Tuhan, Engkau Menginginkan Aku Membusuk?



Vano
Bolehkah mengumumkan kekesalahan kepada Tuhan? Tapi sepertinya meskipun engkau mengatakan tidak, saya akan tetap “marah” kepada-Nya.

Beberapa waktu lalu saya sedang, sambil bermalas-masalan, membaca artikel-artikel remeh di handphone yang tak kunjung ramai notice-nya meski aplikasi medsos melimpah ruah. Lalu saya menemukan web arusbawah yang dalam pendeskripsiannya menyatakan kalau web ini diperuntukkan bagi para golongan bawah untuk dapat mencurahkan keluh-kesahnya. Dan gayung bersambut, saya langsung menulis curhatan ini karena kebetulan sedang mengalami depresi berat.

**

Jadi begini persoalannya.Sepertinya Tuhan menginginkan saya hancur atau bahkan membusuk, mati. Dan setelah dipikir-pikir lagi, ternyata hal tersebut telah berlangsung sejak saya sedang menggarap skripsi di salah satu kampus PTN di Sumatera. Dulu skripsi saya dipersulit oleh dosen pembimbing yang super awkward dan administrasi penelitian yang sangat rumit. 

Bahkan setelah mati-matian mendapat izin penelitian, ternyata objek yang diteliti pun sulit untuk berkoordinasi hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengganti objeknya. Jika banyak keterhambatan penyelesaian skripsi karena kemalasan mahasiswanya, saya malah terhambat karena faktor-faktor eksternal yang saya sendiri tak bisa mengendalikannya.

Itu baru permulaan saja. Di hari-hari selanjutnya, setelah lulus, saya belajar bahasa Inggris dan Jerman untuk melanjutkan studi S2, yang sejauh amatan saya, orang tua pun mendukungnya. 

Tetapi anehnya belakangan mereka mulai menunjukkan inkonsistensinya setelah saya dinyatakan tak lolos dari seleksi beasiswa yang mana ia tidak mau mendanai perkuliahan saya yang tinggal hanya registrasi ulang saja. Katanya biaya puluhan juta terlalu berat baginya yang sebentar lagi sudah mau pensiun. Padahal rentang waktu antara belajar bahasa Inggris dan Jerman, yang tentunya menandai kalau saya jelas-jelas hendak melanjutkan perkuliahan, dengan batas akhir pembayaran registrasi ulang adalah satu tahun setengah. 

Lantas mengapa tak sedari awal saja ia berkata kalau tidak akan bisa mendanai kuliah saya sehingga saya tak perlu membuang-buang waktu bertahun-tahun untuk menunggu dan berharap. Bagi saya ini merupakan kekecewaan yang lebih menyakitkan dibandingkan saat dikecewakan oleh mantan pacar yang malah menikah dengan orang lain. Andai saja dari awal orang tua saya memberitahu kalau mereka tak akan menyanggupinya, saya jelas memilih untuk langsung kerja daripada sibuk preparing. 

Tidak berhenti di sana, dalam sela-sela waktu satu setengah tahun itu pun saya telah mecoba untuk melamar kerja dan seakan ada konspirasi besar, mereka (perusahaan) semua menolak saya. Padahal ada kurang lebih 10-15 lamaran yang bahkan saya memiliki dugaan/keyakinan kuat kalau kualitas saya pun sebenarnya lebih baik dari pekerja yang saat ini dimiliki oleh perusahaan-perusahaan tersebut. 

Jadi, lengkaplah sudah. Saya tak dapat beasiswa, belum bisa melanjutkan kuliahdan tak diterima kerja. Lalu apa yang bisa saya lakukan selain menunggu busuknya badan? Mungkin, saat ini, sambil asik duduk disinggasana-Nya, Dia ketawa-ketiwi sambil “membentuk-bentuk” saya menjadi sampah di dunia. Atau, pada kemungkinan yang lebih halus, Dia memang sedari awal tak pernah ikut campur sama percaturan hidup umat manusia. 

Padahal sedari dulu saya selalu mengabdikan diri untuk-Nya; menjadi aktivis gereja dan tanpa mengharapkan imbalan materi bahkan tak terlalu mengharapkan surga. Tentu, semua itu dilakukan dengan segala kekurangan yang ada di dalam diri dan saya pun paham bahwa amal perbuatan tak ada yang bisa diandalkan, tapi niat saya benar-benar tulus untuk mengabdi. Tapi setidaknya kasih apresiasi dong. Hanysa saja beginilah realitanya. Saya hanya dapat mengucapkan terima kasih. Anda, yang katanya sumber kasih, fix telah berhasil mengoyak-ngoyak diri saya.

Sumber gambar: FB Graphic Pedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar