Lebih Penting dari Sekadar Puisi SARA



Taufik Hidayat

Masyarakat indonesia  yang beragam ini masih saja dirundung permasalahan sosial yang mengandung SARA. Setelah sebelumnya sempat booming kasus penistaan agama yang dilakukan seorang gubernur Jakarta Ahok, kini muncul kembali tokoh publik yang lainnya. Kali ini datang dari putri pahlawan revolusioner Indonesia yaitu Ibu Sukmawati melalui puisinya di acara Ibu Indonesia yang menjadi viral.

Sebagaimana netizen ketahui, tulisan itu terdapat kata-kata  yang bersimbol Islam seperti syariat, azan, dan cadar yang kemudian dibanding-bandingkan dengan konde dan kidung.
Miris juga, karena dalam puisi itu sukmawati dengan jujurnya mengaku tak tahu syariat islam, tapi kenapa dia berani-beraninya berkomentar bahkan membanding-bandingkannya dengan hal yang lain. Ibarat saya yang tak mengerti ilmu kedokteran kemudian mengomentarinya dan membandingkannya dengan ilmu dukun. Hanya menunjukan kebodohan saja. Bodoh dari segi ilmu, bodoh juga dari segi sikap. 

Pertanyaan kritis yang mungkin mencuat dalam hati dan pikiran yaitu, Apa motivasinya? Apakah ingin sekedar tenar saja? Ingin meluapkan kemarahan atau kejengkelan? Atau murni sebuah kritik sosial melalui seni?. Apa pun itu, masyarakat dari berbagai kalangan menilainya dengan beragam namun umumnya dengan pandangan negatif.

Awalnya saya sendiri sudah bosan membahas masalah-masalah seperti ini. Mengapa banyak orang yang membanding-bandingkan Islam dengan adat/tradisi/budaya, Islam dengan nasionalisme, dan juga Islam dengan ilmu pengetahuan (sains). Padahal apa yang saya pelajari justru dalam Islam terdapat budaya, negara, apalagi ilmu pengetahuan. Justru Islam mengatur dan membahas hal tersebut dengan baik. Hanya orang-orang yang gagal paham atau punya niat jelek yang memisahkannya atau istilahnya sekuler. 

Di sisi lain, masih banyak permasalahan Indonesia yang rasanya lebih penting untuk diurus. Kasihan bangsa ini pemikiran dan emosinya terkuras memikirkan hal-hal semacam ini. Memang sebenarnya masalah SARA ini bisa berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Namun kenapa masih saja ada tokoh-tokoh yang melakukannya. Seharusnya para tokoh itu mampu membantu menggiring masyarakat indonesia menyelesaikan permasalahan yang lebih penting untuk bangsa.

Layaknya seorang anak sekolahan yang masih melakukan bulyying seputar fisik dan SARA, mungkin seperti itulah bangsa kita saat ini. Jangankan masyarakatnya, ternyata tokoh-tokoh bangsanya juga seperti itu. Seperti anak-anak yang belum dewasa. Begitulah kondisi mental dan emosi bangsa ini. Mungkin usianya sudah dewasa tapi ternyata pemikirannya belum.  Jika kita sudah dewasa secara pemikiran dan mental, tentunya akan lebih banyak memikirkan permasalahan penting lainnya.

Jika ada yang melakukan ujaran kebencian, memang sudah seharusnya mereka ditindak sesuai dengan hukum. Namun jika sampai viral bahkan semua orang sibuk mengkaji, berkomentar, membalas dan membanding-bandingkan puisi ini, rasanya agak disayangkan. 

Sudahlah kita serahkan ia secara kekeluargaan dan hukum. Tujuannya agar jera. Jangan terlalu sibuk sampai menguras tenaga dan pikiran apalagi kuota internet menanggapi permasalahan ini. Lebih baik jika kita menanggapinya dengan bijak sambil memikirkan permasalahan lain yang lebih penting. Misalnya pengelolaan SDA indonesia, mengatasi pengangguran, pendidikan, ekonomi, dan masih banyak lainnya tentu para pembaca pun tahu.

Penulis adalah guru PAI di Cendekia Leadership School Bandung

Sumber gambar: www.radarcirebon.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar