Untuk Aktivis Dakwah: Yuk, Menerapkan Dakwah yang Moderat



Jiva Agung
Yang menghina agamamu, tidak bisa merusak agamamu. Yang bisa merusak agamamu justru perilakumu yang bertentangan dengan ajaran agamamu” (Mustofa Bisri)

Saat ini para pemerhati Islam sedang harap-harap cemas melihat kondisi Islam di dunia maupun Indonesia. Bagaimana tidak, lihat saja terdapat beberapa golongan yang seakan-akan berdakwah membela dan mengharumkan Islam padahal menghancurkan Islam. Dosen saya pernah berguyon, “Mereka adalah SPI = Sok Pembela Islam”. Itu seperti kaki kanan melangkah ke depan sedangkan kaki kirinya menginjak temannya sendiri. Kita bisa berkaca pada keadaan di Timur Tengah sampai detik ini. Tak dapat terpikir dalam benak saya, mungkin Negara Barat akan semakin phobia terhadap Islam, melihat kenyataan itu.

Agaknya yang demikian pun merasuk ke dalam tubuh bangsa Indonesia yang dahulunya terkenal ramah tamah. Ini mungkin pengaruh media informasi dan efek globalisasi. Keadaan pun diperparah dengan munculnya perlawanan dari golongan yang tidak menyetujui sikap para “SPI”. Luthfi Assyaukanie, doktor lulusan Australia sekaligus founder Qureta.com, menyatakan bahwa lahirnya JIL (Jaringan Islam Liberal) sebagai respon atas bangkitnya ”ekstremisme” dan ”fundamentalisme” agama di Indonesia. 

Hal tersebut ditandai oleh munculnya kelompok militan Islam, perusak gereja, lahirnya sejumlah media penyuara aspirasi ”Islam militan”, serta penggunaan istilah “jihad” sebagai dalil serangan. Menurut hemat saya, keduanya—golongan SPI dan anti SPI—sama-sama ekstrem.

Alhamdulillah, para ulama, pemikir, maupun pemerhati Islam sudah mulai menyadarinya. Terlihat dari beberapa wacana-wacana yang di usulkan—walaupun masih dalam bentuk tulisan maupun seminar—guna menyelesaikan problematika ini. Dan di manakah posisi aktivis dakwah? Saya harap tidak berada di kutub ekstrem SPI maupun kutub ekstrem anti SPI dan lebih memilih berjalan beriringan dengan para ulama, pemikir, maupun pemerhati Islam yang mempunyai semangat moderat (jalan tengah). Karena semua tahu kalau Islam adalah agama penebar rahmatan lil alamin.

Kata “rahmat” selalu disandingkan dengan arti kasih sayang, dan kelemahlembutan. Tetapi menurut Harjani Hefni, pandangan tersebut masih parsial (belum lengkap), karena ada sebagian orang yang tidak setuju jika sebuah tindakan lahir bertentangan dengan kelembutan dikatakan sebagai rahmat.[1]

Beliau beranggapan, meskipun sifat rahmat dengan tampilan utamanya adalah keakraban, kelembutan, dan kasih sayang, tetapi sifat-sifat tersebut tidak menghilangkan keperkasaan, keberanian, dan ketegasan dalam menghadapi kezaliman, penyimpangan, dan segala bentuk manipulasi.[2] Lihat saja sikap tegas Rasulullah yang diabadikan dalam Alquran.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.(QS. Al-Fath [48]: 29).

Hanya saja ayat di atas atau hadits yang senada seperti, “Siapa saja yang melihat kemunkaran, lakukanlah perubahan dengan tangannya, jika tidak mampu, dengan lidahnya. Jika tidak mampu, dengan hatinya. Inilah selemah-lemahnya iman,” sering disalah-artikan oleh segolongan umat muslim.
Terlebih ketika situasi sosial kita sedang mengalami kekacauan, norma-norma sosial terdistorsi, kekerasan merebak, korupsi menyebar, dekadensi moral yang diamini oleh kekuasaan kekuasaan negara yang tidak berdaya, supremasi hukum lemah, presiden tidak bisa mengambil tindakan, dan pemimpin rakyat mengambil alih peran negara. Akibatnya segolongan orang merasa mendapat legitimasi untuk dengan bebas merusak, mengubrak-abrik tempat maksiat, menghakimi sendiri siapa saja yang dianggap merusak moral. Semua tindakan itu diklaim sebagai kebenaran atas nama Tuhan atau agama.[3]

Redaksi “dengan tangan” seharusnya ditafsirkan kekuasaan atau kewenangan. Pihak yang pertama-tama terkena dengan kewajiban ini adalah pemerintah atau penguasa. Pemerintah sesungguhnya merupakan perwujudan dari harapan-harapan masyarakatnya yang karenanya memiliki amanah dan kewajiban yang mengikat.[4] Meski demikan, kekuasaan di sini bukan berarti kekuasaan otoriter, melainkan kekuasaan konstitusional. 

Di sisi lain, karena ketegasan tidak berbanding lurus dengan penindasan atau kezaliman sehingga jika dirasa ada orang ataupun segolongan—baik mereka muslim maupun non muslim—yang tindakannya merugikan Islam, maka kita tidak boleh berlaku anarkis dengan main hakim sendiri, tetapi penyelesaiannya diserahkan kepada mekanisme yang berlaku, terlebih lagi Indonesia adalah negara hukum. Hal ini sejalan dengan apa yang telah diungkapkan oleh Ibnu Taimiyah:

Tidak setiap orang berhak menghilangkan kemunkaran yang terjadi di hadapannya, misalnya memotong tangan orang yang mencuri, mendera orang yang meminum khamr, atau melaksanakan had, karena jika semua orang berhak melakukannya tentunya akan mendatangkan kerusakan, karena setiap orang akan memukul orang lain dengan alasan dia berhak melakukannya. Oleh karena itu pelaksanaan pencegahan kemunkaran dengan tangan khusus di perbolehkan bagi wali l-amr (pemerintah).[5]

Pihak berikutnya adalah orangtua, para pendidik, dan pemimpin para lembaga, perusahaan dan kantor-kantor. Mereka ini memiliki wewenang dan tanggung jawab yang langsung terhadap orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. [6]

Orangtua bertanggung jawab dan memiliki wewenang kepada anaknya yang melakukan kesalahan, seorang suami kepada istrinya, begitu pun seorang guru harus bertanggung jawab dan memiliki wewenang kepada muridnya yang melakukan kesalahan, para aktivis dakwah juga bertanggung jawab dan memiliki wewenang kepada kader-kadernya. Selanjutnya, redaksi “dengan lisan” bisa dimaknai dengan ucapan, nasihat, ceramah, berdialog, dan tidak boleh dipahami sebagai celotehan, caci maki, serta kata-kata yang merendahkan martabat manusia. [7]

Aisyah berkata, Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai setiap cara-cara yang halus dalam setiap perkara. Redaksi “dengan hati” bukan berarti hanya diam, memejamkan mata, dan menutup telinga. Tetapi menurut K.H Husein Muhammad adalah diam yang aktif, yaitu melakukan sesuatu dengan tenang dan disiplin, serta kukuh dalam prinsip kebenaran dan keadilan. Pendek kata, kita tidak boleh membiarkan kerusakan terus berlangsung, apalagi kemudian tenggelam atau terseret arusnya. [8]

 

Dakwah Bukan Paksaan

Kita semua tahu bahwa dakwah merupakan sebuah ajakan, maka di sini tidak ada yang namanya sebuah paksaan. Allah hanya menganjurkan kita untuk berdakwah sesuai kemampuan—secara terus-menerus dengan cara yang baik dan benar—dan mengenai keimanan mereka—beriman atau tidak—itu sudah menjadi pilihan dan tanggung jawab diri mereka masing-masing. Betapa banyak ayat Alquran yang menegur Nabi Muhammad dikarenakan keinginannya untuk mengislamkan secara kaffah semua orang. Seperti firman Allah:

Wahai Rasul (Muhammad) janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang (munafik) yang mengatakan dengan mulut mereka, ‘Kami telah beriman’ dan juga orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar berita bohong... ” ayat ini ditutup dengan kata, “Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk sesat, sedikit pun engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya)..(QS. Al-Maidah [5]: 41).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? (QS. Yunus [10]: 99)

Perhatikan redaksi dalam surat al-Maidah di atas! terdapat kata munafik” yang berarti mereka masih tergolong umat Islam. Itu menandakan dalam tubuh Islam saja ada yang munafik yang kata Allah, kita tidak bisa memaksakan kehendaknya. Hanya saja, sekali lagi, bukan berarti kita berdiam diri, tetapi marilah berdakwah dengan tanpa pemaksaan apalagi kekerasan. Allah telah menuntun kita untuk menyerukan dakwah dengan cara hikmah (bijaksana) sebagaimana yang terdapat dalam firman-Nya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An-Nahl [16]: 125)

Karena dakwah adalah seruan atau ajakan kepada keinsafan, atau usaha untuk mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, maka sukses tidaknya suatu dakwah bukanlah diukur oleh gelak tawa atau tepuk riuh pendengarnya, bukan pula lewat ratap tangis mereka. Sukses tersebut diukur lewat, antara lain, pada bekas yang ditinggalkan dalam benak pendengarnya, yang kemudian tercermin dalam tingkah laku mereka. Untuk mencapai sasaran tersebut, tentunya semua unsur dakwah harus mendapat dari perhatian para da’i.[9]

 

Tahapan dalam Berdakwah

Ada kesalahan pemahaman di antara kita yang menganggap bahwa tugas seorang da’i atau aktivis dakwah sudah selesai jika sudah menyampaikan materi yang biasa diartikan sebagai ceramah-ceramah atau mentoring semata. Padahal dalam beberapa ayat Al-Qur’an, menurut Harjani Hefni[10] dakwah memiliki tiga tahapan, yaitu: tabligh, takwin, dan tanfidz. 

Tabligh adalah tahapan menyampaikan ajaran Islam secara umum kepada seluruh manusia. Takwin adalah upaya untuk menindaklanjuti orang-orang yang tertarik kepada Islam melalui pendidikan dan pengajaran sebagaimana yang dipraktikkan oleh Rasulullah di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam. Dalam tahap ini manusia dibentuk untuk memiliki pribadi yang mulia. 

Sedangkan tahap terakhir, tanfidz, diharapkan manusia khususnya kaum muslim sudah dapat melaksanakan secara patuh perintah-perintah Allah. Masih menurut Harjani, tiga tahapan ini dapat dilihat dari firman Allah:

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (QS. Al-Jumu’ah [62]: 2).

Kalimat yatlūna ‘alaihim āyātihĪ yang terjemahannya “membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka” mengandung makna al-bayan dan tabligh (penjelasan dan penyampaian). Kalimat wayuzakkĪhim yang terjemahannya “mensucikan mereka” mengandung makna at-tarbiyah dan ta’lim (pendidikan dan pengajaran) yang dalam istilah dakwah dikenal dengan istilah takwin.

 Kalimat wayu’allimuhum al-kitāba wal ikmata yang terjemahannya “mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah” mengandung pengertian tathbiq dan tanfidz (penerapan dan pelaksanaan). Sedangkan kalimat wa in kānū min qoblu lafĪolālin mubĪn menunjuk kepada tujuan dakwah Islamiyyah, yaitu mengeluarkan manusia dari alam kegelapan dan kesesatan menuju alam yang terang benderang. [11]

 

Harapan Untuk Para Aktivis Dakwah

Seperti yang telah saya paparkan di atas, Indonesia saat ini sedang berada di tengah tarik-menarik antara kubu SPI dan kubu anti SPI, dimana yang satu melahirkan gerakan bercorak “pemurnian” yang berwajah “arabisasi” dan fanatik, dan satu sisi yang lain berwajah “westernisasi” dalam karakter yang sama-sama fanatiknya.[12]

Dalam wajah yang lain Islam akan terus terombang-ambing antara radikalisme paham “konservatisme-tradisional” dan “liberal-sekuler” yang saling berbenturan secara radikal serta memperebutkan hegemoni wacana dan gerakan Islam di Indonesia dengan radikal pula. [13]
 
Maka kecerdasan mengusung corak dakwah yang lebih moderat, seperti yang di lakukan ulama-ulama kontemporer—Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Yusuf Qardawi, Ust. Arifin Ilham, Ust. Yusuf Mansur, dlldapat ditiru oleh para aktivis dakwah kampus. Mereka adalah orang-orang yang berjiwa tawasut (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (proporsional), dan tidak anti budaya atau tradisi. 

Akhir dari segalanya, saya ingin memaparkan ayat Allah yang sangat menentang sikap anti moderasi (ekstremisme) dalam bentuk apapun. Sungguh, moderasi dengan wajahnya yang damai, penebar rahmat—bukan kebencian—amat didambakan oleh seluruh umat. 

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu… (QS. Al-Baqarah [2]: 143).

*Tulisan ini diambil dari buku Renungan Bagi Aktivis Dakwah Kampus (Quanta, 2015), karya M. Jiva Agung W



[1] Ahmad Satori, dkk. (2012). Islam Moderat: Menebar Islam Rahmatan lil Alamin. Jakarta: Pustaka Ikadi, hlm. 105
[2] Ibid., hlm. 108
[3] K.H Husein Muhammad. (2013). Menyusuri Jalan Cahaya. Yogyakarta: Bunyan, hlm. 129
[4] Abd Majid, dkk. (2012). Pendidikan Agama Islam. Bandung: Value Press, hlm. 171
[5] Hasan Su’aidi. (2012). Kekerasan Atas Nama Agama Vis a Vis Amar Makruf Nahi Munkar. Jakarta. [Jurnal Refleksi Vol.13 No.3], hlm. 319
[6] Op Cit
[7] Op Cit, hlm. 130
[8] Ibid., hlm 131
[9] Quraish Shihab. (2013). Membumikan Alquran. Bandung: Mizan, hlm. 304
[10] Achmad Satori, dkk. (2012). Islam Moderat: Menebar Islam Rahmatan lil Alamin. Jakarta: Pustaka Ikadi, hlm. 117
[11] Ibid., hlm. 118
[12] Lihat Haedar Nashir. (2013). Islam Syariat. Bandung: Mizan, hlm. 603
[13] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar