Belajar Tasawuf itu Mengasyikkan !



Daniel Iqbal Sujana
Sebelum mengasyiki belajar tasawuf, saya akan melihat nightmare side dari anggapan masyarakat yang “kurang dibelai” ketika membaca literatur tasawuf. Salah satu kritik yang dilakukan secara membabi buta mengenai hal ini—dan saya langsung beristigraf—ialah, “jangan belajar tasawuf, nanti (bisa) gila! Ah, kalo mau mah belajar Islam aja yang benar!”.

Sebetulnya sejak dahulu pun sudah ada ulama yang anti dengan tasawuf, seperti Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyah Al-Harrani telah banyak mengkafirkan tokoh sufi, khususnya terhadap Ibn Arabi dan Al-Hallaj yang dianggap memiliki “kecacatan” pandangan. Menurut Toshiko Izutsu, pendapat-pendapat seperti ini sebenarnya sejalan dengan kemunculan paham-paham literalis-takfiri modern jadi wajar saja jika secara eksplisit muncul labelling negatif kepada pelakon tasawuf, mulai dari zindiq hingga kafir. 

Meski demikian, hal tersebut tidak mengurungkan niat saya untuk membagikan pengalaman betapa asyiknya belajar tasawuf, sebab toh masih banyak ulama yang menyepakati kalau kemunculan tasawuf itu murni dari internal Islam. 

**
Secara bahasa, tasawuf diambil dari kata suffah yaitu sebuah tempat yang berada dekat masjid Rasulullah. Umumnya ditempati oleh mereka (para sahabat) yang berasal dari kalangan bawah (miskin) yang mau mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah saw. 

Ada juga sumber yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata “shuf” yang berarti bulu domba. Konon para sufi sengaja menggunakan baju berbulu domba dengan tekstur kasar sebagai tanda kesederhanaan hidup mereka. Hal ini bisa dimengerti karena pada masa kekhalifahan yang serba mewah, para sufi melakukan tindakan anti mainstream sebagai bentuk perlawanan. 

Adapun secara terminologi, Muhammad bin Ali al-Qasab, gurunya Imam Junaid al-Bagdadi, mengatakan bahwa tasawuf adalah akhlak mulia yang nampak di zaman mulia dari seorang manusia mulia bersama kaum yang mulia. 

Sebagaimana telah diketahui Rasulullah adalah manusia dengan akhlak yang mulia (Tidaklah aku mengutusmu, selain menyempurnakan Akhlak). Dari sini setidaknya kita dapat mengatakan kalau tasawuf—meski baru berupa benih—lahir ketika Nabi Muhammad menjadi dan memberi teladan akhlak mulia kepada seluruh umatnya dengan kehidupan yang sederhana dan penuh cinta.

Para sufi—umumnya—menolak hidup mewah ketika kondisi lingkungannya dipenuhi dengan gemerlap uang hasil korupsi. Padahal tak sulit bagi mereka untuk mengikuti dan mendekati para koruptor tersebut, dengan hartanya yang melimpah tetapi, jelas, mereka lebih memilih bergaya zuhud supaya dapat terus memerhatikan Allah dan memeroleh ketenangan jiwa. Bukankah Allah pernah berfirman (termaktub dalam hadits qudsi):

“Aku sesuai persangkaan hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di dalam kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berjalan cepat.”

Bahkan akan semakin menarik kalau kita mau mendengar pendapat Utsman al-Makki. Ia beranggapan bahwa tasawuf adalah suatu keadaan di mana seorang hamba di setiap waktunya selalu melakukan perbuatan (amal) yang lebih baik dari waktu yang sebelumnya. Tasawuf itu memang berhubungan erat dengan perasaan, maka wajar saja jika ia mengatakan “keadaan” seseorang ketika beramal. Contohnya, saat kita berbicara keadaan ketika bersedekah harta kepada anak yatim rasanya seperti kita menyayangi orang tersebut sebagai anak atau keluarga sendiri. Kita tidak terbebani ketika Allah katakan “Cintailah anak yatim!”. Allah itu sebetulnya tidak memaksa karena yang memaksa itu sejatinya adalah diri kita sendiri yang tidak mendasari sebuah perbuatan dengan cinta.   

Akhirnya, bagi saya, tanpa mengabaikan unsur atau diskursus tasawuf klasik, sejatinya tasawuf sangat erat kaitannya dengan kehidupan keseharian kita yang tanpa disadari bahwa sebenarnya kita telah mengamalkan tasawuf . Wa Allahu’alam.


Sumber gambar: FB Tasawuf Underground

Tidak ada komentar:

Posting Komentar