Sekelumit tentang Mistisisme



Daniel Iqbal Sujana
Secara umum, bila mistisisme tidak dibedakan berdasarkan budaya, agama dan periode dalam sejarahnya yang panjang, terdapat sebuah garis singgung yang saling bertemu mengenainya, yaitu sebuah kesatuan uniter[1] yang di dalamnya tercakup serangkaian gagasan, pengalaman psikologis dan intelektual. Implikasinya kita akan mengalami kesulitan untuk memahami secara leksikal mengenai apa definisi mistisisme—karena untuk menghindari sikap apriori ketika mempelajari ilmunya. 

Yang paling penting dalam pokok masalah pembahasan mistisisme bukanlah kajian komparatif tentang pengalaman mistik melainkan ada pada dimensi epistemologis kesadaran mistik-analisis filosofis tentang kesadaran uniter dan kesahihannya. Maka dalam analisis tersebut, pendekatan ilmu hudhuri sangat penting digunakan, karena bila tidak, maka penyelesaian mengenai kesadaran mistik akan gagal tercapai. Kesadaran mistik bersifat non representasional yang berarti bisa dan sangat mungkin semua orang meraihnya. 

Ada sedikitnya tiga pertanyaan mendasar dalam swa-objektif dari pengetahuan, yaitu pertama, apakah ini pengetahuan dengan kehadiran? Apakah ini pengetahuan dengan korespondensi? Atau apakah ini terlepas dari dua jenis hudhuri dan hushuli yaitu pengetahuan dengan halusinasi subjek? Namun, opsi yang ketiga menurut saya tidak menjadi fokus utama dalam permasalahan mistisisme karena telah dijawab oleh William James dalam bukunya The Varieties of Religious Experience yang mengatakan bahwa halusinasi dalam beragama itu tidaklah tepat. Karena keteraturan dan keseragaman pengalaman-pengalaman ini, maka akan sangat tak bisa dibenarkan jika mistisisme diperlakukan sebagai halusinasi, dan karenanya bersifat subjektif. (Mengenai) ini bisa dianalogikan bahwa ada pulau X yang pernah dikunjungi oleh manusia Y, kemudian manusia Z yang belum pernah mengunjungi pulau X mengatakan bahwa itu adalah dongeng saja.

Maka, dalam pokok pembahasan para filosof  muslim dan Barat mengenai metafisika adalah bahwa mistisisme bersifat empiris dan ilmiah, bukan transendental. Beberapa sanggahan para kaum skeptis dijawab oleh para pengkaji mistisisme. Munculah kemudian problem mengenai pertanyaan; apakah pengetahuan mistik sama dengan pengetahuan korespondensi? Bila analogi para filsuf agama (seperti William James) memberi analogi sebuah pulau yang belum dikunjungi, maka ada sebuah relasi pengetahuan ini dengan korespondensi. Dalam sudut pandang esensialitas mistik adalah eksistensi representasi mental yang berkorespondensi dengan objek eksternal. 

Menurut pandangan Platonis dalam bukunya Ennead (1967) sumber kesulitan utama dari pengetahuan ini adalah tidak dengan mengetahui dan daya inteleksi yang menemukan wujud-wujud, namun suatu bentuk “kehadiran” yang melampaui semua pengetahuan. Menjadi sebuah pertanyaan kembali bahwa bagaimana yang dimaksud dengan bentuk kehadiran itu? Platonis mengangkat bahasan bahwa, pengetahuan sejati diraih tidak dengan mengetahu dan daya inteleksi, jauh dari itu ada sebuah kehadiran yang tertinggi. Sebagai contoh, dia memberikan wacana bahwa pengetahuan tertinggi adalah kebaikan. Apa pun dan bagaimana pun premis sebuah pengetahuan, seharusnya sampai pada kesimpulan yang mutlak, yaitu kebahagiaan. 

                                            Pengetahuan Intelektual Plato
Dalam dunia pengetahuan, hal terbaik yang dapat dipersepsi dan hanya bisa didapat dengan usaha keras adalah bentuk esensi dalam kebaikan. Itulah yang dinamakan oleh Plato sebagai “penglihatan”. Tanpa “penglihatan” seperti itu, tidak seorang pun mampu berada pada sikap bijaksana dalam pengetahuan.
Setelah mereka berada pada pengetahuan yang tertinggi dalam “penglihatannya”, mereka tidak boleh selalu berada di dalam keadaan tertinggi itu. Mereka harus turun dan menyamakan frekuensi pengetahuan kepada masyarakat. Terlebih “penglihatan” itu harus mereka berikan kepada orang yang belum memiliki “penglihatan” itu.

Namun, Plato tidak menjawab pertanyaan mengenai pengetahuan mistik bila dengan menggunakan pendekatan penglihatan intelektual. Meskipun dalam wacana Platonis kebaikan identik dengan sesuatu yang mutlak pada esensinya, namun masih terikat dengan objek. Salah satu objek yang dimaksudkan plato adalah kebaikan. Sekali lagi, kita akan terjebak pada pengetahuan subjek-objek yang tidak bisa relevan dengan mistik. Bila boleh saya katakan, bahwa menafsirkan mistik bila dilihat dari segi pengetahuan bersifat paradoks. 

Agama dan mistisisme merupakan wacana yang lebih menarik karena selalu ada pertanyaan apakah orang beragama pasti mengalami kondisi mistik? Baiklah, sebelum itu, mari kita bahas tentang satu terma agama. Meski belum ada kesepakatan bulat mengenai definisi suatu agama, tetapi di sini saya cukupkan saja dengan pengertian sebuah kepercayaan kepada suatu kekuatan mutlak atau kehendak mutlak sebagai kepedulian tertinggi, karena itu keimanan dan kepercayaan menjadi konsep yang penting dalam menjalani kehidupan beragama. 

Ada sebuah analisis menarik mengenai agama, bahwa hubungan antara keimanan dan kepercayaan adalah hubungan subjek-objek, dengan kata lain, pengetahuan korespondensi memiliki hubungan yang erat di dalamnya. 

Seperti contoh sederhana “Andi percaya kepada Tuhan” maka pernyataan ini, menyiratkan pernyataan bahwa “Andi mengetahui Tuhan”. Sungguh suatu pernyataan yang berat bila kita mengorespondenkannya kepada pengetahuan mistik, dengan menyiratkan Andi mengetahui Tuhan. Maksud “mengetahui Tuhan” itu seperti apa? Apakah Andi misalnya adalah orang yang pernah melihat Tuhan? Atau apakah Andi, misalnya, yang mengetahui ilmu mengenai ketuhanan? Ataukah ada premis yang lain? Sangat sulit bagi kita untuk mengetahuinya secara eksplisit.

Selanjutnya, fenomena iman dan pengetahuan general menarik untuk menjadi sebuah perbincangan. Sejauh pembahasan di atas bahwa iman dan kepercayaan memiliki kerancuan secara korespondensi, namun signifikansinya cukup tinggi. Sesuai dengan penelitian William James yang menyatakan tentang keteraturan dan hukum pengulangan fenomena, yang memunculkan nomena. 

Tanpa unsur mistik, agama akan kering dan mengalami kekosongan makna. Mistik dalam pengertian ini bukanlah serangkaian kekuatan interpersonal yang dimiliki orang “sakti” seperti yang ada pada zaman mitologi meskipun, beberapa orang masih menggunakan mistik sebagai bakuan ontologis kekuatan supernatural. 

Mistik dalam pembahasan yang diangkat adalah aksiologi ilmu pengetahuan dalam membaca skrip ajaran agama, Islam khususnya. Agar menciptakan sebuah gagasan yang konstruktif menurut Mukti Ali diperlukan metodologi yang secara baku tidak sama dengan metode korespondensi atau filsafat, namun harus secara empirik yang sufistik. Sebagai contoh, dalam mengungkap Ibn Arabi, tidak bisa dilakukan pendekatan secara ontologi, namun harus dikaji dengan komperhensif dari epistemologi pemikirannya. 

Namun, aspek ritual ibadah dan mistik sebenarnya tidak mungkin terpisah. Ada hubungan yang sangat erat antara keduanya. Menurut Robert Frager meski kondisi “trans” bisa ada pada setiap kondisi, namun tidak selamanya merupakan sebuah kebenaran yang telah teruji. Untuk itu, para nabi turun untuk memberikan sebuah model peribadahan yang sesuai dengan tingkatan psikologis atau kadar manusia. Tuhan selalu hadir untuk kita, tetapi seberapa sering kita hadir untuk-Nya? kerap kali kita mengutamakan panggilang telepon dan tontonan televisi sembari mengabaikan doa dan ibadah kepada-Nya. Oleh karena itu, ritual sangat penting sebagai jalan awal menuju kesadaran mistik.

Sumber gambar: FB All Art


[1] Yang dimaksud dengan kesadaran uniter menurut Suhrawardi dalam bukunya Ilmu Hudhuri, bukanlah mode persatuan dan keidentikan yang spesifik. Apakah itu adalah kesatuan dengan yang Esa yang bersifat personal seperti yang diklaim oleh Mistisisme Barat-Yahudi, Kristen dan Islam, ataukah persatuan dengan Esa yang universal, seperti dalam kasus pengalaman mistik timur, tidak menciptakan perbedaan apa pun bagi tema “kesadaran uniter”. Kesadaran uniter lebih merupakan keidentikan rasional di mana tidak terdapat kemajemukan apa pun. Dalam keadaan ini bahkan dualisme epistemik subjek-objek, dualisme metafisika pembedaan eksistensi-esensi, ataupun pengabdian religius yang melibatkan hubungan penyembah dan yang disembah tampak tidak berarti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar