Akidah Zaman Now: Problem dan Solusinya

Taufik Hidayat

Sebagai mantan anak sekolahan, saya terkadang membandingkan generasi anak sekolah zaman saya dengan yang ada sekarang ini. Saya melihat generasi now semakin merosot saja akhlaknya.

Memang terlalu subjektif rasanya menilai seperti itu, karena setiap generasi pasti ada saja remaja yang nakal, ketika zaman saya sekolah tidak sedikit juga teman saya yang nakal. Tapi siswa zaman now ini semakin mudah saja untuk melakukan kenakalan bahkan bisa dikatakan lebih ekstrem dari generasi-generasi sebelumnya. Semua ini karena perkembangan teknologi yang tak diimbangi perkembangan akhlak mulia.

Pernah saya berdiskusi dengan beberapa siswa dan semakin membuat saya merasa miris. Salah satunya tentang kenakalan remaja berupa cyber crime dan pornografi. Anak sekolah sekarang hampir semuanya punya gadget dan internet yang canggih, tak seperti di zaman saya dahulu.

Selain punya akses yang mudah dalam membuka pornografi,  ternyata mereka pun bisa dengan mudah membentuk komunitas untuk bisa saling bertukar informasi. Mereka membuat grup medsos yang namanya disamarkan, dalam grup tersebut mereka saling berkomunikasi dan berbagi hal tentang pornografi, tawuran, tips & trick pengalaman bolos sekolah, bahkan berbagi foto teman perempuan.

Grup tersebut mencakup siswa dari berbagai sekolah. Tentu saja hal ini bisa membuat kenakalan remaja semakin merajalela. Apa jadinya generasi muda kita ini. Saya semakin sedih bagaimana pula generasi anak-anak kita nanti. Tantangan zaman yang mereka hadapi semakin berat rasanya, bisakah kita menjadi orangtua dan guru mampu menghadapi tantangan itu?

Beranjak ke tingkat nasional, kita juga miris dengan pemberitaan baru-baru ini. Di beberapa daerah banyak kalangan yang mengonsumsi minum-minuman keras oplosan sampai ratusan nyawa melayang, kasus ujaran kebencian, kata-kata kasar di medsos, belum lagi korupsi dan praktek sogok yang masih subur di negeri ini. Semua kemerosotan akhlak ini tentu ada penyebabnya, dan pasti ada pula solusinya. Saya berpandangan bahwa kemerosotan akhlak ini dikarenakan lemahnya akidah (iman) pada diri mereka.

***

Dalam belajar agama Islam, kita mengenal istilah akidah, ibadah, dan akhlak. Ketiga hal tersebut sangat beriringan dan menjadi inti dalam Islam. Orang yang baik akidahnya pasti baik pula ibadah dan akhlaknya. Jika ada orang belum baik akhlak dan ibadahnya sudah tentu  pemahaman, penghayatan dan pengamalan dari  akidahnya belumlah baik.

Akidah itu ibarat akar pohon, ibadah ibarat batang pohon, sementara akhlak ibarat buah dari pohon itu. Akarnya yang kuat menjadikan batangnya ikut menjadi kuat. Jika akarnya kuat dan bagus, ia menyerap air yang cukup dan pohon pun menjadi sehat, hingga akhirnya muncullah buah yang baik sebagai ibarat dari akhlak yang baik.

Misalnya saja, orang yang akidahnya baik maka meyakini bahwa Allah Maha Melihat dan membalas segala perbuatan, ketika sedang salat ia yakin Allah mengawasinya sehingga dikerjakan dengan sebaik mungkin sesuai ketentuan yang Allah tentukan. Ia akan khawatir jikalau salatnya salah dan tak diterima Allah. Adapun orang yang belum baik akidahnya maka salat terlihat rusuh, bahkan asal-asalan karena ia belum meyakini dengan baik bahwa Allah selalu melihat dan menilai salatnya.

Begitupun dengan akhlak. Orang yang baik akidahnya, meyakini bahwa Allah selalu menyaksikannya sehingga ia pun akan merasa selalu diawasi dan malu pada Allah jika melanggar perintahnya. Menurut para ulama, orang yang sedang bermaksiat pada saat itu sebenarnya ia sedang kehilangan imannya pada Allah sehingga berani melanggar tuntunannya,  padahal sejatinya Dia selalu mengawasi dan Maha Mengetahui.

Maksud memiliki akidah yang baik dalam tulisan ini bukan hanya sekadar tahu atau paham saja, tapi lebih dari itu keyakinannya pada Allah sudah sangat dihayati oleh pemikiran dan hatinya sehingga keyakinan tersebut mampu menggerakkan hati dan sikapnya sesuai perintah Allah. Inilah solusi yang bisa kita terapkan dalam memperbaiki ibadah dan akhlak. Hal ini pula yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. bahkan diturunkannya Alquran fase awal juga menguatkan akidah terlebih dahulu. Dan terbukti dakwah dengan cara tersebut pada akhirnya berhasil. Bahkan untuk mencapai derajat iman seperti ini, bisa dilakukan oleh kalangan mana pun baik itu anak kecil, dewasa, orang kaya, orang miskin, pria maupun wanita. Lihatlah kembali sejarah Islam fase Mekkah.

Lalu pertanyaannya, pendidikan akidah seperti apa yang bisa dilakukan sekarang ini?

Guru maupun orangtua selalu kesal dengan anak yang kurang baik ibadah dan akhlaknya. Padahal mereka telah diajarkan, diingatkan, bahkan dibiasakan namun tetap saja mereka suka melakukan perbuatan yang tidak baik. Sayangnya kita sering lupa hanya memfokuskan perbaikan ibadah dan akhlak, namun lupa dengan sumber utamanya yaitu akidah yang terabaikan. Padahal jika penanaman pendidikan akidah sudah baik, maka akan sangat lebih mudah menanamkan pendidikan ibadah dan akhlak.

Pendidikan akidah ini bukan saja tanggung jawab guru di sekolah atau guru agama dan guru ngaji, tapi yang paling utama justru orangtua di rumah semenjak anak masih kecil. Pendidikan akidah yang efektif yaitu berusaha menghadirkan Allah pada anak. Hal kecil yang dilakukan adalah pengenalan pada sifat-sifat Allah yang 20 beserta 99 nama-Nya (asmaul husna. Terutama tekankan pada anak bahwa ada Allah yang menjadi Tuhan kita, Dia yang menciptakan kita, Dia menyuruh kita melakukan kebaikan, Dia selalu melihat kita walaupun kita tak melihat-Nya). Kita hanya mampu melihat ciptaan-Nya yang menjadi bukti kalau Allah itu pasti ada. Dia menyukai orang-orang yang baik dan akan membalas segala perbuatan dengan adil dan setimpal.

Hal yang sangat penting sekali yaitu biasakan selalu menyertakan Allah dalam berkomunikasi dengan anak, terutama ketika memuji atau menegur anak. Ketika anak melakukan kebaikan, misalnya salat tepat waktu atau menuruti perintah orangtua, maka katakan padanya "terimakasih nak kamu sudah salat dengan baik, Allah suka orang yang baik salatnya, ayah dan ibu juga suka. Pertahankan ya!".

Begitupun ketika anak melakukan kesalahan, maka tegur dengan perkataan yang baik disertai nama Allah. Misalnya anak berkata kasar "nak kenapa kamu bilang seperti itu? Ingat Allah ga suka orang yang bicara seperti itu. Itu dosa. Mamah dan ayah juga tidak suka. Jangan diulangi !"

Selain itu biasakan pula menyertakan Allah dalam berbagai kesempatan, misalnya ketika melihat pemandangan alam, kita bisa mengatakan pada anak "nak lihat indah ya pemandangannya, ingat itu semua ciptaan Allah. Kita harus banyak bersyukur diberi alam yang indah ini"

Atau ketika melihat hal yang tak layak untuk ditiru, maka ingatkan juga anak bahwa Allah tak suka hal seperti itu. Dengan selalu menyertakan Allah dalam berbagai komunikasi, maka hal tersebut berfungsi sebagai reminder bagi anak pada Allah.

***

Inilah yang selalu kita lupakan. Ternyata dalam memperbaiki ibadah dan akhlak anak jangan hanya terfokus pada kesalahannya. Kita sering berkata "nak kenapa kamu salatnya seperti itu? Padahal sudah diajarkan. Salat itu harus tenang."

Apalagi kalau sampai berkata  "nak, jangan main setelah maghrib ! Nanti diculik genderewo." Dengan perkataan seperti itu maka anak akan tumbuh menjadi orang yang takut pada hantu namun tidak pada Allah. Inilah kebanyakan kesalahan mendidik akidah pada anak. Anak akan lebih takut pada hantu dari pada takut pada Allah dan malaikat yang selalu mengawasinya.

Selain memberikan pendidikan akidah, hal penting lainnya yaitu berilah keteladanan pada anak. Sebagus apa pun perkataan kita jika tak dibarengi keteladanan maka akan sia-sia. Memang benar, jika ingin punya anak yang baik maka jadikanlah diri kita baik terlebih dahulu. Perkataan orang yang telah melakukan sesuatu tentu akan berbeda efeknya dengan orang yang belum melakukannya.

Selain itu selalu berdoa pada Allah selama proses pendidikan, Dialah Yang Maha Membolak-balikkan hati. Untuk para orangtua dan guru (terutama guru agama atau ngaji) marilah kita memperbanyak muatan pendidikan akidah bahkan menyertakannya dalam setiap pembelajaran. Semoga dengan ini kita akan punya generasi yang baik akidahnya dan berefek baik pula pada ibadah dan akhlaknya, bahkan karyanya.

Sumber gambar: www.krjogja.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar