Als Ik Een Schoolhoofd Was (Seandainya Aku Seorang Kepala Sekolah)



Panji Futuh Rahman
Kepala sekolah adalah pimpinan sebuah instansi yang di dalamnya terdapat sekumpulan orang yang sedang menuntut ilmu. Pekerjaan yang nilainya sebanding dengan berperang membela tanah air. Di sisi lain, di instansi itu pula terkumpul sejumlah orang yang bertugas mulia, kerjanya mencerdaskan anak bangsa, mewarisi ilmu, menjadi orang tua kedua bagi ratusan bahkan ribuan peserta didik, dan menjadi jembatan bagi kehidupan yang akan datang bagi sekian banyak tunas-tunas harapan bangsa. Di tempat ia memimpin itulah salah satu kunci bagi kemajuan bangsa ditaruhkan.

Tanggung jawabnya tak sederhana maka dibutuhkan sekelumit tanggung jawab yang tidak sembarang orang bisa lakoni. Bukan sekadar manajerial biasa, karena yang dihadapi adalah kumpulan orang yang memiliki cita-cita yang mana setiap orang-orangnya memiliki karakteristik yang tidak sama. Ia pun dihadapkan dengan keberadaan puluhan hingga ratusan guru yang bertugas menjadi ujung tombak bagi tercapainya tujuan mulia kemerdekaan bangsa yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Sungguh tidak ringan. Aku mungkin tak akan nyenyak tidur selama menjabat. Sesaat ketakutan-ketakutan muncul. Bagaimana sekolah menghadapi anak didik yang kini memiliki karakter yang begitu lain dengan generasi pendahulunya? 

Dengan serbuan globalisasi yang kian hari kian gencar dan kearifan budaya lokal yang malah makin dilupakan dari hari ke harinya, maka tak heran jika ada kasus kehamilan di bawah umur di sekolah, ada pelecehan seksual, ada tindakan kriminal, ada pengguna narkotika dan zat adiktif, dan ada perilaku-perilaku menyimpang lainnya di sekolah. Tapi memang itulah tugas sekolah, untuk memanusiakan manusia. Untuk menjadikan mereka siap terjun ke masyarakat beserta ilmu, kemampuan dan akhlaknya.

Tak berhenti sampai di sana, ada penghuni lain yang harus diperhatikan. Ada guru yang pekerjaannya mulia dan disetarakan dengan title pahlawan, hanya saja tanpa tanda jasa. Tak semua guru hidupnya sudah enak. Ada yang hanya mendapat gaji 3 bulan sekali, ada yang harus menunggu akhir bulan untuk mendapat gaji yang seharusnya di awal bulan. Ada yang keringatnya tidak terbayar saat mengurusi berbagai acara di sekolah entah karena terlupakan atau sengaja “diberdayakan” tenaganya karena tahu kadang guru mementingkan anak didiknya dibanding bayaran atas keringatnya. Bagaimana nanti nasib saya sebagai kepala sekolah melihat fakta ini? Mungkin selama masa jabatan saya tidak akan merasa nikmat menyantap makanan apa pun.

Ah tidak. Aku tidak boleh pesimistis. Andai aku kepala sekolah, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan sering ke sekolah, menyapa anak didik, melihat sendiri bagaimana perkembangannya. Tak hanya hitung-hitungan di atas kertas atas kemampuan akademiknya tapi juga moralnya.

Masuk ke kelas-kelas untuk merasakan situasi di dalamnya. Jangan-jangan siswaku tidak kunjung berprestasi karena kelasnya tidak nyaman? Apa mungkin lampunya kurang terang? Apa mungkin ruangan terlalu sumpek dan gerah? Jangan sampai aku lupa memeriksa hal itu karena aku terlalu sibuk duduk menikmati angin sejuk hembusan air conditioner yang ada di ruanganku sedangkan anak-anak berjubel—puluhan jumlahnya—di dalam ruangan yang sumpek. Mana bisa lahir orang cerdas di dalam kondisi seperti itu.

Aku akan coba bangku dan mejanya satu per satu. Aku khawatir mereka tak nyaman dalam belajarnya. Jangankan mereka yang menuntut ilmu, aku saja yang membaca koran pagi di ruangan sejuk kalau posisi duduk tidak membuat punggung nyaman tak akan habis kubaca sehalaman pun. Apalagi anak-anak yang harus bertemu dengan 4-5 pelajaran dalam seharinya?

Aku juga akan main ke toilet siswa, merasakan kondisinya, mencium aromanya, masuk dan mencoba menggunakannya. Masa iya mereka harus lari pulang ke rumah untuk buang air hanya karena toilet sekolah tidak membuat mereka nyaman sedangkan aku menikmati fasilitas toilet bak hotel berbintang di ruangan khususku. 

Setelah itu aku coba berjalan ke kantin. Berbabur dengan mereka, memakan apa yang mereka makan, meminum apa yang siswaku minum. Lalu aku rasakan, apakah setelah itu aku kembali bugar untuk belajar atau malah sebaliknya? Apakah terlalu sempit areanya? Apakah terlalu sedikit mejanya? Ah jangankan belajar, untuk melamun di ruangan ber-ac pun menjadi tidak nyaman jika perut kosong karena aku malas beli makan karena kantinnya terlalu penuh. 

Mungkin aku beruntung bisa menyuruh pekerja di sekolah untuk beli nasi padang dengan bumbunya yang kental, tapi mana bisa aku nikmat menyantapnya kalau aku tahu anak-anakku di sekolah bahkan tak sempat beli makan karena istirahatnya terlalu sebentar sedangkan antrenya saja butuh belasan menit.

Aku juga akan ke masjid, menengok tempat mereka beribadah, nyamankah mereka dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya? Atau kegerahan? Atau susah menyimpan sepatunya? Atau terlalu gelap? Atau kotor? Padahal ibadah adalah kunci kehidupan kita. Atau mungkin masjid sepi? Dari mana aku bisa tahu anak-anakku sembahyang atau tidak sedangkan aku mendirikan shalatku di ruanganku sendiri? Tidak! Aku sendiri yang akan jadi imam shalatnya.

Bagaimana dengan lapangan sekolah? Sepertinya satu dua waktu aku perlu membawa pakaian olahraga dan menjajal semua fasilitas yang ada supaya kalau ada kerusakan yang bisa mengakibatkan hal buruk bagi siswa, aku bisa mengantisipasinya sejak awal. Tidak tenang rasanya hati ini kelak kalau fasilitas sekolahku banyak yang membahayakan mereka. Oh ya, bagaimana dengan fasilitas keseniannya? UKS-nya? Laboratoriumnya? Ah rasanya menjadi kepala sekolah bisa membuatku sakit kepala.

Tak lupa aku juga harus berinteraksi dengan rekan-rekan guru. Apakah mereka semua mendapatkan meja yang nyaman? Apakah ruangan mereka membuat semangat belajar meningkat atau malah membuat penat? Adakah yang membuat mereka tidak nyaman bekerja? Adakah yang belum mendapatkan gaji? Wah mana bisa aku menikmati gaji, membeli rumah, mobil baru, dan pakaian mahal kalau sampai aku tahu ada rekan guru yang gajinya telat cair.

Mana bisa hati ini tenang kalau sampai ada kabar bahwa gaji mereka telat datang hingga akhir bulan, mana bisa hati ini tak tersentuh kalau sampai mendengar ada rekan guru yang gajiannya tiga bulan sekali. Mana bisa aku menikmati alunan lagu atau menonton film-film Barat keluaran terbaru kalau sampai tahu bahwa mereka mengajar dengan hati yang gundah gulana setiap saat, pikirannya agak kacau karena sesekali tercuat pertanyaan dalam benaknya “Apakah kali ini saya mengajar akan dibayar atau saya harus ikhlas untuk menjadikan pengajaran hari ini sebagai pekerjaan cuma-cuma dengan dalih amal?”

Ah pecah kepala ini memikirkannya. Sungguh tidak akan punggung ini bertemu dipan kalau semua masalah itu belum menemui titik cerahnya. Sungguh mata ini tak akan lama terpejam hingga segala persoalan itu menemui solusinya. 

Pendidikan adalah tiang pancang bangsa. Ia menjadi pilar bagi tegaknya bangunan tanah air. Jika sekolah sebagai instansi kependidikan gagal maka upaya lain dalam membangun bangsa akan menjadi percuma.  Di dalam sekolahlah tunas-tunas disemai dan mendapatkan pupuk ilmu pengetahuan oleh tangan-tangan lembut para guru yang menjadi petaninya. Tunasnya harus baik, pupuknya harus baik, petaninya pun harus baik. Dan di sanalah tugasku andai aku menjadi kepala sekolah untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
Ini semua kutulis selepas aku melamun, sepiring nasi goreng berteman telur dan emping habis kumakan dalam hitungan beberapa menit saja, lantas tiba-tiba imajinasi liar itu menyeruak ke permukaan. Als Ik Een Schoolhoofd Was?

Sumber gambar: www.terbitsport.com

*Penulis adalah guru PAI di SMAN 1 Cikarang Utara, Kab. Bekasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar