Abu Azizy
 Saya yakin adagium man jadda wajada tidaklah asing di telinga anda. Terutama di kalangan para santri, karena ia adalah mahfudzat yang biasa diajarkan dan wajib dihafal di pesantren. Di dalam tulisan ini, pribahasa tersebut akan saya pakai untuk menggambarkan perjalanan ibadah umroh saya yang pertama (#berharap bisa kembali lagi ke tanah suci, āmn). Tulisan ini mudah-mudahan bisa menambah bukti dari dahsyatnya kekuatan jimat “man jadda wajada” tersebut.

Kita tahu man jadda wajada adalah pribahasa bahasa Arab yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan (jalan sekaligus hasil) dari apa yang diinginkan atau dicita-citakannya. Maknanya mirip dengan pribahasa man sāra ‘ala ad-darbi washala. Kalimat man jadda wajada ini saya yakini betul dan terbukti akurat terjadi dalam banyak penggalan hidup saya pribadi, termasuk di dalam episode perjalanan religi saya ke dua kota suci Islam (haramain) beberapa waktu yang lalu.

Man jadda wajada sejatinya mengandung filosofi yang dalam. Ia sesungguhnya merupakan manifestasi dari niat yang kuat (quwwat an-niyyah), baik sangka kepada Allah (husnudzdzan), dan ulet dalam berusaha (ikhtiar). Dengan kekuatan ketiga hal tersebut, man jadda wajada menjelma menjadi energi yang sangat dahsyat. Saya yakin law of attraction (hukum tarikan pikiran) yang dikembangkan di dunia Barat itu sesungguhnya terkandung dalam pribahasa man jadda wajada ini.

Baiklah, saya tidak akan terlalu panjang membahas man jadda wajada tersebut. Saya ingin langsung bercerita tentang kisah nyata perjalanan pribadi saya yang membuktikan dahsyatnya jimat yang satu ini.

Alkisah, ini adalah pengalaman pertama saya melakukan ibadah umrah dan ziarah ke tanah suci (Mekah dan Madinah). Karena itu mungkin berbeda dari orang yang merasakan perjalanan umroh untuk yang kedua-tiga kalinya atau lebih. Perasaan dan kesan saya waktu itu sungguh sangat luar biasa. Perjalanan ini menjadi sangat spesial karena bisa dilakukan bersama dengan orang-orang super spesial dalam hidup saya, yaitu istri tercinta, ibu, dan mertua. Bayangkan, kami dapat melakukan thawaf (mengelilingi Ka’bah), salat di depan Ka’bah tanpa ada hijab atau apa pun yang menghalangi kami dan Baitullah, salat di belakang Maqam Ibrahim, salat di dalam Hijir Ismail, serta sa’i (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah) bersama-sama dengan orang-orang tersayang dalam hidup ini. Alhamdulillaah.

Pengalaman yang bersejarah dalam hidup saya ini berawal dari niat saya untuk memberangkatkan ibu ke tanah suci. Keinginan kuat itu terus bermain dalam pikiran saya dan terus bekerja sesuai dengan teori law of attraction (hukum tarikan pikiran). Pikiran tersebut menarik-narik entitas alam di sekitarnya dan secara positif terus bekerja mendekatkan segala sesuatu demi terwujudnya tujuan yang diinginkan.

Terus terang, bagi saya berangkat ke tanah suci untuk saya sendiri apalagi dengan membawa serta keluarga, untuk saat itu, bukanlah hal yang ringan. Karena itu, maka awalnya saya hanya bermaksud memberangkatkan ibu sendirian. Untuk itu saja sebetulnya saya harus berusaha keras menyisihkan sebagian dari penghasilan bulanan, sampai dapat menutupi biaya yang dibutuhkan. Dengan berbekal man jadda wajada akhirnya, ibu saya bisa berangkat umroh.

Seakan gayung bersambut, man jadda wajada menemukan momentumnya ketika ada pemilik travel umrah yang baik hati dan begitu dermawan yang menawarkan paket umroh dengan harga spesial kepada kami. Selain soal harga, paket umroh itu menjadi lebih menarik lagi karena ia diadakan khusus bagi teman-teman seperjuangan semasa di pondok pesantren (Darussalam Ciamis), yang itu artinya saya bakal ketemu teman-teman yang sudah lama tidak berjumpa dan pada saat itu pula terbayang di benak saya, perjalanan ibadah umroh akan sangat mengasyikkan.[1] Sejak saat itu saya dan istri berazam untuk berangkat ke baitullah bersama-sama. Dan alhamdulillah semua ada jalannya. Kami (saya, istri, dan ibu, bahkan ibu mertua) akhirnya bisa berangkat untuk menunaikan ibadah umroh bersama-sama.

Kekuatan man jadda wajada tidak cuma terasa di situ saja. Di setiap sesi selama saya menjalani ibadah umroh ia begitu terasa. Di tulisan ini saya ingin menceritakan di antaranya saja yang paling berkesan bagi saya.

Pertama, di masjid Nabawi, ya di mesjid Nabi yang megah itu. Kita tahu ada yang disebut raudhah (taman surga, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ’alihi wa sallam). Semua orang yang sedang berziarah ke Nabawi (dan tentu ke makam baginda Nabi Muhammad Shallallahu ’alihi wa sallam) sangat ingin bisa beribadah, salat, dan memanjatkan doa, di raudhah tersebut.

Umat Islam menyakini bahwa tempat itu adalah tempat mustajab, tempat yang kalau seseorang berdoa di situ maka doanya akan dikabul. Namun faktanya, ternyata tidaklah mudah bisa menembus area seluas 22 x 15 meter persegi itu. Kita harus siap berdesak-desakan dan mengantri cukup lama untuk bisa sampai ke tempat itu. Intinya orang harus berjuang untuk bisa masuk ke area raudhah.

Dan dengan berbekal keinginin kuat (man jadda wajada), seraya terus memanjatkan doa mengharap pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala, akhirnya Allah beri saya jalan, Allah takdirkan saya bisa mendirikan salat dan memanjatkan doa-doa. Sungguh senangnya saya saat itu. Sungguh anugerah yang sangat besar Allah hadiahkan kepada saya ketika itu. Di tempat itu, di antara Makam Nabi dan mimbarnya, saya nikmati dan resapi betul momen nan indah dengan ibadah dan munajat terbaik yang bisa dipanjatkan. Terima kasih Ya Allah, Ya Rabbal ‘Alamiin. Alhamdulillah, tiga kali saya bisa mereguk hidangan spiritual itu. Rasanya ingin sekali saya mengulanginya, tapi waktu jua yang mambatasi.

Yang kedua, di masjidil Haram. Di masjid yang di dalamnya ada bangunan di mana semua umat Islam menghadapkan wajah dalam salatnya. Setiap jamaah haji dan umrah berputar dalam thawaf-nya. Ya, bangunan itu bernama Ka’bah. Ia adalah titik pusat bumi yang bak magnet ajaib, terus menarik umat Muslim untuk mendatanginya.

Lebih menarik lagi, di salah satu sudut bangunan persegi itu, ada yang disebut hajar aswad (batu hitam). Subhanallah, dengan niat mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ’alihi wa sallam, semua orang yang ada di sana berebut ingin menciumnya, tak terkecuali saya. Saya lihat orang yang datang dan berebut ingin mencium hajar aswad itu berasal dari negara yang beragam, ada yang dari negara daratan Afrika, India, Pakistan, bahkan Eropa. Saya mengenali mereka dari postur tubuh dan warna kulitnya. Singkat cerita, saya pun ikut berjuang untuk bisa mencium hajar aswad itu. Berjibaku semampu saya. Di tengah himpitan orang-orang yang tinggi besar nan kekar itu, saya hampir putus asa. Lelah dan remuk sudah tubuh saya terasa. Keringat bercucuran. Akhirnya saya putuskan untuk mencari tempat yang lebih longgar untuk bisa sekedar menghirup udara dan beristrirahat sejenak.

Tepat di depan Ka’bah, saya sandarkan dagu ke hijir Ismail, seraya hati bergumam “mungkinkan tubuh kecilku ini bisa menembus pagar manusia yang gagah perkasa itu, bisakah aku mencium hajar aswad sang primadona yang jadi rebutan itu.” Saya menerawang ke atas langit seraya memohon pertolongan Ilahi Sang Penggenggam jagat raya. Saat itu juga saya teringat pribahasa man jadda wa jada dan berbekal keyakinan itu, saya mulai langkahkan kaki, mencoba lagi untuk memutari Ka’bah dan berusaha mendekat ke arah hajar aswad.

Tidak lama setelah itu, seseorang mendekati saya dan kemudian berbisik “sudah mencium hajar aswad?” Saya jawab “belum.” “Mau?” ia lanjut bertanya. “Ya, mau.” dengan cepat saya menjawab. “Ayo saya bantu!” ujarnya lagi. Tangan saya ditariknya dan dibawanya menembus kerumunan pagar manusia yang sesak itu. “Ayo ke sini,” pintanya. Saya mengikuti arahannya. Setelah seberapa lama ia dan saya berjuang untuk menembus kerumunan, akhirnya jalan terbuka bagi saya untuk mendekatkan muka ke arah hajar aswad dan subhanallah wal hamdulillah, saya akhirnya bisa mencium hajar aswad. Saat itu, semua rasa bercampur aduk di dada saya, tak bisa diungkapkan bagaimana bahagianya saya pada saat itu, terima kasih Ya Allah. Man jadda wa jada.

Itulah sekelumit cerita perjalanan umroh saya. Semoga ini bukan riya (saya berlindung kepada Allah dari syirik kecil ini). Di sini saya hanya ingin menunjukkan kekuatan man jadda wa jada (siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan menemukan atau mendapatkan hasilnya). Man saara ‘ala ad-darbi washala (siapa yang berjalan on the track, maka ia akan sampai ke tempat yang dituju). Kuatkan niat, luruskan, berusaha dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengabulkannya/merealisasikannya. InsyaAllah.

Sumber gambar: www.tripadvisor.com


[1] Paket umroh tersebut memang diberikan oleh Ustadz Afipudin, sang pemilik travel yang juga teman kami di pondok, atas usulan dari Ustadz Fatahuddin Gemilang, dalam rangka reunian bersama teman-teman pondok di haramain. Saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Syeikh Afipudin Abdul Jalil, direktur utama PT. Adeem Toour (Astri Duta Mandiri) yang telah memberi kesempatan dan bantuan sehingga kami dapat menunaikan ibadah umrah bersama keluarga tercinta dan teman-teman seperjuangan. Jazakumullah ahsanal Jazaa.


Jiva Agung
Tulisan ini adalah terjemahan saya dari disertasi (yang dibukukan) Dr.Zulkifli yang berjudul The Struggle of Shi’is in Indonesia, terbitan Australian National University E-Press, tahun 2013.

Imamah
Seperti penganut Syiah di Iran dan tempat lain, Syiah Indonesia percaya pada lima hal fundamental dalam agama (ushul al-din). Mereka tidak mengakui konsep rukun iman versi Sunni. Adapun lima prinsip dasar itu di antaranya: tauhid (keesaan Allah), ‘adl (keadilan Allah), nubuwwah (kenabian), imamah, dan ma’ad (kebangkitan).

Di sini dapat diketahui bahwa tiga di antaranya sama dengan prisip Sunni, yakni percaya pada keesaan Allah, percaya pada nabi Allah, dan kebangkitan setelah kematian. Syiah memiliki kesamaan dengan kelompok Muktazilah perihal konsep keadilan Tuhan, sebuah aliran teologi rasionalis di dalam sejarah Islam awal. Dari perspektif Syiah, tiga hal yang pertama disebut prinsip agama sedangkan imamah dan keadilan merupakan prinsip mazhab. Untuk menjadi seorang muslim, seseorang harus percaya pada prisip-prinsip agama, sedangkan untuk menjadi Syiah, seseorang harus melengkapinya dengan percaya pada imamah dan keadilan.
Seperti Sunni, Syiah percaya pada Tuhan yang esa dan sifat-sifatnya yang sempurna. Tauhid merupakan ajaran inti Islam dan bagi Syiah tauhid menjadi dasar dari cara pandangnya. Mereka juga meyakini bahwa para nabi dipilih oleh Allah pun Muhammad adalah nabi penutup dan pemimpin para nabi yang sempurna. Sama juga dengan Sunni, mereka percaya pada hari pembalasan, di mana seseorang akan mendapat balasan atau hukuman. 

Tetapi berbeda dengan Sunni, mereka sangat menekankan peran sifat adilnya Tuhan (‘adl). Tuhan mustahil berlaku tak adil karena sifat alamiahnya memang adil. Prinsip ini dengan demikian juga menegakkan konsistensi akal karena akal dapat menilai keadilan atau keadilan dalam suatu perbuatan; Jadi, prinsip ini mendapat penekanan yang besar di dalam Syiah. 

Syiah Indonesia juga percaya kalau Alquran yang dimiliki oleh umat muslim hari ini semuanya adalah benar-benar perkataan Tuhan (kalamullah), sebagai wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan merupakan sebuah keajaiban yang Tuhan beri kepadanya. Mereka pun percaya Tuhan menjaga orisinalitas Alquran sehingga tidak mungkin ada penambahan atau pengurangan di dalamnya. Di sisi lain mereka juga percaya kepada hadis sebagai sumber utama ajaran Islam, di urutan kedua setelah Alquran. Yang dimaksud dengan hadis di sini termasuk ucapan dari para Imam. Dengan demikian, hadis diartikan sebagai semua perbuatan dan ucapan empat belas manusia sempurna (Nabi Muhammad, Fatimah, dan dua belas imam) meskipun perbuatan para imam tidak bisa diindependensikan dengan ucapan, perbuatan, dan persetujuan nabi. Inilah konsekuensi dari prinsip kepercayaan Syiah terhadap imamah. 

Bagi mereka, imamah merupakan esensi dari agama yang tanpanya akan menjadi tak sempurna. Inilah prinsip yang membedakan mereka dengan Sunni dan sebenarnya prinsip inilah yang membuat umat Islam terbelah ke dalam mazhab Sunni dan Syiah. Tidak seperti Sunni, Syiah menganggap imamah sebagai suatu urusan agama yang wajib untuk didirikan. 

Di tambah lagi, mereka percaya Nabi Muhammad menunjuk para Imam sebagai penggatinya. Imam adalah sebuah gelar yang diberikan kepada seseorang yang mengambil alih kepemipinan di dalam suatu komunitas di dalam suatu pergerakan sosial atau ideologi politik atau keilmuan atau bentuk pemikiran keagamaan tertentu. 

Gelar imam menandai kepemipinan keagamaan, spiritual, dan politik, seseorang yang melakukan kewajiban yang sama halnya dengan nabi. Tetapi, berbeda dengan nabi, para imam tidak menerima wahyu Ilahi, meskipun seperti konsep kenabian, imamah berdasarkan atas penunjukkan Tuhan. Sebagaimana nabi ditunjuk oleh Tuhan, para Imam harus dipilih oleh Tuhan melalui rasulnya. “Dengan demikian, nabi adalah utusan Tuhan dan para imam adalah utusannya para nabi.”

Bagi Syiah, kehadiran imam dibutuhkan bagi eksistensi manusia sebab mereka membutuhkan panduan yang terus-menerus. Kehadiran seorang pemimpin atau penguasa sangat berpengaruh dalam kontinuitas sebuah masyarakat. Tanpanya, hak dan kewajiban individu tidak dapat direalisasikan dan ketentraman akan menghilang dari masyarakat. Dengan demikian, setiap orang butuh pemimpin atau imam. 

Sedangkan dari perspektif teologi, filosofi penciptaan manusia oleh Tuhan berdasarkan pada tujuan kesempurnaan. Untuk memperoleh tujuan ini, manusia membutuhkan panduan Tuhan melalui nabinya, tetapi kenabian berakhir dengan kematian Muhammad. Atas alasan ini, umat muslim butuh imam untuk menjadi pemandu dalam persoalan keagamaan juga untuk memberi komentar dan interpretasi Alquran.

Bagi mereka umat muslim bukan hanya membutuhkan para imam, tetapi lebih jauh, mereka juga berkewajiban untuk mengakuinya. Para ustaz dan intelektual Syiah Indonesia juga menyampaikan teks yang menandai kewajiban ini. 

Hadis yang paling populer ialah: “barangsiapa yang meninggal tanpa mengenal imamnya, ia mati layaknya seorang jahiliyah.” Setelah menginterpretasikan Alquran dan hadis, mereka mengklaim bahwa semua bentuk ibadah dan ketundukan kepada Tuhan akan sia-sia tanpa pengakuan kepada para imam meskipun seseorang percaya pada keesaan Allah, nabi-Nya, hari pembalasan, keadilan Tuhan, dan menjalankan segala ajaran Islam, “dia tetap dalam keadaan jahiliyah selama tidak mengakui imam.”  

Syiah Indonesia percaya kalau para imam adalah manusia-manusia terbaik; tentu, imam adalah manusia yang sempurna. Setidaknya ada dua kualitas untuk menjadi seorang imam: pertama, menjadi seorang yang sangat saleh, seluruh hidupnya hanya didedikasikan pada kehendak Allah. Kedua, imam haruslah merupakan seseorang yang berpengetahuan. Hanya dengan kualitas ini para imam dapat membantu manusia lain supaya dapat mencapai kesempurnaan. 

Di dalam keyakinan Syiah, seperti nabi, para imam harus terbebas dari dosa atau kesalahan. Ismah merupakan sebuah daya yang dapat melindungi seseorang dari melakukan dosa atau kesalahan. Husein Al-Habsyi menjelaskan tiga aspek ismah: pertama, ismah merupakan puncak kesalehan karena hamba yang saleh yang selalu bertingkah laku sesuai dengan kehendak Allah akan dapat melindungi dirinya dari dosa dan kesalahan. Kekuatan ismah dapat melindungi dirinya bahkan dari hasrat berbuat dosa dan kesalahan. Kedua, ismah adalah suatu produk pengetahuan. Pengetahuan, secara alami, memiliki kekuatan untuk melindungi manusia terjatuh dalam dosa dan pelanggaran. Ketiga, pengetahuan langsung dari Tuhan sebagai sumber kesempurnaan, memperkenankan seseorang untuk terbuka pada kekuatan kebenaran dan cinta. Al-Habsyi percaya kesalehan dapat menghasilkan pengetahuan mistis yang dapat membuka aspek-aspek supernatural manusia. 

Nabi dan para imam memiliki sifat kemaksuman yang menjamin kevaliditasan, kebenaran, dan kesempurnaan ajaran Islam. Syiah membantah bahwa jika nabi dan para imam tidak suci, manusia akan meragukan misi dan bimbingan mereka. Ini berarti para imam harus diikuti dan dipatuhi: ketaatan ini adalah suatu kewajiban mutlak. 

Selain alasan logis, banyak ayat Alquran dan hadis yang dikutip untuk mendukung pandangan Syiah mengenai kemaksuman para imam. Ayat yang pernah dikutip di atas mengenai kemurnian ahlul bait juga dipahami sebagai penanda kemaksuman para imam yang juga disebutkan dalam hadis tsaqalain.
Syiah menyatakan bahwa Alquran terlindungi dari distorsi dan kesalahan juga tidak ada keraguan akan para nabi yang telah memperoleh dan menyebarkan kitab suci. Jika Alquran terlindungi, ahlul bait dan para imam pun demikian. Sebagaimana dinyatakan oleh hadis, keduanya tak akan bisa dipisahkan sampai hari pembalasan. 

Bagi Syiah sulit dibayangkan bagi manusia untuk memilih imam, alasannya cukup sederhana, karena mereka tidak punya kapasitas untuk melakukan hal tersebut, sebab hanya Tuhanlah yang punya otoritas untuk memilih mereka melalui para nabi-Nya karena hanya Dia yang paling mengetahui siapa hamba yang paling saleh dan berpengetahuan. Di dalam keadilan-Nya, Tuhan menyatakan kepada manusia mengenai imam yang dipilih-Nya. 

Tokoh ustaz dan intelektual Syiah Indonesia memberi bukti tekstual atas penunjukkan para imam yang dilakukan oleh Tuhan; sebagai contoh, salah satu ayat menceritakan bagaimana Ibrahim dipilih menjadi seorang imam dan bagaimana ia meminta Tuhan untuk memilih imam yang akan datang untuk keturunannya. Di tambah lagi, mereka menganggap ada banyak ayat di dalam kitab suci, selain menyeru kepatuhan kepada Allah dan rasul-Nya, menyuruh umat muslim untuk menaati para imam, seperti: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu.” Penafsiran Syiah, istilah ulil amri itu maksudnya adalah para imam. 

Para tokoh itu pun meyakini “Ali sebagai imam pengganti Nabi Muhammad yang bagi mereka hal tersebut terucapkan di dalam Alquran dan hadis.” Salah satu ayat berbunyi: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” Menurut penafsiran mereka, ayat ini berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib.
Salah satu sumber mengatakan kalau Abu Dzar yang menceritakan bahwa ketika dia sedang menjalankan salat dzuhur bersama nabi, ada seseorang yang membutuhkan mamasuki masjid meminta pertolongan, tetapi tidak ada satu pun yang memberikannya sesuatu. Ali, yang sedang berada di posisi rukuk, mengarahkan jarinya ke orang tersebut yang kemudian mengambil cincin darinya lalu pergi. Allah memuji perbuatan Ali dan menurunkan ayat yang dikenal luas sebagai ayat wilayah (pelantikan spiritual). Istilah wali identik dengan istilah imam, sebagai pemegang kekuasaan dan kepemimpinan. Sumber dari Sunni maupun Syiah dikutip untuk menegaskan penafsiran ini. Ali Umar Al-Habsyi bahkan mengklaim: “buku-buku tafsir dan hadis Sunni cukup membuktikan kebenaran kejadian ini.”

Lebih lanjut, nabi menunjuk Ali sebagai penggantinya di banyak kesempatan, sejak masa awal kenabian hingga wafatnya. Ini selaras dengan pemahaman Syiah yang mengakui bahwa nabi memiliki perhatian yang besar mengenai kepemimpinan. Dalam setiap ekspedisi militernya, dia menunjuk seorang pemimpin dan setiap ia meninggalkan kota (Madinah) ia menujuk perwakilan. Jadi, bagi Syiah, mustahil bagi Syiah jika nabi wafat tanpa terlebih dahulu menunjuk penggantinya. 

Penggantinya haruslah orang yang paling mumpuni dengan kecakapan memimpin dan membimbing umat muslim, yang tiada lain adalah Ali bin Abi Thalib. Banyak hadis yang menguatkan penunjukkan Ali ini, salah satunya ialah saat perang Tabuk. Nabi berkata kepada Ali: “apakah kamu tidak senang jika posisimu di sisiku sama halnya posisi Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku.” Tetapi teks yang paling terkenal ialah hadis Ghadir Khum yang dibawa oleh sejumlah isnad dalam berbagai versi. Salah satunya diriwayatkan oleh Ahmad dari Bara’ bin Azib:

Kami sedang bersama rombongan rasulullah dalam sebuah perjalanan, kemudian kami berhenti di Ghadir Khum. Lalu diminta untuk berkumpul dan duduk di bawah dua pohon besar. Kemudian dia melaksanakan salat dzuhur setelah itu ia mengangkat tangan Ali sembari berkata: “tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih utama dari setiap umat mukmin dibanding diri mereka sendiri?” mereka menjawab: “ya” Ia lanjut berkata: “tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih utama dari setiap umat mukmin dibanding diri mereka sendiri?” mereka menjawab: “ya.” Kemudian dia berkata: “barangsiapa yang menjadikan saya mawla-nya, Ali akan menjadi mawla-nya. Ya Allah, cintailah siapa saja yang menjadikannya mawla dan musuhilah orang yang memusuhinya.” Bara’ berkata: “setelah itu Umar mendekati dia (Ali) dan berkata, ‘selamat wahai anak Abi Thalib, kamu menjadi pemimpin seluruh umat beriman.’”

Nabi tidak hanya dipercaya telah menunjuk Ali sebagai penggantinya tetapi juga telah menyebutkan nama-nama para Imam setelah sepeninggalannya. Jumlahnya ada dua belas, berasal dari suku Quraish dan dari golongan ahlul bait. Pernyataan ini ada di dalam sumber Sunni maupun Syiah, termasuk dari hadis paling otoritatif Sunni, al-shahih Bukhari dan al-shahih Muslim. 

Para ustaz dan intelektual Syiah Indonesia suka menggunakan sumber-sumber Syiah dan Sunni untuk mengutip sejumlah imam pengganti nabi. Mereka mengutip sebuah hadis al-shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah yang mengatakan bahwa dia mendengar nabi berkata bahwa akan ada dua belas amir (pemimpin), semuanya dari suku Quraish. Ada juga hadis dari al-shahih Muslim yang menyatakan bahwa urusan umat mukmin akan berjalan dengan baik selama dipimpin oleh dua belas orang imam. Jadi, kelompok yang percaya pada dua belas imam biasa disebut Syiah Isna Asyariah (dua belas).
Bagi umat Syiah Indonesia, ada hadis yang mengungkapkan pemberitahuan nama-nama para imam yang diucapakan oleh nabi secara publik dan mendeklarasikan mereka sebagai penggantinya. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib, diikuti oleh kedua anaknya (Hasan dan Husein), diikuti oleh keturunan Husein sampai pada imam yang kedua belas (Muhammad al-Mahdi), seseorang yang ditunggu yang gaib dan tetap tersembunyi.

Dua belas nama itu di antaranya: Ali bin Abi Thalib al-Murtada (w. 40/661), Hasan bin Ali al-Zaki (w.49/669), Husein bin Ali al-Shuhada (w. 61/680), Ali bin Husein Zainal Abidin (w. 95/715), Muhammad bin Ali al-Baqir (w. 115/734), Ja’far bin Muhammad al-Sadiq (w. 148/766), Musa bin Ja’far al-Kazim (w. 183/800), Ali bin Musa al-Rida (w. 2013/819), Muhammad bin Ali al-Jawad (w. 220/836), Ali bin Muammad al-Hadi (w. 254/869), Hasan bin Ali al-Askari (w. 260/875), dan Muhammad bin Hasan al-Mahdi. Hari ini, Syiah mengakui Muhammad al-Mahdi sebagai imam terakhir mereka. Dialah yang ditunggu yang mana kehadirannya diharapakan akan dapat menegakkan keadilan Tuhan di dunia.
Jadi, kepercayaan pada konsep imamah merupakan suatu ciri khas pembeda Syiah—dari Sunni. Tetapi di samping hal tersebut akan menentukan interpretasi mereka terhadap hadis, imamah juga berkontribusi bagi penafsiran Syiah atas ranah hukum (fikih). Sekarang, kekompleksitasan mazhab Syiah yang muncul di dalam pemahaman mengenai Imam Mahdi akan dijelaskan. 

Sumber gambar: www.opinionnigeria.com