Mengobarkan Api Optimis



Dewi Sinta
 “Indonesia Optimisini adalah sebuah buku yang ditulis oleh Denny Indrayana. Ia lahir di Kota baru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan pada tanggal 11 Desember 1972. Beliau meraih gelar sarjana pada 1995 sebagai sarjana Ilmu Hukum Fakultas Hukum UGM. 

Selanjutnya ia menimba ilmu di Amerika Serikat di School of law, University of Minnestoa untuk meraih gelar LL.M Master Hukum. Tak lama setelah lulus, kemudian ia terbang ke Australia untuk menuntut ilmu di School of Law, University of Melbourne, dan berhasil menambah gelar akademis Ph.D. dibelakang namanya pada tahun 2005.

Kiprahnya dalam dunia kerja sudah sangatlah banyak. Di antaranya dimulai dari menjadi legal consultan di Kantor Hukum Jakarta, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2000), PNS di Fakultas Hukum UGM 2001, staf khusus Presiden SBY bidang hukum 2009, yang kemudian meluas di bidang hukum, HAM, dan KKN, serta puncaknya yaitu menjadi Guru besar Hukum Tata Negara 2010. Beliau telah melahirkan banyak karya, juga telah banyak penghargaan yang diraihnya.

Buku ini berisi tentang argumentasi-argumentasinya mengenai berbagai hal, terutama mengenai sejumlah permasalahan yang ada di Indonesia. Dalam pengantarnya pun, penulis mengutarakan bahwa buku ini tentu mempunyai bobot subyektivitas pribadi, namun tetap berupaya menghadirkannya dengan alur berpikir runtut, dan berdasar pada referensi ilmiah utamanya hasil penelitian pihak-pihak yang mempunyai reputasi tinggi yang terjaga kualitasnya.

Fokus buku ini menitik beratkan pada pembahasan mengenai adanya banyak harapan untuk meraih kemajuan, berbagai permasalahan dan tantangan, serta ajakan kepada warga Indonesia sekalian untuk selalu menyalakan api optimisme. 

Dalam sebuah diskusi siaran radio Trijaya pada tahun 2011, disebutkan bahwa saat Orde Baru adalah lebih baik dibandingkan era pasca reformasi 1998, ataupun saat Orde Lama. Oleh sebab itulah mengapa dikatakan “reformasi mati suri.” Nah, dalam hal ini Denny Indrayana berpandangan bahwa sesungguhnya reformasi itu tidaklah mati suri. Sebab pada saat Orde Baru itu malah justru dirasakan lebih banyak masalah, yang di antaranya karena di masa itu kebebasan pers terbelenggu. 

Sedangkan pada masa Susilo Bambang Yudoyono kebebasan pers di Indonesia tumbuh subur yang ditandai dengan adanya media pers yang terus melancarkan pemberitaannya yang kritis. Hal ini hanyalah sebagai salah satu contoh saja. Masih banyak kemajuan-kemajuan lain yang diraih pada masa reformasi.
Dengan melihat capaian-capaian kemajuan tersebut, Denny Indrayana mencoba meyakinkan khalayak bahwa sesungguhnya Indonesia betul-betul memiliki harapan untuk bisa meraih kemajuan-kemajuan lagi. Karena pengalaman sebelum-sebelumnya telah membuktikan bahwa Indonesia bisa, dapat untuk meraih kemajuan.

Denny selanjutnya mengutarakan bahwa Indonesia memiliki banyak permasalahan dan tantangan, terlebih tantangan bagi prsesiden reformasi. Contoh  dari berbagai permasalahan tersebut seperti masalah kemiskinan, suburnya korupsi, kolusi dan nepotisme, permasalahan perpolitikan, dan lain sebagainya yang dirasa sudah dapat dimengerti oleh para pembaca budiman. Hal tersebut tentu menjadi tantangan dan PR bagi kita terlebih presiden reformasi untuk berusaha memperbaiki keadaan tersebut. 

Denny menyebutkan bahwa buku ini dihadirkan untuk menunjukkan bahwa persoalan bangsa memang tidaklah sedikit. Tetapi bukan berarti kita tenggelam dengan tanpa prestasi.  Dunia, pihak ketiga, justru menilai bahwa Indonesia tidak hanya mempunyai harapan, tetapi bahkan mempunyai lompatan yang jauh untuk menjangkau ke masa depan. 

Namun sayangnya, memang prestasi tidak muncul dalam banyak pengakuan. Sebab pertarungan politik kita lebih larut dalam masalah dan pesimisme, tanpa sempat melakukan perjuangan bersama yang berbagi kisah sukses dan optimisme. Maka dalam hal ini Denny Indrayana ingin mengajak kepada khalayak agar selalu optimis serta mengajak untuk sama-sama menanamkan keyakinan yang kuat dan menggelorakan “Indonesia Optimis.” Indonesia pasca reformasi memang punya banyak masalah dan tantangan, tetapi Indonesia punya banyak alasan untuk optimis, optimis untuk membawa keadaan menuju yang lebih baik 

Dalam bagian penutupnya, Denny Indrayana menawarkan beberapa solusi untuk menangani suatu masalah tertentu, utamanya terhadap kasus korupsi. Kemudian menyebutkan bahwa faktor penyebab mengapa kabar baik menjadi minim hadir dan kabar buruk mendominasi ruang politik publik di tanah air itu adalah karena sauasana demokratis yang lebih memerlukan penataan serius.

Dari hasil menyelami buku Indonesia Optimis ini, saya ingin menyampaikan beberapa catatan atau kesan yang terbesit dalam benak saya. Pertama, isi buku ini cukup menarik karena mengandung banyak wawasan mengenai berbagai permasalahan, tantangan, dan capaian Indonesia yang didasarkan pada hasil penelitian.
Kedua, penulis buku sangat sering menyinggung tentang keberpihakannya terhadap Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan cenderung tidak berpihak terhadap presiden yang lainnya. Namun dalam bagian sampul belakang buku ini terdapat komentar Moh. Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi mengenai buku yang ditulis Denny Indrayana ini, yang mengungkapkan bahwa:

“Karena posisinya sebagai Staf Khusus Presiden SBY, tak jarang setiap statemen Denny Indrayana ditanggapi sinis sebagai pembelaan apriori terhadap presiden SBY. Itu tak lain karena satemen-statemen Denny lebih banyak dilihat dari kaca mata politik. Padahal Denny bukan politisi. Pernyataan-pernyataannya tetap selalu berwatak intelektual dan bersikap berang terhadap korupsi. Denny membangun integritasnya melalui dunia akademis dan sikap intelektual. Itulah yang saya banggakan dari dia.”  

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam, UPI, Bandung

Sumber gambar:  www.umaeeblogs.files.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar