Menggalakkan Penggunaan Media Pembelajaran

Jiva Agung
Menarik sekali konten yang disajikan oleh Harian Umum Pikiran Rakyat ediri 13 Maret 2018, khususnya yang ada di dalam kolom Forum Guru. Di sana Ilman Fatuh Rahman hendak menegaskan bahwa penggunaan media amat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang selama ini berjalan secara monoton. Saya sepenuhnya setuju dengan pandangan ini.

Jika dahulu para guru gemar bermonolog dengan sesekali mengandalkan papan tulis dan spidol, sekarang, terlebih di sekolah yang telah memiliki sarana memadai, mereka hanya mengandalkan penggunaan power point dalam setiap sesi pembelajaran. Meski sekilas nampak berbeda tetapi esensinya tetalah sama. Penyeragaman media.

Bisa dibayangkan betapa bosannya para peserta didik yang selalu dijejali dengan media yang sama selama sesemester bahkan satu tahun. Bukan hanya itu, selain mematikan daya inovatif dan kreativitas guru maupun peserta didik, penyeragaman media untuk berbagai macam materi sangat rentan pada ketidakcapaian tujuan pembelajaran sebab setiap bahan ajar memiliki keunikannya tersendiri sehingga perlu metode dan media yang berbeda-beda dalam mendekatinya.

Konsekuensinya, para guru perlu berpagi-pagi melakukan perencanaan media secara matang dan bertanggung jawab. Agaknya, buku Kreatif Mengembangkan Media Pembelajaran karangan Rayandra Asyar dapat memberikan sedikit pedoman mengenai hal ini. Ia mengungkapkan bahwa ada beberapa prosedur yang perlu dilakukan oleh seorang guru supaya dapat memilih media pembelajaran secara tepat dan cerdas.

Pertama adalah dengan mengidentifikasi karakteristik peserta didik. Mulai dari jumlah, umur, jenis kelamin, latar belakang budaya, hingga pengetahuan awal peserta didik, harus mendapatkan perhatian guru. Tidak mustahil jika guru perlu membuat media yang beragam jika memeroleh perbedaan yang tajam di antara satu kelas dengan kelas yang lainnya.

Kedua, menganalisis tujuan pembelajaran. Karena setiap materi memiliki tujuan yang berbeda-beda, maka media yang digunakan pun harus disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, materi Toleransi Antar Umat Beragama yang terkesan abstrak perlu didekatkan dengan media audio-visual dengan menyuguhkan video perdamaian yang terjadi di belahan dunia atau melalui media real object berbasis manusia dengan memberi contoh secara langsung hubungan positif-dialogis antara guru agama Islam dan Kristen di sekolah.

Dengan demikian peserta didik bukan sekadar mengetahui definisi toleransi tetapi, lebih jauh lagi, sudah dapat memahami contoh tindakan-tindakan toleransi secara konkret.

Ketiga, mengkaji karakteristik bahan/materi ajar. Keunikan setiap bahan ajar berkonsekuensi logis pada keunikan jenis tugas atau aktivitas yang akan dilakukan oleh peserta didik di dalam atau di luar kelasnya, dan oleh karena itu keragaman penggunaan media pembelajaran adalah suatu keniscayaan.

Materi tentang Beriman kepada Qada dan Qadar lebih cocok menggunakan media visual seperti koran, buku, atau berita online supaya dapat didiskusikan dalam suatu kelompok kecil. Berbeda dengan materi tentang Shalat Gerhana Bulan yang cenderung membutuhkan media audio-visual sebab peserta didik perlu bukan saja mengenai bacaan shalat tetapi juga gerak-geriknya.

Setelah melakukan ketiga pertimbangan di atas, akhirnya guru dapat memutuskan media apa yang pantas digunakan. Tetapi, jangan lupa untuk melakukan peninjauan ulang (review) guna menilai kekurangan dan kelebihannya supaya kualitas pembelajaran tetap optimal. 

Sumber gambar: www.silabus.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar