Guru Ngaji? Guru Agama?

Sella Rachmawati

Suasana berbeda setiap kali aku melewati suatu masjid tak besar memang, tapi cukup untuk mengingatkanku saat aku masih belajar mengaji sekitar 15 tahun lalu.

Aku memang rindu suasana masjid itu, murid, ustaz, Alquran, dan teman-teman tempo dulu yang nampaknya sama rindunya denganku. Aku datang dengan niat belajar. Lantas aku bersiap duduk membuka Alquran dan duduk berhadapan dengan anak-anak yang menyetorkkan bacaan Alqurannya secara bergantian.

Aku tak pandai mengaji sebenarnya, hanya berbekal pengetahuan tentang tajwid yang belum sempurna dan makhorijul huruf yang tak aku kuasai betul. Aku hanya ingin membantu bacaan Alquran mereka semampuku, hitung-hitung aku berbalas budi pernah dikenalkan dengan huruf hijaiyah di sini.

Bacaan Alquran mereka untuk seusia anak SD dan SMP tentu menurutku pantas mendapat nilai A—tanpa minus. Aku menikmati setiap lantunan suara mereka. Jika ada yang tak sesuai dengan tajwid maka aku mencoba menyesuaikannya, kemudian mereka mengulang kembali dengan benar bacaannya. Semoga berkah ya dik.

Ulah makan permen ari keur ngaji!” tegurku pada salah seorang murid yang berada dihadapanku. “Batal atuh wuduna.” Aku berkata sepengetahuanku saja, karena dulu aku diajarkan seperti itu oleh guru ngajiku di tempat yang sama.

Murid yang lain bilang “ceuk saha teh? Mun aya hadisna karek abi percaya!” Glek! Ya Allah, aku tersentak. Aku tak bisa jawab. Aku benar-benar malu. Aku dididik di tempat yang sama, bahkan sekarang aku mengenyam pendidikan agama di salah satu universitas terkemuka, tapi aku tak bisa jawab. Atau mungkin aku kurang pandai dalam menjelaskan hal itu kepada si murid padahal aku tahu jawabannya? Ah...sepertinya aku belum siap jadi guru agama.

Untung sajalah aku bisa mendamaikan hatiku kembali, setelah itu akan kucari tahu. Kini aku duduk menjadi murid paling berumur di antara yang lain. Aku hanya berpura-pura menjadi pengajar mereka saat mereka menyetorkan bacaan Alqurannya, sebenarnya aku adalah murid paling tua di antara mereka. Kali ini sang ustaz mengajak murid-murid menghafal surat An-Naba, dan kau tahu? Lagi-lagi aku lupa dengan hafalanku sendiri. Jujur saja, malam ini aku kecewa pada diriku sendiri, kecewa akan ilmu yang aku dapatkan namun aku tak mampu untuk mengamalkannya sehingga semua hanya menjadi rangkaian ilmu yang begitu saja lewat. Tanpa dirawat dan dipelihara.

Aku yang katanya difavoritkan oleh anak-anak di pengajian itu, nyatanya tak lebih pintar dibanding mereka yang menganggapku sebagai “guru”. Malam ini aku belajar banyak lagi tentang arti pentingnya ilmu, terlebih ilmu agama.

sumber gambar: www.satumedia.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar