Pendosa yang Merindukan Surga



Mrs.X
Aku ingin menceritakan perjalanan hidupku. dahulu ada kelam yang membayang di setapak perjalan derap langkahku”

Awalnya
Sejak beranjak naik ke jenjang kelas 6 SD, aku sudah merasakan diriku nyaman dengan kebebasan. Aku tertarik dengan kehidupan yang sering dilakukan oleh orang-orang di sekitarku. Aku mencoba-coba apa yang mereka lakukan. Salah satunya ialah mulai berani berpakaian dengan busana sexy

Setelah lulus SD lalu masuk SMP ketertarikanku pada kebebasan berlanjut dan semakin berani. Mulai mencoba untuk merokok, meminum beer, dan vodka ringan secara diam-diam sepulang sekolah hingga  larut malam.

Aku semakin terbenam ke dalam dunia gelap ini karena aku memiliki teman atau lingkungan yang sepemikiran denganku. Kami memiliki ketertarikan yang kurang lebih sama. Sejak aku menemukan mereka, aku semakin sering merokok dan meminum minuman beralkohol. Semakin sering pulang malam bersama teman-temanku. 

Meski begitu, aku tidak pernah meninggalkan absen di sekolah dan selalu masuk dalam deretan rangking, meski hanya seputaran 5-10 besar. Selain itu aku juga tidak pernah meniggalkan kewajibanku sebagai siswa “teladan”. Bahkan bisa dibilang aku adalah anak yang tidak melupakan kewajibanku sebagai pelajar. Mengenai percintaan, saat itu aku tidak terlalu tertarik dengan cinta monyet karena aku lebih nyaman dengan kehidupan bebasku. 

Tetapi bukan berarti aku tak punya pacar. Aku punya meskipun saat itu bagiku berpacaran hanyalah untuk sekadar status belaka. Tak berbeda dengan lazimnya anak ABG, aku suka bergonta-ganti pacar karena menurutku lebih nyaman hidup bersenang-senang bersama teman ketimbang “sibuk” pacar-pacaran.

Masa SMA
Memasuki jenjang SMA, awalnya aku diterima di SMA negeri kelas bilingual. Di sana aku giat belajar meski tetap berkehidupan seperti orang-orang lainnya. Lalu aku mengenal teman yang sama-sama menyukai kebebasan sepertiku yang menyebabkan aku nyaman berteman dengannya. 

Ketika aku naik ke kelas 2 SMA, entah mengapa sebagian besar teman-temanku menjauhiku. Entahlah. Mungkin karena mereka tidak suka dengan pergaulanku atau apa pun itu alasannya. Lalu aku bertengkar hebat dengan salah seoarang teman sekolahku karena aku merasa mendapat perlakuan perundungan sampai akhirnya aku tidak sanggup dengan perlakuan tersebut dan aku mengundurkan diri, pindah bersekolah di SMA swasta.

Di sana aku semakin merasa bebas karena aturan dari sekolahnya sendiri yang menurutku begitu longgar ketimbang sekolahku yang dulu. Di sana pula aku mengenal laki-laki yang aku cintai. Dia adalah seorang gitaris band indie yang cukup terkenal di kotaku. Bisa dibilang kalau dia adalah cinta pertamaku dan kami menjalin hubungan sekitar 1 tahun.
 
Saat itu aku berpikir kalau dia amat sangat mencintaiku tapi aku salah karena ternyata suatu ketika ia mengambil permata hidupku lalu meninggalkanku. Bodohnya, dahulu dengan sekadar embel-embel “Aku tidak akan meninggalkan kamu sampai kapan pun.” aku luluh, menyerahkan permata hidupku.

Waktu itu aku berpikir, mungkin, putusnya hubungan kami adalah karena memang telah terjadi banyak pertengkaran. Tetapi tetap saja aku tak bisa menerima alasan itu, karena menurutku semuanya bisa diperbaiki dengan baik-baik bukan malah meninggalkanku begitu saja. 

Sungguh, aku sangat kecewa sampai pada akhirnya aku mentattoo diriku. Bukan karena tattoo adalah sebuah karya namun lebih karena aku merasa diriku sudah kotor, jadi sekalian saja aku mentattoo tubuhku agar lebih kotor. 

Hidupku semakin kacau sejak berpisah dengannya. Aku makin hancur, liar dan tak ada arah tujuan untuk hidupku lagi. Aku semakin berantakan. Nilai sekolahku turun dan untuk sekadar pulang ke rumah saja sangat jarang. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan meminum alkohol, setiap hari, bersama temanku meski bukan berarti dialah yang telah menjerumuskan aku tetapi lebih karena ia hanya ingin ada untukku, menemani masa-masa depresiku. Aku juga semakin sering mentatto tubuhku dan seiring berjalannya waktu aku menjadi lebih mengerti arti seni tattoo dan akhirnya mencintai tattoo. 

Masa SMA kuhabiskan dengan berfoya-foya. Aku selalu main di luar hingga larut malam bahkan sampai pagi. Terkadang aku  jarang ke pulang ke rumah, tetapi tetap bersekolah. Walau sering membolos, aku tidak pernah melupakan kewajibanku sebagai pelajar. 

Aku mulai clubbing, minum alkohol, bahkan juga mengonsumsi obat-obatan terlarang, narkoba, dan melakukan seks bebas. Sebenarnya depresiku bukan semata-mata karena pacarku yang merebut permata hidupku, tapi ada faktor lain juga. Adalah ketidakharmonisan antara aku dan ayahku. Walau aku bukan seorang anak broken home, tetapi aku tahu dan aku pendam sendiri bahwa ada perempuan lain yang ingin merusak keluargaku. Hanya saja aku memendamnya karena aku tak ingin membuat ibuku sedih.

Masa Perkuliahan
Setelah lulus SMA aku diterima di salah satu PTN yang ada di Jawa Tengah tetapi gaya hidup foya-foyaku tak pernah lepas yang membuat kuliahku suka terabaikan. Hingga pada suatu ketika aku bertemu dengan seorang laki-laki yang baik hati. Ia mengajariku banyak hal yang belum kuketahui sebelumnya bahkan ia membimbingku untuk menjadi orang yang lebih baik. Belakangan rasa cinta muncul dan kami berpacaran dengan durasai kurang lebih satu tahun lamanya, meski putus-nyambung. 

Lucunya, setiap kali kami sedang putus aku kembali menjadi diriku yang dahulu.Clubbing, bersahabat dengan alkohol dan obat-obatan terlarang, narkoba, narkotika dan seks bebas sampai pada akhirnya kami putus total karena kesalahanku yang telah membohonginya. Aku bilangnya ingin pergi berkaraoke dengan teman-teman tetapi sebenarnya aku clubbing. Sungguh aku sangat menyesal saat itu.

Setelah kami berpisah aku semakin hancur saja. Aku sendirian dan kesepian. Tidak ada lagi dia yang selalu menemani hari-hariku dan menjagaku, sedangkan orang tuaku ada di Bekasi, yang tentu jauh dengan kampusku yang ada di Jawa Tengah. Lagi-lagi aku tuangkan diriku ke dalam kegelapan. Tiada hari tanpa clubbing, alkohol, narkoba, dan seks bebas. Dan tattoku, semakin banyak terukir di tubuhku. 

Kemudia aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari PTN itu dan pindah ke PTS yang masih di kota yang sama dengan kampus awalku. Di sana aku berkuliah sesuka hati. Kalau lagi malas, aku tidak kuliah. Tidak berbeda dengan kondisi sebelumnya, aktivitas-aktivitas “hitam” itu masih saja aku lakukan. 

Untuk mengusir rasa bosan terkadang aku bepergian sendiri untuk bertemu teman-temanku di luar kota, ke Bandung, Cirebon, Yogyakarta, dan Bali. Di kota yang aku sebut terakhir ini aku—bersama teman—berkunjung ke salah satu club ternama dan unforgattable moment-nya adalah kami sempat terjebak di lift sekitar 15 menit. Belum selesai di sana, beberapa hari kemudian ketika aku dan teman-temanku pulang clubbing dalam keadaan mabuk temanku mengalami kecelakaan. Lucu sekali. Setelah beberapa hari berlalu, aku memutuskan untuk kembali ke Bekasi karena aku merindukan keluargaku.

Sepulang dari sana, aku sempat berkomitmen untuk hijrah (kembali menuju jalan yang benar). Setelah 2 minggu berlalu, aku kembali ke kampus sembari ingin memperbaiki kuliahku yang kadung terabaikan. Namun sayang, sebulan kemudian imanku goyah dan aku kembali ke kehidupanku yang kelam. Melepas hijab, kembali clubbing, bersahabat dengan alkohol, obat-obatan terlarang, narkoba, narkotika dan seks bebas. 

Aku selalu kesepian tanpa adanya dia, mantan pacarku yang baik yang aku kecewakan. Depresiku semakin menjadi-jadi. Dalam 1 tahun aku sudah 4 kali masuk rumah sakit karena kebiasaanku meminum alkohol dan memakai barang-barang haram tersebut. 

Bahkan aku sempat 3 kali mencoba untuk bunuh diri. Dua kali menyilet tangan bahkan nadiku, dan meminum berbutir-butir obat-obatan terlarang, meminum alkohol untuk menyembuhkan luka dan meminum 1 botol parfum. Beruntungnya, aksi tersebut selalu gagal karena teman-temanku cepat mengetahui setiap usaha bunuh diriku dan segera membawaku ke rumah sakit.

Setelah pulih, seperti tak jera, aku masih saja terus-terusan menikmati hidupku yang bebas apalagi aku dipertemukan lagi dengan laki-laki yang kebiasannya senada denganku. Tetapi pada suatu waktu ia pernah bilang ingin menikahiku. Dia sudah berbicara kepada kedua orang tuaku yang kemudian mereka sebarkan berita gembira itu kepada keluarga besar kami.

Namun bulan demi bulan berganti ia tak juga memastikan kepada orang tuaku kapan acara tersebut dilaksanakan. Ketidakjelasan itu akhirnya berakhir tragis selurus dengan kandasnya hubungan kami.

Pulang ke Bekasi
Aku depresi lalu menghubungi papahku untuk segera menjemputku pulang ke Bekasi. Kemudian aku di perusahaan milik ayahku. Aku sempat merasa asing sekali dengan suasana di sini setelah bertahun-tahun tidak tinggal dirumah. Namun seiring berjalannya waktu aku bisa membiasakan diri berada di rumah dan memutuskan untuk berhenti melakukan aktivitas-aktivitas “gelap”.

Tak lama dari itu Bulan Ramadhan 2017 tiba dan untuk pertamakalinya aku berpuasa full kecuali pada saat aku haid. Dan saat lebaran tiba aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk berpuasa dan sholat ied setelah itu aku memutuskan untuk berhijrah (lagi). Aku mengenakan hijab dan memperbaiki ibadahku. 

Satu bulan kemudian aku bertemu dengan seorang laki-laki yang sebenarnya adalah teman lamaku. Merasa saling cocok, kami kemudian berpacaran. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk bertunangan. Awalanya aku pikir dialah jodohku, tetapi ternyata tidak. Ia mengecewakanku dan kami putus. Tak terbayang betapa kecewanya aku setelah kami sudah saling membicarakan tema pernikahan, telah men-design baju pengantinnya, bahkan sudah menemukan wedding organizer yang cocok.

Selang 3 bulan setelah kejadian itu aku berkunjung ke psikiater karena merasa mood-ku selalu berubah-ubah. Terkadang aku merasa senang namun seketika aku merasa sangat begitu depresi. Dan tak pernanh menyangka sebelumnya, katanya aku didiagnosa mengalami Bipolar Disorder. Meski tak nyaman dengan kondisi ini, untungnya banyak sahabat-sahabatku dan beberapa mantan pacar yang men-support diriku.

Beberapa minggu aku memutuskan untuk berhijrah, memperbaiki diri, terus belajar mengenai agama, memperbaiki ibadah, bekerja dengan giat, dan menghabiskan waktu bersama keluarga—ketika aku sedang libur bekerja. Hingga detik ini pun aku masih terus berjuang untuk selalu istiqomah. 

Betapapun aku tidak pernah menyesali kehidupanku yang kelam dulu, memakai barang-barang haram, mentattoo tubuh dan menjadi seorang Bipolar Disorder. Aku pikir semua ini adalah jalan hidupku yang memang seharusnya terjadi untuk menjadi pelajaran hidupku untuk kembali ke jalan-Nya. Aku pun sangat bahagia mendapatkan cerita hidupku seperti ini karena Allah masih menyayangiku dan memberiku kesampatan untuk bertaubat. 

Demikian, ini  adalah cerita pendek hidupku yang sebenarnya kalau dijabarkan lebih panjang mungkin dapat menjadi sebuah buku hehehe. Oh ya, di cerita ini aku tidak menuliskan beberapa peristiwa kelam lainnya, siapa nama-nama teman-temanku, mantan-mantan pacarku, nama club, dan apa saja nama barang-barang haram yang aku pakai. Satu lagi, sekarang keluargaku sudah kembali harmonis dan aku bahagia mereka mau menerimaku kembali ke rumah dan menyangiku dengan sangat. Semoga cerita pendekku ini bisa bermanfaat bagi pembaca. 

Pesan terakhirku untuk kalian yang membaca ini, jangan menganggap semua orang bertattoo itu buruk karena teman-temanku yang bertattoo berhati baik kok dan tattoo itu bukan kriminal. Untuk kalian yang depresi karena keluarga atau cinta janganlah mencari pelarian dengan minum-minuman beralkohol, obat-obatan terlarang dan jangan pernah mencoba narkoba dan narkotika jenis apa pun itu. Hindari seks bebas juga ya, berikanlah permata kalian untuk suami kalian nanti agar mereka tidak kecewa. []

Sumber gambar: FB The Artidote

Tidak ada komentar:

Posting Komentar