Sulitnya Mengatakan, "Syiah Itu Islam"



Jiva Agung

{foto: Seyyed Husein Nasr, Cendekiawan besar Syiah}
Saya masih menduga kuat kalau mayoritas masyarakat muslim Sunni masih menganggap Syiah sebagai golongan Islam coret. Entah apakah pandangan ini juga terjangkit di dalam internal golongan Syiah sendiri—yang menganggap Sunni sebagai non Islam, seperti yang ada di Iran misalnya. Saya tidak tahu. 

Di sini bukan berarti saya menginginkan seluruh Sunni menyetujui semua pemahaman Syiah—begitu pun sebaliknya. Bukan. Melainkan lebih kepada keprihatinan saya kepada sebagian dari kedua golongan ini yang sangat tergesa-gesa untuk menilai suatu kelompok “yang lain” sebagai “sesat”, “di luar Islam”, atau setidaknya merupakan musuh dalam selimut.
Ironinya, pelabelan-pelabelan tersebut tidak dibarengi dengan kepemilikan informasi yang memadai. Kebanyakan hanya “katanya-katanya” yang diperoleh secara taken for granted dan diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. 

Mungkin, ada sebagian dari mereka yang memang menelusuri doktrin atau ajaran golongan “yang lain” langsung ke sumbernya, tetapi karena sudah diawali dengan niat yang buruk (tidak objektif), sudah tidak adil sejak dalam pikiran, maka akan tertebak bahwa hasilnya pun pasti bias. 

Apalagi jika tidak diiringi dengan kekritisan yang apresiatif sembari menyadari adanya perubahan-perubahan yang pastinya terjadi secara sunnahtullah dalam sepak terjang perjalanan suatu mazhab. Dus ketidaklihaian dalam melihat keragaman dan kekompleksitasannya, membuat penelusur mudah menyederhanakan sesuatu yang rumit nan njelimet.  

Semua ketidakmudahan ini akhirnya membuat saya lebih memilih untuk menahan diri dari men-judge, mengkafirkan, atau menyesatkan Syiah. Bahwa ada ajaran Syiah yang menurut saya “salah” tak perlu dipungkiri, tetapi bukan berarti hal itu tidak mustahil juga terjadi dalam circle Sunni. Perbedaan-perbedaan yang ada bukan lantas kita berkonklusi bahwa Syiah-lah yang mutlak salah dan Sunni yang mutlak benar.

Pandangan ini terpatri karena saya, tentu dengan segala keterbatasan diri, mencoba untuk menjadi seseorang yang melangkah beyond the sects. Implikasinya, saya bisa mengambil “kebenaran” dari mazhab mana pun, termasuk Syiah. Satu persoalan mungkin saja saya ambil dari Sunni tetapi di perihal lain saya pungut dari Syiah. Jelas, saya melakukan ini dengan penuh pertimbangan akal sehat dan hati nurani yang disertai tanggung jawab penuh. Tetapi sepertinya langkah saya ini tidak senangi oleh sebagian muslim Sunni. Tiga di antaranya akan saya ceritakan di sini. 

Yang pertama adalah bapak saya sendiri. Ketika saya mengatakan kalau saya baru saja diterima di salah satu kampus keislaman, awalnya ia merespon biasa-biasa saja. Hanya saja, setelah ia mengetahui bahwa kampus tersebut berbau Syiah, maka ia langsung menganjurkan saya untuk mencari kampus lain. “Yang NU sajalah.” katanya. Sedikit informasi, bapak saya adalah salah seorang NU kultural yang cukup fanatik. Jangankan Syiah, Muhamadiyah, Persis, atau Wahabi saja sering “direndahkan”.

Kemudian yang kedua, masih berhubungan dengan kampus tersebut, saya pernah melamar untuk menjadi seorang pengurus masjid—yang cukup dibayar dengan memperoleh tempat tinggal/makan gratis—untuk menyambung hidup di daerah dekat kampus. Ini karena saya hanya mendapatkan beasiswa bebas SPP saja, sedangkan orang tua sudah tidak mampu menyuplai dana lagi. 

Ketika bertemu dengan ketua pengurus masjid, yang katanya lulusan S1 dan S2 Timur Tengah dan juga berprofesi dosen di salah satu kampus swasta di Jakarta, saya lagi-lagi mendapat penolakan, setelah tahu bahwa saya akan berkuliah di kampus berbau Syiah itu. Bak seorang ulama, ia menceramahi saya panjang lebar perihal kesesatan Syiah dan bagaimana cara mereka yang amat masif menyebarkan ajaran-ajarannya. 

Walaupun terlihat berusaha menjaga ketenangan, sebab mana mungkin berbicara menggebu-gebu apalagi secara keras kepada orang yang baru dikenal, tetapi tetap saja polanya sangat offensive. Sebenarnya bisa saja saya membantah argumen-argumennya, terlebih apa-apa yang diucapkannya itu hanyalah pengulangan-pengulangan “tuduhan” yang selalu ditujukan kepada Syiah yang mana saya sudah cukup paham dengan materi tersebut.
Namun, saat itu saya lebih memilih untuk bersikap pragmatis sebab secara realistis memang saya sedang membutuhkan bantuannya. Akhirnya saya merelakan diri menjadi pendengar yang cuma sedikit memberi pandangan-pandangan alternatif yang terkesan moderat. 

Hingga pada akhirnya saya mengucapkan, “OK, pak. Saya berani memberi jaminan, meski saya berkuliah di kampus berbau Syiah, saya tidak akan membawa ajaran-ajaran Syiah atau segala sesuatu yang berbau Syiah ke masjid ini. Saya akan mengikuti kultur dari masjid ini saja.”
Dan mungkin belum berjodoh, bapak pengurus masjid itu tetap saja secara halus menolak saya, sembari berkata, “Sebagai sesama muslim, saya peduli sama (keislaman) kamu, sayang sekali kalau membuang-buang waktumu kuliah di tempat Syiah. Carilah kampus lain.”

Lalu kisah terakhir ialah saat saya melamar menjadi guru di sekolah swasta elit yang ada Kota Bandung. Waktu itu ada empat sesi tes: Forum Group Discussion (FGD), wawancara oleh bagian manajemen, tes kecapakan Bahasa Inggris, dan tes keislaman. Kalau dinyatakan lolos dari keempat sesi ini, masih ada dua tahap lagi yang perlu dilalui sebelum taken kontrak.

Yang saya highlight adalah hanya pas sesi tes keislaman. Setelah diuji bacaan dan hafalan Alquran, saya ditanya tentang dasar-dasar keislaman hingga pada saatnya ia menanyakan saya perihal Syiah. Kala itu saya mencoba menjawabnya layaknya seorang akademisi, tidak memberi jawaban hitam-putih, melainkan menyajikan ragam pandangan. 

Tetapi si penguji, yang saya taksir masih berumur 30-an itu, tidak puas dengan jawaban saya dan terus menyecar karena sepertinya ia menginginkan sesuatu yang konkret dan eksplisit perihal “genre” keislaman yang anut. “Begini saja. Syiah itu (masih tergolong) Islam atau bukan?” tuturnya.

Bagi saya, ini sungguh pertanyaan berat sekaligus dapat juga terkategorikan sebagai pertanyaan jebakan. Kalau saya jawab “Iya, Syiah itu masih tergolong Islam.” Saya takut dianggap “menyimpang” karena tidak sesuai dengan “genre” Islam yang diusung oleh sekolah atau penguji tersebut. 

Dan kalau saya jawab “Bukan, Syiah bukan Islam.” saya takut kalau penguji atau pihak sekolah ternyata bisa menampung beragam pemahaman keislaman. Berarti jawaban saya terkesan eksklusif sehingga tidak cocok mengajar di sekolah tersebut, yang misalnya mendorong nilai-nilai inklusivitas. Dari sana sisi pragmatis saya muncul lagi. Bodoh! Harusnya saya mencari tahu terlebih dulu mengenai sekolah tersebut dan corak Islam apa yang mereka yakini. 

Jujur, saya yang 100% bukan Syiah saja tertekan dengan hal-hal tersebut. Tak bisa dibayangkan betapa sulitnya nanti ketika saya melamar pekerjaan pasca lulus dari kampus berbau Syiah itu. Meski, bisa jadi, saya nanti akan mengatakan bahwa saya bukan Syiah, mereka akan bergumam “Hmm. Ini pasti lagi taqiyah.” Astagfirullah. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar