Melihat Masalah Tapi Tidak Tahu Penyelesaiannya? Begini Caranya!!



Jiva Agung
Manusia tentu tidak akan pernah terlepas dengan problematika kehidupan, seakan memang masalah terlahir untuk mengisi kehidupan manusia. Memang, masalah tidak selamanya dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang negatif, bahkan banyak yang meyakini bahwa masalah sejatinya akan mengantarkan manusia kepada fase kematangan dan kedewasaan hidup. 

Sejak Nabi Adam sampai manusia milenial, telah ada beragam cara yang dihidangkan untuk menghadapi persoalan-persoalan kehidupan yang sebenarnya dapat bahkan perlu diperhatikan oleh kita untuk dijadikan sebagai bahan pelajaran. Dan pada kesempatan kali ini saya akan mengklasifikasikan cara-cara tersebut sehingga mungkin kita akan dapat menganalisis cara mana yang cocok untuk diterapkan dalam mengatasi persoalan tertentu.

Yang pertama disebut dengan welfare yaitu memberikan bantuan secara langsung. Misalnya, jika ada bencana tsunami, gempa bumi, kebanjiran, maka persoalan-persoalan ini dititik terdasarnya dapat diselesaikan dengan memberikan bantuan secara langsung. Atau jika terjadi tindak KDRT, maka cara penanganan yang paling darurat ialah dengan mengantarkan mereka ke rumah sakit, dan membiayai mereka.
Tetapi sebaiknya tidak berhenti di sana, perlu ada penanganan tindak lanjut yang disebut dengan development. Jika kasusnya seperti pemerkosaan atau kasus KDRT seperti yang disebut di atas, maka cara development lebih kepada upaya-upaya pendampingan terhadap si korban seperti yang biasa dilakukan oleh NGO. Misalnya dengan membina mereka supaya bisa menolong dirinya sendiri. 

Cara kedua ini terkadang masih belum efektif. Misalnya, masih mengenai kasus yang sama (KDRT). Bisa jadi si korban, pasca sembuh, ia malah kembali lagi kepada suaminya dengan dalih ia tidak akan bisa hidup (atau mungkin tidak ada yang bisa membiayai kehidupan dia dan anaknya) tanpa suaminya itu (pelaku tindak KDRT). Oleh karena itu cara kedua sebaiknya perlu diiringi dengan tindakan legal yang berarti mengupayakan jalur hukum (structural Approaching). Bisa dengan mengadukan tindakan kriminal si pelaku, atau bahkan “bertarung” di parlemen untuk mengubah undang-undang supaya hukuman bagi pelaku KDRT diperberat sehingga diharapkan tindakan-tindakan tersebut akan terminimalisir. Cara pertama dan kedua memang dilakukan pasca terjadinya sebuah permasalahan, berbeda dengan cara ketiga yang dapat dilakukan sebagai langkah preventif .

Sebenarnya ada dua cara preventif lain yang menurut saya lebih efektif. Yang pertama disebut dengan liberal reformation yang berarti mengubah pola pikir seseorang bahwa, misalnya, ia memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan orang lain sehingga tak pantas untuk diperlakukan secara semena-mena. 

Yang kedua dan yang paling ampuh ialah dengan menggunakan pendekatan yang bernama transformasi, sebuah upaya pengubahan atau pembentukkan budaya baru secara massal. Memang tidak mudah untuk mengubah suatu budaya yang telah ada di dalam suatu masyarakat tertentu, selain memerlukan usaha yang ekstra keras pendekatan ini juga membutuhkan waktu yang relatif lama memakan waktu tahunan bahkan puluhan tahun sebab di sana harus terjadi sebuah proses pembangunan kesadaran kolektif yang diiringi dengan aksi yang di-habit­-kan (dipraktikkan dan diulang-ulang secara terus-menerus sampai menjadi bagian yang melekat dalam diri). 

Jika contohnya adalah kasus KDRT, kita perlu menganalisis akar permasalahannya lalu dicari solusinya. Apakah KDRT akan berhenti meski hukum tentang hal tersebut ada? Dari sini akhirnya perlu dipahami bahwa masyarakatlah yang perlu diubah pola pikirnya (bukan hanya si korban). Sistem patriarki yang telah mengakar kuat harus dibongkar lalu diberi pemahaman dasar mengenai gender sejak dini. Semua lapisan perlu dilibatkan, pemerintah, pihak sekolah, hingga masyarakat grassroots. 

Sebagai contoh praktis kita dapat membangun sebuah budaya baru di masyarakat tertentu jika mereka mengalami tindak kekerasakan maka si korban harus berteriak yang ketika teriakan itu didengar oleh tetangganya, mereka dengan seketika akan saling saut-menyaut membunyikan kentongan sebagai petanda bahwa sedang terjadi tindak kekerasan. Dari sana mereka sesegera mungkin mendatangi sumber suara (teriakan) lalu mengamankan si korban sembari menggiring pelaku ke pihak yang berwajib. 

Ini hanya contoh saja, bagaimana pembentukkan budaya baru itu perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhannya masing-masing. Dan saya menyadari bahwa tidak semua orang dapat melakukan permasalahan dengan semua tipe-tipe yang telah disebutkan, tetapi setidaknya setiap pribadi dapat mengetahui dan menganalisis dirinya masing-masing dapat berbuat perubahan di wilayah yang mana sesuai dengan kemampuannya. 

Sumber gambar: www.polahidupuntuk.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar