Muslim Harus Pintar Ngegas dan Ngerem



 Anisha Nur Fitriani
“Menggengam cita dalam doa”


“Semua ini tentang harapan dan kepastian”

Teringat dengan pertanyaan adik tingkat: “teh nanti kalau udah lulus S1 rencana mau apa?” 

“tergantung apa yang datang duluan.”  Jawabku simpel 

“maksudnya?” 

“ya tengantung siapa yang datang duluan. Kalau yang datang duluan pekerjaan ya kerja dulu. Kalau yang datang tawaran untuk lanjut sekolah lagi ya lanjut studi s2 dulu. Atau kalau ternyata yang datang duluan jodoh ya udah nikah dulu. Hehe” Jelasku, seakan tidak terlalu meribetkan apa yang akan terjadi di depan meski tetap punya arahan. Betapa pun, nyatanya ada satu hal yang kulupakan dalam jawaban tersebut. 

Apa itu? 

Itu adalah: kematian 

Aku lupa menyebutkan: “jika yang menjemput duluan adalah ajal, maka saya harus segera berakhir di sini dan meneruskan di sana (di kehidupan setelah kematian).”

**

Rasulullah saw. bersabda “bekerjalah kamu seakan-akan hidup selamanya dan beribadahlah kamu seakan-akan mati esok.” Dari hadis ini jelas bahwa ini adalah tentang kesungguhan. Bersungguh-sungguh dalam segala halnya! baik dalam menjalani hidup maupun dalam menghadapi kematian. Maka jelas, yang kita harus fokuskan bukanlah tentang capaian akan rencana-rencana tersebut, melainkan orientasi kita harus difokuskan pada usaha atau proses untuk mencapai apa yang telah kita rencanakan tersebut. 

Jika kita berorientasi pada target pencapaian, belum tentu umur kita akan sampai pada apa yang sudah direncanakan, karena kita tidak pernah tahu siapa yang akan datang menjemput duluan? Kerjaan kah? Sekolah lagi kah? Jodoh kan? Ataukah ajal.

**

Sebagai seorang muslim, hidup kita memang harus berencana, sebagai “gas” dalam menjalani kehidupan di dunia untuk dijalani dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Namun, perlu diingat bahwa kita pun pasti akan mati dan kita perlu sangat amat yakin bahwa kita akan hidup setelah hidup (baca: mati). Oleh karena itu, kita bukan hanya harus memikirkan kehidupan saat sekarang, tapi yang harus kita pikirkan juga adalah bekal untuk kehidupan yang abadi setelah kehidupan ini. Maka mengingat kematian menjadi “rem” kita dalam hidup agar tak sampai terlena akan kesenengan hidup di dunia yang tidak sesuai tracknya. 

Dari situ telah jelas bahwa fokusnya bukan pada apa yang menjadi targetan, namun orientasi kita haruslah diarahkan pada usaha untuk mencapai targetan tersebut. Karena jika berbicara target, apalagi di masa depan, siapa yang tahu sih umur kita akan sampai kapan? Takabur sekali rasanya jika kita hanya memikirkan rencana-rencana pencapaian dalam hidup (yang belum pasti akan terjadi), tanpa mengingat kematian yang kepastiannya sudah pasti akan terjadi. 

Di sinilah esensisnya usaha dan istiqomah dalam kebaikan karena kita tidak tahu jatah umur kita akan bertahan sampai kapan. Bisa jadi kita tidak akan pernah sampai pada pencapaian yang kita rencanakan, dikarenakan sebelum semua rencana terealisasi, ajal sudah menjemput duluan.

***

Islam adalah agama sempurna yang semua ajarannya begitu indah. Islam mengajarkan keseimbangan hidup bahagia di dunia dan juga akhirat. Namun ingat, jangan artikan kebahagiaan itu dengan makna yang mainstream, seperti pemaknaan menurut kebanyakan orang di mana kebahagiaan itu diartikan dengan begitu sempitnya, yakni kebahagiaan atas perolehan limpahan materi (uang), kemewahan, pencapaian kedudukan, jabatan, simbol-simbol pencapaian prestasi dan sebagainya. Sungguh kasihan dan miris. Jika orang-orang hanya mengartikan kebahagiaan sesempit itu, yang justru membuat hidupnya tidak akan terasa bahagia. 

Agaknya kita perlu kaji kembali, “apa sih hakikat bahagia itu sebenarnya?” karena menurut hemat saya, sangat amat percuma jika kita mendapatkan kesenangan namun tidak terpaut pada yang memberikan kesenangan itu, yakni Allah Swt. Jika hal itu yang terjadi, maka sangat disayangkan sekali dan hal tersebut perlu diwaspadai karena bisa jadi kita keliru, bisa jadi sebenarnya itu bukanlah kebahagian hakiki anugrah dari yang ilahi. 

Percuma juga jika semua itu hanya menjadi DO (Duniawi Oriented). Maksudnya, segala pencapainnya tidaklah membuatnya nyaman, pencapainnya tak bisa dinikmati, namun, pencapaiannya menjadi hal yang selalu memicu kegelisahnnya, karena kehausan akan pencapain yang lebih dan lebih lagi. Memang tidak salah dan justru memang seharusnya kita tidak mudah merasa puas! Agar apa? Ya agar kita selalu berusaha lebih dan lebih lagi menuju yang lebih baik lagi. 

Namun yang jadi salah itu ketika niatannya sudah terkaburkan dan tercemar dengan hawa nafsu yang menjadikan pencapain duniawi sebagai orientasinya, maka jangan harap hidup akan bahagia! Bagaimana akan bahagia jika hidupnya penuh dengan kegelisahan dan tekanan karena melulu memikirkan apa yang tidak atau belum ada pada dirinya, sedang yang sudah ada pada dirinya ia lupa untuk mensyukurinya. 

Bagaimana akan bahagia sedang ia lupa bersyukur, padahal perlu kita ingat baik-baik bahwa syukur itu adalah gerbang awal menuju kesukesan, kekayaan dan kebahagiaan. Dan dalam sebuah hadis Rasulullah saw. pun mengatakan bahwa “iman (pada Allah Swt.) itu setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi adalah syukur.”
 
Maka, mari seimbangkan gas dan remnya! Jadikanlah setiap rencana (targetan) untuk menjadi gas kita agar melakukan kehidupan di dunia ini dengan tidak berleha-leha melainkan dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya untuk mencapai kebaikan dalam kehidupan, dan jadikanlah sadar dan ingat kepastian (kematian) sebagai rem agar tak terlena dengan kehidupan dunia yang memang begitu menggoda. Sedikit saja kita salah langkah, salah arah, atau salah jalan, maka kita bisa telena dan tersesat. 

Jadikanlah ingat mati untuk memacu kita memaksimalkan setiap langkah agar berada di jalan-jalan kebaikan saja hingga kapan pun langkah kita harus terhenti kita tak akan khawatir, karena selama yang kita usahakan dan kerjakan adalah kebaikan , dan pada akhirnya insyaallah kita pun akan terhenti di jalan kebikan (husnul khotimah).

Penulis adalah guru SMK Cendekia Batujajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar