944) yang sangat berkontribusi pada perkembangan pendidikan, keagamaan, sosial, dan politik masyarakat Indonesia. Lahir di Batavia dari seorang ayah Sayyid, Ahmad bin Muhammad bin Shahab dengan seorang ibu bersuku Sunda, Ali Ahmad Shahab belajar Islam dasar melalui ayahnya dan beberapa cendekiawan sayyid lain di wilayah tersebut.
Dikenal luas sebagai Ali Menteng, ia merupakan tokoh utama Arab di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan pertengahan awal abad ke-20. Dia adalah seorang cendekiawan, aktivis, dan pembisnis sukses. Dia juga salah seorang pendiri Jami’at Khair, organisasi muslim pertam di Hindia Belanda yang didirikan di tahun 1901. Dan terpilih sebagai ketua umum pada tahun 1905 ketika organisasi ini mendapat pengakuan yang sah dari pemerintah Hindia Belanda. 

Dia merupakan salah seorang yang paling vokal melawan Al-Irsyad, sebuah organisasi yang didirikan untuk melawan Jami’at Khair karena konflik berkepanjangan antara Arab sayyid dengan non-sayyid pada dekade kedua abad ke-20. 

Ali Ahmad Shahab merupakan seorang informan utama terhadap konsul umum Inggris di Batavia sampai tahun 1920-an dan dia menggunakan posisi ini untuk menghasut pemerintah Inggris untuk beraksi melawan gerakan non-sayyid, Al-Irsyad. 

Dia meyakinkan pemerintah Inggris untuk mengontrol pelabuhan India dan Singapura serta melarang para palancong pengikut Al-Irsyad berkunjung ke Hadramaut. Selain itu dia juga mempengaruhi Sultan Qu’ayti di Hadramaut untuk membangun aliansi dengan Inggris.

Kelihatannya tindakannya cukup sukses karena para pengikut Al-Irsyad benar-benar cukup sulit untuk mengunjungi Hadramaut di mana pemerintahan Inggris menolak mereka untuk memasuki tempat tersebut. Sanak famili mereka di Hadramaut juga menghadapi rintangan yang sama.  

Sama halnya dengan figur muslim penting lain di wilayah ini, Ali Ahmad Shahab juga terpengaruh pada spirit Pan-Islamisme. Dia membangun kontak dengan Sultan Abdul Hamid dari kekaisaran Ottoman, mengunjungi Turki untuk bertemu dengannya berdiskusi cara memberikan pendidikan bagi murid-murid sayyid dari Hindia belanda ke Istanbul. Sabagai hasilnya, tiga sayyid muda, anaknya sendiri, Abdulmutallib, Abdurrahman al-Aydrus, dan Muhammad bin Abdullah al-Attas masuk ke Galatasary Lyceum, sebuah pendidikan modern yang didirikan di Istanbul.

Ali Ahmad Shahab tidak diakui sebagai penganut Syiah menurut masyarakat muslim di Hindia Belanda. Tetapi anaknya, Muhammad Asad Shahab menegaskan bahwa dia bukan hanya pengikut Syiah dalam pengertian kepercayaan dan praktiknya, tetapi juga merupakan seorang pendakwah tenar mazhab ini.
Kami tidak memiliki informasi apakah Ali Ahmad Shahab adalah murid dari Sayyid Abu Bakar Shahab, seorang pengajar Syiah Hadramaut di Asia Tenggara pada waktu itu. Tidak diketahui pula bagaimana cara Ali Ahmad Shahab menyebarkan ajaran Syiah, tetapi bisa dipahami bahwa ia menyebarkannya secara eksklusif (saja), terbatas kepada keluarganya dan teman dekat.

Dia memiliki banyak murid yang diberi lisensi (ijazah) untuk dapat mempraktikkan dan mengajar doa-doa tertentu termasuk doa yang ditransmisikan melalui imam suci. Salah satunya yaitu doa yang dibaca setiap pagi.
Cendekiawan terkenal yang ketiga adalah Sayyid Aqil bin Zainal Abidin (1870-1952) yang berasal dari klan al-Jufri. Lahir di Surabaya di tahun 1870, ia belajar pengetahuan Islam pertama kali dari ayahnya. Ketika berumur tujuh tahun ayahnya mengirimnya ke Mekkah untuk belajar dengan ulama Syafi’iyyah dan dikatakan juga bahwa ia telah menghafal semua isi Alquran di umur sepuluh tahun, sebuah prestasi yang dianggap akan menjadi peraihan keagamaan dan intelektual yang hebat. 

Guru Alqurannya adalah Muhammad al-Sharbini dan Yusuf Abu Hajar sedangkan guru bahasa Arabnya adalah Umar Shatta dan Abdurrahman Babasil. Adapun Abdurrahman al-Hindi al-Haidar dan ulama Syafi’iyyah lainnya mengajarkannya tafsir Quran al-Jalalayn dan hadis, khususnya kitab yang dikumpulkan oleh Muslim (w. 875), Abu Daud (w. 889) dan al-Nasa’i (w. 915). 

Pada periode ini mungkin ia adalah seorang Sunni. Tapi kemudian di tahun 1899 dia pindah ke Singapura di mana ia mempelajari al-Durr al-Mansur dan al-Amali karangan Syaikh al-Saduq al-Qummi di bawah seorang ulama bernama Abu Bakar bin Shahab (1846-1922). Juga, Muhammad bin Aqil bin Yahya mengajarkan Aqil al-Jufri sebuah buku fikih berjudul al-Urwa al-Wusqa karangan Sayyid Muhammad Kazim Tabataba’i Yazdi dan Aqil al-Jufri menerima fuqaha terkemuka Syiah sebagai marja al-taqlid, atau sumber atau tempat peniruan/rujukan.

Mungkin cendekiawan-cendekiawan Syiah inilah yang telah mempengaruhi konversi Aqil al-Jufri ke mazhab Syiah. Tiga tahun kemudian, dia kembali ke Mekkah tempat di mana ia bergabung dengan jamaah Ali al-Amri al-Madani dan ulama Syiah lainnya. Dia juga membuat kontrak dengan ulama terkemuka di dunia, termasuk Zawawi dari Mekkah. 

Setelah beberapa tahun tinggal di Mekkah, Aqil al-Jufri pergi ke Jambi tempat di mana ia menikahi anaknya Sayyid Idrus bin Hasan bin Alwi al-Jufri. Kemudian pindah ke Mekkah dan menetap di sana sampai tahun 1921 dan berakhir ke kampung halamannya lagi, Surabaya, sampai ajal menjemputnya pada tahun 1952.
Di Jawa ia mendedikasikan hidupnya untuk mengajar, memberi ceramah, dan menulis. Selain itu ia juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Uniknya, ia termasuk orang yang menyebarkan ajaran Syiah secara terbuka. Akibatnya ia sering terlibat dalam perdebatan dengan ulama Sunni di Surabaya dan pernah mendapat ancaman fisik. Seperti Ali Ahmad Shahab, Aqil al-Jufri dikatakan termasuk orang yang terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 

Di sisi lain ia pun terlibat dalam dunia literasi. Beberapa tulisannya yang tak dipublis menegaskan kesetiaannya pada Syiah dan mengenai kevalidan mazhab tersebut. Di tahun 1924 misalnya, bersama dengan saudara laki-lakinya, Ahmad al-Jufri menerbitkan salah satu tulisan Muhammad bin Aqil yang berjudul al-Atb al-Jamil ala al-Jarh wa al-Ta’dil. 

Ketiga figur di atas menjaga koneksinya dengan dua ulama Syiah Hadramaut, yakni Sayyid Abu Bakar bin Abdurrahman bin Muhammad bin Shahab (1846-1922) dan Muhammad bin Aqil bin Yahya (1863-1931).
Abu Bakar bin Shahab menulis banyak buku yang berhubungan dengan beragam ilmu juga kumpulan puisi. Bahkan bukunya yang berisi tentang logika masih tetap diajarkan di Universitas Al-Azhar Kairo. Perannya sebagai seorang saudagar keliling, cendekiawan (ulama), dan guru, amat penting dalam membentuk jaringan internasional masyarakat Hadramaut di pertengahan kedua abad ke-19 dan di awal abad ke-20. Ia merupakan seorang pendakwah reformis terkemuka di kalangan masyarakat Hadramaut dan di negara lainnya.

Abu Bakar bin Shahab menjelajah berbagai negara di Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Dia tinggal beberapa waktu di Surabaya dan Singapura untuk kepentingan bisnis juga kunjungan keluarga, selain juga untuk mengajar. Ketiga figur Syiah yang kami deskripsikan di atas agaknya belajar dengan Abu Bakar bin Shahab ketika dia berkunjung ke wilayah Asia Tenggara dan menjaga hubungan interaksi dengannya.
Adapun Muhammad bin Aqil bin Yahya merupakan salah seorang murid dari Abu Bakar bin Shahab. Seperti gurunya, dia adalah seorang saudagar keliling dan ulama. Berkunjung ke Asia Tenggara dan menetap di Singapura cukup lama. Di tahun 1908, bersama Hasan bin Shahab dan pemimpin sayyid lainnya, dia terlibat dalam reorganisasi manajemen al-Imam, sebuah majalah reformis berpengaruh, dan juga ditunjuk sebagai direktur menajer di sana. Tidak hanya itu, ia juga mendedikasikan hidupnya untuk mengajar serta menulis. Aqil al-Jufri, salah seorang muridnya, mempublikasikan karyanya. Tetapi di tahun 1907 ia pernah memicu reaksi keras dari komunitas Sunni karena terbitan buku kotroversionalnya yang berjudul al-Nasa’i al-Kafiya liman Yatawalla Mu’awiya. 

Buku ini dengan jelas mengindikasikan kepemelukan Muhammad bin Aqil terhadap mazhab Syiah. Werner Ende memberikan catatan penting mengenai kecenderungan Syiahnya Muhammad bin Aqil, khususnya mengenai kebolehan mengutuk Muawiyyah bin Abu Sufyan, pendiri dinasti Umayyahh di Baghdad, sebuah dinasti yang nantinya (harus) bertanggung jawab atas kematian Husein. 

Betapapun, saat ia enggan untuk menegaskan kesyiahan Muhammad bin Aqil, hasil bacaan saya (Zulkifli) terhadap buku tersebut dengan jelas mengindikasikan kesyiahannya. Buku tersebut mengutip dua sumber (Sunni dan Syiah) untuk membuktikan kebolehan mengutuk Muawiyyah. Dia mengungkapkan bahwa baik dari Sunni maupun Syiah telah setuju dalam kewajiban sejarah untuk membunuh Muawiyyah ketika mendapat kesempatan, bahkan hal tersebut merupakan sebuah perbuatan terpuji yang akan mendapat pahala dari sisi Allah.  

Indikasi lain yang menandakan bahwa Muhammad bin Aqil adalah penganut Syiah yakni ketika ia menggunakan istilah “imam” kepada para imam syiah dan menggunakan kata alaihi al-salam setelah menyebut nama mereka. Tindakan ini merupakan sebuah tradisi yang tidak ada di kalangan Islam Sunni.
Di tambah lagi, dia mengkritisi dua hal dari ajaran Sunni. Pertama, dia mengkritik konsensus 4 mazhab hukum fikih di bawah kekuasaan raja-raja yang tirani. Hal kedua yang dia kritik ialah penolakan Sunni terhadap ajaran Syiah mengenai kesempurnaan dua belas imam, menyangkal, tidak menghormati namanya, dan menolak bukti-bukti rasional dan tekstual mengenai keeksistensiannya. Kutipan di bawah ini di ambil dari tulisan Muhammad bin Aqil yang mengandung beberapa aspek ajaran Syiah yang ditolak oleh ulama Sunni.

Mengherankan, banyak sekali orang bahkan sebagiannya dari para cendekiawan (ulama) yang berpikir kalau barangsiapa yang menyapu/menyeka kakinya dan bukan membasuh di dalam wudhu adalah suatu hal yang heretik (bid’ah). Sama dengan itu,  siapa saja yang mengatakan bahwa perbuatan baik datang dari Tuhan sedang perbuatan buruk datangnya dari dirinya, barangsiapa yang memasukkan hayya ‘ala khair al-amal di dalam azan, siapa saja yang mengatakan Ali lebih utama daripada Abu Bakar, [...] semua adalah suatu bentuk kesalahan dalam pandangan hampir semua ulama Sunni kita.

Tak terelakkan, buku tersebut menimbulkan reaksi yang dahsyat dari ulama Sunni di Singapura, khususnya dari kalangan ulama-ulama terkemuka Arab, termasuk penasihat Kehormatan Urusan Arab-Pemerintah Kolonial dan seorang mufti Batavia, Sayyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya (1822-1914), ayah mertua Muhammad bin Aqil dan Hasan bin Shahab, teman Muhammad bin Aqil. Setelah meneliti dengan saksama keseluruhan konten buku tersebut, Hasan bin Shahab membuktikan bahwa tulisan Muhammad bin Aqil sangat diwarnai dengan cara pandang Syiah dalam memahami Islam.

***

Kontinuitas Syiah sebagai kelompok minoritas pada periode berikutnya tetap dipelihara dalam bentuk-bentuk pendidikan informal di lingkup keluarga maupun privat. Berkenaan dengan hubungan guru-murid, Muhammad al-Muhdar dan Aqil al-Jufri memiliki seorang murid dekat yang kemudian hari menjadi seorang pemimpin Syiah terkemuka, Sayyid Hasyim bin Muhammad Assegaf (w. 1970) yang tinggal di Gresik. Dikatakan bahwa Aqil al-Jufri mewariskannya peran untuk melakukan ritual penguburan gurunya tersebut berdasarkan mazhab Ja’fariyyah. 

Dikatakan pula bahwa ia mempraktikkan fikih Ja’fari baik dilingkup privat maupun publik, bahkan berani menunjukkannya di lingkungan mayoritas Sunni. Selain memiliki hubungan kedekatan dengan masyarakat Syiah Indonesia, dia pun berinteraksi dengan ulama Syiah di dunia dan ketenarannya sebagai figur pemimpin Syiah telah membuatnya sering mendapat kunjungan dari ulama maupun cendekiawan Syiah. Abubakar Atjeh menulis: “Di Gresik kami bertemu dengan tokoh terkemuka Sayyid Hasyim Assegaf. Dengannya kami berbicara panjang mengenai Syiah dan karangan-karangannya.”

Pada saat kelompok Syiah masih belum memiliki lembaga pusat, Hasyim Assegaf menjadikan rumahnya sebagai tempat mereka untuk merayakan perayaan-perayaan Syiah. Mengenai perannya ini, Muhammad Asad Shahab menulis:

Di Gresik, Jawa Timur, perayaan akbar Idul Ghadir dirayakan di rumah besar figur-figur Syiah. Di tahun-tahun terakhir, perayaan diselenggarakan di rumah Sayyid Hasyim bin Muhammad Assegaf, salah seorang pemimpin Syiah Imamiyah. Sekarang umurnya telah mencapai 80 tahun tetapi masih terlihat sangat sehat. Perayaan tersebut dihadiri oleh sejumlah besar umat Syiah yang datang dari berbagai tempat. Biografi pahlawan kami, tuannya orang-orang yang beriman, Imam Ali, dan kasidah dibaca serta khutbah disampaikan. Kemudian makanan dihidangkan.

Kekeluargaan telah memainkan peran penting dalam memeliharaa kontinuitas umat Syiah. Kebanyakan pengikutnya adalah anak cucu dari figur-figur yang disebut di atas dan sanak keluarga mereka. Beberapa dari mereka menjadi ulama besar di sejumlah kota di Indonesia yang mendedikasikan hidupnya di ranah pendidikan Islam dan dakwah. 

Dari klan al-Muhdar kami menemukan dua orang anak dari Muhammad al-Muhdar yang dikenal sebagai ustaz. Muhdar al-Muhdar sangat dikenal di Bondowoso dan di beberapa kota lain di Jawa Timur sedangkan Husein al-Muhdar (w. 1982) menyampaikan ajaran Islam dalam perkumpulan-perkumpulan di berbagai kota, termasuk Jakarta. 

Kedua tokoh ini melanjutkan penyebaran Syiah kepada sanak keluarga dan kelompok kenalannya. Beberapa mualaf Syiah, baik dari kalangan Arab maupun non-Arab, di periode paska revolusi Iran, berkesempatan untuk menerima pembelajaran dari sosok Husein al-Muhdar. 

Adapun figur paling terkemuka dari klan Shahab adalah Muhammad Dhiya Shahab (w. 1986) dan Muhammad Asad Shahab (w. 2001), keduanya adalah anak dari Ali Ahmad Shahab. Yang disebut pertama adalah seorang guru, jurnalis, sekaligus penulis. Seperti ayahnya, dia merupakan seorang figur penting di dalam komunitas Arab di Indonesia dan memiliki peran penting dalam perkembangan organisasi Jami’at Khair, menjadi ketuanya selama sekitar 10 tahun (1935-1945). 

Dia mengajar di sekolah Jami’at Khair dan memimpin al-Rabita al-Alawi (Perserikatan Alawi); yang memberikan perhatian besar pada perkembangan sosial-keagamaan masyarakat Arab di seluruh Indonesia. Sejak tahun 1950 hingga 1960 dia berkerja di Departemen Informasi dan sempat menulis sejumlah tulisan ilmiah yang kebanyakan diterbitkan di Arab dan di Beirut, termasuk al-Imam al-Muhajir yang ditulis bersama dengan Abdullah bin Nuh (1905-1987).

Sedangkan Muhammad Asad Shahab, sama dengan Muhammad Dhiya, merupakan seorang jurnalis dan penulis yang produktif. Sekolah pertamanya adalah di Jami’at Khair kemudian pindah ke al-Khairiyyah di Surabaya dan lulus pada tahun 1932. Sejak tahun 1935 dia menjadi seorang wartawan di beberapa majalah. 

Di tahun 1945, bersama kakaknya, dia mendirikan sebuah agensi berita (news) bernama Arabian Press Board (APB) yang pada tahun 1950 berganti nama menjadi Asian Press Board. Pada tahun 1963 APB bergabung dengan lembaga agensi nasional Antara karena presiden Soekarno hanya menginginkan ada satu agensi berita di negara Indonesia. Muhammad Asad Shahab juga mendirikan sebuah majalah bernama Nasional Press Digest. 

Seperti kakaknya, dia kemudian berkerja di Liga Dunia Muslim di Mekkah sejak tahun 1965. Perlu dicatat di sini bahwa dia pernah memperkenalkan seorang ulama modernis Hamka kepada ulama-ulama Syiah Iran karena kemauan Hamka yang memasukkan penafsiran mufasir Syiah seperti Tabataba’i (al-Mizan) dan Ayatulla Khoe’i (al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an) ke dalam buku tafsirnya Al-Azhar. Selain itu Muhammad Asad Shahab juga menulis banyak buku-buku dan karya tulis arab yang diterbitkan di Timur Tengah.

Di tahun 1960-an kedua bersaudara itu mendirikan sebuah lembaga keislaman yang dikenal Lembaga Penyelidikan Islam dan bersamaan dengan itu sebuah majalah bernama Pembina. Tujuan umum dari institusi itu ialah untuk menambah sebuah perpustakaan yang cukup representatif dalam memberikan buku, jurnal, majalah, dan sumber-sumber lain ajaran Islam (pada umumnya) dan Syiah (khususnya) dengan menerjemahkan buku berbahasa asing (terutama Arab) ke bahasa Indonesia, dan untuk mendistribusikan buku juga majalah kepada masyarakat muslim Indonesia. Tujuan akhirnya ialah untuk mengirim siswa/mahasiswa supaya dapat mengambil pendidikan Islam di Timur Tengah. 

Mereka juga mencoba mendirikan hubungan dekat dengan ulama-ulama Syiah di negara-negara Timur Tengah untuk dapat menyebarkan ajaran Syiah di Indonesia serta mendapat support dari mereka. Muhammad Kazim al-Quzwaini di Karbala, Irak, mengirim buku-buku dan majalah, termasuk bahan-bahan mengenai ajaran Islam seperti fikih Ja’fari, Tafsir al-Quran, buku hadis, dan akhlak. Pun dengan Ayatullah Muhsin al-Hakim (w. 1970) dari Najaf, Irak, Muhammad Jawad Mughniyyah (w. 1979), Hasan al-Amin dan al-‘Irfan (lembaga penerbitan pertama Syiah di Libanon), memberikan banyak sekali buku dan bahan-bahan hard file lainnya kepada Sayyid Syiah di Indonesia. Dengan adanya kumpulan buku ini, Lembaga Penyelidikan Islam berfungsi dengan baik sebagai sebuah pusat penyebaran mazhab Syiah di Indonesia juga bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mempelajari ajaran Syiah. 

Salah seorang pewarisnya adalah Abubakar Atjeh yang menggunakan lembaga ini untuk menerbitkan seri perbandingan mazhab, termasuk Syiah, Rasionalisme dalam Islam yang diterbitkan pada tahun 1965 dan merupakan buku pertama bernada simpatik yang ditulis oleh orang Indonesia. Lembaga ini pun menerbitkan beberapa buku Islam lain. 

Muhammad Asad juga melakukan kunjungan ke ulama-ulama Syiah di Timur Tengah. Pada tahun 1965 ia bertemu dengan Abdul Husain Sharafuddin (w.1957), Ahmad Arif al-Zayn pengarang kitab al-Irfan, dan Muhammad Jawad Mughniyyah di Libanon. Di Baghdad ia mengunjungi Hibbat al-Din al-Shahrastani. Sedangkan di Najaf dia mengunjungi Ayatullah Muhsin al-Hakim (w. 1970), Muhammad Rida al-Muzaffar (w.1964) dan Muhammaf Taqi al-Hakim (w. 2002). Dia melaporkan kalau ulama-ulama Syiah di sana sungguh perhatian terhadap kondisi dan perkembangan Syiah di Indonesia, bahkan mereka mau menerima murid-murid Indonesia untuk belajar di institusi mereka. Walaupun demikian, menurut Asad Shahab, karena beberapa alasan termasuk ketatnya regulasi visa ke luar negeri, kesempatan tak dapat terlaksana pada waktu itu. 

Koneksi antara Syiah Indonesia dengan ulama Syiah Timur Tengah didukung oleh kunjungan terakhir, atau wakil mereka ke Indonesia. Di saat informasi kunjungan berubah dan saat itulah ajaran Syiah disebarkan. Pertemuan dengan antara Syiah dan diskusi-diskusi mengenai ajaran fundamentalnya terselenggara.
Di tahun 1962 misalnya, seorang terpelajar Syiah dari Irak, Muhammad Reza Ja’fari mengunjungi Indonesia untuk bertemu dengan pemimpin muslim di sana. Rencana perjalanannya termasuk kunjungan ke sekolah al-Khairiyyah di Bondowoso. Guru dan murid di madrasah itu, termasuk figur-figur penting Syiah di kota tersebut yang di antaranya ada Muhammad Asad Shahab dan Husein al-Habsyi (1921-1994) terlibat dalam diskusi mengenai prinsip-prinsip ajaran Syiah yang berlangsung selama empat hari. 

Setelah kegiatan tersebut, beberapa guru di sekolah itu pindah menjadi Syiah. Hamzah al-Habsyi sendiri, yang sekarang merupakan seorang ustaz Syiah terkemuka di Bondowoso, mengakui bahwa dirinya pindah ke Syiah di tahun 1969-an. 

Sekalipun dengan keterbatasan alat-alat penyebaran dakwah dan koneksi dengan Timur Tengah, kelompok kecil ini berhasil menjaga kontinuitas dan menarik anggota baru di berbagai kota dan desa di Indonesia.
Ada tiga tokoh yang perlu disebutkan atas keberhasilan ini. Yang pertama ialah Sayyid Abdul Qadir Bafaqih dari Bangsri di Jepara, Jawa Tengah yang pindah ke Syiah setelah membaca buku-buku yang diterimanya dari Kuwait pada tahun 1974. Ia membangun sebuah pesantren bernama Al-Khairat (sekaligus menjadi pemimpinnya) tempat di mana ia menanamkan ajaran Syiah, merekam ajarannya, dan menulisnya dalam sejumlah buku yang tidak diterbitkan. 

Ajarannya itu menarik banyak murid dan masyarakat di sekitar pesantren yang akhirnya Syiah menjadi tersebar ke beberapa area lain seperti Bulustan, Semarang Selatan. Dakwahnya mendapat reaksi negatif dari sejumlah figur Sunni di daerah tersebut, bahkan menarik perhatian dari pemerintah dan media massa pada tahun 1982. 

Tokoh kedua adalah Sayyid Ahmad al-Habsyi (w. 1994), pemimpin pesantren Ar-Riyadh di Palembang, Sumatera Selatan. Dia memiliki koneksi dengan lembaga Islam di Teheran yang disebut Persaudaraan Islam (Muslim Brotherhood). Dialah yang mengirim muridnya yang tiada lain merupakan ustaz Syiah terkenal Umar Shahab dan saudaranya Husein Shahab untuk belajar agama di Qum pada tahun 1974 dan 1979.
Mengeni hal ini perlu diberi tahu usaha yang dilakukan oleh pesantren Al-Khairat Palu, Sulawesi Selatan—cabang lain dari lembaga pendidikan Jami’at Khair Jakarta—yang telah terlebih dahulu mengirim murid-muridnya untuk belajar di Qum, sebagaimana yang akan dijelaskan di bawah. Keterkaitan ini, yang terjadi di tahun 1970-an, yakni antara sayyid dengan ulama Syiah berkontribusi terhadap perkembangan baru di dalam umat Syiah Indonesia. 

Figur ketiga adalah Sayyid Husein Al-Habsyi yang mendirikan Yayasan Pesantren Indonesia (YAPI) di Bangil tahun 1976. Dia dan pesantrennya memiliki kontribusi besar dalam proses penyebaran Syiah di Indonesia. Seperti yang akan kita saksikan di bawah, dia mengirim sejumlah murid—sebagian besar adalah keturunan Arab—untuk belajar di Qum setelah berdirinya Negara Republik Islam Iran. Hampir semuanya menjadi ustaz Syiah terkemuka di Indonesia. 

Kemenangan revolusi Iran 1979 merupakan momen bersejarah yang sangat penting bagi yayasan komunitas Syiah di Indonesia. Revolusi ini tidak hanya berkontribusi membuat banyak umat muslim yang berpindah ke Syiah tetapi juga memberi kesadaran dan penyadaran akan Syiah dan sejarah mereka. Setelah revolusi, banyak kalangan Arab (sayyid dan non-sayyid) yang berkonversi ke Syiah. 

Tetapi di samping karena adanya revolusi Iran dan peningkatan akan kesadaran neo-kolonialisme, Al-Attas memberikan kita dua alasan utama mengapa kelompok sayyid di Asia Tenggara berpindah ke Syiah. Yang pertama ialah dari persepsi umum dari kalangan sayyid bahwa komunitas keagamaan yang lain di wilayah itu bagaimana pun juga “terbelakang”. 

Kedua, Khomeini, pemimpin revolusi Iran, adalah seorang sayyid dan pertemuan genealogi antara Syiah dan sayyid ini telah menarik mereka untuk menganut Syiah. Posisi kelompok Arab di dalam komunitas Syiah terus berlanjut secara signifikan sebagai hasil dari pengalaman awalnya di dalam institusi pendidikan Syiah di Qum, Iran. Betapapun, perlu dicatat bahwa ketika kelompok awal ini (para sayyid) memelopori pengiriman murid-murid ke Qum, dapat dikatakan secara kuantitatif, murid-murid dari kelompok etnis lain melebihi jumlah mereka.

sumber gambar: www.infosyiah.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar