Felixophobia, Indikator Kemerosotan Intelektual?



Jiva Agung
Beberapa waktu yang lalu salah seorang teman saya men-share postingan faceboknya Felix Siauw yang berjudul “Ada Apa Kepolisian?”. Di dalam postingan tersebut, Felix sangat resah dengan ulah kepolisian yang terkesan sangat membatasi, mempersulit, tidak mengizinkan, dan membatalkan kajian-kajian keislaman, setidaknya kasus itu sering terjadi pada dirinya. Kalau informasi ini benar, sungguh bagi saya ini merupakan sebuah kemerosotan intelektual. 

Alasan-alasan seperti untuk menjaga “ketertiban”, “keamanan”, atau “suasana kondusif” sungguh sangat mencederai nilai-nilai kebebasan berpendapat dan berkumpul. Padahal yang Felix dkk lakukan bukanlah suatu tindakan kriminal, dan mereka tak bersenjata atau mengumumkan peperangan fisik. 

Saya duga jangan-jangan felixophobia ini sudah terjangkit luas ke berbagai elemen masyarakat yang diterima secara taken for granted hanya karena Felix memiliki paham trans-nasional yang katanya akan merusak ideologi bangsa. Tetapi melawan Felix dengan melakukan tindakan diskriminatif yang disertai dengan ketakutan berlebihan, sejatinya merupakan tindakan yang konyol. 

Kalau pun tak setuju dengan gagasannya itu, maka lawanlah dengan gagasan pula. Ide dilawan ide. Atau bisa juga melalui cara-cara yang lebih soft dan beradab, misalnya dengan kunjungi “markasnya”, lakukan diskusi intensif dengannya. 

Kita dapat meniru para ulama atau cendekiawan di zaman keemasan Islam (puncaknya pada era dinasti Abbasiyah) di mana mereka terbiasa untuk saling berdebat satu dengan yang lain. Setajam apa pun perbedaan yang muncul, menurut saya, selama berada dalam pola diskusi atau literasi (dengan mengutarakan argumentasi bukan kepada kebencian personal), maka ini telah menandakan sikap kedewasaan. 

Pertanyaan yang kemudian mencuat, apakah dengan melakukan tindakan-tindakan tersebut Felix dan kawan-kawan seperjuangannya jadi menciut? Saya yakin 100% NO. Malah sebaliknya, mereka semakin menunjukkan militansinya. Ini sama halnya dengan apa yang terjadi dengan Ahmadiyah. Selama pemahaman mereka ditolak dengan cara-cara yang destruktif-kontraproduktif (pembunuhan, pembakaran rumah ibadah, dll) maka selama itu pula eksistensi mereka semakin “sexy” untuk diperbincangkan. 

Perlu diketahui, bahwa saya termasuk orang yang menentang ide-ide trans-nasional, termasuk yang diusungkan oleh HTI. Sepanjang empat tahun kuliah, jika tema tersebut terbahas, maka saya adalah salah seorang yang akan mengacungkan tangan, mengajukan argumentasi penolakan gagasan tersebut. Dan sejauh ini pemahaman saya—mengenai ide khilafah—masih sama. Tetapi ketika mendengar kalau HTI ditumbangkan, aktivitas-aktivitas para dai yang menyuarakan hal tersebut dipersulit bahkan ditolak, jujur saya sedih. Ada apa dengan negeri ini ya?  

Sumber gambar: www.malangtoday.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar